
Hanin begitu senang karena Fafa mengabulkan keinginannya. Sudah satu minggu berlalu dan sore ini Fafa mengajaknya untuk melihat hasil karya rumah pohon yang begitu Hanin inginkan.
Dengan penuh semangat empat lima Hanin datang bersama suaminya ke rumah mama Navysah.
"Tutup dulu matanya, ini kan surprise." Fafa menutup mata Hanin dengan sapu tangan, ia menuntun istrinya ke halaman belakang.
"Sudah belum A! Kok lama." Hanin merasa sudah berjalan jauh namun belum juga berhenti.
Navysah, Davian dan Kinan cekikikan dari jauh karena Fafa sengaja mengerjai istrinya dengan berputar - putar jalan beberapa kali. Ia sengaja memilih rute jauh karena kesal dengan permintaan Hanin.
"Sudah, buka matamu." perintah Fafa
Hanin membuka matanya dan melihat hasil karya suaminya.
"Kok begini, sih!" Hanin sedikit kecewa karena bukan rumah pohon seperti yang ia idamkan namun rumah papan di samping pohon.
"Kalau rumah pohon sulit Nin, ini pohon mangga tidak bisa dibuat rumah pohon,yang ada nanti kamu terjatuh saat menaikinya jadi aku buat rumah papan di samping pohon ini. Kamu masih bisa naik dan menikmati pemandangan dari atas, Naiklah."
Hanin menggerutu saat menaiki rumah papan itu, namun saat ia diatas dan melihat kearah bawah ia merasa senang.
" Enak A! Udaranya segar, minum teh disini pasti menyenangkan. "
" Tidur disitu juga bisa Nin. "teriak Kinan dari bawah. Bawa sekalian tempat tidur dan lemarinya. Jangan lupa pakai kostum Tarzan atau Avatar."
"Ide yang bagus." Hanin begitu antusias
"Mba Kinan jangan jadi kompor deh, ini sudah setengah mati aku membuatnya,capek tahu!" gerutu Fafa
" Perasaan dari awal yang bikin rumah papan ini tukang kayu deh bukan kamu, Fa!" Kinan mengetahui bahwa mama Navysah menyuruh orang untuk membuat rumah papan permintaan Hanin. Sedangkan Fafa hanya datang untuk mengecek dan tidur di kamarnya.
Navysah hanya mengelus dadanya melihat halaman belakang miliknya kini berubah seperti hutan belantara. Beberapa tanaman hias miliknya harus dibuang dan beberapa pohon harus ditebang.
"Yang ikhlas mah, demi cucu kita." Davian menggulum senyum, ia tahu sejak awal istrinya menolak untuk membuat rumah pohon karena itu akan membuat tanamannya hancur. Bahkan, beberapa hari ini Navysah selalu sedih dan menangis melihat pohon jambu dan pohon cemaranya di tebang secara paksa.
"Anggrek bulan dan bunga mawarku sudah tak bersisa. Ini demi si Tarzan Mini yang belum lahir." ucap Navysah sembari menghela nafas panjangnya
"Kalau sudah lahir gimana ya mah." Davian cekikikan, membayangkan anak dari Fafa yang akan membuat mereka pusing.
"Pasti luar biasa." balas Navysah dengan tersenyum
"A, aku mau buah. Ambilkan aku makanan dan buah, aku ingin makan disini." pinta Hanin, ia selalu mengelus perut buncitnya. Entah mengapa walaupun hanya rumah papan ia merasa sangat bahagia.
"Siap Nyonya Tarzan." Fafa turun dan mengambil beberapa makanan dan buah untuk istrinya.
Raffa yang baru saja datang dari kantor melihat istrinya terlihat cantik dengan full make up, tidak seperti biasanya. Dalam keseharian Kinan terlihat lusuh dan berantakan semenjak hamil anak pertama.
"Nan, kamu terlihat cantik hari ini." Raffa mencium pipi istrinya, " Wangi lagi, biasanya juga asem hihihi."
"Jadi kemarin aku jelek gitu!" sembur Kinan,
"Bukan seperti itu, hanya saja kamu biasanya tidak mandi dan hanya memakai daster. Tumben ini segar dan rapi. Kamu mau kondangan." Raffa melihat istrinya memakai gamis pesta berwarna biru dan terlihat cantik
"Aku tidak kemana-mana, aku hanya ingin foto dengan latar belakang rumah pohon itu. Setelah ini juga aku ganti pakaian lagi."
