Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 68


__ADS_3

Pagi itu menjadi hari yang sibuk. Semua orang bersiap untuk ke Ambarawa. Akad akan tetap dilangsungkan. Meskipun kondisinya sedikit mengecewakan.


Papah Bagas, Mamah Anin, kakek Umang, Hana, dan Maryam satu mobil. Sedangkan papi Raka dan Mami Salma satu mobil dengan Luna, Ayah Tristan dan Bunda Tari.


"Sudah siap semua kan? Baju pengantin, baju buat bang indra, mas kawin?" tanya Mamah Anin kepada Hana dan Maryam. Mereka mengangguk.


"Oke, let's go. Mereka pasti sudah menunggu kita" ucap Papah Bagas senang dan tak sabar. Mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kota Semarang dan menuju Ambarawa.


"Kak Han, nanti bang Ali sama siapa?" tanya Maryam yang melihat Hana lebih banyak diam. Maryam kasihan melihat keadaan Hana. Bukan cuma sekali ia mengalami kejadian buruk seperti ini.


"Sama orang tuanya. Nanti selesai terapi aku ikut ke Ungaran pakdhe budhe kakek. Mungkin pulangnya malam" kata Hana sambil melihat ke arah jendela. Mamah Anin mengangguk.


"Sudah bilang sama papi dan mami kan?" tanya kakek Umang. "Sudah kek"


"Han" panggil Mamah Anin. Hana menoleh. "Ya budhe?"


"Kamu kenapa sayang? Kamu masih terbayang kejadian lalu?" tanya mamah Anin hati-hati. Hana mengangguk. Mamah Anin menggenggam tangan Hana. "Dengarkan budhe nduk, jadikan kejadian yang kemarin untuk meningkatkan kewaspadaan kita. Kalahkan rasa trauma itu sayang. Percaya sama budhe, semua akan baik-baik saja. Semua akan melindungi kamu. Budhe gak mau ponakan budhe yang cantik ini menjadi krisis kepercayaan diri lagi"


Hana terharu. Ia memeluk budhe nya. "Terima kasih budhe, Hana benar-benar ketakutan. Setiap Hana sendirian Hana akan teringat hal itu"


"Berarti Hana harus menyibukkan diri. Gimana kalau nanti Hana belajar masak? Kan Hana ingin bisa masak kan?" usul Mamah Anin. Hana tersenyum ceria.


"Gurunya siapa budhe?" Mamah Anin menaik turunkan alisnya dan melirik ke arah Maryam. "Apaan mah?" tanya Maryam.


Maryam tahu ide mamahnya. "Ah, gak ah, Maryam gak mau! Ngajarin Kak Hana itu susah Mah, masa bedain merica sama ketumbar saja gak bisa-bisa? Gak ah" tolak Maryam.


"Ih, kok gitu? Kata siapa kakak gak bisa bedain merica sama ketumbar?? Bisa kok! Jangan meremehkan kakak ya??"


"Mosok? Coba sebutkan ciri-ciri ketumbar dan merica" tantang Maryam. "Ih beneran ini anak ngeremehin! Merica itu yang bulat-bulat agak besar warnanya kecoklatan. Kalau ketumbar yang bulat besar warnanya putih!" Jawab Hana percaya diri.

__ADS_1


Semuanya tertawa mendengar jawaban Hana. "Benar kan budhe??" tanya Hana polos. "Kurang tepat sayang, kalau bulat besar putih itu kemiri"


"Ha? Salah? Ahahahaha"


"Tuh kan, apa kata Maryam juga?? Parah mah kak Hana tuh. Sama kayak kak Luna. Bisa naik darah Maryam kalau dijadikan guru buat mereka" Maryam tetap menolak untuk mengajari Hana memasak.


"Ih sombong! Awas saja nanti kalau kakak bisa masak! Tak ajak duel kamu! Huft!" kata Hana percaya diri. Mamah Anin tersenyum. Caranya memancing agar Hana lebih banyak bicara ternyata bisa.


.


Ambarawa


Rombongan itu telah sampai di rumah sakit. Ruangan Muti disulap sedemikian rupa untuk keperluan akad. Hana, Maryam dan Luna membantunya make up. Hanya sedikit polesan, tapi membuat Muti lebih terlihat cantik, dan ciamik dipadupadankan dengan kebayanya.


