
Kinan seperti biasanya melakukan rutinitas sebagai dokter. Disela-sela waktu istirahatnya ia menelepon Raffa dan meminta ijin untuk menghadiri pernikahan teman sejawatnya yang kali ini menikah di sebuah gedung.
"Aku pergi dengan Jessica ya mas." pamitnya pada Raffa.
"Iya, jangan terlalu malam pulangnya, jaga kesehatan dan jangan genit dengan pria lain. Ingat kamu sudah menikah."
Kinan hanya tersenyum saat Raffa begitu posesif, meminta dirinya untuk menjaga jarak dengan pria lain. "Makanya, kamu cepat pulang, aku kangen."
"Iya, sebulan lagi aku pulang,sabar ya."
"Jangan selingkuh!" ucap Kinan, " Aku menunggumu disini mas."
Raffa terdengar terkekeh dengan ucapan Kinan. Setiap Kinan meneleponnya, ia pasti mengatakan kalimat keramat itu.
" Selingkuh sama siapa, Jihan saja nggak ada disini." goda Raffa, ia sangat senang melihat wajah Kinan yang cemberut dari layar ponselnya.
" Awas saja kalau selingkuh!" ancam Kinan, ia masih saja cemburu saat Raffa menyebut nama Jihan. "Aku akan kabur saat kamu ketahuan selingkuh."
" Itu tidak mungkin Nan, masih curigaan saja sih!"
"Do'akan aku agar semuanya berjalan lancar dan bisa pulang cepat. Do'akan aku agar Hara mampu melewati masa sulit ini. Kamu tahu, do'a istri yang sholeha akan selalu dikabulkan Allah."
"Iya masku,aku selalu do'ain kamu, aku kan sholeha." Kinan menaik turunkan alisnya dengan cepat.
"Iya deh, kamu memang sholehaahhhhhh... saking sholehanya sampai kamu kehilangan akal." cibir Raffa dengan senyuman mengejek.
"Berarti aku gila dong!" pekik Kinan dengan mengerucutkan bibirnya. " Tapi si rajawali baik-baik saja kan ya, kangen nggak sama pasangannya."
"Si Rajawali sedang tertidur pulas, dia harus puasa selama tiga bulan. Makanya kamu jangan bicara mesum, aku pusing kalau si rajawali bangun karena nggak ada pasangannya." gerutu Raffa
"Hihihi, iya iya." Kinan masih bercerita tentang kegiatannya hari ini. Ia sangat senang karena suaminya terlihat segar tidak seperti minggu lalu.
* **
Hanin kini pulang ke Indonesia dan tanpa membuang banyak waktu ia langsung bekerja di perusahaan kembali. Ia mencari beberapa bukti siapa orang yang berbuat jahat pada dirinya. Dan setiap malam tiba Hanin selalu mabuk di dalam apartemen. Ia masih sedikit stres dengan project yang gagal karenanya.
"Makanlah kak." Halwa membawa steak kesukaan Hanin.
"Makasih adikku sayang." lirihnya dengan suara sedikit meracau karena mabuk,ia tidak menyentuh sedikit pun makanan yang disuguhkan Halwa padanya.
" Jangan seperti ini kak, yang kemarin sudah terjadi jangan disesali. Kita bisa bangkit lagi dan Hara pasti akan bisa melewati masa sulit ini " Halwa sedih melihat kakaknya yang selalu terlihat ceria kini tidak menampakan wajah cantiknya. Hanya sesekali Hanin tertawa itu pun saat bersama Adit.
" Aku merasa sangat bodoh, tidak becus dalam bekerja wa. Dan sialnya lagi, ayah kita tidak mau memberikan uangnya padaku. Jika saja ayah mau berinvestasi, pasti Hara akan membaik." ucap Hanin dengan menarik rambutnya, ada rasa panas yang menjalar di dadanya hingga ia membuka beberapa kancing." Ayah begitu tega padaku, huhuhu. "
" Sayang, antarkan Hanin ke kamar sebelum dia telanjang disini. " perintah Rio, ia melihat Hanin yang sedang membuka beberapa kancing kemejanya tanpa sadar.
