
Makan malam selesai. Papah Bagas dan Mamah Anin ikut mengobrol dengan Sigit dan Muti di ruang santai. Sigit menunjukkan hasil fittingnya siang tadi, hingga lupa, Maryam berada di Semarang menunggu kabar darinya.
"Bagus kan pah? Orang calon manten lakinya saja manis ganteng paripurna begini kok. Pasti bagus semuaaa" Sigit memuji dirinya sendiri. Membuat Muti tersenyum kecut.
"Berarti cuma kamu doang yang bagus di foto itu mas? Aku jelek? Gitu maksud kamu?" sahut Muti.
"Bukan sayang, maksudnya lebih menonjol akunya kan dibandingkan kamu" Sigit masih tak mau kalah. Muti pun tak ingin kalah. "Hilih, wong tadi kamu saja bilang masyaallah canyiknya calon bojoku. Itu artinya aku yabg lebih unggul maaas"
Papah Bagas dan Mamah Anin hanya geleng kepala mendengar keributan itu. "Calon mantennya ayu dan ganteng" ucap Mamah Anin menengahi keributan itu. "Sudah pada mau nikah masih saja seperti anak kecil"
tok tok tok. "Assalamualaikum" seseorang mengetuk pintu rumah papah Bagas. Mereka semua saling toleh. "Siapa ya? Malam-malam begini bertamu" tanya mamah Anin heran. Dirinya segera beranjak membukakan pintu.
Semua kembali melihat foto itu. Mamah Anin membuka pintu dan terkejut dengan yang ia lihat. "Assalamualaikum mamah cantikku? Anaknya gak dipeluk nih?"
Mamah Anin menutup mulutnya tak percaya. Buliran bening luruh begitu saja. "Paahh, papaaaaaaahhhhh" teriaknya, membuat papah Bagas dan yang lain terkejut. Mereka berlari kecil menghampiri Mamah Anin di depan pintu.
Papah Bagas pun terkejut melihatnya. "Maryam?" tanya papah Bagas. "Iya, siapa lagi?" tanya Maryam tersenyum lalu memeluk kedua orang tuanya.
"Adeknya abang nyusul kesini?" Sigit berada di belakang papah dan mamahnya. Maryam melepaskan pelukannya dan menghambur memeluk Sigit.
"Kangen kangen kangeeeeeen... Jahat! Maryam ke Semarang, Abang malah pergi ke Jakarta. Mana calon kakak ipar Maryam?" tanyanya. Muti menyodorkan tangannya ke arah Maryam dan tersenyum. "Hai, aku Muti"
Maryam memeluk Muti tiba-tiba. Membuat Muti terkejut. "Aaaaaaa, kakak ipaaaar. Kok mau sih sama Abang? Dia itu galak tahu!" kata Maryam masih memeluk Muti. Sigit menjitak kepala adiknya. "Bukannya dipromosikan yang baik-baik ini malah menjatuhkan!" protesnya.
"Ya memang iya kok. Bener Maryam" ucap Muti membela adik iparnya. Maryam melepaskan pelukan itu dan menjulurkan lidahnya pada Sigit.
"Ayo ngobrol di dalam" kata papah Bagas. Mereka masuk dan berbincang di ruang santai. "Jadi kamu pulang langsung ke Semarang? Bukan kemari?" tanya Mamah Anin. Maryam nyengir dan mengangguk.
"Maryam rindu sama Abang, makanya langsung kesana. Maaf ya Mah Pah?" Mereka tersenyum dan mengangguk. "Kabar gembiranya adalaaaah, Maryam sudah pindah kesatuan di Semarang. Yeeeeee" Maryam bertepuk tangan.
"Ha? Kenapa gak minta disini saja sih naaaak? Kan bisa pulang tiap hari" Mamah Anin protes. Maryam menggeleng. "Maryam pengen disana juga sama yang lain. Biar nanti saat kalian pensiun, kita bisa kumpul di Semarang semuaaa"
"Arhh, benar kata Mamah. mending kamu di Bandung saja. Nanti pasti dia manja deh Mah. minta antar sana sini" ujar Sigit.
"Eiitss, tenaaaaaangg, gak bakalan lagi ngrepotin Abang" kata Maryam. Semua menatap curiga pada Maryam "Apa sih?"
"Siapa?" tanya papah Bagas. "Siapa? Siapa yang siapa Pah?" jawab Maryam
__ADS_1
"Mau jujur atau kami sendiri yang cari tahu?" Kini Sigit ikut mendesak adiknya. Maryam hanya nyengir kuda.
Muti tersenyum melihat lelaki di rumah itu begitu kepo. "Mah, apa laki-laki akan selalu over protective sama wanitanya?" tanya Muti. Mamah Anin mengangguk.
"Iya, mereka akan melakukan itu untuk menjaga wanita mereka. Makanya Ayahmu seperti itu ke kamu, keras" jawab Mamah Anin.
Sigit menoleh ke Muti. "Kenapa kok diam sambil senyum sih?"
"Gak papa, enak ya punya saudara dan keluarga lengkap. Ramai. Bisa berbagi cerita, jadi sahabat, musuh, abang, adik, teman. Hmmm" ujarnya sedih.