"Aduh, ini gimana tangannya yang satu? Kan lagi diinfus?" tanya Muti kebingungan memakai kebayanya. Hana mencoba memasukkan infus itu ke lengan kebaya Muti, tapi tidak muat.


"Aha!" seru Hana mendapatkan ide. Ia melepas selang yang tertancap pada botol infus itu dengan cepat dan menancapkannya lagi.


"Sama-sama" jawab semuanya. Sigit pun sudah gagah dengan beskap putih miliknya. Mamah Anin membantu memakaikan kain jarik di pinggang Sigit. Dan selesai.


Mereka menunggu pak penghulu. Sigit gusar dan mondar mandir karena grogi. Dokter Ais dagang bersama dengan dua orang. "Assalamualaikum" sapa mereka. "Waaikum salam" jawab semuanya.


"Calon manten gugup ya?" tanya Dokter Ais. Sigit nyengir dan mengangguk. "Perkenalkan semuanya, ini dokter Ayu Larasati, spesialis kejiwaan, dan ini suaminya pak Duta Wicaksana" dokter Ais memperkenalkan kedua orang itu.


"Lhoh, pak menteri?" kata Ayah Indra, papah Bagas, dan papi Raka bersamaan. Duta tersenyum. "Mantan pak, saya bukan menteri lagi. Pak jendral Indra, pak Danyon Bagas dan pak Danyon Raka. Lama ya kita tidak berjumpa? terakhir saat kunjungan kerja ke UMKM yang dikawal sendiri oleh kalian. Hahaha. Apa kabar?" tanya Duta. Mereka berjabat tangan


"Alhamdulillah, kami baik. Jadi, kenalan dokter Ais ini istrinya pak menteri eh maksud saya pak mantan menteri toh? Kalau ini sih, kami sudah kenal dok" kata Ayah Indra. "Mari-mari silahkan duduk"


Ayah Tristan membisikkan sesuatu ke telinga papah Bagas. "Saksinya kurang satu, karena Ali datang terlambat. Piye?"

__ADS_1


Papah Bagas berbincang dengan Ayah Indra. Mereka berembug. "Pak Duta, bisa minta tolong? Saksinya kurang satu, apakah bapak bersedia jadi saksi?" tanya Papah Bagas. Pak Duta mengangguk. "Insyaallah saya siap"


Penghulu datang bersama oak Modin. Membuat Sigit semakin grogi. Tangannya dingin. Pak penghulu memimpin jalannya acara. "Monggo mas Sigit, jabat tangan dengan pak Indra"


Sigit menjabat tangan dengan Ayah Indra. "Mau latihan dulu atau langsung?" tanya pak penghulu lagi. "Langsung saja pak" jawab Sigit mantap.


"Baik, nanti ketika pak Indra menyebutkan kata terakhir tuunai, jenengan langsung jawab ya" kata pak penghulu. Sigit mengangguk.


Pak penghulu menyuruh Sigit menjabat tanga Ayah Indra. Ia mengatur nafasnya. "Bismillahirrahmanirrahim, Sigit Nagendra Ardhitama, hari ini saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Mutiara Insani binti saya sendiri, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dan emas batangan 5 gram dibayar tuunai"


"Sah!" kata Sigit. Membuat semua orang tertawa. "Dijawabnya itu ucapkan ijab qobul mas Sigit. Urusan jawab sah atau tidak itu urusan para saksi. Disini jenengan saksi atau mempelai pria?" kata pak penghulu. Sigit menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dirinya tak sadar mengucapkam itu.


"Ulangi ya? Baca doa dulu. Minum dulu biar gak grogi" kata Pak penghulu. Sigit melakukan saran pak penghulu. "Monggo diulangi pak Indra"


Sigit mwnjabat tangan Ayah Indra lagi. "Bismillahirrahmanirrohim. Sigit Nagendra Ardhitama, hari ini sayan nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Mutiara Insani binti saya sendiri dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas batangan 5 gram dibayar tuunai!"


Sigit mengambil nafas. "Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Insani binti Indrajaya dengan mas kawin tersebut dibayar tuunai!"


Pak penghulu bertanya pada para saksi. "Sah!" ucap kedua saksi itu. Semuanya terharu dengan suasana itu. Muti sampai menitikkan air matanya.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2