
Persiapan resepsi semaki hari semakin matang. Tinggal menghitung hari untuk menggelar acara itu. Hamka sebagai komandan upacara pedang pora bersama pasukannya berlatih di lapangan Polda. Bima diberikan tanggung jawab untuk melatih marching band yang akan menjadi pengiring acara itu.
Hari berlalu tanpa terasa. Tinggal satu hari menuju acara. Gladi resik digelar di gedung tempat acara berlangsung. Semua panitia yang termasuk dalam acara itu hadir semua. Termasuk WO dan mempelai.
Jihan melihat gladi resik itu. Melihat ke arah Bima yang sedang memberi pengarahan pada pemain marching band itu. Bima tahu jika Jihan sedang memperhatikannya, tapi ia berpura-pura jual mahal. Ia malah asyik ngobrol dengan Luna yang membuat Jihan kesal.
"Dasar cowok! Semuanya sama! Buaya!" kata Jihan sambil menata nasi kotak untuk para panitia. Shanum yang berada di sampingnya bingung.
"Mbak Jihan ngomong sama siapa?" tanya Shanum. Jihan gelagapan. "Oh, gak, gak ngomong, gak ngomong sama siapapun kok mbak Shanum"
Shanum melihat lirikan mata Jihan yang tertuju pada Bima. Dan Shanum baru paham. "Mau aku ambilkan es mbak?"
Jihan menggeleng. "Gak usah mbak, yang panas bukan tenggorokan aku, tapi hatiku!" Shanum cekikikan mendengarnya.
"Aku ambilik dulu deh es nya, nanti tempelin di bagian yang panas" goda Shanum lalu meninggalkan Jihan. Luna dan Bima berjalan ke arah Jihan. "Ngapain lagi mereka kesini?? Dari jauh saja sudah terlihat ngeselin, apalagi dekat!?"
Luna mengambil beberapa nasi kotak untuk pemain marching band itu. "Aku minta buat mereka ya Jihan" katanya. Jihan yang sudah memasang wajah cemberut menjawab tak bersahabat. "Hmm!!" jawabnya judas.
Luna mengernyitkan dahinya. "Kamu kenapa?"
"Gak papa!" jawab Jihan. Luna hanya mengangkat bahunya dan meninggalkan tempat itu. Bima yang ikut mengambil nasi kotak itu memperhatikan wajah Jihan. "Mukanya jangan ditekuk terus! Untung good looking!"
Jihan menghela nafas dan menutup matanya. Lalu berbalik meninggalkan Bima. Bima tersenyum melihat tingkah Jihan.
Bima mencari keberadaan Jihan sambil membawa nasi kotak dan 1 cup es teh. Ia melihat Jihan sedang berada di pojokan sambil mengutak-atik ponselnya. Bima menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
"Ngapain disini? Di pojokan, sendirian, gak takut digangguin sama demit??" kata Bima sambil membuka kotak nasinya. Jihan tak mempedulikannya. Ia tetap fokus pada ponselnya. Hingga Bima jengah dan merebut ponsel itu.
"Kalau ada yang ngajakin ngobrol itu disahutin, jangan main hape mulu!" Jihan berdecak.
"Balikin ah!" Bima menggeleng. "Kenapa sih? Kesel banget kayaknya"
"Mending aku digangguin demit! Daripada digangguin buaya!" Bima tersenyum tipis sambil melahap makananya. "Aku buaya?"
"Mbuh!" jawab Jihan. "Kamu cemburu?" tanya Bima. Membuat wajah Jihan merona. "Urusannya apa aku harus cemburu?? Punya hubungan sama situ saja gak!"
Bima kembali tersenyum. "Kamu sudah makan?"
"Balikin hapeku!"
Bima berdecak. "Ditanya apa jawabnya apa. Sudah makan belum? Mau ku ambilkan dan ku suapkan?" Jihan bersidekap dan bersandar pada kursi. Bima senang melihat Jihan kesal. Ia tetap tak mengembalikan ponsel Jihan hingga acara gladi itu selesai.
"Dam, lu balik sendiri ya? Gua mau bareng seseorang" kata Bima. Membuat Hamka, Shanum, Damar, dan Luna menatapnya penuh selidik.
__ADS_1
"Tuh kan mulai, mata kalian kenapa sih? Heran deh ah"
"Balik sama siapa?" tanya Hamka. "Seseorang" jawab Bima.
"Seseorang itu punya nama Bima!" sahut Luna. Bima hanya tersenyum. "Ada lah pokoknya. Dah...."
Bima meninggalkan mereka yang siap mencecar pertanyaan untuknya. Ia menuju parkiran dan melihat Jihan sudah melajukan mobilnya. Dengan berlari sedikit kencang ia berhenti secara mendadak di depan mobil Jihan, hingga membuat Jihan hampir saja menabraknya. Jihan membunyikan klakson. Bima menuju pintu mobil.
Jihan membuka kuncinya. Bima masuk ke dalam. Menggunakan seatbelt. "Numoang sampai asrama" katanya. Jihan hanya diam tak menjawab. Bima mengeluarkan ponsel milik Jihan.
"Pelupa banget sih? Hape masih di aku main pulang saja. Nanti kalau ada yang nyariin kan susah" Jihan berdecak.
"Siapa? Siapa yang nyariin? Gak ada!" jawabnga galak.
"Aku" kata Bima singkat. Membuat wajah Jihan kembali merona. "Kamu tadi sudah makan belum?" tanya Bima penuh perhatian. Jihan hanya menggeleng.
"Kenapa gak makan?"
"Malas!"
"Memang gak lapar?" Jihan menggeleng. "Maaf membuat kamu cemburu"
"Diiihhhh..... kepedean amat situ! Siapa bilang aku cemburu"
Jihan hanya diam. Bima membuka ponselnya karena ada chat yang masuk. Siapa lagi kalau bikan dari grup panitia resepsi?
Ia membukanya dan tertawa. Sigit mengirim foto saat dirinya membuka pintu mobil Jihan.
Sigit : (mengirim foto Bima saat akan masuk ke mobil Jihan). Ada yang kenal dengan pemilik mobil ini?
Muti : Aku aku aku, aku kenal banget itu mobil siapa
Hamka : Siapa? Bikin kepo deh...
Muti : Jihan! Mana nih tersangkanya
Damar : Pantesan minta balik sendiri. Seseorang itu ternyata Jihan to...
Luna : Cieee... ada yang bersemi tapi bukan bunga. Ada yang mekar tapi bukan mawar 😅
Bima : 🤣🤣🤣 Dasar kalian semua.... paparazi! Terserah mau kalian bully, aku pasrah 😊
Jihan merasa heran karena Bima senyam senyum sendiri. Ia mulai masuk kompleks asrama polisi, dan akhirnya sampai di asrama Bima. "Turun dulu" perintahnya.
__ADS_1
"Ogah!" Bima tertawa mendapatkan jawaban galak dari Jihan. Bima mengambil kunci mobil dan turun. Membuat Jihan semakin kesal. Mau tak mau dia turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Bima berganti baju.
Jihan merebahkan dirinya di sofa. "Mas! Balikin kunci mobilnya.... aku mau pulang"
Bima tersenyum kecut tak menanggapi ucapan Jihan. Ia menuju dapur dan menyalakan kompor. Jihan mengikutinya. "Mas...."
"Hmmm...."
"Kunci mobilku mana? Aku mau pulang" katanya lebih halus.
"Ada di kantong celana, ambil sendiri kalau berani" perintah Bima sambil masak mie. Jihan memukul-mukul lengan Bima. "Sebel sebel sebel! Mas, aku mau pulang...."
"Iya, makan dulu"
Jihan berdecak. "Aku gak lapar" Bima sibuk meracik bumbu. Akhirnya Jihan kembali duduk di sofa. Mie pun matang. "Makan gih" Jihan menggeleng.
Bima duduk di sampingnya. Ia menyuapkan Jihan. "Aaa...." Jihan tetap menggeleng. "Buka mulutnya apa mau mas cium?"
Membuat wajah Jihan kembali merona. "Coba saja kalau berani! Tak gampar kamu!" Bima langsung menempelkan bibirnya ke bibir Jihan.
"Jangan cemburu-cemburu lagi, Mas sama Luna cuma teman. Besok minggu ikut mas ketemu mamah, mas mau kenalin kamu sama keluarga mas. Mas cinta sama kamu. Huft.... akhirnyaaa.... bisa juga ngomong ini ke kamu"
Jihan mematung, tak tahu harus berbuat apa. "Ayo buka mulutnya, makan. Masih gak mau buka mulut mas cium lagi nih"
Jihan mencubit perut Bima. "Curi-curi kesempatan!" Bima tertawa. "Gemesin banget soh kalau jutek!"
"Coba ulangi pernyataan kamu ke aku" pinta Jihan. Bima tersenyum. Ia membisikkan sesuatu di telinga Jihan. "Mas cinta sama kamu. Mas sayang sama kamu, mau ya jadi bhayangkarinya Mas?"
Jihan tersenyum malu dan menutup wajahnya. Ia mengangguk. Bima mengacak-acak rambut Jihan. "Buruan di makan. Nanti mas antar pulang" Jihan merebut piring itu dengan senyum malu-malu dan makan mie itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Dibuka dengan yang manis2 yes.... 😁