Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 51


__ADS_3

Raffa mampir ke restoran D& R untuk mengambil beberapa baju yang ia tinggalkan saat kabur dari rumah. Setelah adegan serangan dari Kinan tadi, ia mantap untuk kuliah arsitek di luar negeri dengan harapan tidak akan bertemu dengan Kinan dan bisa melupakan tentang perjodohan yang tidak masuk akal baginya.


Ia masih kecewa dengan semua keadaan yang menimpanya bertubi-tubi. Gagal memilih animasi sebagai cita-citanya karena ia sebagai anak sulung harus melanjutkan perusahaan Ayahnya dan ia sudah berjanji akan melakukan yang terbaik sebagai penerus perusahaan. Dan sekarang, ditambah dengan masalah perjodohan yang sama sekali tidak ia inginkan.


"Hidupku memang luar biasa, setelah Ayah mengkebiri mimpiku,kini perjodohan gila ini. Walaupun aku tahu Ayah menolak perjodohan ini tapi dulu dia berjanji pada tante Ifa akan memberikan apapun permintaanya. Dan sekarang aku dikorbankan lagi. Sial!! " ujarnya sembari melihat langit senja,sejak pulang dari rumah Kinan ia hanya tiduran di kamar karyawan hingga sore hari dan duduk termenung di balkon Restoran. Ia tidak mempunyai semangat untuk beraktifitas. Yang ada hanya tidur dan bermalas-malasan.Bahkan panggilan dari Budhe Salma selalu ia abaikan, ia tahu pasti adik-adik mencarinya. Dan sang Ayah mulai menteror dirinya dengan puluhan panggilan karena pergi tanpa kabar.


"Aku pikir menjadi anak Sultan itu enak, tanpa beban dan tidak serumit hidupku, nyatanya sama saja dia pun punya masalah walaupun bukan masalah ekonomi yang biasa dihadapi oleh keluarga miskin sepertiku" ucap Rio, sejak siang tadi ia di telepon Raffa untuk main di restoran. Ia merasa iba melihat temannya yang tidak punya gairah hidup.


"Orang kaya itu lebih rumit dan lebih banyak masalah. Jika kamu pikir mereka terlihat bahagia karena banyak uang maka kamu salah,tidak semua orang kaya bisa beli ini itu dengan tunai, terkadang mereka punya banyak hutang dan cicilan bahkan lebih gila karena gaya hidup yang hedon, berbahagialah kamu yang hidup sederhana tapi penuh kasih sayang dan hidup tanpa hutang. Kamu harus banyak bersyukur punya keluarga yang utuh Yo " timpal Antoni, saat ini ia bersama mereka. Ia ditugaskan Om Rayyan untuk menghibur Raffa yang terlihat kacau saat datang ke restoran.


" Aku benar-benar stres dengan ini semua"Ia menghela nafas kasarnya, saat ini ia tidak ingin pulang dan tidak ingin bermain di rumah dengan si double kembar.


" Apa yang akan kamu lakukan. "tanya Antoni.


" Entahlah, impianku sudah hancur. Aku sudah mengalah untuk menjadi arsitek dan tadi Kinan tidak mau membatalkan perjodohan. Bahkan dia..., " ia menjeda ucapannya," Mencium bibirku, sungguh sangat berani. Dan kabur ke kamar, luar biasa! "ia menggelengkan kepala.


" Hahahaha... " Rio tergelak tawa, dan semua orang menatapnya.


" Apa ada yang lucu? "tanya Raffa dengan tatapan tajamnya.


" Sorry bro, gue cuma nggak nyangka si Kitis akhirnya berani mencium lu . Dan pasti kalian berdua ciuman yang pertama kali kan "ia mengulum senyumnya. "Kamu saja yang tidak peka dengannya, dari tingkah lakunya saja sudah menggambarkan bahwa ia bucin sama lu Raff" ia menerangkan bahwa Kinan tidak pernah menganggapnya kakak, ia selalu menempel dan menaruh hati pada sahabatnya sejak dulu.


