
Satu bulan telah berlalu kini Fafa dan Hanin kembali dengan rutinitasnya. Hubungan mereka seperti orang asing dalam satu rumah. Walaupun Hanin berusaha untuk pulang sore hari dan mencoba memperbaiki hubungannya namun nyatanya, Fafa lebih sering pulang malam dan terkadang Fafa pulang dengan keadaan mabuk. Saat libur, Fafa lebih sering pergi bersama teman - temannya. Sejak pulang dari rumah sakit Fafa tidak pernah sekali pun menyentuh Hanin hingga istrinya berfikiran bahwa Fafa tidak mencintainya lagi.
Hanin selalu mencoba memasak dan memancing hasrat Fafa agar betah di rumah dan mau memaafkan segala kesalahannya. Namun nyatanya tidak berhasil meluluhkan hati suaminya.
"A..., kau marah padaku?" tanya Hanin, ia sudah tidak sabar dengan keadaan rumah yang seolah tidak punya nyawa. Tidak ada canda dan tawa dari Fafa yang selalu ia lontarkan apalagi sekedar menggoda Hanin.
"Tidak."
"Tapi kamu selalu diam, tidak seperti biasanya."
"Aku tidak apa-apa Nin." Fafa membuang wajahnya ke arah lain.
Hanin hanya mampu menitihkan airmata, ia teringat perkataan ibu mertuanya yang selalu menyemangatinya saat di rumah sakit. Walaupun mama Navysah selalu tersenyum namun raut wajahnya terlihat sedih dan kecewa karena kehilangan calon cucunya.
Esok hari berjalan seperti biasanya, Sebelum Fafa berangkat ke kantor ia selalu melihat beberapa berita online.
"Model dan artis berinisial RN kini terlihat keluar dari ruangan dokter obgyn di sebuah rumah sakit. Rumor yang beredar sekarang RN di duga hamil diluar nikah dengan seorang aktor tanah air. Namun setelah di konfirmasi, model RN tidak memberi keterangan dan sengaja menghindar dari banyak wartawan. Benarkah isu tersebut? "
Fafa membaca kembali berita online tersebut dan membaca komentar pedas netizen.
" Pasti yang dimaksud RN ini adalah Rena Nadia. " gumam Fafa
" Mulut netizen memang keterlaluan, Rena pasti tertekan dengan semua pemberitaan ini. "sambung Fafa kembali
Hanin yang kini mendengar suaminya bergumam kini mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkannya itu, ada sedikit cemburu saat Fafa membela sang mantan.
" Siapa yang tertekan A?" tanya Hanin, ia menyuguhkan secangkir kopi dan duduk di samping suaminya.
"Rena,aku mendengar dia hamil diluar nikah."
" Oh, apa dia akan menikah dengan pria yang menghamilinya?"
Fafa hanya mengedikan bahunya.
"A bisakah kau pulang tepat waktu? Sebulan ini kau tidak memperhatikanku." pinta Hanin, " Kau selalu pulang malam dan mabuk."
"Tidak tahu, aku sibuk." jawab Fafa sembari membereskan laptopnya. Ia menggunakan dasi dan bersiap akan pergi ke kantor.
"Biar aku bantu ikat dasinya."
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa mengikat dasiku sendiri." Fafa dengan cepat mengikat dasinya dan memakai jas kerja hingga tidak ada kesempatan bagi Hanin membantunya.
"A..." Hanin mulai berkaca-kaca karena Fafa benar - benar berubah setelah Hanin keguguran. Sikapnya begitu dingin dan selalu melakukan apapun tanpa bantuannya.
Fafa membuang wajahnya, ada rasa tidak tega pada Hanin tapi semua ini ia lakukan agar istrinya mau berubah lebih mementingkan keluarga daripada pekerjaannya. Ia pun harus menahan hasrat untuk tidak menyentuh istrinya.
Handphone Fafa berdering dan tertera nama seorang wanita yang meneleponnya. Hanin sempat melirik dan membaca nama panggilan telepon masuk.
"Putri? Sepertinya aku pernah dengar nama itu tapi dimana ya? " gumam Hanin dalam hati
Fafa segera menekan tombol hijau dan menjauh dari Hanin. Ia menelepon di balkon dengan sesekali tersenyum lebar.
"Bahkan dalam sebulan ini kamu tidak pernah tersenyum lebar seperti itu untukku." lirih Hanin saat melihat suaminya tersenyum dengan wanita lain di telepon, ia kian penasaran dengan pembicaraan suaminya dengan putri.
" Siapa A?"tanya Hanin setelah panggilan terputus.
" Oh, itu... Mmm.. " Fafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal." Tadi... " belum sempat Fafa menjawab, ponselnya kembali berdering.
Fafa melihat ponselnya sembari mengenyitkan dahi.
" Siapa lagi sih pagi-pagi telepon?! " ketus Hanin
"Telepon disini, aku ingin dengar." Hanin menahan lengan suaminya agar tidak menjauh darinya.
"Kenapa Ren?" Fafa sengaja meloud speaker agar Hanin mendengar suara Rena.
"Aku ingin bertemu denganmu, ada yang ingin aku bicarakan, ini penting." ucap Rena dengan suara menangis.
" Mau bicara soal apa?! Ini aku Hanin istrinya Fafa." sambar Hanin dengan cepat, ia merasa tidak suka saat suaminya di telepon sang mantan.
