Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 93


__ADS_3

Raffa dan keluarganya datang ke kediaman Kinan. Mereka membahas tentang tanggal, konsep dan gedung yang akan dipakai untuk acara pernikahan.


"Kinan mau mahar apa?" tanya Navysah


"Terserah Raffa saja mah, aku tidak ingin memaksanya. Sedikit pun tidak masalah, yang penting halal." ucap Kinan tersenyum malu-malu.


"Ya ampun, Kinan memang gadis bodoh. Lihat! Navysah, anakku benar-benar pasrah." Ifa menggelengkan kepala.


"Mama akan memberikan yang terbaik untukmu sayang." Navysah mengelus rambut Kinan.


Setelah bermusyawarah tentang pernikahan, Raffa mengajak Kinan untuk pergi ke Mall.


"Raffa kita akan ke Mall, beli apa?" tanya Kinan. Ia begitu bahagia karena bisa kencan bersama Raffa.


"Beli cincin pernikahan, tapi sebelumnya kita mampir sebentar. Akan aku kenalkan dengan seseorang." Raffa masih menggemudikan mobilnya.


"Siapa?"


"Nanti kamu tahu sendiri." ucapnya tanpa melihat kearah Kinan,


" Kinan, aku sedang berburu waktu. Kita harus membeli cincin terlebih dahulu, aku akan sibuk dan aku mohon kamu ngertiin aku ya." pinta Raffa


Kinan menganggukan kepala.


"Good Girl." Raffa mengusap rambut Kinan.


"Nanti setelah menikah, aku akan kembali ke Inggris selama tiga bulan. Aku masih punya kontrak yang harus diselesaikan, apa kau mau ikut denganku? Kita bisa bulan madu disana?" Raffa berharap Kinan mau ikut dengannya ke Inggris, setelah itu bisa kembali ke Indonesia.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku." Kinan mulai bimbang, ia tidak ingin meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter. Impian yang sejak dulu ia inginkan.


"Kamu bisa cuti atau resign.Aku masih sanggup memberi nafkah untukmu Nan, atau nanti setelah pulang ke Indonesia, kamu bisa cari pekerjaan lagi jika kamu mau." bujuk Raffa


"Tapi mereka semua sudah seperti keluargaku. Aku masih betah bekerja di rumah sakit itu Raffa."


Raffa merasa kecewa dengan pilihan Kinan. "Baiklah, jika itu maumu. Aku tidak akan memaksa, tapi ingat setelah menikah nanti kamu harus nurut denganku."


Kinan menganggukan kepala


Mereka tiba di restoran D & R untuk bertemu seseorang.


Raffa menggandeng tangan Kinan dan masuk ke dalam restoran. Terlihat seorang perempuan cantik melambaikan tangannya.


" Sudah lama menunggu, Jihan. "sapa Raffa


" Lima belas menit. "Jihan tersenyum manis.


Kinan mencoba mengingat nama Jihan, siapa dia? seperti tidak asing wajahnya." gumam Kinan dalam hati.


"Oh, dia teman Raffa di Inggris. Aku beberapa kali melihatnya saat bervideo call dengan Raffa." gumam Kinan dalam hati.


" Jihan, kenalkan ini Kinan calon istriku."


"Jihan."


"Kinan."


Mereka saling mengenalkan diri.


"Kau sendirian? Dimana Arka?" Raffa membuka daftar menu dan memilih beberapa makanan.


"Arka sibuk, dia sedang bekerja keras mengumpulkan rupiah untukku hihihi ." Jihan terkekeh, namun dari sorot matanya terlihat sendu. Ia melihat kemesraan Raffa dan Kinan saat memilih menu bersama.


"Jus alpukat dan jus jeruk, makanannya ikan gurame bakar, sambal terasi, cah kangkung, udang saus padang, cumi krispi ." ucap Raffa pada waitress.


"Kapan kalian akan menikah?"


"Bulan depan tanggal lima Mei.Jangan lupa datang ya." Kinan melirik Jihan beberapa kali, ia tahu sorot mata perempuan di depannya seolah menyiratkan rasa cinta pada calon suaminya.


"Oh, selamat ya." Jihan tersenyum kikuk, hatinya begitu teriris mendengar Raffa akan menikah. Jihan tahu Raffa sudah memiliki tunangan, namun kedekatannya dengan Raffa yang sudah sepuluh tahun membuat dirinya nyaman dan tumbuh perasaan cinta.


"Aku permisi dulu ke toilet." Kinan mencoba pergi agar mereka bisa berbicara secara intens


"Kau membawanya?" tanya Jihan, setelah beberapa saat Kinan pergi.