"Benarkah?!, apa aku tidak peka seperti itu" ia mengusap wajah dengan kasar.


"Aku saja yang tidak akrab denganmu juga tahu bahwa Kinan suka denganmu" celetuk Antoni. Hingga terdengar kembali hembusan nafas kasar dari sahabatnya.


"Drt.. Drt..." sejak mereka mengobrol ada saja pesan masuk di handphone Raffa.


"*Mas, adik ngamuk dan nangis terus nyariin mas"


"Mas, Fafa dan Alif bingung adik nggak mau diam"


"Mas Raffa, sayang kan sama kami. Pulang ya mas, adik rewel. Alif pusing*"

__ADS_1


Ia menghela nafas kasarnya kembali dan teringat pesan dari ibunya sebelum pergi bahwa ia menitipkan adik-adik untuk dijaga dan jangan meninggalkan salat lima waktu.


"Gue cabut dulu, si Kaka nangis nyariin gue" ucapnya sembari membawa tas pribadinya.


"Gue do'ain masalah lu cepat kelar." Antoni menepuk bahu sahabatnya.


"Gue do'ain yang terbaik untuk lu Raff, kalau lu mau ke luar negeri kabarin kita. Gue pengen anterin lu ke bandara, siapa tahu nular suatu saat gue bisa kuliah di luar negeri juga, hehehe" ucap Rio dengan cengengesan.


"Thanks bro, gue cabut dulu" Raffa berjalan cepat menuju lantai satu namun tanpa sengaja Ia bertemu dengan bu Ria dan kedua anaknya.


"Kak Raffa...!" teriak Halwa, ia melihat Raffa yang berjalan terburu-buru.


"Eh, Halwa" ia melihat gadis kecil itu, "Bu Ria dan Hanin" ia melihat mereka yang sedang makan di restoran tersebut.


"Kak Raffa sudah lama tidak main ke rumah, kapan main lagi?" tanyanya


"Maaf kakak kemarin sibuk ujian jadi belum sempat main" ia menepuk lehernya seolah merasa tidak enak. Ibu bagaimana kabarnya?" tanya Raffa, ia mencium tangan bu Ria dan duduk sebentar untuk basa-basi.


" Alhamdulillah sehat Nak, gimana kamu sudah lulus belum? "tanya bu Ria, ia sangat senang bisa bertemu dengan Raffa kembali, anak yang sopan dengan pembawaan yang tenang.


"Lalu gimana?, Mau kuliah atau kerja?" tanyanya kembali. "Kalau bisa kamu kuliah Nak, sayang kalau hanya lulusan SMA. Pilihlah fakultas sesuai keinginanmu,kalau kamu tidak punya biaya, ibu bisa jadi orang tua angkat biar ibu yang menguliahkanmu sampai kamu wisuda" ujarnya, sejak awal bertemu dengan Raffa ia tidak tahu siapa anak lelaki itu sebenarnya, yang ia tahu hanya anak sederhana yang hobi menggambar.


"Sa...saya mungkin akan kuliah dan menjadi arsitek bu" ia menundukkan kepala.


"Alhamdulillah ibu bangga padamu, Nak Raffa akan kuliah dimana? Semoga suatu saat Hanin bisa nyusul kuliah disana jadi bisa bareng denganmu. Ya Hanin ya" ia melirik anaknya yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dan sang putri hanya menganggukan kepala, ia melirik ke arah Raffa. Saat pertama ia menerima lukisan buatan Raffa ia menjadi lebih bersemangat untuk menggambar, ia lebih tertantang untuk bisa menggambar lebih baik dari Raffa.


"Mungkin di Inggris namun belum tahu universitas mana" ia kembali menundukkan kepala, dan bu Ria hanya mengenyitkan dahinya. Ia bingung dengan ucapan Raffa, untuk kuliah di luar negeri bukan perkara mudah, jika tidak mendapatkan beasiswa itu sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan disana terbilang mahal,belum untuk biaya hidup di Inggris yang cukup menguras kantong.


