Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 23


__ADS_3

"Bekal makanan sudah mama siapkan di tas kalian masing-masing" ucap Navysah.Keempat anaknya yang sudah rapi langsung berbaris mencium tangan ibunya dan masuk ke dalam mobil.


"Dadah mama...kiss bye..Mmuuaachh.. hehehe " Fafa yang selalu ceria berjingkrak di mobil melambaikan tangan pada ibunya disertai ciuman jarak jauh.


"Iya sayang hati-hati, belajar yang pintar ya."Navysah membalas lambaian tangan anaknya." Hah.. anak itu memang selalu berbeda sendiri. Tingkahnya seperti Febri saat kecil, kalau dirumah ngeselin tapi kalau dia main dicariin "lirihnya sembari melihat Fafa yang masih melambaikan tangannya.


" Si burung beo mah" Raffa tidak sengaja mendengar ucapan ibunya, ia bergegas menggendong tas dan bersiap untuk berangkat sekolah. Dia mengeluarkan sepeda dari garasi rumahnya, Raffa memberi julukan beo karena si Fafa tidak bisa berhenti ngomong, aktif dan tidak betah di rumah.


"Iya dia selalu pecicilan, entah hari ini apalagi yang akan dilakukannya. Dia nggak betah dirumah, kalau nggak ada dia mama kesepian" Navysah mengingat keseharian Fafa, ia pasti main di tetangga dan memanjat pohon mangga ataupun pohon lainnya mengambil buahnya hingga satu kresek baru pulang kerumah. Namun, para tetangga tidak pernah memarahinya bahkan mereka sangat senang dengan kehadiran Fafa yang ceria di rumahnya, seperti membawa kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Ia selalu bermain petasan di malam hari, membeli setiap pedagang yang lewat dan mentraktir temannya namun lupa membayar. Satu kalimat 'sakti' yang selalu keluar dari mulutnya Minta uangnya di rumah Pak Davian Ahmad.


"Raffa berangkat dulu, nanti siang bapaknya Rio kesini mah " Ia mencium tangan ibunya dan memeluknya.


"Iya siang aja, bentar lagi mama mau ke butik dan konveksi ketemu Yuni dulu" Navysah memeluk erat tubuh anaknya. "Ya allah, sekarang anakku benar-benar sudah besar. Perasan baru kemarin lahiran kamu sekarang sudah setinggi Ayah Davi. Mama merasa pendek banget" gerutunya.


"Ehem.. Ehem.." Davian melihat Navysah memeluk hangat anaknya. "Ayah cemburu nih!" kelakarnya


Mereka melepaskan pelukan dan melihat ke arah sumber suara, namun Raffa kembali memeluk ibunya dari belakang "Ayah cemburu yah, lihat nih yah muuuaaahhh.. Mmuuaachh.. Hahaha " ia mencium kedua pipi ibunya dan bergegas pergi mengayuh sepedanya. Navysah pun geli melihat wajah suaminya yang cemberut.


" Aku berangkat dulu ke kantor" namun dia mengelap kedua pipi Navysah dengan sapu tangannya, baru dia mencium pipi istrinya. "Astagfirullah mas, sama anak sendiri gitu amat sampai dibersihin" cebik Navysah


"Pipimu bekas dicium Raffa, wajahnya mirip banget fotokopian Raihan . Aku tetap cemburu" ia memeluk istrinya dengan hangat.


"Idih...!! Amit - amit sudah setua ini masih cemburu sama almarhum" Navysah tidak habis pikir dengan suaminya yang selalu cemburuan tentang almarhum Raihan.


"Aku selalu cemburu dengan siapapun,cintamu juga terbagi untuk anak-anak aku dapat sisanya" gerutunya. " Aku berharap Raffa bisa menjalankan bisnisku jadi aku bisa istirahat dengan tenang,punya banyak waktu dirumah dan menua bersamamu"


Navysah hanya tersenyum kikuk, ia segera mencium tangan suaminya "Dah sana berangkat, hati-hati di jalan. Assalamualaikum"

__ADS_1


"Walaikumm salam."


Ia hanya menghembuskan nafasnya setelah mobil Davian keluar dari rumahnya "Aku juga mau mas menua bersamamu kita bisa punya banyak waktu bersama anak - anak. Aku masih belum berhasil membujuk Raffa, sangat sulit hingga membuat kepalaku sering sakit"


* **


"Ini surat lamaran saya bu" ucap pak Ari menyodorkan sebuah map coklat. Navysah menerimanya namun langsung menyingkirkan map itu dibawah meja kemudian dia menatap Ayah Rio, wajah yang mirip dengan si Rio dengan rambut kribo yang diikat dengan tali serta pakaian kemeja yang rapi.


Pak Ari mengenyitkan dahinya "Maaf bu Navysah, saya mau tanya kenapa berkas lamaran saya cuma disingkirkan. Apa saya di tolak bu?" tanyanya,ia terlihat cemas.


