Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 74


__ADS_3

Ali menjemput Hana di rumah sakit. Mereka akan segera melangsungkan nikah kantor. Hana sudah selesai visite dan langsung pulang. Waktu menunjukkan pukul 1 siang.


Ia masuk ke mobil Ali. "Assalamualaikum cantik" sapa Ali membuat Hana mengukir senyum malunya. "Kita langsung saja ya? Takutnya telat"


Hana mengangguk. "Hari ini mbak Muti sudah boleh pulang Bang, untuk terapinya besok sore di Ambarawa. Abang bisa temani adek kan?"


"Bisa, nanti pasti Sigit yang antar kan? Abang nunggu di polsek saja ya?" Hana mengangguk. "Nanti adek ngomong sama mas Si"


Mobil mulai melaju. Ali menambah kecepatan mobil. "Dek, tadi Abang beli nasi tuh. Kamu pasti belum makan kan?"


Hana melihat ke jok belakang. Ada dua kotak putih. Hana mengambil satu. "Abang lapar?" tanya Hana. Ali mengangguk. "Ya sudah, adek suapkan. Gak usah grogi"


Ali tertawa. "Tahu aja sih, Abang malah malu ih" Hana tersenyum dan mulai menyuapkan Ali. "A.... yang lebar" perintah Hana. Ali membuka mulutnya dan Hana memasukkan nasi beserta lauk dan sayuran ke mulut Ali.


"Dikit-dikit dek, penuh mulut Abang" Hana tertawa. "Hahahah, iya maaf. Abang pengen punya anak berapa?" tanya Muti spontan membuat Ali terkejut dan terbatuk. Hingga makanannya ada yang keluar lagi dari mulutnya.


Hana semakin tertawa. Ia membersihkan makanan yang jatuh itu. Dan memberikan Ali minum. "Dek, bisa gak pertanyaannya jangan bikin Abang syok? Abang beneran kaget lho. Suka banget sih ngerjain Abang"


"Adek serius nanya Abang. Itu kan hal yang wajib dirundingkan" jawab Hana beralasan. Ali tak mau kalah. "Kamu mampunya berapa? 5? 10? Atau seperti artis yang ada di tv itu? Saudaranya ada 11?"


Hana tertawa. "Adek pengennya 3 sih, tapi sedikasihnya Allah saja lah" Ali mengangguk. Hana terus menyuapkan Ali hingga makanan itu habis. Hana tersenyum memuji Ali. "Ih, bayi besar pintar! Makanannya habis!"


Ali tertawa dirinya disebut bayi besar. "Dasar!" balasnya menjewer telinga Hana. "Kamu gantian makan gih dek. Sebelum nanti kita sidang pra nikah"


Hana mengangguk. Dan mulai mengambil makanannya. "Nanti setelah nikah kita tinggal di rumah Sigit dulu saja lah dek, sampai trauma mu hilang. Abang takut kalau meninggalkan kamu sendirian"


Hana mengangguk. "Adek juga mikirnya gitu bang. Tapi, Abang gak capek bolak balik Semarang Ungaran?" Ali menggeleng. "Masih terhitung dekat jaraknya"


"Ya sudah kalau begitu. Semoga trauma ini segera hilang perlahan lah bang"


"Aamiin" Mereka telah sampai di polsek. Hana dan Ali segera turun. Ali meraih tangan Hana untuk digandengnya. Senang bukan main Hana diperlakukan begitu oleh Ali. Mereka menjadi pusat perhatian bagi sekeliling mereka.


"Wuis.... yang mau resmi. Status duda keren otewe minggat dong ya?" kata Ilham menggoda Ali. Ia tersenyum dan berlalu meninggalkan Ilham.

__ADS_1


"Langsung ke ruangan sidang saja ya dek?" Hana mengangguk. Ternyata sidang sudah dimulai sejak 20 menit yang lalu. Ali dan Hana menunggu giliran mereka. Masih ada satu pasangan yang menunggu. "Zam, yang di dalam siapa saja?" tanya Ali kepada rekannya.


"Eh, Bang Ali sudah datang. Harusnya tadi abang dulu yang masuk. Tapi karena belum datang dilewati Bang. Yang di dalam pak kapolsek dan wakapolsek beserta pasangannya, perwakilan dari ibu bhayangkari, sama anggota"


"Lengkap berarti Zam?" Azam mengangguk. Hana berkenalan dan bercengkrama dengan Diah, calon istri Azam. Tak terasa hampir 45 menit bagi mereka menunggu dan akhirnya tiba giliran Azam dan Diah.