"Apa kamu mendapatkan beasiswa?" selidik bu Ria. Dan Raffa hanya menggelengkan kepala.


" Jawab pertanyaan ibu dengan jujur" ia mulai menggeser kursinya agar sedikit mendekat dengan Raffa, "Apa kamu anak orang kaya?" tanyanya lagi.


Raffa menganggukan kepalanya, ia mengiyakan pertanyaan bu Ria.

__ADS_1


"Oh God..!, feelingku memang benar sejak awal kamu bukan anak sembarangan" ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu anak siapa?, coba katakan pada ibu"


Ia menghela nafas panjangnya sebelum mengatakan kebenaran, "Anak Davian Ahmad tepatnya anak tirinya. Saya Raffa Raihan anak dari mama Navysah pemilik butik Adzany"


"Uhuk.. Uhuk.." Hanin tersedak mendengar pernyataan dari pria di depannya. " What..!! berarti kak Raffa anak dari Navysah yang influencer itu" pekiknya tidak percaya. Kalau Ayah tahu dia pasti girang banget mah minta foto idolanya, ayah kan ngefans sama tante Navysah "


Bu Ria hanya menganggukan kepalanya, ia tahu suaminya sangat mengidolakan seorang influencer yang wara-wiri di sosial media dan cerita perjuangan sukses dari seorang Navysah yang dulunya bukan siapa - siapa sekarang menjadi pengusaha sukses.


" Jadi Ayah kamu pemilik restoran ini dan seorang pengusaha properti yang sukses tapi kenapa ku mau jadi waiter disini?" tanyanya, ia tidak menyangka Raffa seorang anak Sultan yang sedang menyamar menjadi pelayan.


" Hanya iseng bu, cari pengalaman hehehe "ucapnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bu Ria hanya menganggukan kepala, "Pantas saja kamu sangat tampan dan baik, orang ibumu juga sangat cantik dan santun.Mata kamu indah mirip ibumu"


Raffa hanya memutar bola matanya dengan malas, orang lain yang belum mengenal ibunya pasti akan berkata ibunya sangat santun jika diluar. Namun sebenarnya saat didalam rumah dia seperti ibu lainnya yang selalu berteriak saat anaknya tidak mau menurut. Apalagi saat ibunya sawan dan dirasuki setan sengkleh sudah pasti rumah akan rame dengan suara tawa yang menggelegar di seluruh ruangan.


"Hati-hati kalau kuliah disana, sering - seringlah kabari ibu. Suatu saat Hanin akan menyusulmu kuliah disana, dia ingin belajar animasi agar bisa meneruskan perusahaan Ayahnya"


Raut wajah Raffa kembali murung saat mendengar kata animasi. "Kenapa setiap anak harus meneruskan perusahaan Ayahnya, andai saja Ayah Davi seorang animator pasti aku dengan senang hati akan meneruskan tanpa beban" gumamnya dalam hati.


"Iya bu, kalau begitu saya pamit dulu. Adik sudah menunggu dirumah.Assalamualaikum"


"Walaikumm salam"


Ia mengendarai mobil BMW tipe terbaru menuju rumahnya.


"Hah... tidak kusangka kak Raffa tajir melintir bawa mobil mewah padahal saat datang ke rumah ia membawa motor odong-odong" ia melihat Raffa dengan mobil mewahnya.


"Dia memang pria sederhana dan tidak sombong,padahal mama berniat menjadikan dia anak angkat ternyata dia anak Sultan" ucap bu Ria sembari mengunyah makanannya yang sudah dingin.


* **

__ADS_1


Hai para reader, Author mau nanya serius. Kalian suka sad ending atau happy ending? Please coment ya.


Jangan lupa like dan Vote nya, Matursuwun 😁😘😘


__ADS_2