
Setelah dua hari Fafa menginap di rumah ibunya, kini ia tinggal di apartemen Hanin. Walaupun kemarin terjadi perdebatan yang alot dan selalu ribut, akhirnya Fafa mengalah karena memang jarak apartemen Hanin dengan kantor Hara begitu dekat.
"Kamu di kamar tamu,sedangkan aku di kamar sendiri." tegas Hanin
"Ambil ini, masukan ke dalam lemarimu." Fafa melempar sebuah tas ransel pada Hanin.
"Ini kan baju kamu, kenapa harus ditaruh di lemariku!" gerutu Hanin, ia membuka tas yang berisi pakaian Fafa
"Itu sedikit pakaianku, taruhlah di kamarmu agar saat mama Navysah datang dia tidak curiga kalau kita tidur terpisah. Ibuku itu ajaib, dia bisa datang tak diundang dan pulang tak diantar"
"Ishhh... kamu itu kurang ajar banget! Masa mama Navysah disamakan dengan jelangkung!" Hanin memukul ringan lengan Fafa
"Emang emak gue seperti itu, lihat saja nanti!" Fafa masuk ke dalam kamar barunya. Ia bergulang - guling sembari memainkan ponselnya.
"Nin, buatkan aku makanan!"teriak Fafa dari dalam kamarnya.
" Mau makan apa? Aku tidak bisa masak! " jawabnya dengan berteriak juga
" Cih! Nawarin makanan tapi nggak bisa masak "cibir Fafa
" Nasi goreng kek, apa kek yang penting enak. " ucap Fafa
Hanin membuka kulkasnya dan terlihat isi kulkas yang kosong." Online ajalah lebih gampang. " ia menyentuh aplikasi makanan online dan memesan beberapa makanan.
" Fa, ini makananmu. "Hanin menyiapkan makanan yang ia beli untuk suaminya, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar
" Fa... " ia membuka pintu kamarnya dan terlihat Fafa tertidur dengan ponsel yang masih menyala. Ia melihat seorang gadis yang dijadikan walpaper ponsel Fafa. Gadis cantik yang pernah ia temui saat pernikahan Raffa.
" Kamu begitu menyukainya sampai ponselmu penuh dengan fotonya." lirih Hanin.
"Fa, bangunlah. Makanan sudah siap." Hanin menusuk-nusuk pipi Fafa dengan telunjuk agar dia terbangun.
" Saat tidur pun dia terlihat tampan, bulu matanya lebat dan indah." gumam Hanin dalam hati. Ingin rasanya Hanin menyentuh bulu mata Fafa namun ia urungkan
"Apa Nin." jawab Fafa dengan mata tertutup karena masih sangat mengantuk
Hanin tersadar dengan lamunannya, ia bergegas keluar kamar Fafa. "Ayo makan, kalau tidak cepat akan aku habiskan semuanya."
"Besok masaklah!" pinta Fafa, " Belajarlah memasak." ujar Fafa di sela makannya.
"Tidak mau, aku sibuk."
Fafa hanya menghembuskan nafas panjangnya, ia menghabiskan nasi gorengnya dan masuk ke dalam kamarnya kembali. Hanin hanya menatap punggung Fafa hingga menghilang dari pandangan.
***
Satu bulan telah berlalu, pernikahan Hanin dan Fafa tidak ada kemajuan. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Dan hanya bertemu saat malam hari.
Hanin mulai jenuh karena Fafa hanya sekedar menyapanya dan langsung tidur hingga pagi hari . Komunikasi diantara mereka tidak terlalu baik, seperti orang asing.
Fafa pun tidak banyak bicara dengannya, kesibukannya di kantor dan di luar membuat dia kewalahan. Fafa yang sengaja mengambil beberapa iklan dan job fotomodel majalah olahraga agar ia tidak selalu bertemu Hanin di apartemen, ia lebih suka di luar rumah dan menghindari keributan dengan istrinya.
Disisi lain,
Kinan mulai bingung karena seminggu lebih Raffa tidak menghubunginya, komunikasi diantara keduanya tidak berjalan lancar. Setelah pernikahan adiknya Raffa hanya bicara bahwa dirinya sibuk dan berpesan jangan mengkhawatirkan dirinya. Namun, Kinan seorang wanita dan seorang istri yang ingin tahu keadaan suaminya. Setiap hari ia selalu menelepon Raffa namun ponselnya tidak pernah aktif.
__ADS_1
"Ini sudah lebih dari tiga bulan, kenapa Raffa tidak pulang ke tanah air dan tidak pernah menghubungiku." Kinan meneteskan airmata saat bercerita tentang rumah tangganya pada Jessica.
"Kumat lagi dia! Nggak telepon kamu sama sekali!? " Jessica merasa geram karena komunikasi antara Kinan dan Raffa terputus.
"Nggak."
"Si datar itu benar - benar menyebalkan, tahu gini lebih baik kamu menikah sama bang Juna!"
"Jessi!!" seru Kinan, " Tidak boleh berkata seperti itu, aku sudah menikah dengan Raffa."
"Sorry, sorry. Aku hanya kesal kejadian kayak gini terulang lagi, maunya apa sih, si Rappol itu!"
Sepulang kerja Kinan mampir ke rumah Navysah, ia menanyakan apakah Raffa meneleponnya namun jawaban dari sang mertua juga nihil.
"Kamu sabar ya Raffa pasti pulang." Navysah selalu memberikan kekuatan agar sang menantu tidak khawatir.
"Raffa tidak akan selingkuh kan, mah?! Pikiran Kinan begitu kacau, ia takut suaminya memiliki wanita lain disana.
" Raffa sangat sayang padamu, dia tidak mungkin selingkuh Nan, mungkin dia sangat sibuk jadi belum bisa menghubungimu. Positive thinking ya sayang. "
"Iya mah." Kinan berusaha sabar dan berfikir positif bahwa suaminya sedang sibuk.
Satu minggu kemudian, Raffa masih tidak menghubunginya hingga membuat Kinan semakin pusing. Ia bertanya pada Rio dan Antoni pun tak ada jawaban. Hati Kinan benar-benar kacau dan berharap Raffa akan menghubunginya walaupun cuma sebentar.
"Masih belum ada kabar dari dia!?" tanya Juna saat mereka bertemu di taman rumah sakit.
"Belum ada bang." Kinan mulai berkaca-kaca.
" Raffa pasti baik-baik saja, kamu sabar ya!"
"Dasar cengeng, sudah besar masih saja menangis." Juna mengusap sudut air mata Kinan.
"Aku kesal banget sama Raffa bang, huhuhu." Ia mulai terisak karena cukup lama menangis
"Sabar ya."
Disisi lain,
Raffa kini tiba di bandara Soekarno Hatta tepat siang hari. Ia di jemput Rio dengan sopir pribadinya.
"Sudah siap semuanya?!" tanya Raffa pada Rio
"Beres..., aman terkendali."
"Ambilah, ini hadiah untuk kamu dan Antoni. Ini juga untuk pak Rusdi." Raffa memberikan tiga kotak jam tangan mewah untuk sahabat dan sopir pribadinya.
"Makasih bro!" Rio tersenyum saat membuka jam tangan pesanannya.
"Makasih banyak pak Raffa." ujar pak Rusdi dari balik kemudi.
"Hmm..."
"Bagaimana urusan proyek di kota B, Fafa sudah pintar kan menghandle semuanya?" tanya Raffa kembali
"Bocah itu bisa diandalkan walaupun terkadang slengean. Raffa, kau ingat tersangka mafia tanah yang menipu pamannya sendiri."
__ADS_1
Raffa menganggukan kepala
"Orangtua dari tersangka pernah meminta kita untuk menarik kasusnya,mereka tahu kita memberikan pengacara pada korban.Aku takut mereka akan berbuat jahat kepada kita."
"Kamu tenanglah Yo, untuk kasus itu terserah korban mau dilepaskan atau tidak. Kita tidak perlu ikut campur."
Rio menganggukan kepalanya, " Adikmu itu menyebalkan, Dia akan menjadi kakak iparku jika aku menikah dengan Halwa. Hidup ini lucu ya, bocah tengik itu selalu diatas angin dan dia akan selalu mengejekku karena aku calon adik iparnya, padahal aku lebih tua darinya. "dengus Rio dengan kesal. Ia mengingat saat mereka bertemu di perusahaan Hara, Fafa selalu meledeknya dengan kata adik ipar kribo, tidak patuh denganku tidak dapat restu.
" Fafa memang begitu, jangan diambil hati. "Raffa menepuk bahu sahabatnya agar selalu sabar dengan adiknya.
Setelah sampai di perusahaan Hara dan menyelesaikan berkasnya,Raffa meminta kunci mobil kepada pak Rusdi untuk menjemput Kinan. Ia begitu merindukan istrinya. Dengan tersenyum Raffa melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Tak lupa ia mampir ke sebuah toko bunga, ia selalu ingat perkataan Kinan bahwa Raffa selama ini tidak pernah memberikan bunga untuk Kinan. Dengan penuh semangat Raffa membeli satu buket bunga mawar merah, ia berharap Kinan akan menyukainya.
Raffa menelepon Kinan, namun handphonenya tidak aktif. Ia mencoba mencari ke ruang praktek Kinan, namun saat ia melewati taman, Raffa begitu geram melihat istrinya bersandar di bahu seorang pria apalagi pria itu dengan beraninya menyentuh pipi Kinan dan menghapus sudut airmatanya.
"Kinan...!!! Apa-apaan ini!"teriak Raffa dengan mata tajamnya, sorot mata penuh amarah kini sangat jelas terlihat di matanya. Ia melemparkan bunga mawar itu ke tanah
" HAH..!!! Raffa, kau pulang."Kinan bergegas berdiri dan ingin memeluk suaminya,namun tangan Raffa menghentakan dengan keras tak ingin Kinan menyentuhnya.
" Jadi begini kelakuanmu saat aku pergi jauh!! " Raffa mendelik tajam ke arah istrinya." Kamu selingkuh sama dia! " Ia menunjuk Juna yang kini diam membisu.
"Tidak mas, bukan seperti itu." Kinan mengelak
"Lalu seperti apa!" serunya dengan nada tinggi , " Kamu itu sudah tertangkap basah masih saja mengelak!"
"Dan kamu." Raffa menarik kerah baju Juna, " Jangan pernah ganggu istri orang!" ucap dengan sorot mata tajamnya.
Raffa pergi dari tempat itu dan Kinan memungut bunga mawar serta berlari mengejar suaminya. Ia dengan cepat masuk ke dalam mobil Raffa.
"Dengarkan aku mas." pinta Kinan dengan memelas.
"Aku dan abang hanya berteman tidak seperti yang kamu lihat." sambung Kinan lagi
Raffa masih saja mengemudikan mobilnya dengan cepat dan ugal - ugalan hingga beberapa orang mengumpat ke arahnya.
"Raffa, pelan-pelan aku takut." Kinan mencengkram seatbeltnya karena Raffa benar-benar gila dalam mengendarai mobilnya
Raffa tetap fokus tanpa memperdulikan ucapan Kinan, sepanjang perjalanan Raffa hanya diam membisu.
"Mas, aku beneran tidak selingkuh dengan bang Juna, sayang." Kinan mencoba menegaskan kembali pada suaminya.
"DIAM...!!! bisa diam nggak!!" bentak Raffa, ia begitu marah karena Kinan tidak berhenti bicara.
Kinan terkejut karena Raffa membentaknya kali ini, sejak kecil ia tidak pernah dibentak oleh Raffa. Ia meneteskan airmata sembari sesenggukan.
"Turun." ucap Raffa tanpa melirik pada istrinya. Ia menghentikan mobilnya di depan apartemen mereka.
"Aku tidak mau."
"Aku bilang turun!" seru Raffa dengan nada tinggi, namun Kinan tidak bergeming. Ia tetap duduk di kursi penumpang
"Ingat ya Kinan, ini masalah kita. Jangan sampai kamu mengadu pada mama Navysah. Aku tidak ingin ibuku sakit karena ulahmu." ancam Raffa, ia menghembuskan nafas panjangnya dan keluar dari mobilnya dan mendekat kearah Kinan. Ia membuka pintu mobilnya dan menarik Kinan agar turun dari mobilnya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak mau kamu pergi lagi. Aku ikut ya?" pinta Kinan dengan wajah memelas. Ia memegang lengan suaminya dengan erat
" Jangan panggil aku sayang, aku tidak sudi kamu panggil sayang. Dasar tukang selingkuh!" Raffa menghentakan tangan Kinan dan berlalu pergi.
__ADS_1
" Raffa... Raffa... jangan tinggalkan aku Raffa, huhuhu... "Kinan menangis keras dengan histeris