Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 159


__ADS_3

Usia kehamilan Hana sudah mendekati hari perkiraan lahir. Ali dan istrinya sudah mempersiapkan segala kebutuhan bagi ibu dan bayinya kelak.


Ia selalu mengajak komunikasi calon bayinya. Calon bayinya lah yang menjadi pemersatu Hana dan Ali ketika mereka sedang bertengkar.


"Bang, sudah siapin nama buat dedek belum?" Ali menggeleng sambil memegang ponselnya.


"Abang masih bingung" kata Ali. Ia masih memainkan ponselnya membuat Hana jengah dan merebutnya.


"Dianggurin aja nih istrinya?" tanya Hana. Ali tersenyum dan mengecup keningnya. "Kurang berapa minggu lagi sih kita ketemu dia?" sambil mengelus-elus perut Hana.


"2 minggu lagi, tapi itu bisa maju bisa mundur, karena kata dokter Fiqy, umur kehamilannya sudah matang"


Ali berpikir keras untuk menemukan nama untuk calon bayinya. "Gimana kalau Aariz Zayed Abdullah untuk anak laki-laki, Ayrin Zuney Abdullah untuk anak perempuan. Bagaimana?"


Hana mengambil ponsel dan mencari arti nama itu. Ia tersenyum dan mengangguk. "Bobok yuk" Ali menarik selimut. "Yakin gak minta jatah? Nanti habis lahiran aku gak bisa dijamah-jamah lho yo?"


Ali tertawa mendengar tawaran istrinya. "Ini nih kayaknya kamu yang pengen deh. Ngaku?" Wajah Hana merona merah. "Bu-bukan!"


Ali tertawa melihat ekspresi wajah Hana. "Pakai acara malu lagi, ayolah!" jawab Ali bersemangat. Ia melepas bajunya. Sesaat berhenti. "Posisine piye dek?"


"Nungging!" jawab Hana. Ali mengangguk. Mereka melakukan ibadah menggairahkan itu. Selesai menyalurkan hasratnya, mereka tidur.


Waktu menunjukkan tengah malam. Hana merasa perutnya seperti orang yang sedang halangan. Ia memegang perut bagian bawahnya sambil mencengkeram kuat tangan Ali.


Ali terbangun, "Kenapa dek?" Hana diam sambik meringis menahas sakit. Mencengkeram kuat tangan Ali. Ali memakai pakaiannya dan menghidupkan lampu kamar. Ia melihat Hana yang sudah mengeluarkan keringat dingin di sekitaran wajahnya.


"Astaghfirullah, kamu kenapa dek? Kamu sakit?" Ali khawatir terhadap keadaan Hana. "Perut adek yang bawah sa..... kit banget bang....." kata Hana terbata.


"Kamu kenapa sayang? Jangan buat abang khawatir" Ali takut terjadi apa-apa dengan calon bayinya karena kegiatan tadi.


Hana mulai mengatur nafasnya. "Bang, kayaknya adek mulai mengalami kontraksi deh"


"Kita cek ke dokter saja yuk" Hana mengangguk. Ali membantu istrinya berganti pakaian. Lalu memapahnya keluar kamar. Hana mengalami kontraksi lagi. Ia mengatur nafasnya. Ali membantunya duduk dan mengelus-elus punggung Hana.


Ia membangunkan kakek Umang, memberitahunya bahwa mereka akan ke rumah sakit. "Hati-hati Al, kakek akan suruh Luna untuk membantumu"


Ali mengangguk. Kakek segera memberitahu Luna. Luna dan Danang langsung meluncur ke rumah sakit yang dimaksud kakek. Azka yang baru terbangun tak tahu ada kejadian apa.


"Ada apa kek? Kok tadi sepertinya ramai"

__ADS_1


"Mbakmu kayaknya mau lahiran" kata kakek. Azka hanya ber-oh. "Ha? Lahiran?" katanya setelah sadar.


Kakek Umang mengangguk. "Telpon Papi dan Mami mu. Suruh mereka datang" Azka mengangguk. Ia segera mencari ponselnya dan segera menghubungi orang tuanya.


Sigit juga diberitahu Luna bahwa Hana sedang mengalami kontrkasi. "Yank, Hana mau lahiran" Sigit membangunkan istrinya.


"Hmm?? Bukannya masih 2 minggu lagi mas?"


"Gak tahu, tadi Luna nelpon bilangnya gitu. Kita kesananya besok pagi saja ya?" Muti mengangguk.


Ali sudah sampai di rumah sakit. Luna dan Danang sudah disana menunggu kedatangan mereka. Hana langsung dimasukkan IGD. Luna mendaftarkan Hana.


Hana dilakukan pemeriksaan. "Sudah bukaan 2cm bu, biasanya dengan dokter siapa?" tanya bidan itu.


"Dokter Fiqy mbak" bidan itu mengangguk dan segera menghubungi dokter Fiqy. Ali setia menemani istrinya, sabar terhadap rengekan istrinya.


"Sabar sayang... berjuang ya? Sebentar lagi kita ketemu dia. Yang kita nanti-nantikan selama 9 bulan" Ali menyemangati istrinya. Ia menghapus peluh yang menetes dari dahi Hana.


Luna dan Danang menunggui mereka. "Ya Allah, apa nanti kamu juga kesakitan seperti itu yank?" tanya Danang.


