Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 89


__ADS_3

"SAH!" ucap kedua saksi itu. "Alhamdulillah....." ucap syukur semuanya yang hadir dalam akad itu.


"Barakallahu lakuma wabarakah alaikuma wajama'a bainahuma fii khoir....... " Penghulu mulai membacakan doa pengantin untuk mereka. Hana dibawa keluar oleh Muti dan Maryam. Ada yang berbeda dengan Hana. Ia sudah mengenakan hijab.


Hingga semuanya pangling dibuatnya. Apalagi Ali dan keluarganya, mereka sangat bahagia sekali Hana sudah mau menutup auratnya. Ali meliriknya. Jantungnya berdegup kencang.


Papah Bagas yang menangkap lirikan itu langsung menggoda Ali. "Sudah sah jadi suami istri, jangan cuma dilirik atuh Al"


Semua tertawa mendengarnya. Wajah kedua pasangan suami istri baru itu menjadi merah merona.


Pak penghulu menyuruh mereka menandatangi buku nikah, lanjut dengan penyematan cincin nikah. Tangan Ali bergetar hebat. Hana meraih tangan Ali untuk diciumnya. Membuat tubuh Ali semakin bergetar.


Ali mencium kening Hana. Disitulah ia menitikkan air mata bahagia. "Terima kasih sudah memilihku menjadi imammu" kata Ali kemudian. Hana membalasnya dengan senyuman tulus.


Setelah ijab qobul terlaksana mereka berlanjut ke acara makan-makan. Mereka juga berfoto bersama. Mengabadikan setiap momen yang terjadi.


Muti duduk bersama suaminya di teras rumah. "Senang ya mas, akhirnya Hana dan mas Ali sah. Tapi, kasihan sama mbak Luna dan Danang. Hmmm, hidup memang perlu penyeimbang, ada suka ada duka"


Sigit merangkul pundak istrinya. "Iya yank, dan adanya suka duka itu membuat kita belajar makna kehidupan. Semoga Luna bisa melupakan Danang dan membuka hatinya untuk orang lain"


Muti mengamini perkataan suaminya. "Aamiin, mungkin gak sih mas, kalau mbak Luna dan Danang baikan?"


"Baikan sebagai apa dulu? Teman? Mungkin, tapi jika itu tentang rasa, maka akan banyak rintangan. Pakdhe dan Tante Ana pasti punya pemikiran masing-masing"


Muti menyandarkan kepalanya di bahu Sigit. Mereka menikmati hembusan angin malam yang menyapa mereka. "Yank, Hana sudah berhijab. Apa kamu gak pengen seperti dia? kamu tahu yank? Sehelai rambut seorang muslimah terlihat maka 73x cambukan akan diterima oleh Ayah, suami, dan anak lelakinya"


Muti takut mendengarnya. "Serius begitu mas?" Sigit mengangguk. Muti memikirkannya. "Ya Allah, aku jahat banget membuat kalian akan mendapatkan cambukan begitu. Perlahan ya mas. Insyaallah, besok aku mulai tutup auratku" Sigit melihat jamnya. "Sudah malam yank, pulang yuk. Mas dan adiknya mas mau mengabsen milik kamu"


Muti mengangguk setuju. Akhirnya mereka pulang ke rumah mereka. Para tamu dan kerabat pun satu per satu membubarkan dori acara itu.


Hana dibantu oleh Maryam melepas satu per satu roncean bunga melati itu. Hana mengganti bajunya. Maryam meninggalkannya. "Bunganya buat aku semua yak?"

__ADS_1


"Iya" jawab Hana. Lalu Maryam mulai menghapus make upnya. Orang tua dan keluarga Ali akan pulang. Hana menyalami mereka. Mereka masuk ke kamar masing-masing.


Hana melanjutkan kembali aktivitasnya membersihkan sisa make up. Ali datang dan berganti baju. Suasana menjadi canggung. Baru kali ini mereka satu kamar dan hanya berdua. "Ehm, abang.... ke kamar mandi dulu ya dek"


"I-iya bang" Ali keluar dari kamar. Hana naik ke ranjang. Mamah Anin datang dan memberikan sesuatu kepada Hana. "Apa ini budhe? Bajunya kok tipis banget begini siiiih?"


"Sudah.... jangan banyak protes. Sana pakai. Ali pasti senang. Hihihi"


"Ha? Gak ah. Hana malu"


Mamah Anin berdecak. "Budhe kecewa deh" katanya dengan wajah sedih. Membuat Hana tak tega.


