
Sigit menghentikan salah satu pengendara bermotor. Yang mengendarai adalah anak di bawah umur. Masih usia 15 tahun. Berboncengan. Yang satu mengenakan helm dan yang satu polosan.
"Selamat malam, dik" sapa Sigit kepada pengendara motor itu.
"Malam pak" jawab keduanya dengan mimik muka takut.
"Bisa ditunjukkan SIM dan STNK nya?" Mereka menggeleng. "Gak punya pak"
Sigit tersenyum mendengarnya. "Lho, kok gak punya? KTP ada?" Mereka menggeleng juga.
"Kalian belum punya KTP? Usia kalian berapa? Nama kalian siapa? Tinggal dimana?" cecar Sigit kepada dua bocah tadi. Bukannya menjawab malah menangis.
Sigit kebingungan mendapati mereka menangis. "Jangan nangiiis, bapak kan cuma tanya"
"Huhuhu, nama saya Tono dan ini adik saya Toni. Kami kembar tapi tak serupa pak. Umur kami 15 tahun, rumah kami di dekat pasar itu. Kami.... huhuhu..... kami bawa motor tanpa sepengetahuan orang tua kami. Huhuhuhu. Tolong..... hiks.... jangan tilang kami pak..... hiks.... huhuhu.... hiks...." terang Tono sebagai pengendara motor.
Sigit hanya menasehatinya. "Bapak gak akan menilang kalian. Tapi, kalian harus berjanji tidak boleh bawa motor tanpa sepengetahuan orang tua kalian. Itu bahaya, nanti kalau ada apa-apa sama kalian di jalan bagaimana? Sudah, jangan menangis. Begini saja, kita buat surat perjanjian, kalau kalian mengulangi kesalahan kalian lagi maka bapak tidak akan segan menilang kalian. Mengerti?"
Para bocah itu mengangguk. "Mengerti pak" Sigit memanggil Hadi. "Had, tolong buatkan surat perjanjian tulis tangan untuk mereka berdua supaya gak mengulangi kesalahan mereka lagi. Lalu, antarkan mereka pulang. Sudah selesai kan jam operasinya"
"Siap Ndan! Sudah" Hadi menerima perintah itu. "Saya pulang duluan. Surat tilang yang terkumpul berikan pada Yudi. Dia yang akan mengelolanya"
"Siap Ndan!" Hadi memberi hormat bagi Sigit dan Sigit membalasnya. Lalu beralih ke mobil. Muti tersenyum saat Sigit membuka pintu mobil. "Sudah selesai mas?"
Sigit memasang seatbeltnya dan mengangguk. "Sudah" Muti menunjukkan chat dirinya dengan calon mamah mertuanya dan Ayahnya.
Sigit meraih ponsel Muti dan membacanya. "Alamaaaaaak, yang benar saja yank?? Masa seminggu siiih? Gak terlalu mendadak apa??"
Muti berdecak sebal. "Kamu gak mau nikahin aku cepet-cepet ya mas?"
"Ha? Bukan, bukan gitu maksudnya mas marmuuut. Persiapannya itu lhoooo. Nikah kantor, nikah agama, resepsi. Riweh sayang kalau waktunya mepet" terang Sigit.
Muti nyengir kuda terhadap Sigit. "Sudah diatur semua oleh mamah. Kita tinggal ngurus nikah kantornya saja"
"Ya sudah lah kalau itu sudah diatur mamah. Berarti ambil berkasnya dulu di kantor. Besok kita mulai urus semuanya" Muti mengangguk.
Sigit melajukan mobilnya kembali ke polres untuk mengambil berkas nikah kantor yang pernah Yudi berikan kepadanya.
Tak lama, mobil Sigit terparkir di polres. "Mas cuma sebentar. Tunggu disini saja ya?" Muti mengangguk.
__ADS_1
Saat melewati lorong, Sigit melihat seseorang yang baru saja keluar dari ruangannya. Dia mengamati gerak gerik orang itu. "Bukannya dia......???"
Sigit memastikan orang itu benar-benar pergi. Dia masuk ke ruangannya. Memeriksa apakah ada penyadap lagi? Tapi Sigit tak menemukan apapun. Akhirnya ia segera mengambil berkas nikah kantor dan seragam bhayangkari itu.
Sigit segera kembali ke mobil. Muti berdecak saat Sigit kembali. "Kebiasaan suka bikin aku nunggu lama!"
Sigit hanya tersenyum dan segera kembali ke rumah.
Muti menguap beberapa kali. Akhirnya dia tertidur di mobil. Sigit melihatnya. "Lhah, gimana sih? Katanya mau bikin laporan, malah tidur"
Sigit hanya geleng kepala melihat Muti sudah tidur dengan mulut menganga. "Tutup mulutnya sayaaang, nanti kemasukan nyamuk"
Percuma Sigit bicara, toh lawan bicaranya sudah sampai di alam mimpi. Sigit sampai di rumahnya. Dia menggendong Muti dan menidurkannya di ranjang miliknya.