"Kami masuk dulu mbak" ucap Diah. "Silahkan, Semangat ya?" ucap Hana memberikan semangat.


Mereka masuk. Yoga berpapasan dengan Ali di ruang tunggu. "Gimana lancar?" tanya Ali. Yoga mengangguk senang. "Iya bang, alhamdulillah. Yank, kenalan sama calon istrinya bang Ali"


"Ismi" calon Yoga menyalami Hana. "Hana"


"Bu Hana, calon saya bidan di RST juga lho"


"Oh ya? Waah, saya ada teman seperjuangan dong ini"


Ismi mengangguk senang. "Saya juga tidak menyangka dokter Hana jadi calonnya bang Ali"


"Ya sudah bang, kami pamit dulu. Assalualaikum" pamit Yoga. "Waalaikum salam"


"Kenapa dek? Kebelet?" Hana menggeleng. "Adek grogi bang" Ali tersenyum. "Tenang, insyaallah semuanya lancar kok. Bismillah, sayang"


Hana tersenyum mencoba mengatur nafasnya dan berdoa. "Kira-kira nanti ditanya apa saja bang?"


"Ya seperti biasa dek, pokoknya yang Abang WA ke kamu, sudah kamu pelajari semua kan?" Hana mengangguk. "Hapal?"


"Ada beberapa yang tidak hapal. Gak papa kan?" Ali mengangguk. "Semoga dilancarkan oleh Allah. Aamiin"


"Aamiin" Waktu terus berputar hingga Azam dan Diah keluar. Giliran Ali dan Hana masuk. Mereka dicecar dengan berbagai pertanyaan. Hana disuruh menyanyi Mars Bhayangkari.


Untung aku hapalin bener-bener lagu ini. Huft, ternyata benar-benar sama seperti nikahnya tentara. Malah keinget sewaktu mami nyuruh orang nyanyi Mars Persit.


"Pesan kami adalah, jaga rumah tangga kalian. Al, kamu sudah pernah gagal. Jadikan yang lalu sebagai pelajaran untuk masa sekarang dan masa depan. Bu Hana, terima segala kelurangan calon suamimu. Siapa tahu dengan menikahi dirimu pintu rejekinya yang masih tertutup bisa terbuka. Intinya adalah sabar"

__ADS_1


Hana dan Ali mengangguk. "Siap!" jawab mereka berdua. "Dengan ini saya selaku Kapolsek Ungaran memutuskan bahwa kalian resmi menikah kantor"


"Alhamdulillah" Mereka senang. Setelah selesai melakukan proses sidang pra nikah mereka meninggalkan polsek. "Dek, ke rumah dinas sebentar ya? Mas mandi dulu baru antar kamu pulang"


Hana mengangguk. "Iya mas, nanti adek numpang ke toilet ya? Mau ganti juga. Sudah penuh rasanya. Ibu dan Bapak masih disana kan? Adek mau mengembalikan gamisnya"


"Ibu dan Bapak sudah pulang dek, kan harus menguruskan surat pindah nikah. Kata Ibu, gamisnya buat Adek saja"


"Lhoh, kok Abang gak ngomong ke Adek kalau Bapak dan Ibu sudah pulang?" Ali tersenyum. "Buru-buru sayang, jadi abang lupa ngasih tahunya"


"Ooh...."


Mereka sudah sampai di rumah dinas Ali. Hana menyapa ibu-ibu tetangga Ali. "Wah, mas Ali, calonnya ramah sekali. Gak kayak yang dulu"


Ali dan Hana tersenyum. "Orangnya saja beda bu, ya pasti beda lah bu. Hehehe" jawab Ali santai. Mereka masuk ke dalam rumah.


"Adek ganti dulu ya bang" Ali mengangguk. Hana segera berganti pembalut. Ali merebahkan dirinya sebentar. Ia memejamkan matanya. Penat. Hana telah selesai dan keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum melihat Ali yang terpejam.


Ia mendekat ke sofa. Berjongkok di depan Ali "Pasti capek ya? Cakep banget sih kalau lagi tidur" ucap Hana tanpa sadar sambil mencubit pipi Ali. Membuat Ali membuka matanya dan menggenggam tangan Hana. Mata mereka saling bertemu.


Deg deg deg deg. Jantung mereka kembali berpacu tak beraturan. "Abang mandi sebentar" kata Ali kemudian. Berlalu ke kamar mandi. "Huft" Hana menghela nafasnya.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2