Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 106


__ADS_3

Rio melihat Jihan yang sedang menyendiri di sisi ballroom. Jihan melihat Raffa dan Kinan pergi meninggalkan tempat pelaminan. Matanya berkaca-kaca menyaksikan seseorang yang ia cintai menikah dengan perempuan lain.Dan Jihan tahu bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan karena Raffa sudah milik orang lain.


"Masih kuat untuk pergi kesini dan melihat mereka bahagia?" Rio duduk si samping Jihan dan ia memberikan sebotol air mineral.


"Aku ingin melihat Raffa bahagia dengan wanita pilihannya." Jihan tersenyum kecut, " Dan sekarang Raffa milik wanita itu." Jihan menutup wajahnya dengan telapak tangan, terdengar lirih isak tangisnya.


"Aku berharap kamu bisa menerima semua ini, kita bisa berteman baik. Dan aku percaya, kamu akan mendapatkan pria baik tapi itu bukan Raffa." Rio merengkuh bahu Jihan dan memberinya sandaran.


"Jika kamu ingin menangis, menangislah hari ini. Tapi besok, buka lembaran baru. Aku tahu ini akan sulit, tapi aku yakin kamu bisa han."


" Tumben sekali kamu bijak dalam bicara, ini beneran Rio yang aku kenal kan? bukan jadi - jadian hihihi..." goda Jihan, ia mengusap airmatanya dengan sapu tangannya, mencoba untuk tegar.


" Ini jadi-jadian! siluman bala-bala. "gerutu Rio, namun dalam hatinya ia merasa senang karena Jihan mau tersenyum walau sedikit.


" Siluman laba-laba! " Jihan menatap jengah Rio," Kalau bala-bala itu gorengan, lima ribu tiga beli di mang Acim. "


Rio dan Jihan terkekeh bersama.


* **


" Kamu kenapa?" Kinan melirik Raffa yang sedang duduk di kursi sembari memijit kakinya. Saat ini Kinan sedang dirias untuk acara kedua, ia akan menggunakan gaun berwarna pink dengan tema Internasional Wedding.


" Pegal, aku tidak kuat berdiri lama, kakiku kram. "


Kinan meminta make up artist untuk menghentikan sebentar kegiatannya. Ia mendekati Raffa dan memijit kakinya. "Masih sering sakit?" tanyanya,"Apa kita perlu ke dokter?"


"Tidak perlu, kaki kiri aku memang sering seperti ini. Istirahat sebentar juga langsung sembuh. Kamu tidak perlu khawatir."


"Nanti habis acara selesai langsung tidur ya, istirahat. Unboxingnya bisa ditunda besok lagi." Kinan tanpa sadar keceplosan mengenai malam pertama.


Sang make up artist menggulum senyum mendengar ucapan Kinan yang begitu polos, sedangkan Raffa hanya melotot ke arah Kinan.


" Lupa, aku kira kita cuma berdua, hihihi... "bisik Kinan sembari menutup mulutnya.


" Lihat Raffa, ranjang kita bertabur bunga dan hiasan indah berbentuk love, pasti sangat menyenangkan diatasnya. " bisik Kinan lagi dengan lembut dan manja


" Nggak usah mancing!"sahut Raffa, ia mendengus kesal karena Kinan mencoba merayunya dengan suara manja dan serak.


Kinan menjulurkan lidahnya, dan ia kembali dirias dengan cantik.


* **


Fafa sengaja membawa Rena untuk mendampinginya di acara pernikahan kakaknya.Terlihat dengan jelas raut wajah Navysah yang tidak suka dengan pacar baru Fafa yang berpakaian begitu glamour dan sexy.


Fafa melirik Hanin yang membawa pacarnya juga. Mereka terlihat romantis dan selalu melempar senyum. Saat kedua mata Fafa dan Hanin bertemu, mereka saling membuang muka dan saling menghindari.


Hanin benar-benar tidak ingin berdekatan dengan Fafa. Sejak kejadian kemarin, Hanin begitu sangat membenci Fafa.


"Ayo, kita sapa dulu ayahku." ajak Hanin pada Adit. Mereka melihat Pak Dewa sedang mengobrol bersama Om Davian.


"Ayah, ada Adit lho yah. Dia bersamaku kesini." Hanin memeluk lengan ayahnya agar mau sekedar menyapa Adit, pacarnya.


"Hallo Om." Adit mencium takzim tangan Pak Dewa, "Om sehat?" tanyanya.


"Iya, alhamdulillah sehat." jawab Pak Dewa, ia hanya tersenyum kecut lalu kembali mengobrol dengan Om Davian.Pak Dewa tidak ingin berbasa - basi dengan orang yang pura-pura baik di depannya.


" Mama, jadi nyanyi mah ?" tanya Fafa yang baru saja menghampiri mereka bersama pacar barunya.

__ADS_1


"Nggak!" Navysah ingin menyapa kembali beberapa rekan bisnisnya.


"Mah, ini pacar Fafa namanya Rena. Kenalin mah?"


" Hai, tan aku Rena."


Navysah menatap kembali dari ujung kepala hingga kaki perempuan itu. "Iya." balas Navysah singkat.


Fafa tahu ibunya tidak terlalu suka dengan wanita yang berpakaian terlalu seronok. Namun, Fafa mencoba meyakinkan bahwa pilihannya itu wanita baik-baik.


