
Sore menjelang, Muti dan Sigit menuju sebuah mall di Semarang. Yang pertama mereka lakukan adalah nonton. Mereka memilih film yang sedang berlangsung setengah jam yang lalu itu. Film bergenre komedi yang menceritakan kekonyolan persahabatan diantara 3 orang pria.
Hampir 2 jam mereka di dalam bioskop. Mereka keluar dan adzan maghrib berkumandang. Sigit menunaikan kewajibannya, karena Muti sedang halangan, ia memilih menunggu suaminya di sebuah tempat makan yang menyajikan menu Jakartanan.
Sepasang orang menghampirinya. Jihan dan Galang. Entah bagaimana mereka bisa sedekat ini sekarang, yang jelas mereka juga sedang melakukan kencan.
"Cie... yang lagi kencan. Masih pakai seragam lagi. Ganti kek" ejek Muti kepada Jihan.
"Iya nanti, pakpol mana?" tanyanya. "Sholat"
"Kita boleh duduk sini?" tanya Jihan. Muti mengangguk. "Silahkan"
Tak lama Sigit menghampiri istrinya. Ia menyapa Jihan dan Galang. "Kencan juga?" tanyanya. Jihan mengangguk senang. Sigit menangkap sorot mata Galang yang curi-curi pandang ke istrinya.
Ia hanya memperhatikannya. Mereka memesan makanan. Muti memesan soto betawi kesukaannya. Jihan dan Galang memesan gado-gado.
Sigit meracikkan bumbu pelengkap untuk soto itu. Lalu menyendokkannya, ditiupnya agar tak terlalu panas dan menyuapi istrinya. Sigit tak menghiraukan Galang yang masih mencuri pandang pada istrinya.
"Bang, pengen kayak mereka juga" rengek Jihan kepada Galang. Membuat Galang gelagapan. "Malu ih, makan sendiri saja ya?" tolak Galang kepada Jihan. Membuat hati Jihan kecewa.
__ADS_1
"Cewek itu maunya diperlakukan yang manis-manis. Mereka tak mau menerima penolakan. Hanya saran sih, hargai yang disampingmu, bukan yang ada di depanmu yang sudah sah menjadi milik orang lain" Kata-kata Sigit sungguh menjurus untuk Galang. Ia bangkit, dan menarik tangan istrinya pergi dari sana.
"Han, aku kasih saran, cari cowok lain. Jangan mau sama cowok yang belum bisa move on dan masih mengharapkan yang jelas-jelas tak akan bisa jadi miliknya" Sigit memberi nasihat kepada Jihan.
Muti dan Jihan bingung. "Han, aku pamit dulu...." teriak Muti saat sudah agak menjauh dari meja makan itu.
Jihan mengangguk. Ia diam tak jadi menyentuh makanannya. "Bang, apa Abang masih mencintai Muti?"
"A-apa sih yank? Gak lah, mana mungkin!" elak Galang. Jihan menghela nafasnya.
"Mas Sigit gak bakalan ngomong seperti itu jika tidak ada sebabnya. Apa yang sedari tadi abang lakukan? Apa abang mencuri pandang kepada Muti? Apa abang masih penasaran dengannya? Lalu..... hubungan ini apa sih? Kamuflase? Atau apa?" Jihan menyampaikan hal yang mengganjal di dalam hatinya.
"Yank, yank, yank, dengarkan Abang dulu. Abang akan coba menerima kehadiranmu. Mari kita perbaiki hubungan ini" Jihan menggeleng.
"Maaf saya tidak bisa pak, jika memang anda berniat menerima kehadiran saya, harusnya anda melakukan hal itu dari kemarin-kemarin. Tapi yang anda lakukan semua hanya sebuah kamuflase untuk mengelabui hati saya. Permisi" Jihan melenggang oergi meninggalkab Galang sendirian disana.
Sementara di dalam mobil, Muti bingung dengan suaminya. "Mas, ada apa sih?"
Sigit kesal mengingat kejaidan tadi. Ia hanya diam dan memasang wajah cemberut. Tiba-toba saja ia buka suara.
__ADS_1
"Kamu resaign saja dari kantormu......."
Muti kaget bukan main.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
ngantuk, bobok dulu. nanti sahur juga
__ADS_1