Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 10


__ADS_3

"Assalamualaikum "


"Walaikumm salam"


Davian dan Kamil masuk ke dalam rumah, hari ini mereka pulang lebih cepat dari biasanya.Navysah langsung mencium tangan suaminya dan diikuti Fafa dan Keken.


"Tumben mas, pulang cepat" tanya Navysah.


"Tadi meeting sama lihat progres perumahan saja"


"Mas Kamil mau minum apa?" tanyanya."Aku mau teh hijau saja Nav"


"Oke"


Fafa bergelayut di tangan Kamil tanpa sungkan, hal seperti ini sudah biasa dia lakukan. "Om, mana pesanan Alif sama Fafa" dirinya merengek pada Kamil layaknya Ayah sendiri.


"Iya sudah ada, kamu tenang saja" balasnya.


"Asyik..."


"Keken dibeliin nggak om?, Keken mau Om" pintanya


"Aduh, Keken telat ngomongnya. Om cuma beli dua. Nanti barengan saja ya. Klo Keken beli mau ditaruh dimana. Di apartemen nggak mungkin,bisa diomelin mami Imel nanti"


Navysah mengenyitkan dahinya, tidak mengerti apa yang dibicarakan anak dan asisten Davian.


"Mas Kamil, si Fafa minta apa? Jangan macam - macam ya, dia pasti minta yang aneh-aneh kan"


Navysah tahu anak-anaknya selalu merepotkan Kamil, jika tidak dipenuhi orang tuanya pasti si kembar akan menelepon Kamil dan saat itu juga akan di penuhi mas Kamil. Entah mengapa si kembar sangat menempel pada Kamil sejak kecil,dibandingkan dengan Davian, mereka lebih suka bergelayut dan manja pada Kamil. Pembawaan yang tenang,santai, selalu sabar dan tidak pakai urat jika bicara membuat si kembar nyaman. Berbeda dengan Ayahnya sendiri yang irit bicara, tidak sabaran. Jika si kembar melakukan sesuatu yang salah dan berbuat rusuh, sudah pasti Ayahnya akan melotot padanya.


"Fafa tidak minta macam - macam kok Nav, cuma satu macam" ucapnya terkekeh.


"Apa?"


"Tuh, di kebun samping rumah" balasnya. Navysah sangat penasaran apa yang diminta anaknya. Dirinya bergegas ke arah samping


" Astagfirullah, Fafa..!! Kenapa minta ini Nak" Navysah mengelus dadanya, dirinya melihat dua kambing yang sedang memakan tanamannya.


"Hancur sudah bunga dan tanamanku"


Fafa mendengar ibunya berteriak dan dia melihat dua ekor kambing keinginannya.


"Yesss..!! , yeyyy.. asyik kambingnya sudah datang" dirinya bergegas naik menunggangi kambing jenis etawa miliknya yang berwarna hitam dengan tanduk melengkung. Keken pun tidak mau kalah dirinya ikut menunggangi kambing etawa berwarna coklat milik Alif. " Asyik, naik kambing. Pumpung Alif belum bangun aku bisa pakai dulu" ujarnya.


"Sayang itu bukan kuda, itu kambing Nak" Navysah gemas melihat tingkah anak dan ponakannya.


"Ini kambing besar mah, nggak kayak yang di Bogor"


-Flashback on-


Davian membawa keluarganya saat ada proyek perumahan di Bogor enam bulan yang lalu. Dia membawa istri dan anak- anaknya kesana saat hari minggu sekalian ingin liburan.

__ADS_1


Pesawahan yang kini dibangun menjadi perumahan minimalis dengan suasana pedesaan. Dulu Fafa dan Alif melihat beberapa kambing yang sedang digembalakan di dekat Pesawahan. Mereka ingin naik kambing hingga merengek dan menangis, akhirnya terpaksa Navysah mengiyakan keinginan anaknya dengan membayar sewa kambing pada pemiliknya. Namun kambing yang dinaiki masih kecil hingga sang hewan tidak kuat menahan beban tubuh anak itu. Apalagi si Fafa yang saat itu berlagak layaknya koboi dengan menunggangi kambing hingga dirinya tersungkur ke tanah.


