
"Maaf" ucap mereka berdua bersamaan. Mereka diam kembali. "Maaf jika membuatmu cemburu karena aku dipeluk pria lain. Tapi sungguh, aku tidak berselingkuh. Aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku" ujar Muti kepada Sigit.
Sigit mengangguk. "Aku juga minta maaf karena menuduhmu yang bukan-bukan. Aku terlalu takut kamu nyaman dengan yang lain. Aku.... Aku.... aku benar-benar takut kehilanganmu"
Muti mengangguk. "Kita berdua sama-sama cemburu. Sama-sama takut kehilangan, hingga kehilangan kendali pikiran dan perasaan"
Sigit melempar senyum kepada Muti. "Maaf berkata kasar padamu, tak seharusnya mulut ini begitu merendahkanmu"
"Aku paham, aku memang murahan. Kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih terhormat" Sigit terkejut mendengar ucapan Muti. "Maksud kamu?"
"Kalau kamu ingin membatalkan pernikahan ini, aku ikuti keinginan kamu. Kamu lelaki baik dan seharusnya mendapatkan perempuan yang lebih baik. Kalau memang tidak jodoh mau bagaimana lagi?" kata Muti. Sigit diam.
Muti menghela nafasnya. Sigit mulai berucap lagi. "Aku ingin kita tetap menikah. Aku gak bisa melihat kamu menjadi milik orang lain. Aku terima kekuranganmu, tolong, berubahlah demi aku" Sigit bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Muti.
Ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke telinga Muti. Jantung mereka berdegup tak beraturan lagi. "I love you Mutiara Insani, jadilah istri dari Sigit Nagendra Ardhitama, satu untuk selamanya"
Sigit tersenyum dan berlalu meninggalkan Muti yang masih mematung. Ia kembali ke kamarnya dan mengambil kunci mobil, ponsel serta dompetnya.
Lalu berlalu keluar rumah entah kemana. Muti memegang dadanya. Seperti ada petasan yang dinyalakan bersama-sama.
Ia tersenyum senang. Tak percaya dengan yang didengarnya. "Dia barusan melamarku? Atau apa sih?" katanya sambil tersenyum. "Ah, komandan galaaak, kenapa sikap kamu manis bangeeet"
.
Sedang di rumah sakit, Indra sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Ia menanyakan keberadaan Muti dan Sigit kepada Bagas dan Anin.
"Mereka sedang diskusi" kata Bagas. "Diskusi apa?" tanya Indra lemah.
"Diskusi mau kasih kita cucu berapa" ucap Bagas mencoba melucu. Anin memukul bahu suaminya. "Menikah aja belum kok diskusi cucu. Dasar kamu!"
Indra tertawa kecil. "Semuanya harus dirundingkan dulu ya" Mereka tertawa. "Bang, istirahat saja. Jangan banyak tertawa. Mereka nanti kesini kok" ucap Anin.
Indra berdecak. "Aku lelah disuruh tiduran terus. Mintakan kepada dokter biar aku bisa pulang"
"He? Abang yang benar saja. Baru kemarin masuk mana bisa langsung minta pulang. Paling tidak 3 hari menginap disini bang" terang Anin.
"Ya kali bisa pulang, aku tak tahan dengan baunya" alasan Indra. "Laaaaah, dia lupa dulu ketemu almarhumah bagaimana ceritanya" ucap Bagas. Membuat Indra menyunggingkan senyumnya.
.
__ADS_1
Sigit ke pasar untuk membeli baju ganti untuknya. Membeli keperluannya selama ia berada di Jakarta, entah berapa hari. Selesai mendapatkan keperluannya, ia pergi ke konter HP. Ia mencari sesuatu disana.
Ia membeli ponsel baru beserta nomor baru untuk Muti. Sigit membayar totalan harganya lalu beranjak pulang. Ia kembali ke rumah Muti.
Ia mencari keberadaan Muti tapi tak kunjung ketemu. Ia mengetuk kamar Muti. Tok tok tok.
ceklek. "Apa?" tanya Muti bersandar pada pintu dan bersidekap. Sigit memanyunkan bibirnya. "Galak amat sih! Yang harusnya masih marah itu mas"
"Iya-iya maaf, habisnya kalau ingat kemarin pengen marah" kata Muti.
"Kamu pikir kamu doang? Mas juga pengen marah kalau ingat kemarin. Sudah ah, jangan dibahas. Nih" Sigit menyodorkan tas ponsel itu kepada Muti.
Muti melihat tanpa mengambil tas itu. "Apa tuh?"
