
Raffa pagi-pagi sudah berada di kantor properti, ia masih mengurus beberapa berkas untuk pengembangan proyek di kota B.
Raffa melihat Fafa sedikit berubah. Fafa semakin serius belajar bisnis dan Fafa juga mau memimpin rapat dengan baik.
"Fafa, kenalkan ini Antoni yang akan menjadi asistenmu sekarang."
Fafa melirik kearah Antoni, wajah yang tidak asing baginya. Fafa mengenyitkan dahi dan mencoba menerka-nerka dimana ia pernah melihat wajah ini.
"Ya ampun, kamu kan pria menyebalkan itu!" Fafa menatap Antoni dengan tajam.
"Mas, aku nggak mau dia menjadi asistenku. Dia kan suka membully mas Raffa saat sekolah." Fafa secara terang - terangan menolak Antoni.
" Apa mas tidak takut dia akan mengkhianati kita, dia musuh kita." imbuh Fafa kembali. Fafa tidak habis fikir kakaknya mempekerjakan orang yang menyebalkan seperti Antoni yang notabene suka menghinanya dulu. Tidak masuk akal, Raffa terlalu baik.
"Sudah mas fikirkan semuanya. Antoni yang sekarang sudah berubah menjadi lebih baik. Mas yakin dia tidak akan mengkhianati kita."
"Fafa tidak yakin." kekehnya, "Fafa tidak mau!" ia membuang wajahnya kearah lain.
"Setiap orang pasti punya kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna Fa. Allah saja maha pemaaf masa kita tidak." Raffa mencoba membujuk adiknya untuk menerima Antoni. " Sekarang kamu pilih Rio atau Antoni yang akan menjadi asistenmu?"
"Oh No...!" Fafa memijit kepalanya terasa pusing. "Aku tidak mau keduanya, semua pilihan mas nggak jelas!"
"Aku maunya asisten yang sexy, cantik. Masa mau sesama jenis pisang - pisangan. Ah!, nggak asyik." dengus Fafa kembali.
"Kamu mau kerja apa mau cari pacar sih!" Raffa sedikit kesal dengan ulah adiknya.
"Sambilan lah, sambil menyelam minum air terus tersedak deh.Kalau asistennya cantik kan aku bisa semangat." Fafa menaik turunkan alisnya.
" Kan sudah ada bu Pur dan bu Acih." Raffa menggulum senyum, ia menggoda Fafa dengan nama kedua office girl kantor yang sudah berusia tua.
" Ah, mas Raffa. Mereka itu sudah tua, belum nanjak aja sudah sesak nafas. Hahaha..." Fafa terkekeh dengan ucapannya sendiri.
" Yasudah, aku pilih Antoni saja daripada si kribo gila itu yang ada berantem mulu."
Fafa selalu tidak akur jika bersama Rio. Fafa yang cerewet selalu dibalas dengan sahutan dari Rio. Mereka saling perang mulut saat bersama.
Raffa menyuruh Antoni mengikutinya ke ruangannya. Ia ingin membahas tentang proyek kota B.
" Bagaimana Antoni, kamu sudah dapat kabar tentang legalitas tanah itu?" tanya Raffa
__ADS_1
"Aku sudah mengeceknya, semua aman. Tidak ada karyawan kita yang bermain di belakang. Hanya saja..."
"Hanya apa?" Raffa sangat penasaran.
"Tanah itu sebenarnya milik Pak Imran namun saat ia akan menjualnya, pak Imran mempercayakan semuanya pada keponakannya. Namun, keponakannya tidak amanah. Ia memalsukan surat tanah pak Imran dan menjualnya pada perusahaan ini.Surat kita asli, sedangkan surat yang berada di tangan pak Imran palsu. Beberapa keluarga sangat syok, makanya saat pembangunan mereka berteriak histeris karena lahan mereka dijual tanpa sepengetahuannya. Apalagi Pak Imran tidak bisa baca dan tulis, itu yang memudahkan keponakannya berbuat curang.Pak Imran menandatangani surat tanpa tahu isi di dalamnya. "
" Lalu apa yang dilakukan oleh keluarga Pak Imran itu? "
" Mereka sedang membuat laporan di polisi dan ingin tanah mereka kembali."
" Itu tidak mungkin,diatas kertas kita menang karena semuanya asli. "Raffa merasa kasihan dengan keluarga Pak Imran yang telah ditipu oleh keponakannya.
" Antoni, tolong bicarakan dengan keluarga Pak Imran. Jika mereka ingin menyeret mafia tanah itu, segerakan! "geram Raffa," Beri mereka pengacara dan pendampingan yang terbaik. Semoga uang hasil penjualan tanah itu masih ada dan bisa diberikan pada Pak Imran untuk membeli sawah lainnya. "
" Aku tidak habis fikir, zaman sekarang masih ada orang yang tega mengambil hak orang apalagi masih satu keluarga."
* **
Fafa pulang dengan wajah lelahnya, ia terlihat lemas dan lesu. Entah mengapa akhir - akhir ini Fafa lebih suka menginap di rumah ibunya. Berada di apartemen bersama Raffa membuatnya tidak bebas. Biasanya Fafa akan mengajak Keken dan Khaffi untuk minum wine di apartemennya, tetapi sekarang tidak bisa karena ada mas Raffa.
Fafa melihat ibunya mengobrol dengan dua orang perempuan yang terlihat sexy. Ingin rasanya Fafa menggoda dua perempuan itu namun tidak mungkin karena ada mama Navysah.
Saat ibunya masuk untuk mengambil sesuatu, salah seorang perempuan itu menghampiri Fafa yang sedang makan.
"Siapa ya." Fafa mengenyitkan dahi seolah pernah melihat wanita tulang lunak ini.
"Ini aku Mizardi, temen sekelas kamu saat sekolah SMA. Ingat kan?!"
"Mizardi..." Fafa melihat wanita gemulai itu dari atas ke bawah.
"Oh, si Mimisan yang suka di bully di sekolahan itu. Kok kamu tambah pulen seperti ini." Fafa tidak menyangka teman pria satu kelasnya dulu berubah menjadi pria tanpa tulang,benar-benar penampilannya menyerupai wanita bahkan suaranya mirip dengan suara wanita.
"Ih, kamu jahat deh!" Nama aku Mizardi bukan si Mimisan. Kamu dari dulu suka ganti nama teman-teman sesuka hati. "Mizardi memukul pelan lengan Fafa berkali-kali.
" Eh, stop dong!, jangan pukul - pukul aku nanti aku bisa ketularan virus tulang lunakmu itu. Ya ampun tambah pulen aja,ih... gemoy. " rengek Fafa dengan manja, ia mulai bertingkah seperti pria gemulai itu.
" Nih dengerin ya Fa, pertama gue mau ucapin terima kasih karena dulu lu pernah bantuin gue dari teman pria yang suka jahat sama gue. "
" Sama-sama. " Fafa menganggukan kepalanya, dulu Mizardi pria yang menyedihkan. Setiap hari ia di bully karena gayanya yang gemulai dan banyak teman pria yang sengaja menindasnya, menyuruhnya seperti pembantu. Hanya Fafa yang selalu membela Mizardi disaat semua teman yang lain mengejeknya.
__ADS_1
"Yang kedua, karena lu adik dari mempelai pria jadi gue kasih diskon lumayan buat beli nasi kotak sepuluh bungkus hehehe..."
"Woi...! Mimisan, Perlu lu tahu wedding organizer nggak ngasih diskon aja emak gue masih mampu bayar."
"Percaya deh, percaya gue sama anak sultan." jawab Mawardi
"Yang ketiga, panggil gue Mia bukan Mizardi ataupun Mimisan. Kamu bisa panggil nama korea aku, panggil Kim Mi So." pinta Mizardi sambil tersenyum.
"Apa! Kim Mie Soun." Fafa tergelak tawa, ia sengaja memplesetkan nama Mizardi kembali.
"Fafa!!" teriak Mizardi dengan kesal, " Aku Kim Mi So." ujarnya kembali.
"Anjayy..., hari gini ada nama korea gitu.Pusing gue lihat lu Soun, terserah lu dah." Fafa menggelengkan kepalanya
Fafa penasaran dengan buah dada Mizardi yang begitu besar. "Bagaimana kamu bisa membuatnya sebesar itu."
"Kenapa kamu mau Nen?" Mizardi menggulum senyum, ia sengaja menaikan buah dada dengan kedua tangannya agar terlihat besar.
"Najis...!! Eh, Soun gue juga milih - milih kalau mau Nen. Yaelah, Nen ama lu dapet apa,kenyang kagak gumoh iya." sarkas Fafa. "Mencret gue soun, mencret Nen ama lu!"
Mizardi tergelak tawa dengan ucapan Fafa.
"Itu gimana, operasi juga?" Fafa melirik kearah bawah Mizardi.
"Operasi dong, sekarang apa sih yang kagak bisa. Zaman sudah canggih gini."
"Oh, berarti pisang diganti dengan apem?" tanya Fafa lagi.
"Iya dong, aku juga ingin hamil." Mizardi selalu tersenyum manis saat berbicara dengan Fafa
"Eh, somplak! Lu bener - bener gila, halusinasi atau waras sih!,mana ada pria hamil.Lu bisa hamil tapi anak cebong, mau lu?! " dengus Fafa dengan kesal
"Atau lu mungkin hamil di luar nalar." sarkas Fafa lagi."Tapi lu bener - bener berubah luar biasa sampai gue nggak kenalin lu, eh tapi ada yang tidak berubah sih." Fafa mengenyitkan dahi seolah berfikir.
"Apa yang tidak berubah." Mizardi penasaran dengan jawaban Fafa
"Bimoli lu! Bibir monyong lima senti, hahahaha..." Fafa tergelak tawa, " Eh, Mizardi lu itu kalau pakai gelang di tangan bukan di mulut. Sini gue copotin." Fafa meremas mulut mawardi dengan kesal lalu Ia berlari kearah lantai dua.
"Fafa...!! PE'A lu...!!" suara bass Mizardi kembali seperti pria, ia mulai ngomel - ngomel karena Fafa meledeknya dengan keterlaluan.
__ADS_1
* **
Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun sudah mampir βΊοΈπ€£πππ