
"Membunuh kami? Ahahahahah, maaf bro, nyawaku tidak aku perjual belikan dengan murah. Jika kalian ingin membunuh kami, maka matilah terlebih dahulu!" Kata Sigit. Mereka mulai saling menyerang. 3 orang lawan 5 orang.
Sigit menghajar mereka secara bergantian. Namun, mereka tak begitu saja mudah ditumbangkan. Mereka saling pukul, mereka saling hajar, saling tendang. Hingga tenaga mereka sedikit terkuras. Sigit memberi kode untuk Ali agar bisa menyingkir dan meminta bala bantuan.
"Waktunya mepet Al, aku yakin, mereka hanya ingin mengulur waktu kita. Telpon lah pakdhe Tristan dan suruh beberapa orang membantu kita" kata Sigit sambil terengah-engah.
Ali mengangguk, ia segera berlindung di balik badan Sigit dan menempelkan ponselnya. Bima dan Sigit melindungi Ali. Sesekali ia masih saja bisa diserang, tapi dengan cepat ia menangkisnya.
Sigit jengah dengan situasi yang tak kunjung beres, akhirnya ia dan Bima berkolaborasi. Mereka berpura-pura bertengkar. "Stop stop stop! Bentar. Kalian tunggu dulu. Aku mau ngasih pelajaran sama anak buah aku" kata Sigit pada preman-preman itu. Para preman itu mau saja disuruh berhenti.
"Kamu gimana sih Bim? Cuma 1 numbangin saja gak bisa"
"Ya mereka kan banyak Ndan!" balas Bima berpura-pura tak terima.
"Kok nyolot sih! Hei kalian, masih ingat pepatah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh?" tanya Sigit pada para preman itu. Mereka mengangguk. "Oke, kita buat situasinya seperti itu. Kalian bersatu melawan ini orang, nanti kalau sudah berhasil lawan itu, dan terakhir lawan saya. Gimana?"
Para preman itu berdiskusi. "Oke"
"Cuma mereka berlima mah kecil!" kata Bima menyombongkan dirinya. Sigit dan Ali menyingkir. Bima mulai dikepung oleh preman itu.
Dan dengan trik Sigit, para preman itu berhasil dilumpuhkan dengan sekali tendangan di titik lumpuh mereka. 3 orang berhasil dilumpuhkan. Ali dengan cepat memborgol ketiganya.
"Borgolnya kurang nih! Kalian gak kebagian. Haduh gimana dong?" kata Bima memecah konsentrasi preman itu. "Oh, gini aja, suit dulu"
"Kenapa harus suit?" tanya salah satu preman itu. "Ya head to head to, satu lawan satu. Gak enak dong 1 lawan 2" Bima menjelaskan.
Mereka suit. Saat itulah Sigit dan Bima memukul tengkuk salah satu dari mereka. Dan satu pingsan. Om Tompel dan beberapa orang datang. "Bawa mereka ke Polda Om" kata Ali. Om Tompel mengangguk.
Sigit bertanya pasa satu orang yang merupakan pimpinan dari komplotan tadi. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Sigit. Pria itu hanya diam.
__ADS_1
"Gak papa kalau kamu gak mau bicara. Tapi, jangan salahkan aku kalai istrimu yang sedang hamil anak ke lima mu dalam bahaya" ancam Sigit. Pria itu memohon-mohon pada Sigit.
"Makanya! Cepat katakan siapa yang menyuruhmu!"
"Blind Salamander" kata pria itu tak mau menyebutkan nama orang yang menyuruh mereka. Sigit, Ali dan Bima melotot tak percaya dengan yang mereka dengar. "Brengsek! Tak bongkar kedokmu di depan majikanmu bang! Bawa dia!" Sigit sudah sangat emosi mendengar nama samaran yabg didengarnya.
Sebagian anak buah Luna membawa pria itu. Sigit, Ali, dan Bima masuk kembalu ke mobil. Bima masih penasaran dengan ucapan komandannya yang digunakan untuk mengancan pria tadi.