"Oke Hana pakai, jangan sedih ya budhe" Mamah Anin tersenyum senang dan mengangguk. Hana mengganti bajunya, mamah Anin mengekor di belakangnya. Setelah itu, mamah Anin keluar. Hana mematikan lampu dan naik ke ranjang.


Ali datang melihat lampi sudah berganti menjadi lampu tidur. Ia naik ke ranjang. Melihat Hana sudah bertutup selimut. "Kamu kedinginan? Kok pakai selimut sampai atas"


"Eng-enggak"


Mereka sama-sama diam. Ali mengatur nafasnya agar lebih tenang. Bagaimanapun saat ini mereka telah sah menjadi suami istri.


"Dek, sini abang peluk" Hana menjadi kikuk. Ali menarik tubuh Hana gar bisa dipeluknya. Mengecup kening Hana. "Kita ini sudah suami istri, kok kita malah malu-malu begini sih?" katanya.


Hana hanya diam tak mambalas ucapan Ali. "Ehm... A-abang mau itu sekarang?" tanya Hana. Ali berpura-pura bodoh. "Itu? Itu apa sih dek?"


"Itu lho.... itu...." jawab Hana. "Ngomong yang jelas dong sayang. Abang serius gak mudeng"


"Abang berlagak polos ih, padahal abang sudah pernah melakukannya" Ali menahan tawanya. "Itu lho... maksud adek.... bercinta" imbuhnya dengan wajah merah merona. Ali tersenyum mendengarnya.


"Iya lah, ayo sekarang" godanya kepada Hana. Semakin membuat Hana kikuk. "Se-sekarang?" Ali mengangguk. "Mulainya dari mana?"


Ali tak bisa lagi menahan tawanya. "Kamu itu dokter sayang, pasti lah ada pelajaran ini. Masa iya gak tahu mulainya dari mana"

__ADS_1


"Ih Abang! Ya kan adek seriusan bingung. Malu! Malah ditertawakan" Hana melepaskan pelukan Ali dan berbalik arah memunggungi Ali.


Ali memeluknya dari belakang. Ali mengecup pundak Hana membuat tubuh Hana merinding. "Jangan membelakangi suami mu, dosa hukumnya sayang"


Hana berbalik menghadap Ali. Wajah mereka kembali bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Entah keberanian apa yang membuat Hana berani mengecup bibir Ali. cup


Ali tersenyum mendapatkannya. cup. Hana melakukannya lagi. Ali hanya diam saja tak membalas. Jantung mereka sama-sama berdetak tak beraturan. Hana mengecup bibir Ali lagi, tapi kali ini Ali tak membiarkannya begitu saja. Ia membalas ciuman itu. Hana menikmatinya. Ali mengubah ciuman lembut itu menjadi ciuman panas.


Tangan Ali bergerilya turun ke bawah dan keremas sesuatu disana. Hana sangat nyaman dibuatnya. Ia menikmati setiap sentuhan Ali. Turun menikmati leher jenjang Hana yang putih mulus itu. "Geli bang"


Ali tak mempedulikan omongan Hana. Ia meninggalkan beberapa kissmark disana. Ia turun lagi menggigit sesuatu disana yang masih terbalut oleh lingerie itu. Dengan cepat Ali menanggalkan bajunya dan baju Hana. Tubuh mereka sama-sama polos. Membuat Hana semakin malu.


Ali berada di atas tubuh Hana. Memberikan lagi kecupan hangat dan mesra itu pada istrinya. Hana menahan desahannya. Darah Ali semakin membara. "Dek, abang masuk ya? Agak sakit, tapi tahan ya sayang"


Hana mengangguk. Agak takut, Ali mencoba menyatukan miliknya. Hana hanya diam menahan sakit yang luar biasa itu. Hingga usaha yang ke tujuh, Ali baru berhasil menjebolnya.


"Aah.." desah Hana pelan. Ali tersenyum mendengarnya. Ia mulai memainkan tempo permainan. Hana semakin melayang dibuatnya. Setengah jam mereka melakukan pemanasan itu. "Aaahhh....." desah Hana lagi.


Ali semakin bersemangat, ia mempercepat tempo permainannya hingga Hana dan dirinya mencapai puncak kenikmatan itu. "Aaahhhhh....." Tubuh mereka sama-sama mengejang melakukan pelepasan itu.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2