"Hanin, Mmm..." Rena merasa sungkan untuk bicara dengannya.
"Jangan!! Mmm... aja! Cepat bicara atau aku matikan ponselnya!" ketus Hanin
"Baiklah, aku akan bicara." potong Rena dengan cepat. " Fafa, aku hamil."
"Lalu apa hubungannya dengan suamiku!? Apa yang kamu inginkan?" sembur Hanin.
"Aku...aku butuh uang untuk kabur ke Amerika. Fafa, bisakah kau memberikan aku uang." pinta Rena dengan memelas.
__ADS_1
"Hei..!! Aku tanya padamu! Apa hubungannya dengan suamiku, kenapa kamu meminta uang!"
Fafa segera menyambar ponselnya dan menjauh dari Hanin, ia berbicara di balkon dengan wajah serius.
"Tadi putri dan sekarang Rena! Berapa banyak wanita yang kamu miliki A!" seru Hanin setelah Fafa memutuskan sambungan teleponnya.
"Hanin, ini masih pagi aku tidak ingin ribut." Fafa menyesap kopi dan merapikan jasnya kembali.
"Aku ingin tahu A! Untuk apa putri meneleponmu sepagi ini hingga kamu tersenyum lebar saat di balkon, sedangkan aku tidak pernah kau beri senyuman setelah aku keguguran!" seru Hanin dengan nada tinggi, " Sekarang Rena juga meneleponmu dan meminta uang untuk pergi ke Amerika, aku heran kenapa dia meminta uang padamu! Apa anak yang dia kandung itu anakmu A! "
" Cukup Nin!! Jangan pernah menilaiku seburuk itu! Sudah kubilang aku memang liar tapi aku tidak akan menyentuh wanita yang tidak halal bagiku! " teriak Fafa dengan keras
" Rena meminta bantuanku karena pacarnya tidak mau bertanggung jawab, dia meminta menggugurkan bayinya namun Rena tak mau. Maka dari itu Rena meminta uang padaku untuk tinggal di luar negeri karena dia tidak diterima keluarganya, karirnya hancur, banyak orang yang menghina dia, dia tertekan Nin, kasihan dia. "
" Aku tidak percaya, dia pasti berbohong. Kamu tahu kan Rena pandai sekali berbohong agar kamu iba dengannya. Kamu jangan mau di bodohi lagi A! "
" Rena memang pandai berbohong, tapi tidak kali ini aku percaya dengannya. Dia tidak akan berani menggugurkan bayinya yang tidak bersalah. Dia memang matre tapi dia tidak akan melanggar prinsipnya. "
" Wah..., aku salut sekali denganmu A membela sang mantan mati-matian sedangkan istrimu kau acuhkan " Hanin bertepuk tangan seraya menyindir suaminya. Hati Hanin terasa sakit dan nyeri saat Fafa membela Rena kembali.
" Hentikan Hanin! Jangan memancing emosiku! " seru Fafa dengan nada tinggi
" Memang benar kok, setelah aku kehilangan bayiku kau tidak pernah tersenyum padaku! Kau tak pernah bercanda tawa atau sekedar memujiku! Bahkan AA tidak pernah menyentuhku lagi, aku salah apa A! Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi kamu tidak pernah menghargai diriku! " Hanin berteriak sembari menangis, mengeluarkan segala rasa kesal di hatinya.
" Apa kamu bilang, melakukan yang terbaik?! " cibir Fafa ." Sekarang aku tanya, pernah tidak kamu menghargai aku sebagai suamimu sekaligus kepala rumah tangga?! " seru Fafa dengan nada tinggi. " Kamu selalu membantahku, aku bilang kamu bekerja di rumah saja tapi kamu tidak mau, kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu di kantor. Aku melarangmu untuk bekerja karena saat itu kehamilanmu sangat rentan Nin!, tapi kamu tidak sedikitpun mendengarkan perkataanku. Dan sekarang banyak wanita yang berada di sekelilingku kamu malah cemburu, marah - marah tidak jelas! Jika kamu memang istriku, sekarang aku berikan kamu pilihan. Kamu pilih aku atau keluar dari pekerjaanmu itu?!
" Kenapa aku harus memilih jika aku bisa mendapatkan keduanya." kilah Hanin
" Jangan bicara omong kosong! Hidup itu pilihan dan kemarin bayi kita kau korbankan karena ambisimu!"
Hanin terdiam seribu bahasa, Fafa begitu tegas, dan dia benar-benar bingung mana pilihan yang harus ia ambil.
" Hanin aku bertanya padamu, jawab!!! " teriak Fafa dengan emosi.
Hanin masih terdiam dan hanya menundukan kepala sembari memilin ujung bajunya.
" Oke, sekarang aku tahu jawabanmu. Kamu lebih memilih pekerjaan daripada aku! Kamu tidak pernah cinta denganku Nin! Yang kamu cintai adalah pekerjaanmu bukan suamimu." Fafa tersenyum getir, ia menyambar tas nya dan pergi dengan membanting pintu apartemen dengan keras.
Hanin terduduk lesu di atas lantai,ia menangis dan terlihat begitu menyedihkan. Ia tidak menyangka Fafa memberinya pilihan yang sangat sulit. Di satu sisi, Ia begitu mencintai suaminya dan di satu sisi lagi Hanin begitu mencintai pekerjaan.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana?" lirih Hanin