"Aku harus membawanya, dia calon istriku.Aku ingin mengenalkan padanya ada satu teman perempuanku yang sangat baik."


"Kamu jahat!" cebik Jihan. "Menorehkan luka pada hatiku." Jihan mengerucutkan bibirnya.


"Ahh..., ingin rasanya aku mengatakan bahwa kau tidak boleh menikahinya. Tapi, itu tidak mungkin." Airmata Jihan mengalir begitu saja.

__ADS_1


"Maafkan aku Jihan tidak bisa membalas perasaanmu."


"Aku tahu."


"Kamu akan menikah dengan Arka kan?"


Jihan menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Entahlah, mungkin aku masih belum move on darimu." Jihan berkata begitu jujur, airmata mengalir kembali membasahi pipinya.


"Maaf."


"Sudahlah, ini memang jalan takdirku."


"Aku berharap kita bisa berteman baik dan kamu segera mendapatkan pria baik." ucap Raffa dengan tulus


"Aamiin." Jihan sedikit terhibur dengan do'a Raffa. " Ini ambilah." Ia menyerahkan sebuah flashdish. " Ini informasi beberapa orang terkaya di kota ini. Mereka biasa membeli saham perusahaan, aku mendapatkan info ini dari pamanku.Ku harap kau bisa melobinya. "


"Apa dia tahu kamu pemilik Hara?"


Raffa menggelengkan kepala.


"Cih!, Raffa kamu memang tidak berubah. Cobalah jujur padanya kalau kamu ini pemilik Hara dan perusahaanmu sedang tidak baik-baik saja. Komunikasimu payah sekali Raff!" gerutu Jihan.


"Tidak sekarang, mungkin nanti setelah kondisi perusahaan membaik, aku akan jujur padanya." Raffa segera menyimpan flashdish di dalam dompetnya.


"Adikku mau membeli sahamku, aku sangat bersyukur. Tinggal dua orang lagi yang harus aku lobi, maka perusahaanku akan aman. Aku harus mencari investor yang berpihak padaku dan itu cukup sulit." Raffa menghembuskan nafas panjangnya.


"Aku harap kau akan berhasil." Jihan mengatakan dengan tulus


"Jihan, terima kasih untuk semuanya." ucap Raffa dengan tulus kembali, "Kamu selalu membantuku."


"Aku akan mendukungmu, semangatlah bekerja agar si nona manja itu bisa hidup dengan baik tanpa kekurangan satu apapun." Jihan mencoba tersenyum ikhlas, ia tahu tidak ada kesempatan untuknya menjadi orang ketiga.


Kinan melihat dari jauh kedua pasangan itu, mereka tertawa bersama dan terlihat sangat akrab.


" Makan dulu Nan. " Raffa memberikan Kinan sayur dan ikan yang sudah di bersihkan durinya agar Kinan makan dengan nyaman.


"Ah!, kalian membuatku iri saja." decak Jihan,ia melihat Raffa begitu sayang pada Kinan.


Kinan merasa kesal, kenapa Raffa memberikan porsi lebih banyak untuk Jihan sedangkan dirinya sedikit. Rasa cemburu mulai menjalar di hati Kinan.


" Aku mau udang itu." pinta Kinan. Raffa menyendok udang dan memberikannya di piring Kinan.


"Aku juga mau." Raffa menyendokan udang ke dalam piring Jihan. Jihan ingin tertawa saat melihat wajah Kinan yang cemburu karena Raffa peduli dengannya.


"Raffa, aku mau nasi lagi." Jihan memberikan piringnya kearah Raffa.


"Aku juga mau." Kinan tak mau kalah, ia menyodorkan piringnya ke arah Raffa.


"Ya ampun Jihan sengaja banget bikin Kinan cemburu, setelah ini Kinan pasti ngambek." gumam Raffa dalam hati.


Jihan hanya menggulum senyum, ia senang membuat Kinan cemburu padanya.


Kinan hanya diam saat Raffa menjalankan mobilnya kearah Mall. Kinan hanya menjawab singkat pertanyaan Raffa dan terdiam kembali.


" Kamu kenapa lagi? " Raffa mencoba sabar dengan sikap Kinan yang terkadang mendadak menjadi pendiam.


"Tidak apa-apa."


"Yakin."


"Hmm."


"Cemburu sama Jihan?" tanya Raffa langsung


"Iya."


"Dia teman kami.Disaat aku dan Rio kesusahan, dia selalu menolong."