Halwa menepis tangan kakaknya agar tidak membuka semua kancing bajunya. Ia mencoba menuntun Hanin untuk masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
" Ya ampun." Halwa terkejut melihat ruang kamar Hanin yang begitu berantakan. Ia tahu kakaknya sangat menjaga kebersihan namun tidak kali ini. Sampah bekas makanan dan minuman berserakan dimana - mana. Udara terasa lembab dan tidak sehat.
"Ada apa?!" Rio menghampiri Halwa dan melihat kamar Hanin yang begitu mengerikan.
"Kita harus mencari tahu siapa penghianat itu agar kakakmu tenang dan tidak selalu merasa bersalah. Aku yakin ini pasti orang dalam, kamu percayakan semuanya padaku ya."
"Terima kasih kak, kamu selalu membantuku disaat aku kesulitan." Halwa menutup pintu kamar kakaknya. Ia tidak sanggup melihat Hanin yang begitu kacau di malam hari
"Sudah tugasku membantu calon istri yang cantik ini,tapi sebelum bekerja boleh dong cium pipi dulu." goda Rio, ia mendekatkan pipinya kearah Halwa.
"Apaan sih! nanti kalau kak Hanin lihat cctv aku bisa di cekik olehnya,bikin mesum di apartemen dia."
"Cuma sekali, biarkan saja dia lihat. Biar dia cepat nikah dan setelah itu kita." Rio masih mendekatkan pipinya kearah Halwa.
Namun saat Halwa akan mencium pipinya, Rio langsung memalingkan wajahnya hingga bibir mereka saling bertemu. Rio menekan tengkuk leher Halwa hingga ciuman mereka begitu dalam.
* **
" Kak Rio...!!! "teriak Hanin, ia melihat Rio yang akan masuk ke dalam lift.
" Oh my God!, Hanin mendekat, wajahnya terlihat begitu kesal. Jangan - jangan si judes itu sudah membuka cctv lagi. "Rio langsung bergegas masuk lift untuk menghindari amukan Hanin.
" Mau menghindariku!! " bentak Hanin, ia memukul Rio dengan tas slingbag yang ia pakai.
" Aaawww.. sakit Nin. "
" Beraninya kamu mencium adikku dengan liar, Halwa masih kecil dan polos. Jangan mesum pada adikku!" teriak Hanin dengan kesal. Setelah tersadar dari mabuknya Hanin merasa sakit kepala, ia sudah tidak mengingat kejadian semalam hingga ia memutar cctv apartemen dan melihat adiknya sedang beradegan ciuman mesra dengan Rio.
" Khilaf tapi keenakan." cebik Hanin, " Aku kan juga pengen hihihi." ia menutup mulutnya dengan tangan
"Lah PE'A juga. Ya sudah sana minta sama Adit, kamu cepat nikah sana, jadi gue bisa halalin Halwa secepatnya."
" Belum dapat lampu hijau dari ayah, kakak bantuin aku dong biar ayahku merestui."
" Gak janji deh." Rio mengedikan bahunya, ia tahu ayah Hanin keras kepala, sekali bilang tidak sampai kapanpun akan berkata tidak.
Hanin hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia tahu apa yang difikirkan Rio sama dengannya.
* **
Kinan begitu cantik dengan balutan gaun berwarna peach senada dengan hijabnya. Ia datang bersama Jessica yang terlihat begitu anggun dengan gaun hitamnya. Tidak dipungkiri, walaupun Jessica sudah memiliki anak satu namun tubuhnya tetap langsing dan terawat, sejak dulu Jessica selalu menomor satukan penampilan,apapun yang ia kenakan selalu terlihat bagus olehnya.
" Sebenarnya yang sudah punya anak siapa sih, kok aku yang gendut." cebik Kinan, ia merasa iri dengan lekuk tubuh Jessica yang begitu menggoda.
