
Semalaman Raffa harus menggendong Inka yang menangis karena ditinggal pergi dirinya,baru tengah malam adiknya terlelap tidur dan Ia harus merebahkan Inka di ranjangnya agar saat adiknya terbangun maka ia tidak mencarinya lagi .
"Ya allah pegel banget nih badan, si Kaka walaupun kurus tetap saja berat. Kira-kira mama sama si imut lagi ngapain ya " ia teringat dengan ibu dan adik nan jauh disana, adik bungsu yang lebih mungil dari kembarannya, yang selalu bergelayut manja dan diam tidak banyak bicara.
Ia pun merebahkan dirinya di samping Inka yang sedang tidur, namun dari luar kamarnya terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Raffa, kita semua akan ke Semarang besok. Nenek kembali kritis, kamu bersiaplah" ucap Davian, ia melirik anaknya yang diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Kamu boleh marah sama Ayah tapi ini tentang nenekmu. Ia ingin melihat kita semua, do'akan yang terbaik untuk Nenek ya" ucapnya sembari menutup pintunya, ia tidak ingin berlama-lama berada satu ruangan dengan anak sulungnya karena rasa bersalah masih terus menghampirinya.
Raffa memejamkan matanya, ia mengingat sosok Nenek yang selalu perhatian dan sangat sayang dengannya tanpa terasa airmatanya mengalir deras. "Semoga nenek sehat terus jaga dia untuk kami ya allah"lirihnya, ia berpikir jika sesuatu terjadi dengan neneknya pasti orang yang paling kehilangan adalah ibunya.Navysah sangat sayang dengan ibunya,ia setiap minggu selalu menyempatkan untuk video call dan bertanya kabar keadaannya,bahkan setiap empat bulan sekali ibunya selalu pulang kampung untuk menjenguk sang nenek. Navysah ingin sekali ibunya ikut berada di Jakarta namun ditolak karena sang nenek lebih betah hidup di kampung yang lebih tenang dan damai.
"Aku jadi kangen mama dan Haha" gumamnya dalam hati.
* **
Mereka semua sampai di kota Semarang pukul satu siang, Fafa sangat antusias karena ia bisa bertemu dengan neneknya kembali. Namun, Ia tidak tahu saat ini keadaan neneknya kritis.
Mereka masuk ke dalam rumah sakit langsung saat ini, Navysah sudah menunggu keluarganya di ruangan sang ibu.
__ADS_1
"Mas..." Navysah terisak di dalam dada suaminya, ia menangis tersedu-sedu dan menumpahkah segala kesedihan dan kepedihan pada suaminya. "Sudah satu minggu kondisi mama stabil tapi kemarin ia ngedrop lagi" ucapnya sembari menangis dan menyusut cairan hidungnya.
"Kamu sabar ya, pasrahkan semuanya sama Allah. Do'akan yang terbaik untuk ibu" ia mengelus punggung istrinya, berusaha untuk menguatkan agar sang istri tegar menghadapi kenyataan.
Raffa membuang wajahnya, ia tidak ingin melihat ibunya menangis karena itu sangat menyakitkan dan membuat hatinya mencelos iba.
Naysila dan Febri hanya bisa terisak dan keluar dari kamar, mereka mencoba menenangkan diri kembali sebelum masuk ke dalam kamar ibunya .
Davian menghampiri ibu mertuanya yang kini tertidur. "Mah, Davi datang mah. Maaf telat mengunjungimu" ia menunjukkan wajah sedikit penyesalannya. Ia mencium punggung tangan mertuanya setelah itu mencium keningnya layaknya ibu sendiri. Ia meneteskan airmatanya tidak sanggup melihat mertuanya yang kini berbaring lemah tak berdaya dengan selang infus yang terpasang di tangan kirinya.Sejak dulu mertuanya selalu menganggap dia anak sendiri, sangat sayang padanya, tidak pernah membedakannya dengan mas Denis dan ia selalu mendoakan kariernya.Ia selalu mengingat pesan dari mertuanya yang selalu mengatakan " titip Navysah dan anak-anak"
"Mama sayang kamu seperti anak mama sendiri, jangan lupa salat agar semua pekerjaanmu lancar. Mama do'akan kamu selalu sehat dan berkah dalam mencari rejeki"
Ia selalu mengingat kenangan bersama mertua yang selalu membuat suasana rumah ramai, sifat penyayang mertuanya yang selalu membuat dirinya selalu rindu.