"Ndan, punya kemampuan khusus apa sih? Kok bisa tahu kalau istri orang tadi lagi hamil anak ke lima?" tanya Bima.
Ali mengangguk. "Aku juga heran, padahal sedari tadi kita diserang dan gak bisa pegang hape lho"
Sigit tersenyum dan menaik turunkan alisnya. "Ngarang dong! Ngapain dibikin susah!" Bima dan Ali menganga tak percaya. "Aku hanya mengira-ira dari umur orang tadi. Hehehe"
Mereka semua tertawa mendengarnya. "Terkadang, menjadi seorang intel hanya butuh analisis singkat. Ingat kata-kata itu kan?" kata Sigit. Mereka berdua mengangguk. "Itulah yang tadi kulakukan"
.
Rombongan telah siap untuk mengantarkan para tahanan itu. Kapolda terjun langsung untuk memantau proses pemindahan tahahan itu.
Hamka, seorang intel yang akan memimpin perjalanan menuju Jakarta itu. "Ndan, waktunya telah habis. Tapi, mereka tak kunjung datang. Kita tinggal saja mereka" kata Hamka kepad Kapolda.
Kapolda mengangguk setuju, karena sedari tadi, Sigit, Ali, dan Bima ditunggui tapi tak kunjung muncul. "Dasar orang-orang kurang dispilin!" Kata Kapolda.
Hamka mulai mempersiapkan pasukannya. Ia mengambil alih instruksi. Dan saat mereka sedang diberikan pengarahan oleh Hamka, sebuah mobil datang membawa beberapa orang yang diborgol.
Membuat semuanya terkejut. Mobil Sigit tiba di Polda. Mereka turun. Sigit tersenyum kecut melihat Hamka. "Assalamualaikum blind salamander! Lama tak jumpa! Aku membawakan oleh-oleh untukmu! Apa kamu tidak mau menyapa oleh-olehku ini?" kata Sigit begitu lantang dihadapn Kapolda.
Kapolda bingung dengan kejadian itu. Mereka memberikan hormat kepada Kapolda, dan Sigit memberikan laporan atas peristiwa yang dirinya dan rekan-rekannya alami.
__ADS_1
"Lapor! Mereka adalah orang suruhan Blind Salamander! Yaitu Ajun Komisaris Polisi Hamka Deni!" Kapolda menoleh kepada Hamka.
"Apa benar begitu? Dia yang menyuruhmu?" tanya Kapolda kepada orang itu. Dan ia mengangguk. Kapolda berjalan mendekati Hamka.. Beliau mengambil paksa lencana kepangkatan pada seragam Hamka dan menampar pipinya dengan sangat keras.
"Brengsek! Bajingan! Bisa-bisanya kamu bekerja dengan cara kotor! Mulai hari ini kaku dipecat dari anggota kepolisian. Damar, bawa pria ini ke dalam sel! Aku sendiri yang akan melaporkan kasusnya! Julukanmu sama dengan jati dirimu! Kamu buta akan harta!" Kapolda benar-benar marah kepada Hamka.
Hamka dibawa oleh Damar menuju sel tahanan. Begitu pun dengan para preman yang mengeroyok Sigit dan kawan-kawannya. Kapolda menepuk bahu mereka satu per satu. "Kerja bagus! Laporkan jika ada lagi yang membelot"
"Siap! 86!" sahut mereka kompak. Kapolda mengambil alih pasukan itu. "Dengar! Saya tak segan memecat anggota jika ada yang bekerja yang tak sesuai standar yang berlaku! Meskipun itu orang kepercayaan saya sekalipun! Paham!??"
"Siap! Paham!" jawab semua pasukan itu. "Operasi ini akan dipimpin oleh Ajun Komisaris Polisi Sigit Nagendra Ardhitama"
"Siap! Laksanakan!" kata Sigit. Kapolda mengangguk. "Laksanakan"
Setelah pengarahan itu selesai, mereka segera masuk ke mobil masing-masing. Lalu rombongan itu berangkat menuju Mabes. Pengawalan sangat ketat dilakukan. Mereka menyetir dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1