
Sigit pulang melewati jalan biasanya. Seperti saat Luna mengendarai mobil, hampir saja dia menabrak seseorang dengan penampilan yang sama. Sigit sampai mengklakson karena terkejut.
"Itu orang apa memedi sih? Dulu Luna sekarang aku. Heran aku" Sigit melanjutkan perjalanannya.
.
Tuan muda mengumpulkan semua anak buahnya. "Aku tak ingin rencana kita rusak hanya karena kalian bertindak ceroboh. Terutama kamu Mam, sudah aku peringatkan berapa kali untukmu. Kamu itu sekarang menjadi buron. Dari Jakarta kamu bisa lolos, tapi jika kali ini kamu sampai gagal lagi, aku tak akan membantumu lagi"
Humam mengangguk. "Lupakan rasa cintamu itu. Ayahmu dibunuh oleh Ayahnya. Balaskan dendam ibumu atas kepergian Ayahmu. Ibumu tak pernah merasakan kebahagiaan akibat ulah Ayah perempuan itu" Tuan Muda meracuni pikiran Humam dengan dendam masa lalu.
"Aku sudah tak ada rasa terhadapnya. Aku hanya ingin menggoyahkannya. Dia umpan yang bagus untuk mengundang semua tamu kita. Nyawa harus dibayar nyawa, rasa sakit harus dibayar dengan rasa sakit! Kepedihan harus dibayar dengan kepedihan! Indrajaya sudah terlalu bahagia dalam waktu yang lama. Sekarang saatnya untuk membalasnya" sahut Humam dengan dendam membara.
Tuan muda itu tersenyum melihat sang tangan kanan tak berubah pikiran. "Kalian terlalu lama untuk bertindak. Aku sudah malas berpura-pura. Langsung lakukan eksekusi saja lah kak!" kata pria yang duduk di kursi putar itu.
Tuan Muda mencengkeram kerahnya. "Jangan mencoba untuk mengaturku! Aku lebih paham dengan keadaan saat ini! Lakukan saja tugasmu jika kau masih ingin diakui sebagai keluarga Anggoro!"
"Wowowo, tenang-tenang. Aku akan melakukan peranku sesuai yang kau mau. Siapa saja yang ingin kau bunuh? Semuanya? Atau hanya anak-anak mereka?" tanya pria itu.
"Aku ingin hanya anak-anaknya, agar mereka bisa merasakan arti perpisahan dengan orang yang mereka cintai! Mereka juga mengusik bisnisku!" seru Tuan muda itu.
"Terserah kau saja lah kak"
.
Luna bersama tim nya melakukan razia di bar yang ada di kota Semarang. Dia kebagian lagi di kafe dan bar milik Danang. "Ya Allah, kenapa bisa aku lagi sih yang dapat sini?"
Danang menerima surat razia itu dari Luna. "Silahkan" kata Danang. Luna mengangguk dan segera melakukan tugasnya.
Sekitar 1 jam mereka melakukan razia di bar itu. Berbeda dengan hasil razia yang pertama, hasil razia yang kedua lebih tertib. Tak ditemukan gadis belia di dalam sana. Hanya beberapa orang yang mabuk tapi negatif terhadap zat adiktif.
Luna dan timnya pamit kepada Danang selaku pemilik tempat tersebut. "Terima kasih atas kerjasamanya, hasilnya akan kami kirimkan dalam 2 hingga 3 hari dari sekarang"
Danang mengangguk dan tersenyum tipis. "Sama-sama" Para polisi itu meninggalkan bar.
"Mbak Lun, kaku banget sih sama pak Danang. Lebih luwes napa?" sindir Eka. Luna tersenyum kecut mendengarnya.
"Luwas luwes kamu kira lagi nari atau apa? Eka, aku langsung pulang ya? Kamu bawa hasil pemeriksaan ke kantor sendiri bisa kan?" Eka mengangguk.
"Tenang saja mbak Lun, nanti biar dibantu anak-anak lainnya"
__ADS_1
"Oke makasih" Luna menuju mobilnya. Dia segera meninggalkan bar itu. Baru setengah perjalanan menuju rumah, mobilnya tiba-tiba mengalami mati mesin.
"Haduh! Kenapa nih?" Membuat sedikit kemacetan di jalan. Luna meminta tolong kepada pengendara lain untuk mendorong mobilnya ke tepi jalan. Dia segera menghubungi Ayahnya.
"Yah, mobil Luna mogok nih. Luna pulangnya agak telat ya? Iya, Luna bisa pulang sendiri. Nunggu bantuan dari kantor dulu biar mobilnya aman disana. Ya sudah, wassalamualaikum" Luna menutup telponnya.
