
Luna akhirnya luluh. Danang menenangkannya. Hingga tangisan Luna berhenti. "Pindah gih, biar aku yang bawa mobilnya" kata Danang. Luna menggeleng. "Gak usah"
"Jangan bandel" Danang turun dan menggantikan posisi Luna sebagai pengemudi. Luna akhirnya mau berpindah. Danang melajukan mobil kembali ke rumah Luna.
Di dalam perjalanan mereka lebih banyak diam. "Kamu.... sama Bima kenapa bisa putus?" tanya Danang. Luna mengernyitkan dahinya. "Putus??"
Danang mengangguk. "Ya itu si Bima malah sama si Jihan"
"Pacaran wae ora kok putus, apane sing meh diputus? Sing ngomong aku pacaran karo Bima sopo? (Pacaran saja tidak kok putus, apanya yang mau diputus? Yang ngomong aku pacaran sama Bima siapa?)"
"Oh, aku kira dulu kalian pacaran" Terang Danang yang mengira bahwa dulu Bima dan Luna sudah resmi pacaran. "Besok senggang gak?" tanyanya lagi.
Luna mengangguk. "Jalan yuk!" ajak Danang. Luna menggeleng. "Aku mau tidur di rumah"
"Yakin gak mau jalan sama aku? Aku 3 hari lagi balik ke Bali lagi lho" kata Danang. Luna tetap menggeleng.
"Aku beneran capek, pengen tiduran saja"
"Oh, ya sudah gak papa. Kalau ngantuk tidur gih. Jalanan macet juga"
Luna mengangguk. Ia mengubah sandaran kursinya agar lebih nyaman untuk tidur. Danang tersenyum senang melihatnya.
Luna ingin memejamkan matanya tapi tak bisa. Banyak sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Danang, tapi, gengsinya masih saja mengalahkan itu semua. Danang menoleh dan melihat Luna tidak tidur. "Lhoh, kenapa gak tidur?"
"Gak bisa tidur"
Danang tersenyum.dan mengacak-acak rambut Luna. "Makin galak saja sih kamu"
"Kalau sama kamu wajib galak! Gak bisa dilembek-lembekin!"
Danang mengernyitkan dahinya. "Cuma sama aku? Atau sama semua cowok?" Luna diam tak menjawab. "Lun"
"Hmmm"
"Kamu masih marah ya sama aku karena kesalahan aku dulu?" tanya Danang hati-hati. "Marah banget! Siapa sih yang mau digituin? Dibuat mainan?"
__ADS_1
Danang kecewa dengan jawaban Luna. "Sakit kan dengar jawaban aku begini?" Danang menghela nafasnya.
"Sekali lagi aku minta maaf Lun, jika memang hatimu malah sakit sama aku, lebih baik aku menghilang" kata Danang pasrah. Luna tersenyum kecut mendengar perkataan Danang.
"Tuh kan! Lihat! Gitu lagi! Katanya mau berjuang! Apaan berjuang kayak begini modelnya?? Baru digalakin mundur! Dasar cowok pengecut!" umpat Luna. Danang tersenyum mendengarnya. Itu artinya Luna memang memberinya kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan dirinya.
"Apa senyam senyum begitu? Ada yang lucu?" kata Luna masih judas. Danang menggeleng. "Salah kalau aku senyum? Bukannya kamu bilang kangen sama aku? Itu berarti termasuk kangen sama senyum aku dong!"
Luna kalah telak. Ia menjadi gelagapan. "Si-siapa bilang aku kangen?? Gak? Gak ada!"
Danang tertawa. "Tadi, perlu reka adegan ulang? Hmm? Apa memang kangen pengen dipeluk??" jawab Danang membuat wajah Luna merona.
"Ih, kenapa wajahnya? Malu ya?" goda Danang. Luna berdecak sebal sambil menahan senyumnya dan memalingkan wajahnya. "Apaan sih? Gak jelas!"
"Yakin besok gak mau jalan sama aku?" Luna menggeleng. "Akunya capek. Malamnya itu nanti ada operasi patung. Apalagi ini mau puasa, patrolinya makin gencar"
Danang mengangguk mencoba mengerti pekerjaan Luna. "Ya sudah, mau aku temenin kerjanya?"