"Hp baru buat kamu, nomornya juga sudah ada" Muti terkejut. Lalu tersenyum haru. Ia memeluk Sigit. "Baik banget sih kamu mas"
Sigit tersenyum dan mencium puncak kepala Muti. "Sudaaah, gak usah sedih. Buruan diatur itu ponselnya. Mas mau izin dulu sama polres. Kamu juga belum izin kan?" tanya Sigit.
"Sudah, aku sudah izin kok. Pakau telpon rumah tadi" Muti melepaskan pelukannya tapi Sigit mendekapnya lagi. "Diam jangan banyak bergerak"
Sesaat mereka diam. Saling berpelukan hingga Sigit melepaskan pelukan itu. "Buruan siap-siap. Atur hpmu dan kita ke rumah sakit"
Muti mengangguk. Sikap jahilnya mulai keluar lagi. Ia tersenyum malu dan menusuk-nusuk perut Sigit. "Apa ih?" tanya Sigit mulai takut. "Makasih" ucap Muti manja.
"Gak usah, nanti palingan jadi sariawan" jawab Sigit. "Iya, maksud aku diobati pakai vitamin c...."
"Gak usah, mas tahu isi otak kamu! Sudah dibilangin jangan nakal jugaaa" Sigit menjitak kepala Muti. Membuat Muti memanyunkan bibirnya.
Sigit berlalu dari hadapan Muti. "Nakal sama calon suami sendiri kan gak papa maaaas" teriak Muti dari depan kamarnya. Sigit hanya tertawa. "Mbuh sekarepmu" sahutnya.
"Beneran gak mau nih maaas? Yakiiiin?" teriak Muti, Sigit tersenyum sambil membuka pintu kamarnya. "Nanti, kalau sudah selesai ijab, mau kamu lahap mas habis silahkan!"
Muti tertawa mendengar jawaban Sigit. "Buruan siap-siap!"
"Iya ih, bawel!" Muti masuk ke kamarnya dan segera bersiap. Sementara Sigit geleng-geleng kepala dan tersenyum. "Dasar marmut"
.
Mereka sudah siap di mobil. Muti mengeluarkan ponsel baru pemberian Sigit. "Pinjem hpmu mas" kata Muti. Sigit mengeluarkan ponsel miliknya. Ia memencet kamera dan mengarahkan ke arahnya dan Sigit.
__ADS_1
"Foto dulu, biar mereka.para fansmu itu tahu kamu milik siapa" Sigit hanya mengikuti kemauan Muti. Mereka berfoto dengan berbagai gaya. Yang terakhir adalah Foto Sigit menggenggam tangan Muti dan menciumnya.
Muti merasa sangat tersanjung. "Aaahh, romantis banget siiiih"
"Biar puas kamu mempostingnya" Sigit mulai melajukan mobilnya
Muti melihat hasil foto itu. "Semuanya bagus ih, kamunya pakai kaos hitam lagi. Damage uuuuwww. Mematikan!"
"Dasar!"
Muti memposting semuanya dengan menuliskan caption. Cinta Karena Mandat, dan hashtag proses menuju halal.
Belum ada 5 menit unggahan itu Muti posting, kolom komentar sudah dibanjiri dengan para fans yang kecewa. Banyak yang mendoakan. Banyak yang kepo tentang Muti. Ada pula yang menghujat.
Ia melihat jumlah followers Sigit berkurang dari jumlah awal. "Hahahah, mas, followers kamu berkurang ik. Piye?"
Sigit menoleh. "Biarin, penting aku tidak kehilangan kamu"
Muti tersenyum. "Aku minta jodoh yang baik, dikasihnya yang super komplit. Makasih ya Allah"
"Cie bucin cieee" Sigit menggoda Muti. "Memang kamu gak bucin sama aku?" Muti tak ingin kalah begitu saja.
"Yaaaa....... bucin lah. Tapi kayaknya kamu deh yang lebih bucin. Iya apa iya?"
"Aku sih yes" ucap Muti. Mereka saling toleh dan tertawa bersama. Mereka sudah sampai di rumah sakit. Sigit dan Muti menuju ICU. Mereka mencari keberadaan Ayah Indra tapi tak ada. Muti menanyakan kepada perawat jaganya.
"Makasih ya mbak" Muti dan Sigit menuju ruang yang diberitahu oleh perawat tersebut. Saat pintu terbuka, senyum mengembang dari ketiga orang tua itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Segini dulu ya, othor besok up mualam banget. nanti malam othor harus beberes karena ada monev bidan delima yeeees. Oke semuaaa. Happy reading