Ya ampun, mau foto saja harus full makeup begitu. "lirih Raffa sembari menggelengkan kepala
" Kamu ngomong apa mas? "Kinan melirik suaminya sedang bergumam lirih
" Tidak ada apa-apa. "Raffa segera masuk ke dalam rumah kembali daripada harus salah paham dan bertengkar dengan Kinan. Sejak Kinan hamil, ia selalu sensitif dan cengeng. Terkadang hanya masalah sepele Kinan akan menangis meraung hingga membuat Raffa pusing.
Dua minggu berlalu,
Kini Kinan menanti hari persalinan yang semakin dekat. Ia setiap hari berjalan kaki dan merangkak agar memudahkan dirinya melahirkan.
__ADS_1
Raffa pun selalu pulang lebih awal dan mengecek kondisi istrinya. Kinan selalu insomnia saat malam hari,dengan perut yang kian membesar ia sering kesulitan bernafas.
Hari ini Kinan pergi ke perusahaan suaminya untuk membawakan bekal makan siang. Sebelum masuk ke perusahaan suaminya ia membeli beberapa cup kopi. Dan disana ia tidak sengaja bertemu Fafa dan Antoni.
"Ngapain disini, Fa?" tanya Kinan
"Ngopilah masa semedi." kelakar Fafa, " Aku habis ketemu klien disini. Eh, mba Kinan ngapain sih kesini! Perut sudah buncit, jangan pergi jauh nanti kenapa - napa di jalan gimana."
"Aku bosan di rumah dan juga si adek kangen sama ayahnya." ujar Kinan sembari mengelus perutnya.
"Ini nih yang aku tidak suka dari seorang ibu hamil! Pasti calon anaknya selalu dijadikan alasan untuk ini dan itu padahal itu semua keinginan emaknya." sarkas Fafa
Kinan hanya tersenyum simpul.
" Kalau calon bayi bisa ngomong nih, dia pasti akan bilang,Mak! Jangan jadikan aku alasanmu, bohong dosa loh mak masuk neraka!" kelakar Fafa kembali
"Apaan sih, Fa! Orang beneran si adek kangen kok."
"Ya, ya, ya terserah lu deh mba."
"Antoni, gimana kabarmu?" tanya Kinan
"Aku baik."
"Ya ampun, kamu itu tidak berubah sejak dulu, selalu irit bicara." Kinan memutar bola matanya dengan malas
Namun beberapa saat kemudian perut Kinan terasa sakit, ia hampir terjatuh dan semua kopi pesanannya tumpah ke lantai.
"Fa, sakit Fa! sepertinya aku mau melahirkan. " rintih Kinan, ia menangis kesakitan.
"HAH...!! Melahirkan.." Fafa terperangah, "Ayo aku bantu ke rumah sakit. Antoni kamu kabari mas Raffa untuk segera ke rumah sakit.
"Baik." Antoni menelepon Raffa dan menyetir dengan cepat, membawa Kinan yang akan melahirkan.
"Aku juga sakit Fa! Cepat kabarkan mas Raffa, aku ingin melahirkan di temani dia." pinta Kinan
"Sudah, tapi dia sedang rapat. Mungkin satu jam lagi dia akan menyusul
" Aku tidak mau tahu, pokoknya dia harus ada saat aku melahirkan. Aku butuh support dan disemangati olehnya Fa. " Kinan
" Kalau butuh disemangati aku akan membawa pasukan cheerleaders dan partai hore untukmu." kelakar Fafa
"Fafa...!!" teriak Kinan sembari menjambak rambut Fafa kembali , " Ini serius bukan becandaan!"
" Ya tapi jangan jambak rambut aku seperti ini mba, sakit beneran tahu! "
Antoni hanya menghela nafas panjangnya, di dalam mobil terdengar dua suara teriakan, yang satu Kinan yang akan melahirkan dan yang satu Fafa yang kesakitan karena cakaran dan jambakan Kinan.
Kinan selalu merintih dan menangis keras, beberapa kali ia membaca do'a pendek untuk mengurangi rasa sakitnya.
Di rumah sakit ia langsung mendapat penanganan dan masuk ke ruang bersalin.
Fafa terlihat begitu resah, keluarganya belum ada satupun yang datang.
"Antoni, kamu sudah telepon mama Navysah dan keluarga tante Ifa kan?" tanyanya
"Sudah Fa, mereka dalam perjalanan." jawab Antoni dengan datar
Fafa sedikit panik, ini pertama kalinya ia melihat orang yang akan melahirkan. Fafa pun berfikir ini yang akan ia hadapi jika nantinya Hanin melahirkan.