-Flashback off-


"Ken, turun Nak,nanti jatuh" perintah Navysah.


"Nggak tan, ini seru. Permainan baru, sebentar lagi Alif bangun. Dia nggak bakalan kasih ijin Keken naik kambing ini" dirinya sangat senang menaiki kambing.


"Hadeewwhh, ngomong sama Keken percuma. Sebelas dua belas sama kayak Fafa" Navysah kembali ke dapur untuk membantu budhe Salma menyiapkan makanan untuk Davian. Dan terlihat Alif akan menuju kebun belakang "Mah, kambing Alif sudah datang?" tanyanya


"Sudah" cebiknya dengan tidak suka, "Kamu kan yang telepon Om Kamil minta kambing"


"Hehehe, habisnya Alif pengen punya kambing yang besar"dirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Kamu itu lif, hobinya telepon Om Kamil ngrepotin mulu"


"Om Kamil mau kok bantuin Alif. Nanti kalau Alif sudah bosen, kambingnya boleh disembelih saat idul Adha mah" ujarnya


"Terserah" Navysah cemberut dan menghampiri suaminya yang sedang berbincang dengan Kamil dan Raffa.


Terdengar suara dari arah ruang keluarganya "Jadi Raffa mau jadi animator" Kamil melirik kearah Davian yang diam membisu, dirinya tahu Davian sangat menginginkan anak sulungnya itu memimpin perusahaan yang sudah dirintisnya dari dulu namun sepertinya Raffa tidak tertarik dengan bisnis Ayahnya.


"Iya Om, Raffa senang menggambar. Teknologi sekarang semakin canggih. Raffa ingin belajar ke luar negeri tentang animasi dan membuat studio animasi dalam negeri". Kamil mengangguk mengerti jalan pikiran anak temannya ini.


"Kenapa tidak ambil fakultas ekonomi atau jadi arsitek saja. Kamu bisa nerusin bisnis Ayah Davi"


Raffa melirik Ayahnya yang sedang bermain handphone, dirinya takut salah menjawab pertanyaan dari Om Kamil." Raffa hanya ingin animasi Om" dirinya menggaruk tengkuk lehernya.


"Aku tidak lapar, Kamil pun sebentar lagi akan pulang"Dirinya menekan tombol lift menuju lantai dua kamarnya.


" Bagaimana caranya menghadapi ini semua ya Allah "Navysah bingung disatu disi dirinya sangat menyayangi Raffa dan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, apapun cita-cita anaknya dia sangat mendukung. Namun, disisi lain suaminya kini sudah sedikit lelah dan menua. Bisnisnya harus berjalan, tidak ada yang bisa menjalankan selain anak sulungnya yang selalu dia banggakan.


Navysah bergegas mengikuti suaminya di kamar dengan membawa makanan.


"Raffa, lakukanlah yang terbaik menurut hatimu. Om berharap kamu tidak salah melangkah.Kamu anak baik, dan Om yakin kamu akan menjadi orang yang sukses. Jangan lupa shalat lima waktu dijaga ya Raff, minta sama Allah mana yang terbaik" ucap Kamil.


"InsyaAllah Om, terima kasih atas do'anya"


"Ya sudah, Om pulang dulu takut Anggrek nyariin"


"Iya Om, salam buat tante Jasmine dan adek Anggrek"


"Siap" Kamil berlalu meninggalkankan rumah Davian.


"Raffa, aku ingin pulang. Ayo antar aku"


"Ayo, aku anterin. Nggak usah pamit sama mama, dia lagi sama Ayah"


"Oke, tapi naik motor ya" pinta Kinan, dirinya berharap bisa sedekat tadi siang bersama Raffa.


"Jangan, naik mobil saja.Nanti kamu masuk angin di jalan"

__ADS_1


Hati Kinan merasa senang dengan perhatian yang Raffa berikan, dirinya menahan senyum dan mencoba untuk mengkondisikan hatinya yang sedang berdebar kencang.


"Aku mau naik motor, lebih cepat" pintanya lagi.


"Dasar keras kepala, kalau kamu sakit jangan salahkan aku" dirinya bergegas menstater motornya membelah jalanan.