"Ih, ngapain?? Gak usah! Yang ada aku jadi bahan ledekan Sigit, mas Ali dan Bima"
"Gak usah tahu maksudnya. Ini jalan macet banget sih?? Cari jalan lain kek biar cepat sampai rumah!" protes Luna. Danang masih berpikir tentang ucapan Luna dan dia baru mengerti.
"Ooo.... kamu takut dibilang CLBK? Hmm? Kamu takut mereka meledekmu karena hal itu?" Pipi Luna kembali merona. Danang tertawa senang melihat ekspresi Luna. Danang mencari jalan lain untuk terhindar dari kemacetan.
"Besok sore ke rumah aku ya? Ketemu sama mamah dan papah" ajak Danang. Luna terdiam. "Kenapa? Gak mau?"
"Ma-mau ngapain?" tanya Luna tergagap. "Silaturahmi, kalau belum siap gak papa sih"
Luna hanya terdiam. Tak tahu harus menolak atau menerima dengan ajakan Danang. Dulu dirinya memang menginginkannya. Tapi entah mengapa Luna ingin menghindari hal itu dahulu. Mungkinkah hatinya masih ragu terhadap Danang? Entahlah, hanya dia yang tahu.
"Ya sudah kalau gak mau gak papa" kata Danang akhirnya karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Luna. "Aku.... aku..."
"Masih ragu sama aku. Itu kan yang mau kamu utarakan?" sahut Dananh seakan tahu isi hati Luna. Luna mengangguk ragu. Danang tersenyum. "Gak papa, itu artinya aku harus berusaha lebih keras untuk meyakinkan kamu bahwa aku tidak main-main lagi dengan hatimu"
Tiba-tiba saja mobil Luna bergoyang. Fanang segera menepikan mobil. "Kenapa nih?" Danang melepas seatbelt dan turun memastikan keadaan. Ia melihat ban belakang sebelah kiri kempes. "Kenapa?" tanya Luna saat Danang membuka bagasi belakang.
__ADS_1
"Bannya kempes. Lhah, ini mana serepnya?" tanya Danang tak mendapati ban serep di bagasi belakang.
"Di rumah" jawab Luna polos. Danang menggaruk keningnya bingung. Akhirnya ia menghubungi orang bengkel langganannya. "Halo mas, saya di jalan x, ban mobil saya kempes. Kemungkinan bocor. Bisa minta tolong ditambal gak? Karena disini gak ada tukang tambal ban ik, oh oke, saya tunggu. Agak cepat ya mas"
Danang mengantongi ponselnya lagi. Ia meraih dongkrak dan peralatan untuk melepas ban mobil itu. Biar nanti saat orang montir datang, segera bisa ditambal, pikirnya.
Luna melihatnya dari spion mobil. Matahari saat itu masih tinggi, meskipun sudah akan menjelang sore. Keringat keluar dari tubuh Danang. Luna mematikan mesin mobil dan mengambil kuncinya. Turun dan menuju sebuah warung kecil. Ia membeli minuman.
Danang berhasil melepaskan ban itu. Orang montir pun datang. Danang menyerahkan semuanya pada sang montir. Ia mengambil tisu untuk membersihkan keringatnya. Luna menyodorkan minuman untuknya.
"Tolong bukain, tangan aku kotor nih" pinta Danang. Akhirnya Luna membukakan minuman untuknya. Danang menggunakan air itu untuk mencuci tangannya dan meminumnya karena ia haus.
Luna duduk di sebuah bangku semen tempat mobilnya berhenti. Matanya silau karena sinar matahari. Danang berdiri di depannya menghalangi sinar itu. "Ngapain?" tanya Luna. "Biar kamu gak kepanasan" kata Danang.
Luna tersenyum tipis sambil memalingkan wajahnya. Pipinya kembali merona karena sikap perhatian Danang. "Duduk saja sana" kata Luna. Danang menggeleng.
"Sekalian menikmati wajah yang selalu kurindukan" membuat Luna tersenyum malu. "Gak usah gombal!" kata Luna.
Danang hanya tersenyum sambil bersidekap di depan perut. Mereka dalam posisi seperti itu hingga montir itu selesai memperbaiki ban mobil yang bocor.
"Mas Danang, sudah" ucap montir itu. Danang menoleh dan mengangguk. Ia mengeluarkan biaya untuk perbaikan ban mobil.
Mereka kembali masuk mobil melanjutkan perjalanan.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip