
Pagi menyambut. Rumah Anin nampak ramai. Mereka sibuk sedari subuh menjelang tadi. Para orang tua akan kembali ke tempat rantau mereka. Hana akan mulai bekerja pagi ini. Sigit harus melakukan penyelidikan atas kasus yang menimpanya.
Luna dan keluarganya juga sudah sampai dikediaman itu untuk mengantarkan ke bandara. "Mah, pah, kita ketemu di bandara ya. Sudah disuruh Muti ke rumahnya nih. Penerbangan om Indra maju 30 menit dari perkiraan"
Bagas menjawab "Lhoh, gak dijemput sama pesawat khusus?" Sigit hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.
Berita pagi ini, seorang pria ditemukan terkubur bersama tanah masih lengkap mengenakan pakaiannya di dalam hutan. Pria tersebut mengalami luka tembak di bagian kepala. Identitas pria ini belum diketahui. Pihak polsek Ungaran masih melakukan identifikasi terhadap mayat ini.
Mayat pria ini ditemukan oleh seorang warga yang hendak mencari kayu kering di dalam hutan. Saat dirinya sedang mengumpulkan kayu itu, dia melihat sebuah gundukan yang masih basah. Dirinya merasa penasaran. Ketika digali kembali dirinya terkejut mendapati mayat seorang pria. Dia segera melapor ke polisi.
Sigit dan semua yang ada disana diam sejenak dan mendengarkan dengan seksama berita pagi itu. "Mungkin gak ya kalau itu ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa Sigit?" Raka dan Tristan menyahut bersamaan.
Sigit teringat akan bodyguard. "Pakdhe, tolong carikan orang kepercayaan Pakdhe yang bisa mengawasi Muti. Setelah kejadian semalam aku jadi gak tenang kalau dia di rumah sendirian"
Tristan mengangguk. "Oke, nanti pakdhe pilihkan"
"Kenapa tidak pakai pengawalan anggota TNI saja?" tanya Bagas. Sigit menghela nafasnya. "Papah pikir Muti mau pah?"
Bagas dan Anin teringat akan cerita Indra yang mengatakan bahwa Muti selalu mengusir orang-orangnya untuk pergi. Jika mereka tak menuruti keinginan Muti, maka Muti akan pergi lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Benar kata Sigit pah. Dia itu anaknya gak mau dikekang. Tapi kamu sudah bilang sama Muti?" tanya Anin. Sigit mengangguk. "Dia sudah setuju mah, ya sudah, Sigit duluan ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab semuanya. Sigit mengemudikan mobilnya menuju kediaman Muti. Daritadi ponselnya sudah ditelpon terus menerus oleh Muti.
Akhirnya dia sampai di rumah Muti. Seperti kemarin, Muti akan menyambutnya dengan wajah kesal karena menunggunya. Sigit menyalami calon mertuanya dan membawakan barangnya ke bagasi belakang.
Indra duduk di depan bersama Sigit. Dan Muti duduk di belakang. "Kamu itu lama sekali ngapain saja sih mas? Ha? Dandan? Pakai bulu mata palsu? Atau apa?" omel Muti di kursi belakang.
Indra dan Sigit tertawa kecil. "Persis ibunya kalau lagi ngomel begitu, Git. Sudah lah nak, toh Ayah juga masih ada waktu kok. Jangan ngomel pagi-pagi. Nanti rejekinya menjauh"
Muti berdecak. "Sebenarnya anak Ayah tuh mas Sigit apa Muti sih Yah? Perasaan dari kemarin muji-muji mas Sigit melulu" memasang wajah kesal.
"Kamu harus selidiki ini, Git. Ayah yakin, ini pasti ada hubungannya dengan kasus yang menimpa kalian. Ayah akan telpon DanYon daerah sini untuk membantu pelacakan kasus ini" lata Indra sambil melihat ke ponselnya.
Sigit tak ingin menolak bantuan dari calon mertuanya. Ia merasa tak enak jika harus menolaknya. "Aku ikut!" kata Muti.
"Ikut? Ikut kemana?" tanya Sigit bingung.
Muti kembali berdecak. "Kamu belum sarapan ya? Ya ikut kamu ke polsek Ungaran lagi lah mas. Aku kan sempat membuka masker salah satu penjahat itu sebelum aku terkena tendangan. Siapa tahu memang yang meninggal itu yang aku lihat"
__ADS_1
Indra mengangguk setuju. "Ayah setuju. Bawa Muti sama kamu. Dia lebih aman bersamamu"
"Oh ya Yah, maaf sebelumnya, tapi Sigit meminta salah satu pengawal andalan pakdhe Tristan untuk menjaga Muti" terang Sigit yang sedari tadi belum membahas itu.
Indra mengangguk setuju. "Lakukan yang menurutmu baik untuk keselamatan Muti. Karena Ayah juga paham dengan pekerjaan kamu"
"Terima kasih Yah" Indra tersenyum dan menepuk bahu calon mantunya itu. "Sama-sama"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip