Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 98


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, Sigit sudah menyuruh om Tompel untuk memata-matai Arsya. Apalagi Arsya masih menggunakan jasa pengawalan milik Ayah Luna, mempermudahnya mencari informasi akurat dari internal.


Mereka menjalani kehidupan rumah tangga seperti biasa. Sibuk untuk urusan pekerjaan tapi tak lalai dalam hal tanggung jawab dan kodrat mereka sebagai suami istri. Tepat 2 bulan usia pernikahan mereka.


Muti sudah telat beberapa hari. Dirinya cemas, jika dirinya melakukan tes kehamilan sekarang dia belum siap menerima hasilnya. Tapi, ia juga penasaran.


Sigit melihat istrinya gusar. Ia mengamati gerak-gerik istrinya yang bimbang. "Kamu kenapa sih sayang?" tanya Sigit.


Muti hanya tersenyum. "Gak papa kok Mas, ehm.... mas.... aku, sudah telat beberapa hari. Aku mau coba tes kehamilan, tapi... aku takut jika hasilnya negatif" terangnya pada suaminya.


Sigit tersenyum. "Dicoba tes dulu, apapun hasilnya disyukuri sayang, besok pagi mas belikan di apotek"


"Eh, gak usah sayang, biar aku saja yabg beli" Sigit memeluk istrinya. "Gak papa, besok mas yang beli. Sekarang tidur. Gak usah banyak pikiran"


Muti mengangguk. Mereka mulai memejamkan mata sambil berpelukan. "Hmmm, nyamannya" kata Muti. Sigit tersenyum mendengarnya.


Fajar menyingsing. Mereka melakukan ibadah seperti biasanya, setelah mengaji bersama, Sigit pergi ke apotek yang buka 24 jam. Membeli alat tes kehamilan.


Tak lama ia kembali, ia memberikannya pada istrinya. "Nih yank" Muti menerimanya. Ia ragu. "Coba dulu, mas akan menerima apapun hasilnya"


Muti mengangguk. Ia berlalu ke kamar mandi dan melakukan tes urin. Ia menunggu di dalam kamar mandi. Sigit mondar-mandir di depan kamar mandi. Menunggu sang istri keluar.


Hasil sudah ada di tangan Muti. Ia keluar dan melihat suaminya. "Gimana??" tanya Sigit tak sabar.


Muti memberikan hasil tes urin nya. "Strip satu. Di keterangannya kalau stripnya hanya satu berarti negatif mas" katanya sendu dengan wajah tertunduk.


Sigit menerima hasil itu. Ia melihatnya. Ia memeluk istrinya. "Ya sudah, gak usah sedih ah. Mas gak mau lihat kamu sedih. Toh pernikahan kita baru 2 bulan sayang. Sabar. Mas gak papa kok, itu artinya, mas harus ekstra nengokin kamunya"


Muti menangis dalam pelukan itu. "Sudah ah, jangan menangis. Hei hei hei... lihat mas, apa mas menuntun kamu agar cepat punya anak?"


Muti menggeleng. "Jadi kenapa nangis?"


Muti menatap mata suaminya. "Kamu kecewa kan? Maaf" katanya. Sigit memeluk istrinya lagi. "Kecewanya cuma sebentar, kalau kamu nangis gini terus mas malah tambah kecewa sayang. Jangam nangis, mas gak sanggup lihatnya"

__ADS_1


Sigit menghapus air mata istrinya, mengecup kening dan bibirnya. "Nanti malam kita dinner sama anak-anak yang lain. Mas gak mau kamu sedih. Oke?" Muti mengangguk. Sigit tersenyum melihatnya.


"Mana senyum imut nan manisnya?" Muti menampilkan senyum tulusnya pada suaminya. Sigit melihatnya dengan senyuman. "Apa sih?" kata Muti.


"Gak papa, Mas cinta sama kamu, dari lebihnya kamu, sampai kurangnya kamu. Jadi, jangan takut kalau mas akan meninggalkanmu hanya karena hal yang belum diijabah oleh Allah. Mengerti?" kata Sigit sambil mengacak-acak rambut istrinya.


Muti mengangguk. "Nasi gorengnya sudah matang, ayo sarapan dulu, baru siap-siap ke kantor" Mereka sarapan dengan tenang.


Malam menjelang, Sigit mengajak para sepupu dan adiknya makan di kafe milik Danang. "Kok makannya disini sih? Males ah" kata Luna.


Sigit berdecak. "Ayolah Lun, orang Danangnya gak ada kok. Dia udah minggat noh ke Bali" terang Sigit.


"Memang aku tanya?" jawab Luna. "Gak tanya sih? Tapi jawaban itu bisa mengobati rasa penasaran kamu akan keberadaan Danang" timpal Ali.


"Mau makan apa pindah nih?" kata Muti mulai badmood. Luna mendapat tatapan tajam dari Sigit. "Oke, makan" kata Luna pasrah.


Mereka memesan menu andalan yang ada disana. "Aku ke toilet bentar ya?" kata Muti. Semuanya mengangguk.


"Mbak Lun, kenapa gak mau nerima mas Bima?" tanya Hana kepo. Maryam berdahem. "Jelas lah, orang hatinya saja masih di mas Danang, iya kan mbak Lun?"


"Kurang ngena di hati mbak Luna" timpal Maryam lagi. Membuat semuanya kesal. "Kalian gak usah kepo. Aku pulang nih"


"Main ancem sekarang dia, gak asik ah" kata Ali.


"Aku gak ada perasaan apapun sama Bima, aku gak mau kalau dia sampai berharap padaku. Makanya aku tolak lamarannya"


Hana semakin semangat mengulik asmara Luna. "Kamu masih berharap pada mas Danang?" Luna hanya diam. Muti kembali dengan terengah-engah.


"Kenapa yank? Ada yang gangguin kamu?" tanya Sigit cemas melihat keadaan istrinya.


Mereka melihat ekspresi ketakutan pada wajah Muti. "Minum duli minum dulu" Maryam memberikan air minum pada Muti. Segera Muti meminumnya.


"Aku mendengar suara orang yang dipanggil tuan muda oleh Humam dan ibunya" kata Muti segera setelah menyelesaikan minumnya. Wajah semua orang menjadi tegang. "Kamu lihat orangnya?" tanya Luna

__ADS_1


Muti menggeleng. "Aku baru saja keluar dari toilet perempuan. Saat aku berjalan kemari, aku mendengar suara orang itu"


"Oke, cek cctv yang ada di dekat toilet" kata Ali.


"Buat? Gini ya mas Al, memang di cctv kita bisa dengar dengan jelas itu suara dari orang yang mana?" bantah Luna. Ali berdecak.


"Siapa yang tahu kita mengenali orang itu??" kata Ali. Sigit setuju dengan pernyataan Ali. "Setuju, oke, kita minta rekaman cctv dari pihak kafe. Lun, bisa minta tolong?"


Luna berdecak sebal. "Muti kan sepupunya. Sudah deh ah"


"Bini ku lagi ketakutan Lun"


"Hmm, iya deh iya! Tunggu sini! Mar, ayo temani"


Maryam tertawa. "Macam biak kicik minta ditemankan! (Seperti anak kecil minta ditemani!)" kata Maryam menggunakan logat khas Kalimantannya.


Luna menuju ruang manager kafe. Ia bertemu dengan papah Arka. "Luna?" kata papah Arka kaget. Luna dan Maryam tersenyum.


"Assalamualaikum om" kata mereka. "Waalaikum salam. Ada apa nak?"


"Kami ingin meminta rekaman cctv om, karena tadi Muti ketakutan mendengar suara orang yang dulu menyekapnya" terang Luna. Papah Arka kaget.


"Ayo langsung ke ruang kontrol" kata papah Arka. Mereka menuju ruang kontrol. Luna dan Maryam melihat kejadian yang dialami Muti. Mata Luna terbelalak melihat orang yang ia kenali sedang bertelpon.


"Om, kami minta data ini. Apakah om kenal dengan orang ini?" tanya Luna dengan wajah sangat serius. Papah Arka menggeleng. "Ambillah data yang kalian butuhkan"


Luna segera mengeluarkan flasdisk kecil miliknya. Lalu menyalin rekaman itu. "Sudah?" tanya Maryam. Luna mengangguk. "Om, kami langsung pamit. Ada sesuatu yang harus segera kami ungkap" jelas Luna.


Papah Arka mengangguk. Maryam berjalan terlebih dahulu. Papah Arka memanggil Luna kembali. "Lun, apa kamu masih belum bisa memaafkan Danang?" tanyanya.


Luna diam tak berekspresi. Ia bingung harus menjawab apa. "Om tahu kamu masih menyimpan rasa itu. Danang ada di Bali, dia berhenti memperjuangkanmu karena menurutnya ia tak pantas untuk kamu yang telah ia lukai hatinya"


Luna tak tahu harus menjawab apa. "Kamu tak perlu mengatakan kepada om jika memang tak ingin. Tapi, om bisa yakinkan padamu, Danang setiap hari bertanya tentangmu kepada Muti. Om permisi dulu"

__ADS_1


Papah Arka meninggalkan Luna yang mematung di tempatnya.


__ADS_2