"Hanin, nin." Navysah melambaikan tangannya menyuruh Hanin untuk mendekat kearahnya.


Hanin yang saat ini bersama pacarnya, langsung menghampiri Navysah. Ia sempat melirik Fafa dan membuang wajahnya, seolah tidak melihat. "Iya tan, ada apa?"


"Coba kamu tengok Kinan sudah selesai dirias belum"


"Baik tan." Hanin bersama pacarnya naik ke lantai atas untuk melihat Kinan.


"Fa, tolong ambilkan mama minyak kayu putih,mama sedikit pusing."


"Iya mah." Fafa menggandeng Rena agar mengikutinya. Fafa tersenyum lebar, berharap ada kesempatan untuk sekedar mencium Rena di lantai atas.


"Eh, mau kemana?" tanya Navysah, ia menahan lengan Rena agar tidak mengikuti Fafa. "Kamu disini saja temani tante."


"Tapi mah." Fafa menatap ibunya dengan memelas.


"Sudah sana pergi." Navysah melotot kearah Fafa.


Fafa berjalan dengan malas, dan akhirnya dengan sangat terpaksa berjalan seorang diri.


Setelah mendapatkan apa yang diminta ibunya, Fafa berjalan kembali ke arah ballroom. Saat Fafa menekan tombol lift dan terbuka, ia melihat Hanin yang seolah sedang berciuman dengan pacarnya. Mereka terkejut saat melihat Fafa masuk ke dalam lift.


" Sok tahu! emang kita lagi ngapain." ketus Hanin tanpa melihat kearah Fafa. Ia tidak ingin ada kesalah pahaman.


Hanin bergegas pergi tanpa melirik kearah Fafa. Ia melaporkan kepada Navysah bahwa Kinan selesai dirias dan sebentar lagi akan masuk ke dalam ballroom.


Hanin mengajak Adit untuk ngobrol bersama Anggrek yang kebetulan sedang menikmati makanannya, mereka bertiga tertawa lebar saat Adit menceritakan kekonyolannya saat pergi ke klinik dan takut di suntik.


Kinan dan Raffa sudah terlihat bergabung diantara mereka, dengan menggunakan gaun berwarna pink Kinan terlihat sangat manis sedangkan Raffa menggunakan setelan tuxedo hitam kombinasi warna pink serasi dengan warna Kinan.


"Tes...tes." Fafa mencoba mengecek microphone yang akan digunakannya, "Hai para hadirin semua. Saya Fafa adik dari mempelai pria. Kali ini akan menyanyi dan berkolaborasi dengan adikku, Inha. Satu persembahan spesial untuk pengantin baru. Inilah....." Fafa menjeda ucapnya, "Cie.. Cie... nungguin ya!"ucapnya dengan cengengesan.


Semua tamu tergelak tawa dengan tingkah Fafa.


" Mah, anakmu bikin surprise mah. "Davian menepuk bahu istrinya.


" Semoga aman terkendali. " Navysah hanya mampu menghela nafas panjangnya saat Fafa mulai menepuk tangannya dan beberapa puluh orang memasuki area ballroom.


" Satu buah lagu Love Me like You Do. "seru Fafa.


Area tengah ballroom sengaja di buat kosong. Para tamu undangan menepi sejenak karena tempat itu akan digunakan untuk Wedding Fashmob.


Inha mulai bernyanyi, bergantian dengan Fafa.


You're the light, you're the night


You're the colour of my blood

__ADS_1


You're the are, you're the pain


You're the only thing I wanna touch


Never knew that it could mean so much, so much.


Yo'u the fear I don't care


Cause I've never been so high


Follow me though the dark


Let me take you pass outside the lights


You can see the world you brought to life, to life.


So love me like you do


Lo-love me like you do


Love me like you do


Lo- lo-love me like you do


Touch me like you do


To-to-touch me like you do


What are you waiting for?


Fanding in, fanding out


On the edge of paradise


Every inch of your skin


Is a holy grail I've got to find


Only you can set my heart on fire, on fire


Yeah, meet you set the pace


'Cause I' m not thinking straight


My heads spinning arrround


I can't see clear no more


What are you waiting for?


Semua penari dan beberapa keluarga Davian mengikuti irama musik yang Inha dan Fafa nyanyikan. Ya, Fafa sengaja membayar dancer untuk mengisi acara di pernikahan kakaknya.


Di keluarga Davian, Fafa dan Inha pandai dalam menyanyi. Sedangkan Alif dan Inha hanya bisa mengikuti perintah Fafa yang mengharuskan mereka untuk menari, walaupun perang mulut biasa terjadi karena Alif menolak, namun Fafa selalu mengancam Alif jika tidak mengikuti aturan main maka Alif yang harus menyanyi. Pilihan yang sulit


Semuanya tamu bersorak - sorai gembira, gemuruh tepuk tangan terdengar begitu menggema di ballroom hotel. Luar biasa meriah.


"Ternyata si jutek suaranya bagus juga." Juna melihat Inha yang sedang menyanyi dengan sangat merdu.

__ADS_1


Di satu sisi, Jihan hanya bisa menatap Raffa dari jauh melihat kebahagiaan pasangan yang baru saja halal,dan ia mencoba untuk mengikhlaskan semuanya.


__ADS_2