
Saat Raffa selesai menelepon pengawal ibunya, ia mendapatkan satu panggilan telepon tak dikenal.
"Aku tunggu di gudang daerah jakarta utara, datanglah sendirian jika istrimu ingin selamat. Jangan menghubungi polisi, jika tidak maka istrimu akan mati."
" Tut.. Tut.. " panggilan telepon terputus begitu saja,hingga membuat Raffa begitu geram. Ia menelepon ayahnya untuk mengabarkan bahwa Kinan dan Hanin diculik.
" Bagaimana yah? "ujar Raffa saat telepon dengan ayahnya
" Kamu tenanglah, ayah akan membantumu. Datanglah ke gudang itu, ayah akan memberi pelajaran pada mereka karena berani menculik menantu ayah." Davian mengenggam tangannya dengan erat, ia berjanji akan membawa menantunya pulang dengan selamat.Ia meminta Raffa menuruti semua instruksinya.
" Baik ayah, terima kasih."Raffa menutup teleponnya setelah mendengar saran dari sang ayah.
Disini lain,
Fafa mengunjungi rumah Adit di kawasan menteng. Ia mendapat alamat dari orang kantor Hara. Sepanjang perjalanan ia memukul stir mobilnya berkali-kali. Wajahnya terlihat sangat marah karena Fafa berfikir Adit berani menyembunyikan istrinya.
Fafa mengetuk dengan keras pintu rumah Adit,namun rumahnya terlihat sepi. Lampu temaram menunjukan bahwa sang pemilik rumah sedang tidur.
Adit merasa terusik dengan suara ketukan pintu yang begitu keras. Ia terbangun serta membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat Fafa yang menatapnya dengan tajam.
"Bangs*t lu!! Dimana istri gue!" Fafa mencengkram kerah Adit dengan kasar.
"Apa maksudmu!?"
"Nggak usah pura-pura bego! Dimana kamu sembunyikan Hanin!" bentak Fafa
"Bugh..!!" Fafa memukul rahang Adit dengan keras.
"Ishhh..." desis Adit, ia tersungkur kearah belakang.
"Apa yang kamu lakukan pada suamiku!?" Rara yang mendengar suara keras kini keluar dari kamarnya dan melihat suaminya tersungkur. Ia memeluk suaminya serta melihat luka memar di wajah Adit yang begitu merah.
" Lu kan yang menculik Hanin!! tadi siang kamu ketemuan kan sama dia,dimana Hanin sekarang?!" Fafa ingin melayangkan pukulan kembali namun tubuh buncit Rara menutupi suaminya, ia mencoba menghalangi Fafa agar tidak memukul Adit.
" Ha.. Hanin tidak ada disini, kami tidak tahu." Rara sedikit ketakutan melihat wajah Fafa yang merah padam
" Aku tidak tahu Hanin kemana, jika aku ingin menculiknya, aku tidak akan membawa istriku untuk bertemu Hanin." ujar Adit
"Benar, aku juga ikut bersamanya dan bertemu Hanin. Suamiku tidak mungkin menculiknya." jawab Rara kembali
__ADS_1
Fafa mengenggam erat tangannya, ia begitu kesal karena Hanin tak ada kabar dan sekarang Adit bukanlah penculik istrinya.
"Drt.. Drt.." ponsel Fafa berdering berkali-kali, ia menerima sebuah pesan dari sang kakak.
" Mereka menculik Hanin dan Kinan,kita harus ke sebuah gudang di daerah jakarta utara."
Fafa pergi meninggalkan kediaman rumah Adit dan meluncur ke daerah itu bersama sang kakak.
* **
Mereka berhenti di sebuah gudang usang dengan cahaya lampu yang remang-remang. Di sekitar gudang terlihat sepi, jauh dari keramaian dan aktifitas orang.
" Apa mas yakin ini tempatnya?" Fafa melirik ke kanan dan ke kiri tidak ada satu orang pun yang terlihat di gedung itu.
"Aku yakin. Ingat! sesuatu yang terlihat sepi terkadang lebih membahayakan."
Fafa menganggukan kepala, mereka masuk ke dalam gudang yang gelap dan mencari di mana keberadaan istrinya.
"Selamat datang di tempat kami." ucap salah seorang penculik, suaranya begitu menggema di seluruh ruangan. Beberapa orang keluar dari persembunyiannya dan langsung menyekap tubuh Raffa dan Fafa.
"Dimana istriku?" tanya Raffa dengan berteriak
"Santai saja, mereka aman bersamaku.Aku ingin menukar mereka dengan sesuatu."
"Kau tahu pak Imran pemilik tanah di kota B, aku tahu pengacara itu bekerja dibawah perusahaanmu. Yang aku minta tarik kembali pengacaramu itu dan bebaskan Arya dari penjara."