Dia menghubungi Eka untuk menyuruh salah satu anggotanya menderek mobilnya. Dan dia menunggu, karena anggota baru saja tiba di polres.
Luna menunggu sambil sesekali melihat-lihat mobil yang lewat. Sebuah mobil berwarna putih berhenti. Danang turun membuat Luna sedikit terkejut. "Kenapa mobilnya?"
"Hmm? Ini, ee mogok. Gak tahu kenapa" jawab Luna kaku. Danang membuka kap mobil dan melihat mesin mobil itu. Luna hanya melihatnya. Danang meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ya aku tunggu" ucap Danang. "Telpon siapa?" tanya Luna.
"Orang bengkel, aku gak begitu paham mesin mobil" kata Danang seraya memasukkan ponselnya ke saku.
Luna menautkan alisnya bingung. "Memang masih ada yang buka?" Danang mengangguk. "Langgananku"
Luna segera menghubungi Eka, untuk membatalkan permintaannya tadi. Mereka menunggu montir datang. Hanya kebisuan yang terjadi. "Aku mau minta maaf atas sikapku waktu di kantor" Luna memberanikan diri untuk memulai percakapan.
Danang mengangguk. "Sudah kebal aku atas sikap dinginmu. Aku tahu kamu terpaksa melakukan itu. Tapi, adilkah buatku? Bagaimana dengan hati kecilmu?"
"Ya sudah bawa saja mas. Nanti kalau sudah jadi biar saya yang ambil" ucap Danang kepada montir itu. Lalu montir itu menderek mobil Luna ke bengkel.
Danang menuju mobilnya. Aku gak ditawarin dianterin pulang? Ih, dingin banget sih dia sekarang!. Batin Luna.
"Ngapain berdiri disitu? Ayo aku antar pulang" Danang berseru membuka pintu mobil untuk Luna.
"Gak usah, aku bisa naik taksi" Danang kembali menutup pintu mobilnya dan menghampiri Luna. "Sudah dingin, sok nolak dianterin lagi. Mau dipaksa? Apa masuk sendiri?"
Luna menahan senyumnya. "Dipaksa ajah, lebih enak! Hahahaha" Luna meninggalkan Danang dan menuju mobil Danang.
Danang berkacak pinggang dan tersenyum kecut. "Dasar Luna! Piktor banget sih!" Danang menyusul masuk ke dalam mobil.
"Diiih, siapa yang piktor coba? Emang kamu mikirnya apa?" Luna memasang seatbeltnya. Danang mulai melajukan mobilnya.
"Kenapa berubah pikiran gak dingin lagi ke aku? Nanti kalau kamu dimarahi Ayahmu bagaimana?" Danang mengutarakan isi hatinya.
Luna menatap lurus ke depan. "Aku hanya mencoba mengikuti kata hatiku. Ponselmu!" Luna menengadahkan tangan meminta ponsel Danang. Membuat Danang bingung.
__ADS_1
"Untuk?"
"Ya untuk nanti aku tahu mobil aku sudah selesai diservice atau belum"
Danang tersenyum kecut. "Nanti kalau sudah itu nomorku diblokir lagi?"
Luna menoleh. "Ih, suudzon! Ya.... gak lah!" jawab Luna dengan wajah merona.
"Oke, sekarang kita temenan lagi nih?" tanya Danang. "Emang sejak kapan aku nganggap kamu musuh?" tanya Luna.
Danang tertawa. "Sejak kamu kelas 2 dan tiba-tiba menjauh dari aku. Gak ingat kamu?"
"Iya maaf. Sini hpnya"
"Halah, bilang saja mau minta nomor hpku kan?" Goda Danang kepada Luna.
"Ih, pede kamu dari dulu sampai sekarang gak habis ya? Ya sudah kalau gak mau ngasih" Danang merogoh ponselnya di saku.
"Susah keluarnya Lun, bantuin keluarin Lun!" Luna menggeplak kepala Danang seperti dulu ia lakukan waktu SMA. "Dasar piktor!" kata Luna sambil tertawa.
"Hahahah" Danang menyerahkan ponselnya. Luna mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Danang. Dan mereka bertukar nomor.
Danang mengantarkan Luna sampai ke depan rumahnya. "Gak usah turun, aku... gak mau kamu kena marah Ayah. Makasih ya Nang"
"Sama-sama, malam Lun" Danang tersenyum ke arah Luna. Luna membalas senyuman itu. Luna segera masuk rumah dan Danang melajukan mobilnya kembali.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1