Luna terheran. "Kenapa?"


"Mas gak tega lihatnya sayang" Luna tersenyum. Memeluk erat lengan Danang. "Kodratnya perempuan memang begitu mas, makanya jangan pernah sakiti kami, para perempuan"


"Sudah termaafkan dan jangan diungkit lagi" Hana dipindahkan ke ruang perawatan. Ali menyuruh Luna dan Danang pulang.


"Nanti kamu gak ada yang gantiin jaga Al" kata Danang.


"Gak papa. Biar aku saja yang menemaninya. Pulanglah, tolong bawakan tas yang sudah aku siapkan di dalam lemari kami" Luna mengangguk.


"Antarkan besok saja" imbuh Ali. Akhirnya Luna dan Danang pulang. Semalam suntuk Ali menjaga Hana.


Pagi hari dilakukan cek kembali. "Alhamdulillah sudah bukaan 5, bertahan ya bu, sebentar lagi ketemu anaknya" kata dokter Fiqy yang melakukan pemeriksaan dalam kepada Hana. Ali tersenyum mendengarnya.


"Makan dulu biar ada tenaganya nanti pas ngejan" bujuk Ali. Hana menggeleng. "Adek gak mau itu bang, adek pengen makan bubur dikasih sambal pecel sama telur bacem"


Ali mengangguk. Ia menelpon Luna untuk membawakannya makanan pesanan Hana. Sigit dan Muti datang menjenguk. "Gimana Han?" tanya Sigit. Muti melihat Hana yang meringis menahan sakit malah ikut-ikutan seperti merasakannya.


"Baru buka 5 Si, semalaman dia gak bisa tidur. Sakit terus katanya" tutur Ali.

__ADS_1


"Adeknya mas, yang kuat ya? Mas Si yakin kamu pasti bisa. Semangat ya Han" Sigit mengelu-elus kepala Hana. Hana mengangguk. Mereka pamit untuk pergi bekerja. Luna datang hanya memberikan sarapan dan tas yang diminta Ali lalu pergi bekerja.


Papi Raka dan Mami Salma datang. Mereka menggantikan Ali sebentar. Ali memberitahu orang tuanya. "Abang....." rengek Hana mencari suaminya. Ali mendekat padanya. "Abang disini sayang"


"Bacain adek surat Maryam" pintanya. Ali mengangguk. Ia bergegas mengambil wudhu dan mulai melantunkan ayat demi ayat dari surat Maryam. Mami Salma menyuruh Hana untuk aktif bergerak agar kepala janinnya cepat turun. Hana melakukan gerakan seperti yabg dicontohkan Mami Salma.


"Cucu nenek, yok cepat lahir yok, nenek sama kakek sudah kangen nih pengen ketemu" kata Mami Salma. Setelah 4 jam bidan jaga melakukan pemeriksaan lagi. "Alhamdulillah, sudah buka 9 bu. Kita pindah ke ruang bersalin ya?" kata Bidan itu.


Hana dipindahkan ke ruang bersalin. Ali menemaninya. Para bidan mempersiapkan peralatannya. "Mbak, sudah boleh ngejan belum? Rasanya pengen pup" kata Hana.


Salah satu bidan itu memeriksa keadaan Hana. "Yok mulai nata diri. Nanti tarik nafas panjang, mengejan di bawah sini, tanpa suara, geget, mata melek, kaki ditekuk seperti ini. Kepala lihat ke bawah"


Hana mulai mempraktekkan yabg dijelaskan bidan tadi. "Yok bagus... pinter.... sekali lagi.... Iyak.... bagus...." Bidan itu memberikan semangat dan pujian untuk Hana. Setelah mengejan 30 menit lamanya, ketuban Hana mulai terlihat.


Bidan memecah ketuban Hana. Kepala bayi sudah terlihat. Membuat Hana semakin semangat. Setelah berusaha 10 menit, akhirnya bayi Hana berhasil lahir.


Oeeekkk oekkkk eoeeekkk. Bayi mungil itu menangis dengan keras. Ali mencium kening istrinya. "Terima kasih sayang" Hana menitikkan air mata bahagia.


"Alhamdulillah, pukul 10.35 lahir bayi laki-laki dengan panjang.... 53cm, dan berat..... 3200 gram" kata Bidan itu lalu menggunting tali pusatnya dan meletakkan di dada Hana.


"Biarkan dia mencari ****** sendiri bu" Hana membiarkannya. Ali segera mengambil wudhu untuk segera mengadzani anaknya.


Hana sudah bersih, anaknya pun juga sudah dibedong. Ali mengadzani anaknya, haru, bahagia, menjadi satu dalam tumpahan air mata. "Terima kasih telah hadir dalam hidup Abang, memberi warna baru bagi hati Abang" katanya sambil mencium kening Hana.


Hana tersenyum "Sama-sama bang"


"Assalamualaikum baby Aariz Zayed Abdullah. Mari kita mulai perjalanan baru kita nak, ajari Ayah dan Ibu sebagai orang tua, dan sebaliknya, kami akan membekalimu dengan agama" Ali menghujani Aariz dengan ciuman.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Bentar lagi tamatttt........ relakanlah... relakanlah..... biar othor bisa fokus dengan sebelah.....


__ADS_2