"Iya mah, ini Davi. Mama sehat terus ya Davian akan jagain mama?" ia mengenggam tangan mertuanya dengan hangat.
"Mama titip keluarga ini kalian harus selalu rukun. Titip Navysah, Naysila dan anak-anak. Terima kasih sudah menyayangi anak mama" lirihnya sembari meneteskan airmata.
"Davi akan menjaga keluarga ini, Mama harus sehat ya. Mama mertua Davi yang terbaik, terima kasih sudah melahirkan anak sebaik Navysah dan mba Naysila" ujarnya lagi, dan Navysah terlihat menahan isak tangisnya. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan ibunya.
__ADS_1
"Raffa" lirih bu Yani, ia mencari cucunya.
Raffa datang mendekat dan duduk di sisi Ayahnya."Ini Raffa nek" ucapnya, ia menahan air matanya agar tidak menangis.
" Tolong jaga mama dan adik-adik, jadilah anak sholeh dan berbakti. Nenek sangat menyayangimu" lirihnya lagi, ia meraba wajah cucu kesayangannya. " Wajah Raihan dan hatimu sebaik dia " sambungnya lagi. Ia mengingat almarhum menantunya yang telah meninggal, sosok yang berkepribadian lembut dan baik.
"Raffa janji akan menjadi anak baik tapi Nenek harus sehat ya." Airmatanya tumpah di sudut matanya, ia sudah tidak tahan melihat neneknya terbaring lemah.
"Cucu-cucuku, si pendekar kembar"lirihnya lagi. Keempat double kembar mendekati ranjang neneknya. Fafa yang sejak tadi antusias senang bertemu dengan neneknya kini berubah menjadi sedih, nenek yang selalu sabar dan sayang dengan mereka semua kini tidak berdaya.
"Nek, ini Fafa"ia menepuk dadanya sendiri, ia tahu dari dulu nenek selalu keliru menyebut nama mereka karena mata nenek yang sudah kurang jelas." Itu Alif" ucapnya lagi. "Fafa kangen nenek, cepat sembuh ya nek nanti main sama Fafa lagi" ia menangis dan mengusap airmata dengan lengan bajunya.
"Iya nek, Alif sayang nenek." ia menangis memeluk sang nenek, ia mengingat dulu saat bertengkar dengan Fafa, Nenek Yani selalu membela Alif dan menggendongnya keliling komplek agar dia tidak menangis lagi.
"Ini princess Inka dan Inha nek" si double kembar tak mau kalah, ia pun menangis mengingat neneknya yang dulu selalu mengajaknya berkeliling komplek dengan sepeda dorongnya, ia selalu menyuapi si kembar dengan sabar walaupun harus berkeliling komplek pagi hari.
"Nenek sayang kalian semua" lirih bu Yani. Ia tersenyum bahagia melihat semua keluarganya kumpul.
"Tok.. Tok.. Tok.."
__ADS_1
"Permisi pak, bu jam besuk sudah habis. Silakan keluar dari ruangan ini. Pasien harus istirahat" ucap sang suster, ia merapikan kembali selimut yang sedikit berantakan. Keluarga Navysah pulang kerumah agar besok bisa bergantian jaga, sedangkan saat ini Febri dan Ayah Sulaiman yang bertugas.
Pagi hari Febri mendapati ibunya sudah tidak bernyawa, wajahnya pias, pucat tak berdaya. Ia mengecek semua nadi dan pernafasan namun nihil. Pengecekan dari dokter pun dinyatakan sudah meninggal. Ia menghubungi kedua kakaknya tentang kondisi ibunya dan benar saja Naysila langsung jatuh pingsan saat mendengar ibunya meninggal,sedangkan Navysah menangis tiada henti, tatapannya mulai kosong dan hanya bisa menangis.