Di kamar utama,


"Mas, makanlah" Navysah membangunkan suaminya yang sedang tertidur.


"Aku tidak lapar"


"Ayolah makan dulu, butuh tenaga untuk mengomel padaku kan" Navysah sengaja menciumi wajah suaminya. Walaupun usia suaminya kini lebih dari lima puluh tahun, masih terlihat segar walaupun tidak bisa dipungkiri kerutan di wajah dan rambut yang terlihat dua warna kini menghiasi dirinya.


"Jangan merayuku!, kamu selalu membela Raffa. Kamu sangat menjengkelkan" ia langsung bersandar di kepala ranjangnya dengan cemberut.


"Aku bukan membelanya, aku seorang Ibu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk anakku.Raffa anak yang tidak bisa dikasari, aku akan pelan-pelan membujuknya. Kamu tenanglah" Navysah memeluk suaminya dengan lembut.


"Sampai kapan kamu akan membujuknya, sebentar lagi dia ujian dan lulus sekolah. Dia selalu mengikuti event animasi dan selalu juara, aku yakin Raffa tidak akan mudah menyerahkan mimpinya begitu saja. Aku sudah tua Navysah dan sedikit lelah. Hanya Raffa yang aku harapkan" ujarnya. "Dia sangat pintar, aku tahu dia bukan anak kandungku tapi aku sangat menyayanginya, aku tidak pernah membedakanya dan hanya dia yang mampu mengantikanku. Berharap pada Alif sudah jelas dia lebih suka dengan dunianya, membaca buku tentang biologi dan hewan. Berharap pada Fafa tidak mungkin, yang ada di otaknya hanya bermain bola dan membuat kerusuhan, aku terkadang tidak sabar menghadapinya yang terlalu aktif. Inka sama saja kayak Fafa. Jika Inha anak sulungku sudah pasti dia yang akan menggantikanku. Inha itu seperti Imelda, sangat pintar dan irit bicara. Sedangkan Feri, dia anak tunggal sudah pasti suatu saat akan balik ke Solo untuk mengelola bisnis Ayahnya. Keken, dia memang pintar tapi sifatnya seperti Feri yang pecicilan,otaknya satu frekuensi dengan Fafa " sambungnya lagi.


" Iya mas, kamu sabar ya. Aku akan segera membujuk Raffa lagi"


"Sayang, kau tahu aku memulai semuanya dari nol. Aku ingin kehidupan anakku baik tidak seperti diriku dulu yang susah. Perusahaan ini, semuanya untuk anak kita. Sahamku masih menjadi yang terbanyak, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada yang menginginkan jabatanku jika aku tidak mampu mengelolanya.Salah satu caranya hanya Raffa, cuma dia yang kompeten tapi sepertinya dia tidak tertarik. Ingin rasanya aku marah saat dia menjawab pertanyaan Kamil. Apa itu studio animasi, dia kira mudah membangun perusahaan dari nol" cibirnya dengan senyum mengejek.


"Mas, jangan begitu"


"Kamu itu selalu membelanya, aku itu bicara fakta sayang. Tidak mudah membuat perusahaan, tidak semudah membalikan telapak tangan. Pokoknya kalau kamu tidak bisa membujuknya, aku yang akan memaksanya dengan caraku sendiri" ucapnya dengan nada tinggi.


"Sini, sini aku peluk. Kamu itu sudah tua jangan emosi terus. Habis ini makan ya, aku suapin" dia mencoba meluluhkan hati suaminya yang sedang kesal.


"Nggak mau"


"Harus mau"


"Tukang maksa"


"Kamu juga iya, keras kepala semuanya harus dituruti plek ketiplek banget mirip Alif ".


"Fafa mirip kamu sablengnya "


"Inha mirip kamu, si irit bicara"


"Inka pecicilan mirip kamu sayang"


"Nggak papa yang penting semua sehat mas" Mereka bersahutan dan tertawa lepas.


* **


Alhamdulillah kelar satu Bab, ngebut ala motoGP. Up tengah malam, HeheheheπŸ˜‚


Matursuwun sudah mampir 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2