Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 42


__ADS_3

Para orang tua tersenyum melihat Sigit dan Muti berjalan sambil bergandengan tangan. Menandakan mereka telah berbaikan. "Begini kan adem lihatnya" kata Bagas.


"Yah, maafkan Sigit atas perkataan Sigit dan menyebabkan Ayah sampai terkena stroke" Sigit mencium tangan Ayah Indra menyesali perbuatannya.


Indra membelai kepala Sigit. "Ayah hanya terkena stroke ringan. Tapi, kalau kamu merasa bersalah terus seperti ini, maka kamu harus menerima hukuman dari Ayah"


"Sigit rela kok dihukum, tapi jangan yang berat-berat" pinta Sigit dengan wajah memelas. "Memang hukuman yang berat apa?" tanya Papah Bagas.


"Jangan suruh Sigit meninggalkan Muti, karena Sigit tak akan mampu" Sigit menggombal membuat semuanya tertawa. "Yang ngajarin kamu begitu siapa nak?" tanya mamah Anin.


Sigit menunjuk Muti. "Kok aku? Mana ada? Ih kamu! Mas Sigit tuh memang suka begitu deh mah, sejak ngajak kencan pertama kali juga begitu"


Papah Bagas membela Sigit. "Itu bukan gombal. Sigit mengungkapkan isi hatinya lho. Benar kan Git?" Sigit mengangguk.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Papab Bagas. Semua menantikan jawaban mereka. "Bismillahirrahmanirrahim. Kalau dalam satu kedepan Ayah bisa pulang dari rumah sakit dan keadaannya sudah stabil, Sigit akan nikah kantor dengan Muti. Sigit minta bantuan dari Papah dan Ayah, biar pengajuannya bisa dipercepat. Hehehe"


Papah Bagas mengangguk. "Nanti Papah telpon Komandan Agung. Lalu apa lagi yang bisa kami bantu?"


"Nikah agama. Kami butuh percepatan administrasinya. Hehehe" imbuh Sigit. Papah Bagas mengangguk. "Oke"


"Resepsinya nanti-nanti saja Pah, Mah, Yah. Biar gak terlalu tergesa-gesa dan mepet waktunya" imbuh Muti.


"Alhamdulillaaaah, begini kan enak to kami mendengarnya. Kalian fitting disini saja lah. Beli yang sudah jadi. Biar gak memakan waktu juga" kata mamah Anin. Mereka mengangguk setuju.


.


Humam dipanggil oleh tuan mudanya, karena ia ketahuan masih berada di Semarang. Tuan mudanya geram. Ia mulai khawatir dengan Humam. Apakah ia akan setia padanya? Atau malah akan menjadi boomerang untuknya? Tapi sebelum itu terjadi, tuan muda akan mengantisipasinya.


"Kamu ingin mencoba berkhianat kepadaku??? Apa kamu masih mencintai gadis itu??? Kamu terlalu ceroboh!! Hampir saja keberadaanmu diketahui oleh polisi sialan itu! Aku menyuruhmu meninggalkan kota ini sementara waktu! Agar perhatian mereka teralihkan! Kamu malah seperti itu!" hardik tuan muda kepada Humam.


Humam hanya menunduk tak menjawab sepatah katapun pertanyaan yang keluar dari tuan mudanya. "Segeralah bersembunyi. Aku tak ingin merusak rencana yang kususun. Lupakan rasa cintamu. Karena akhirnya dia yang harus mati untuk membalaskan dendam ibumu. Dan aku akan membunuh kedua anak tentara sialan itu"

__ADS_1


Humam mengangguk. "Keluarlah" kata tuan muda itu. Tuan muda memainkan kursi putarnya. "Panggil adik tiriku kemari. Aku ingin bicara padanya" perintah tuan muda kepada salah satu pengawalnya. Pengawal itu mengangguk dan segera menghubungi orang yang dimaksud oleh tuan muda itu.


Setelah 30 menit, sang adik pun datang. Ia langsung menemui kakaknya di ruang kerjanya. "Ada apa?" tanya sang adik.


Tuan muda tersenyum kecut. "Pradugamu atas Humam sepertinya betul. Dia masih mencintai gadis itu"


Sang adik gantian tertawa kecut. "Sudah aku bilang kan? Kenapa? kau takut akan merusak rencana kita?"