"Oh jadi kamu orang suruhan keluarga Arya!" Raffa tersenyum sinis, "Perlu kamu tahu, untuk urusan mencabut tuntutan itu urusan pak Imran bukan urusanku! jadi lebih baik, kamu lepaskan istriku.
" Memang pak Imran pelapor tapi perusahaan kamu dibalik segalanya. Jika saja kamu tidak mendukungnya, pasti pak Imran tidak akan berfikiran akan memasukan Arya ke penjara. Arya akan aman dan hanya sedikit mendapat hukuman. "
" Itu hukuman yang harus Arya terima, bukankah dia sudah menipu paman dia sendiri. " ucap Raffa." Aku tidak menyangka, orang yang selama ini dianggap anak begitu tega menipunya. "
" Bugh! " wajah Raffa dipukul tepat di sudut bibirnya.
" Hei... brengs*k!! Beraninya memukul kakakku. "Fafa melihat bibir kakaknya lebam akibat pukulan.
Fafa meronta dan mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan tali, namun ia juga mendapat pukulan bertubi-tubi dari salah seorang penculik lainnya.
" Kalau kau masih berisik seperti istrimu, maka lebih baik kamu aku lenyapkan ." ancam penculik itu
__ADS_1
"Sebelum kamu lenyapkan aku, berikan aku kesempatan untuk melihat istriku." pinta Fafa
Penculik itu membawa Kinan dan Hanin untuk bertemu suami mereka. Hanin dan Kinan disekap dengan tersumpal mulutnya, hanya airmata yang menetes di sudut matanya. Mereka ingin sekali memeluk suaminya namun sang penculik tidak mengizinkannya.
Fafa begitu geram melihat istrinya menangis, apalagi di pipi Hanin sedikit lebam. Ia meronta kembali namun tubuhnya dipukul beberapa kali oleh penculik itu.
"Brengs*k!!" Raffa begitu geram, wajahnya terlihat murka melihat istrinya menangis dengan wajah berantakan apalagi saat melihat adiknya dipukul oleh beberapa orang penculik itu.
Raffa melepaskan diri dan menghantam beberapa penculik itu dan Fafa bangkit kembali, ikut membantu sang kakak menghadapi musuhnya. Mereka saling memukul dan menendang hingga beberapa orang dari penculik itu terkapar diatas tanah.
Fafa dengan cepat membuka ikatan yang mengikat diantara Hanin dan Kinan.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Fafa dengan panik, ia memeluk istrinya dengan erat.
"Aku baik-baik saja, dedek juga aman." Hanin mengelus perut ratanya.
"Mereka menamparku karena aku cerewet dan selalu minta makan." Hanin mengadu pada suaminya. "Aku kan lapar." Hanin mengerucutkan bibirnya pada Fafa
"Kurang ajar mereka!! beraninya menampar istriku. Kamu tenang saja, aku akan membalasnya." geram Fafa
Beberapa saat kemudian pengawal keluarga Davian mulai masuk ke dalam gedung. Ia bersama polisi mengepung gudang tersebut.
Namun disaat Kinan lengah, tangannya ditarik oleh salah satu penculik. Kinan tak berdaya saat pistol kini menyentuh kepalanya. Ia benar-benar ketakutan dan menangis.
Raffa dan Fafa terkejut saat penculik itu akan menarik pelatuknya.
" Lihat istrimu baik-baik tuan Raffa. Lihat untuk terakhir kalinya, aku akan membunuhnya di depan matamu." ucap sang penculik dengan senyum sinis.
"Kau berani memasukan anakku ke dalam penjara maka kamu harus mendapatkan apa yang anakku rasakan!"
"Pletak!" pencuri itu mundur ke arah belakang dengan memegangi kepalanya yang sakit, terlihat kucuran darah di pelipisnya.
Alif yang datang ke gudang usang itu dengan cepat melemparkan sebuah batu ke arah penculik itu. Alif tidak pandai berkelahi namun ia pandai menembak sasaran secara tepat.
Melihat kesempatan ini Kinan langsung berlari kearah Raffa dan memeluknya.
"Mas, aku takut." ucap Kinan dengan tubuh gemetar dan lemas.
"Kamu tenanglah, penculik itu akan segera ditangkap." Ia menyuruh Kinan berada di belakang tubuhnya.
__ADS_1
Polisi langsung memborgol semua penculik itu dan membawanya ke kantor polisi, sedangkan Davian dan Navysah bergantian memeluk menantunya.
Kinan dan Hanin selalu memeluk tubuh suaminya, mereka sedikit trauma atas kejadian yang menimpa mereka kali ini.