"Perawatan gaes, biar janda spartpart harus terjaga." lirih Jessica di telinga Kinan. " Lu, jangan kebanyakan makan entar gendut. Olahraga yang bener biar Raffa tetap cinta sama lu. Jaman sekarang banyak pelakor, emang lu mau Raffa kembali sama mantannya. Siapa itu namanya? lupa aku. "
" Bener juga lu Jes, kalau aku gendut jangan - jangan dia bakal selingkuh, mana selalu ada wanita di sekitar dia lagi. " ujar Kinan tanpa menjawab pertanyaan dari Jessica.
__ADS_1
" Lah, itu dia. Raffa kalem, banyak duitnya tapi bisa jadi cewek itu yang cari kesempatan akhirnya kejadian, terus lu jadi bini tua deh, dimadu. Hari gini banyak daun muda, cantik - cantik lagi mana ada pria yang menolak cewek cantik dan sexy."
Kinan merasa panas, apa yang diucapkan Jessica ada benarnya." Aku akan diet dan kurus lagi,agar Raffa tidak berpaling padaku, aku takut Jihan akan merebutnya dariku. "
" Bagus!, gue suka semangat lu yang kayak gini.Kalau Raffa pulang service yang bener,jangan beri celah untuk pelakor masuk ke dalam rumah tangga lu."
" Oke. "
" Ada apa ini bisik-bisik!? " Juna datang menghampiri Kinan dan adiknya.
" Biasa kak urusan perempuan. "sahut Jessi
Juna melihat Kinan yang begitu cantik malam ini,dan ia merasa bahagia kalau Kinan sekarang jarang mengeluh tentang si pria datar itu. Juna beranggapan Kinan sangat bahagia menikah bersama Raffa.
" Nan, gue pergi dulu ya. Lu pulang bareng abang aja. Si Bagas minta dijemput sekarang, dia baru saja kirim pesan."
"Ah! lu Jess nggak asyik. Masa gue ditinggal sih!" gerutu Kinan sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, kamu pergi saja biar abang yang antar Kinan pulang."
Sepanjang perjalanan Kinan dan Juna bercerita dan tertawa bersama. Kinan yang cerewet selalu membuat hati Juna merasa senang dengan mendengarkan cerita lucu dari Kinan.
"Abang, naksir sama si Inha?" tanya Kinan, ia merasa Juna penasaran dengan sosok adik iparnya yang ketus itu.
"Tidak!, masa abang suka dengan bocil sih." ujarnya sembari tertawa. "Saat di pesta kamu, abang kenal dengannya dan dia sedikit menyebalkan tapi suaranya bagus saat menyanyi."
"Itu namanya abang tertarik dengannya, walaupun Inha terlihat jutek namun dia baik hati. Dan..."
"Masku is calling "
"Tunggu sebentar, assalamualaikum."
"Walaikumm salam." jawab Raffa, "Sudah pulang?"
"Ini masih di perjalanan, sebentar lagi sampai."
"Sama Jessi?!" tanya Raffa diujung telepon
"Mm.. Jessi pergi jemput Bagas, aku pulang sama a.. abang Juna." ucap Kinan dengan sedikit takut.
"Kok sama Juna sih! kemarin kamu pamit pergi bareng Jessica, kok sekarang dia sih yang anterin kamu!" seru Raffa diujung telepon. Nada suaranya sedikit naik, rasa tidak sukanya terlihat sangat jelas di telinga Kinan.
"A.. aku cuma diantar saja mas. Tidak lebih."
"Tut.... Tut..." Raffa langsung mematikan ponselnya, ia begitu kesal karena ada seorang lelaki yang mengantar istrinya pulang.
"Mas... Mas... hallo..." Kinan melihat layar ponselnya yang sudah terputus. Ia hanya menghela nafas panjangnya.
__ADS_1
Juna melirik Kinan yang sedang memasang wajah sedihnya. " Kamu jelaskan pelan-pelan sama Raffa bahwa aku hanya mengantar saja. Dia pasti cemburu padaku Nan."
Kinan menganggukan kepalanya, ia berharap suaminya tidak salah paham dengannya.