Tuan muda mengangguk. "Pastikan dia tak akan menjadi boomerang untuk kita" Sang adik mengangguk. "Oke kalau itu maumu. Sakiti Mia dan jadikan dia alat untuk menekan Humam"


"Aku setuju" jawab tuan muda dengan senyum licik. "Oh ya, mainkan peranmu. Buat dokter paru itu jatuh cinta padamu. Dan jebak dia. Tapi awas jika kamu sampai jatuh cinta padanya"


Sang adik tertawa. "Tenang, aku tidak akan mudah jatuh cinta. Ada yang masih ingin kamu bicarakan? Aku harus kembali ke polres"


Tuan muda itu menggeleng. "Kembalilah"


.


Saat akan turun dari angkutan umum, ada operasi tertib lalu lintas. Polisi memeriksa satu per satu kendaraan yang melintas. Selain operasi tertib lalu lintas, mereka juga menyisir ada tidaknya senjata tajam dan narko*ba.


Humam mulai gusar. Dirinya ketakutan. Saat itu angkutan yang ia naiki giliran untuk diperiksa. Galih meminta SIM dan STNK pengemudi angkutan. Luna memeriksa keadaan dalam angkutan. Luna melihat masih ada satu penumpang. Menurutnya penampilan lelaki itu aneh.


Siang bolong, menggunakan hoodie hitam, dengan masker, topi, semuanya serba hitam. Ditambahn tas besar seperti orang yang akan naik gunung.


"Permisi, mas. Bisa dibuka tasnya? Kami sedang melakukan razia tertib lalu lintas, senjata tajam dan narko*ba" tutur Luna.


Humam sudah mengeluarkan keringat dingin. Ia takut jika penyamarannya terbongkar dan tertangkap. Ia dan ibunya pasti akan dilenyapkan oleh tuan muda itu.


Humam mendorong tubuh Luna hingga jatuh terjerembab. Yudi yang jaraknya lebih dekat dengan Luna menolongnya. "Mbak Lun gak papa?"


Luna mengangguk. "Aku gak papa. Kejar pria tadi. Cepat!" Yudi mengejarnya. Galih bertanya kepada Luna saat Luna hendak ikut mengejar Humam. "Ada apa mbak?"

__ADS_1


"Aku curiga sama pria tadi. Ayolah bantu kejar" Luna mulai mengejar ke dalam stasiun. Sedangkan lainnya kembali ke tugas mereka. Galih ikut mengejar Humam.


Mereka berpencar mencari keberadaan Humam. Mereka menggunakan handy talk untuk berkomunikasi. "Mbak Lun, bagaimana ciri-ciri orang itu? Ganti" tanya Yudi.


"Dia memakai hoodie hitam, topi hitam, masker, dan tas ransel seperti tas gunung. Ganti" jawab Luna.


"Dia lari ke arah mana? Ganti" tanya Galih. "Aku juga tidak tahu. Ganti" jawab Luna.


"Sisir semua bagian. Jangan sampai ada yang terlewat" ucap Yudi. Mereka berlari kecil sambil melihat keadaan sekitar. Berharap orang yang mereka maksud berada diantara penumpang kereta lainnya.


"Aku melihatnya! Sebelah timur dari gerbong nomor 3" seru Luna. Mereka mencari gerbong yang dimaksud.


Humam tahu jika polisi mendekat ke arahnya. Ia segera masuk dalam gerbong dan bersembunyi. Mengakibatkan para polisi itu kesulitan kembali. "Galih ke arah kanan. Yud, arah kiri" kata Luna.


Mereka menyisir keberadaan orang tadi. Berharap menemukannya. Humam bersembunyi. Tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang dan ditarik masuk ke dalam toilet. "Tunggu hingga aku bisa mengalihkan mereka"


Para polisi itu mencari-cari, tapi malah nihil. "Mbak Lun, gak ada" kata Galih. "Ya sudah lah. kita kembali"


.


.


.


Like


Vote


Komen


tip

__ADS_1


Othor ngantuk. Besok malam lagi ya. Karena besok pagi othor bersama para lansia yang mau di encuuuuussss


__ADS_2