"Keluarga Nyonya Kinan." panggil salah seorang suster.
"Iya sus, saya keluarga Kinan." jawab Fafa,
__ADS_1
"Anda suaminya?"
"Bukan sus, saya adik iparnya. Kakak saya sedang dalam perjalanan."
"Baiklah, Nyonya Kinan sudah pembukaan penuh sebentar lagi akan melahirkan." ucap suster
"Baik sus, lakukan yang terbaik." Fafa mengikuti langkah suster untuk masuk ke ruangan Kinan.
Dengan berlari cepat Raffa mencegah adiknya untuk masuk ke ruang bersalin Kinan. " Aku datang." Nafas Raffa terdengar tidak beraturan dan ia terlihat berantakan, keringatnya mengucur deras karena berlari.
" Oke. " jawab Fafa, namun ia tetap mengikuti langkah kakaknya.
"Mau ngapain, bodoh!?" tanya Raffa, ia melihat adiknya mengekorinya masuk ke dalam ruangan. "Keluar sana! "
"Ikut ke dalam, support mba Kinan. Mana tahu butuh bantuan dan aku bisa belajar bagaimana nanti saat Hanin melahirkan."
" Dasar bodoh! Kamu ingin lihat luar dalam onderdil istriku!" Raffa menonyor kepala Fafa. "Sudah punya istri sendiri jangan celamitan."
" Iya juga ya, kok aku jadi ikutan bodoh seperti Alif hehehe..." Fafa terkekeh
"Yang bodoh kamu bukan Alif." Raffa menjitak kepala adiknya sebelum menutup ruang bersalin.
Terdengar derap langkah dan suara yang tidak asing baginya. Ternyata keluarga Davian dan keluarga Shafiq datang bersamaan.
"Bagaimana dengan Kinan.""Navysah sedikit panik saat mendengar Kinan akan melahirkan.
"Aman terkendali mah, di dalam sudah ada mas Raffa. Lihat diriku begitu berantakan, mba Kinan selalu menjambak rambutku sepanjang perjalanan."
"Yasudah terima saja, nanti Hanin juga begitu." ucap Navysah
Mereka semua berdo'a agar persalinan Kinan lancar. Terdengar suara tangisan bayi dari ruangan bersalin. Mereka semua mengucapkan syukur atas lahirnya anak Kinan dan Raffa.
"Alhamdulillah." Navysah dan Ifa saling berpelukan dan menitihkah airmata kebahagiaan.
"Berpelukan." ucap Fafa " Teletubbies,wak waw... " kelakar Fafa
"Ya ampun disaat seperti ini kamu masih bisa bercanda A!" Hanin menyenggol lengan suaminya.
"Kalau aku serius, malah pusing Nin."
Hanin hanya bisa menghela nafas panjangnya, disaat seperti ini ia juga membayangkan nantinya saat melahirkan si kembar.
"AA..., kamu akan selalu ada kan untukku." Hanin menatap kedua mata suaminya dengan intens.
" Ya tidak bisa dong Nin, aku kan harus kerja, memangnya kamu mau aku pengangguran."
"Maksud aku, jika aku melahirkan kamu akan menemaniku kan seperti mas Raffa pada mba Kinan. Aku takut melahirkan A, apalagi si adek kembar."
"Hanin, dengarkan aku."Fafa memegang wajah Hanin dengan kedua tangannya dan menatap kedua manik istrinya ." Aku memang slengean dan tidak bisa serius tapi perlu kamu tahu apapun yang kamu inginkan, kamu butuhkan, aku akan selalu berusaha dan selalu ada untukmu. Aku sayang kamu sayang. " Fafa mencium dahi istrinya dengan lembut
"AA.... Aku sangat bahagia bisa menikah denganmu. hiks, hiks." Hanin menangis di pelukan suaminya.
\* Tamat \*
________________________________________
Assalamualaikum,
Terima kasih all reader sudah setia membaca novel ini. Mohon maaf jika penulisan masih berantakan dan jadwal update tidak rutin karena kesibukanku. Author bersyukur akhirnya novel ini tamat sebagaimana mestinya.
Jangan lupa like, Vote, comment dan favoritkan, nantinya Author akan membuat novel kembali. Do'akan smg tetap di noveltoon bukan yang lain.
Matursuwun semua.... 🙏😘😘❤️
__ADS_1