"Hadeeeh, tidur sofa lagi nih gara-gara marmut. Dasar! Ini aurat kok ya kebuka semuaaaa" Sigit menarik selimut untuk Muti lalu keluar dari kamarnya. Sigit mengisi berkas nikah kantornya.
Hana menghampirinya karena dia belum juga bisa tidur. "Ngapain masih melek Han? Bukannya kamu besok kerja?" tanya Sigit.
"Nggak bisa tidur nih mas Si. Muti mana? Katanya menginap sini" Sigit menunjuk kamarnya.
"Sudah tidur di kamar. Kamu tidur sama dia di ranjang mas ya? Aku yang tidur kamar kamu"
"Harusnya kemarin aku disuruh nikah langsung nikah ya Han? Biar gak tidur di sofa begini. Hahaha"
"Diiih, tuh kan? Otaknya mulai mesum. Mas, Galih sekarang sama siapa?" Hana mulai mengorek informasi dari Sigit.
Sigit tersenyum jahil. "Hayoooo, masih ada rasa lu ya sama Galiiiih?"
"Hish, jawab saja lah mas Siii" paksa Hana. Sigit menggeleng.
"Gak tahu sekarang dia sama siapa. Tapi, saran mas, jangan dekat lagi dengan dia" Hana menautkan alisnya bingung. Dia penasaran kenapa Sigit melarangnya untuk dekat kembali dengan Galih.
"Aku kan....."
ceklek. Pintu kamar Sigit terbuka. Muti mengucek matanya dan menguap lebar berjalan menuju Hana dan Sigit. "Kok bangun? Suara kami mengganggu mbak Muti tidur ya?"
Muti menggeleng. "Gak kok Han, aku terbangun tadi. Lagian aku juga mau ngerjain laporan. Mas tasku masih di mobil?" Sigit lupa mengeluarkan tas Muti. Dia menepok jidatnya.
"Ya Allah, mas lupa. Ambil dulu gih" Sigit mengambil tadi Muti di dalam mobil. Muti duduk bersama Hana. "Ngobrol apa sih?"
__ADS_1
"Gak apa-apa, hehehe" Sigit menenteng tas Muti dan memberikannya kepada Muti. "Makasih sayang"
Hana mendelik mendengar panggilan baru Muti kepada Sigit. "Gak usah kaget gitu kali Han. Biasa aja!" Sigit mengusap kasar wajah Hana.
Muti tertawa dan mulai mengerjakan laporannya. "Cieeee, akhirnya rasa cinta itu tumbuh juga. Mas Si kawin mas Si kawin" Hana berlalu sambil berjoged tak jelas.
Sigit dan Muti hanya tertawa melihat tingkahnya. Sigit membaringkan dirinya di sofa. Muti mengerjakana laporannya di sofa depan Sigit. Sigit memandangi Muti yang sangat serius dengan laporannya.
"Jangan cuma dilihatin kalau memang maunya lebih" Muti mulai menggoda Sigit lagi. Sigit hanya tersenyum.
"Jangan aneh-aneh. Kerjakan laporanmu, setelah itu tidur sana di kamar" Muti tersenyum jahil. "Bareng kamu ya?"
"Iya, nanti! Nanti kalau kamu sudah sah jadi milikku. Besok kirim paket buat Ayah sama buat Papah. Kita butuh tanda tangan mereka untuk nikah kantor"
Muti mengangguk. "Iya besok pulang kerja kita kirim paket. Mas, bantuin dektekan kek, biar cepat" Akhirnya Sigit membantu Muti mengerjakan laporannya. Kakek Umang tersenyum melihat mereka akhirnya bisa saling menerima.
Muti selesai mengerjakan laporannya. Waktu menunjukkan jam 12 malam. Dia menutup laptopnya dan berganti memeluk Sigit yang sedari tadi duduk disampingnya. "Haduuuh, Mut, lepasiiin. Nanti kalau kakek lihat bisa digebuk pakai sapu mas ini"
"Hish, kakek sudah tidur kali mas" Sigit berpikir benar juga ucapan Muti.
"Tidurlah di kamar" Muti menggeleng. "Kenapa?" tanya Sigit. "Lagi pengen peluk kamu"
Sigit tersenyum. "Kamu ini agresif banget siiih. Tidurlah. Mas akan membawamu ke kamar kalau sudah tidur"
Muti memejamkan matanya dan tertidur di pelukan Sigit. Merasa Muti sudah terlelap, Sigit membawa Muti ke kamarnya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1