"Oh, bukan begitu Pak Ari. Saya hanya ingin ngobrol santai dengan bapak.Saya tidak perlu ini" ucapnya sembari tersenyum "Begini, sopir saya Mang Dirman akan resign. Jadi setiap pagi bapak harus stay disini untuk antar jemput anak - anak sekolah,nanti jadwal akan saya kasih. Jika ada waktu luang bapak bisa bantuin antarkan barang produksi bersama Yuni dan Amel karena kebetulan saya punya butik dan konveksi. Jika melebihi jam kerja akan dihitung lembur sama seperti pak Opi sopir kami yang satunya.Jika di restoran butuh sopir tambahan untuk anterin catering maka bapak harus bantuin kesana.Intinya begini, jika bapak mau disuruh kesana kemari penghasilan bapak pun akan lebih besar dari biasanya dan Rio tidak perlu kerja part time lagi. Satu lagi, tolong berpakaian rapi, wangi dan JUJUR" Navysah selalu menekankan kalimat terakhirnya.


"Siap bu, saya akan berusaha yang terbaik untuk keluarga ibu. Alhamdulillah kalau saya bisa diterima bekerja disini dan mendapat gaji bulanan kalau cari uang di jalan belum tentu penghasilan setiap harinya bu" ucapnya dengan malu-malu


"Good, besok lusa mulai kerja ya. Semoga bapak betah. Oiya anak saya sangat aktif terutama Fafa dan Inka. Mohon dimaafkan jika mereka selalu membuat kerusuhan. Saya titip mereka"


"Baik bu, cuma itu saja bu nggak ada yang lain "tanyanya, ia merasa aneh biasanya dimanapun ia bekerja akan selalu ditanya tentang silsilah keluarga atau pertanyaan yang menurutnya njelimet. Namun disini hanya pertanyaan sekedar basa - basi.


"Kalau Raffa alhamdulillah pak, nurut dia anaknya. Cuma ini adiknya kadang bikin saya darah tinggi, ekstra sabar. Bapak juga harus belajar sabar menghadapi anak - anak saya, kalau ada apa-apa bilang saja sama saya" dan ia hanya mendapat anggukan dari pak Ari.


"Assalamualaikum"


"Walaikumm salam" ucapnya bersamaan


"Itu mereka,pasukan gambreng datang pak. Siapin stok sabar ya menghadapi mereka " Navysah mengulum senyum.


"Mama...!!!" teriak mereka dan suara yang memekakan telinga. Mereka berbaris mencium tangan ibunya.

__ADS_1


"Ayo salim dulu sama Om Ari, nanti dia yang jemput kalian gantiin mang Dirman "


Mereka melirik kearah pria berumur di depannya dan mencium tangannya satu per satu. "Rambutnya lucu kayak Om Rio" celetuk Fafa.Ia mengingat teman kakaknya yang mempunyai rambut kribo.


"Iya mirip mie goreng" sambung Alif


"Om boleh nggak aku pegang rambut kribo nya" Inka masih selalu penasaran dengan rambut kribo dan ingin selalu menyentuhnya.


"Inka...!" seru Navysah. " Maaf mah, habis lucu kriwil - kriwil hehehe " balasnya


"Om sudah makan?" tanya Inha dengan lembut.


"Sudah Non"ucapnya dengan tersenyum" Sepertinya yang bisa diajak kompromi cuma yang satu ini" ia melirik Inha yang sedang bergelayut di lengan ibunya.


"Keluarga yang hangat dan unik" gumamnya dalam hati.


"Mereka double kembar pak, yang Ini Inha cirinya pendiam dan ada tahi lalat di bagian dahinya. Yang sedang lari-larian itu Inka tandanya ada tahi lalat disebelah pipi dan bibirnya, anaknya aktif dan cerewet. Yang tadi naik ke lift itu Khalif anaknya pendiam sama kayak Inha tandanya tahi lalat di pipi. Lah yang satunya, yang itu yang lari-larian sama Inka itu yang paling ajaib, super aktif namanya Khaffa ada tanda lahir di bagian leher dan telinga. Mereka sangat mirip satu sama lainnya, jangan bingung ya pak biasanya mereka suka bikin pusing "ucap Navysah dengan tersenyum.


"Baik bu, kalau bingung nanti saya pegangan kursi lalu duduk, baru minum bodrex, hahaha" selorohnya


"Bapak ada - ada saja" Navysah menggelengkan kepala. "Pak Ari nanti makan dulu sebelum pulang ya, nanti disiapkan budhe Salma" ucapnya


"Terimakasih bu" jawabnya. Ia mengingat petuah anaknya tadi malam.


"Ayah, kerja disana harus rapi, wangi, rambutnya harus diikat dan Jujur. Mamanya Raffa pasti akan langsung menerima Ayah kerja"


"Ayah, Adiknya Raffa double kembar. Dua diantaranya sangat aktif dan ajaib. Ayah harus stok kesabaran yang banyak,jangan lupa bawa obat b*drex. Mereka selalu bikin pusing "

__ADS_1


"Mamanya Raffa sangat cantik, Ayahnya tampan, keluarga sangat baik, hangat dan unik. Tapi Ayah jangan sekali - sekali memuji kecantikan mamanya Raffa dihadapan Pak Davian bisa langsung di Ngessss" ia mengatakan seolah - olah sedang disembelih lehernya. " Kata Raffa, Ayah dia sangat cemburuan so jangan menatap mamanya secara berlebihan.


" Dan semua perkataan Rio memang benar. Sepertinya aku harus sabar menghadapi mereka. Bismillah, akan aku lakukan yang terbaik, bekerja yang baik agar anak - anakku bisa sekolah dan istriku bisa hidup tenang" ucapnya sembari melihat Fafa dan Inka yang masih berlari kesana kemari.


__ADS_2