Sigit menangkuo wajah Muti. "Kami juga keluargamu, adiknya mas, berarti adikmu juga. Papah dan Mamah mas berarti Papah dan Mamah kamu juga"
Mamah Anin menitikkan air matanya saat Sigit berkata seperti itu. Ia teringat akan masa-masa kesepiannya dulu sebelum bertemu dengan papah Bagas. Seorang diri, ditinggal kedua orang tuanya. "Mamah juga pernah ada di posisimu Muti, bahkan mamah hanya dianggap sampah oleh keluarga pamannya Mamah. Jangan sedih sayang"
Muti memeluk Mamah Anin. "Makasih semuanya, keluarga kalian begitu hangat"
Ponsel Maryam berdering. Semua mata tertuju pada ponsel itu. Maryam menahan nafasnya. Para lelaki bersiap pada posisinya untuk mengambil ponsel itu. Dan.... grepp
Sigit memeluk adiknya dan mencoba mengambil ponsel itu. Papahnya mencoba merebutnya. Dan berhasil.
Tertera nama dr. Habib di layar ponsel Maryam. "Jangan diangkat pah!" Maryam menunjuk papahnya.
Maryam menyelesaikan push upnya. "Maaah"
Mamah Anin dan Muti hanya tertawa. "Makanya, sudah mamah bilang kan? Kalau sudah punya calon bawa kemari"
Papah Bagas mengucapkan salam mengakhiri percakapan itu. "Oke mah, kita akan ke Semarang. 5 hari disana. Dia seorang dokter umum, asli Magelang, Ayahnya bernama Farid Baihaqi, seorang pensiunan PNS, dulu pernah jadi ajudan bupati. Ibunya dokter bedah. Anak kedua dari 3 bersaudara. Ini alasan kamu pindah kesatuan di Semarang?" tanya papah Bagas kepada Maryam.
Maryam nyengir kuda. "Infonya lengkap banget sih pah. Nanti kan ada waktunya kalian akan ketemu dia"
"Ooo rak iso, Abang mau tahu secepatnya. Besok ikut pulang ke Semarang, suruh dia menemui kamu" kata Sigit. Maryam berdecak kesal. "Dia juga kerja kali"
"Halah, alasan. Cuma sebentar doaaang, perjalanan Magelang ke Semarang dekeeet. Jangan banyak alasan!" kata Sigit lagi.
"Mbuh mbuh mbuh. Terserah kalian saja lah" kata Maryam meninggalkan mereka. Muti mengekor di belakang adik iparnya. "Mar, nanti mbak tidur sama kamu ya?"
Maryam tersenyum dan mengangguk. "Tapi jangan kaget kalau aku tidurnya ngorok ya mbak. Heheh, kenapa gak tidur sama abang saja"
__ADS_1
Muti tertawa mendengarnya. "Abangmu susah digoda. Lempeng"
"Hahaha, maklumin mbak, dia jatuh cinta cuma dua kali. Pertama sama mbak Niken, kedua sama mbak Muti. Jadi kaku begitu deh. Udah pernah diapain mbak sama bang Sisi?" tanya Maryam jahil.
"Gak diapa-apain. Hahaha, kamu ini. Ayo mbak bantu ngeluarkan isi tas mu"
"Gak usah, kan besok balik ke Semarang. Mbak, kira-kira mas Habib ditolak gak ya sama Papah dan bang Sisi?" Maryam khawatir.
"Memang pacarmu punya kekurangan?" Maryam menggeleng. "Dia itu dokter cowok paling perhatian tahu mbak. Makanya aku jatuh hati sama dia. Mau nunggu aku sampai pulang Satgas"
"Nah, apa yang mau dikhawatirkan? Positive thinking aja Mar, mbak yakin kok Papah dan mas Sigit bukan orang yang picik hanya menilai sesuatu dari satu sisi. Buktinya? Mbak dijadikan mantu oleh papah dan mamah. Ya meski karena mandat sih, tapi kalau tidak dilandasi cinta juga tidak akan bisa bersama"
Maryam mengangguk. "Rasanya jadi playgirl gimana mbak? Hahahaha, senang pasti ya banyak yang merhatikan"
Sigit mengetuk pintu. "Jangan diingatkan lagi tentang playgirlnya dia. Bisa kumat lagi nanti" Muti berdecak. "Apaan sih maaaas?"
"Nih barang kamu, bobok sama Maryam ya?"
"Iya, apa kamu mau tidur sama aku sekarang mas?" Muti menggoda Sigit. "Hish, jangan mulai deh ah"
Sigit balik badan hendak pergi, Muti menarik kaos Sigit. "Kasih kiss dulu dong sayaaang"
Maryam tertawa keras melihat sikap manja Muti. "Kasih bang kasiiiihh, biar bisa tidur nyenyaaaakkk"
"Kiss bye, muachhhh" Sigit melempar kiss bye itu dan ditangkap Muti lalu disimpannya di hati.
"Aiiihhh, romantisnyaaaa. Ngiri aku laaaahhh"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip