Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 95


__ADS_3

Fafa masih berkutat di depan laptopnya dan wajahnya kini terlihat lelah. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang dan rasanya Fafa ingin melarikan diri dari kantornya.


"Nin, udah belum kerjaanmu?"


Fafa melihat kearah Hanin yang masih saja mengetikan beberapa berkas untuk rapat satu jam lagi.


" Sebentar lagi." jawab Hanin tanpa melihat kearah Fafa.


Fafa merasa seperti tahanan karena ia tidak bisa bebas seperti dulu. Saat di apartemen ada mas Raffa yang selalu membangunkan dirinya setiap pagi dan mengontrol pekerjaannya. Dan saat di perusahaan ada Hanin yang selalu standby mengontrol dirinya agar fokus dalam bekerja.


Ada rasa bersyukur dalam hati Fafa karena Hanin gadis yang cekatan dalam bekerja, walaupun Hanin terkadang cerewet tetapi Fafa merasa terbantu dengan kinerja Hanin yang cepat.


"Ini Fa berkasnya sudah saya siapkan untuk bahan pembahasan rapat nanti, tolong dipelajari karena klien kita kali ini cukup penting. Dan untuk kedepannya...." belum sempat Hanin menyelesaikan ucapnya, Fafa langsung memotong pembicaraan.


"Berisik banget sih! Udah kayak suara rakyat yang lagi demo di sen*yan aja.Aku sudah tahu tugasku!"


Ingin rasanya Hanin menjambak rambut Fafa dengan keras,Ia hanya berusaha mengingatkan. Hanin takut jika ia tidak membimbing Fafa dengan benar, sudah dipastikan ia akan berada di sisi bos jadi-jadian ini dengan waktu lama.


"Titip Fafa, tolong bimbing dia agar fokus dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya sebagai pengganti Ayah."


"Setelah Fafa sanggup untuk dilepas, kamu boleh bekerja di Hara sesuai keinginanmu atau jika kamu ingin bekerja di perusahaan Ayahmu sendiri itu hak kamu, kakak tidak memaksa."


"Tolong bantu kak Raffa kali ini, kakak sedang berjuang untuk Hara agar bangkit dan normal kembali dan kakak sedang menunggu seseorang untuk menggantikanmu menjadi asisten Fafa."


Hanin selalu mengingat permintaan Raffa padanya.


"Andai saja adik kak Raffa tidak semenyebalkan ini pasti aku betah. " gumam Hanin dalam hati, ia melirik Fafa yang sedang membaca berkas sembari mengupil.


"Ya ampun, aku kira adik kak Raffa begitu manis ternyata modelnya seperti ini." gumam Hanin dalam hati, ia terbiasa melihat Fafa yang menggaruk pantatnya, mengupil, mengucir rambut bagian depannya yang mulai gondrong, duduk dengan mengangkat satu kaki seolah sedang makan di warung. Dan terkadang Hanin melihat teman-teman Fafa dan wanita yang selalu berganti - ganti masuk ke dalam ruangan Fafa, mereka terlihat sangat mesra.


" Playboy rusuh, semoga hanya satu bulan saja aku menjadi asistenmu." gumam Hanin dalam hati.


"Janin..., Mas Raffa kemana sih? Kok belum pulang. Dia sering kabur - kaburan, sedangkan aku dijaga layaknya tahanan." kesal Fafa


"Kak Raffa sedang sibuk. Dia bertugas di proyek luar perusahaan, sedangkan kamu yang mengurus di dalam perusahaan." terang Hanin


Fafa sejak hari pertama menyuruh Hanin memanggil nama Fafa saja saat mereka hanya berdua. Fafa tidak suka jika harus dipanggil bapak.

__ADS_1


"Aku saja yang bagian luar perusahaan." pinta Fafa, "Tukar posisi."


Hanin menghela nafas panjangnya, ia tahu jika Fafa yang berada di luar perusahaan, sudah pasti dia akan keluyuran dan nongkrong bersama pacar dan teman-temannya.


"Nin, Janin! kamu dengar nggak sih!"


"Aku dengar."


Fafa menatap kesal karena tidak ada jawaban yang memuaskan dari Hanin.


* **


Hanin


Seperti biasanya Hanin pulang ke rumah dengan perasaan sangat kesal, bukan Fafa yang memimpin rapat namun Hanin yang bertugas menggantikannya.Fafa beralasan sakit lambung dan tidak kuat untuk berdiri sehingga dengan sangat terpaksa Hanin yang menerangkan beberapa point di depan klien.


"Menjengkelkan." batin Hanin, ia merebahkan dirinya di ranjang dan terlelap tidur karena kelelahan.


Hanin merasa ada sebuah tangan kekar yang mengelus rambutnya.Ia menyipitkan mata dan melihat Ayahnya sedang membelai rambutnya dengan kasih sayang.


"Ayah,kau disini."


"Ayah, kau sayang Hanin kan?"


"Ayah sangat sayang kamu dan Halwa Nak,kalian permata Ayah yang akan ayah jaga sampai mati. Kenapa kamu bertanya seperti itu Nak?"


" Ayah, maukah ayah berinvestasi di Hara? kasihan kak Raffa yah. Dia harus mati-matian mencari investor."


"Tidak!" jawab Ayah singkat, "Kecuali kalau Raffa mau menikahimu."


Hanin membelalakan matanya, "Ayah itu tidak mungkin.Aku memiliki kekasih dan kak Raffa akan menikah."


"Ayah tahu" balasnya, "Ayah tidak suka dengan pacarmu. Dia itu hanya ingin memanfaatkanmu dan ayah tidak suka dengannya."


"Ayah salah, Adit tidak seperti itu. Dia pria baik dan setia. Aku akan mengajak dia kesini lagi agar Ayah lebih dekat dengannya."


"Tidak perlu!"

__ADS_1


"Ayah, ayolah bantu kak Raffa." pinta Hanin


"Ayah suka dengan Raffa dan ingin mempunyai menantu sepertinya. Tapi Ayah tidak akan membantunya Nin."


"Menantu Ayah itu Adit, aku akan meningkah dengannya."


"Tidak mau! Ayah tidak akan setuju jika kamu berhubungan dengannya. Lebih baik kamu pilih salah satu anak dari Davian untuk menjadi suamimu.Keluarganya sudah jelas,kaya, mereka orang baik, kamu juga pasti bahagia mempunyai mertua sebaik bu Navysah. Dia pasti akan sayang dengan kamu Nak!. "


" Kalau dengan Alif, aku tidak masalah." Hanin mulai labil dengan perasaannya," Dia cool, baik, tampan. "Hanin membayangkan wajah Alif sembari tersenyum ." Asal jangan si Fafa gila itu, menjengkelkan. Amit-amit! "


Pak Dewa terkekeh mendengar anaknya menggerutu.


"Ayah, kak Raffa sudah mengorbankan nyawa untukku dulu. Mungkin jika bukan karena dia, aku pasti sudah meninggal saat itu." Hanin berkaca-kaca, " Ayah tahu, sampai sekarang kak Raffa tidak bisa olahraga berat. Walaupun dia sudah sembuh dan normal kembali namun terkadang kakinya masih terasa sedikit kram dan nyeri. "


" Kamu ingin tahu alasan Ayah kenapa menolak berinvestasi di Hara?"


Hanin menanggukan kepala.


"Karena Ayah yakin Raffa bisa melakukannya sendiri, Ayah yakin dia akan menjadi orang yang sukses. Semangatnya luar biasa.Dulu dia membeli sedikit saham di perusahaan Ayah dan enam tahun kemudian dia menarik kembali sahamnya dan mencoba membuat studio kecil. Dan lihat sekarang Hara berkembang dengan cepat, semua game dan film animasi Hara mampu menarik minat pasar. Ayah yakin Raffa mampu melewati masa sulit ini "


Pak Dewa hanya menggulum senyum. "Seandainya Raffa menantu Ayah sudah pasti perusahaanku dan Hara akan kuat. Ayah akan tenang karena menantu Ayah pintar mengurus perusahaan di bidang animasi."


"Tapi mimpi itu tidak akan mungkin karena Raffa menolak dan lebih memilih tunangannya dari pada saham Ayah." sambung pak Dewa lagi.


"Ih, Ayah jahat! kenapa memberi kak Raffa pilihan seperti itu." gerutu Hanin


" Mau bagaimana lagi, namanya juga usaha agar mendapatkan menantu yang baik."


"Kamu gimana, betah kerja di perusahaan Davian?


Hanin menghembuskan nafas kasarnya, ia teringat kembali pada Fafa yang selalu membuatnya kesal." Ngeselin yah, beda jauh sama kak Raffa. Adiknya itu jorok, tidak mencerminkan jiwa pemimpin semuanya serba Hanin." Hanin mengeluarkan semua uneg-unegnya pada sang Ayah. " Sebenarnya dia pintar, tapi dia tidak fokus. Masih setengah hati dalam bekerja."


"Kamu sabarlah, jika bocah itu melakukan sesuatu yang melecehkanmu atau merendahkanmu bilang sama Ayah, akan ayah buat dia menyesal seumur hidup."


Hanin hanya tersenyum kikuk, ia tidak berani mengatakan pada Ayahnya bahwa Fafa selalu memanggilnya dengan seenak jidat.


" Kalau Ayah tahu aku dipanggil Janin, sudah pasti Ayah akan marah pada Fafa. "gumamnya dalam hati.

__ADS_1


* **


Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun ☺️😘😘😘


__ADS_2