"Sepertinya dia suka denganmu."


"Dia bukan suka tapi cinta." jawab Raffa sembari tersenyum dan Kinan menatap tajam kearah Raffa.


Raffa menghentikan mobilnya, "Dia memang cinta padaku tapi tidak berniat untuk merusak hubungan kita karena aku tidak membalas perasaannya. Cuma kamu Nan yang aku sayangi." Raffa menggenggam tangan Kinan dengan erat.


"Bohong." Kinan membuang wajahnya kearah lain.

__ADS_1


"Cup, beneran Nan" Raffa mencium kening Kinan, namun Kinan segera mengusapnya seolah tidak ingin dicium.


Raffa menghela nafas kasarnya,"Cup, cup." ia mencium pipi Kinan.


"Sudah ya jangan ngambek, please." Raffa tidak ingin melihat Kinan marah karena itu akan menambah beban fikirannya.


Kinan tersenyum setelah Raffa mencium pipinya, ini pertama kalinya Raffa berinisiatif untuk mencium dirinya.


"Nah, gitu dong senyum." Raffa segera melajukan mobilnya kembali kearah Mall.


* **


Plaza Indonesia,


Raffa membelikan Kinan beberapa baju dan sepatu. Dan mereka masuk ke sebuah toko perhiasan. Kinan melihat beberapa bentuk model terbaru, ia begitu berbinar saat kemilau berlian itu bersinar terang.


"Bagus - bagus, pilih yang mana Raff?" Kinan melirik Raffa yang sedang memaikan handphonenya.


"Sebentar, aku ada email dari Rio. Kamu pilihlah yang menurutmu bagus." ucap Raffa tanpa menoleh ke arah Kinan. Raffa keluar toko dan menelepon seseorang.


Kinan menatap dari jauh calon suaminya "Sesibuk itukah Raffa, hingga tidak sempat memilih cincin pernikahan." gumam Kinan dalam hati.


Setelah selesai dengan teleponnya Raffa menghampiri Kinan." Sudah?"


Kinan menunjukkan cincin pilihannya yang terlihat minimalis. Raffa hanya menyipitkan dahinya." Beneran pilih yang ini? "tanyanya


" Ini yang murah, aku takut kau tidak punya uang. "bisik Kinan di telinga Raffa.


" Yang benar saja, hahaha... "Raffa tertawa dengan ucapan Kinan.


" Mba, tolong berikan aku cincin pernikahan yang terbaik. "pinta Raffa pada pelayan toko.


Raffa mencoba beberapa cincin dan memasukan ke jari manis Kinan." Kalau yang ini, bagaimana? "


Kinan sebenarnya suka dengan cincin yang Raffa pilih untuknya, begitu indah dan mewah. Namun, ia membelalakan matanya saat mengetahui harga cincin itu.


" Jangan yang ini mahal, yang lain saja."bisiknya di telinga Raffa


"Bungkus mba." Raffa membeli satu set perhiasan berlian untuk Kinan.


"Raffa ini terlalu mahal." bisiknya kembali


"Kamu tenang saja, mama Navysah yang membayarnya." jawab Raffa berbohong. Ia mengeluarkan kartu black card.


Kinan hanya menganggukan kepalanya, yang ia tahu Raffa tidak punya uang sebanyak itu.


"Raffa, kamu akan memberiku mahar apa?" tanya Kinan penasaran, karena sejak acara pertemuan dua keluarga Raffa tidak pernah membahas dan bertanya tentang mahar.


"Uang sepuluh ribu mau?" Raffa tersenyum menggoda Kinan


"Ya ampun, diriku dihargai sepuluh ribu." cebik Kinan, " Goceng aja goceng!."sahut Kinan


"Kamu mau goceng, ya sudah aku akan memberimu mahar goceng." Raffa masih tertawa saat Kinan menggerucutkan bibirnya.


"Raffa aku serius,masa segemoy dan secantik aku cuma dapat goceng!"


"Aku juga serius.Kamu bilang tidak akan memaksaku dan yang penting halal." Raffa mengcopy perkataan Kinan saat pertemuan keluarga tadi.


"Raffa...!" Kinan berdecak kesal sampai ia melirik ke sebuah toko pakaian dalam.


"Ayo jalan, jangan aneh-aneh Nan. Aku tahu apa yang ada di otakmu." Raffa menggandeng tangan Kinan agar dia tidak masuk ke dalam toko itu.


"Aku mau lingery." Kinan tersenyum mengerlingkan matanya. Ia berbalik arah dan masuk ke dalam toko itu.


Kinan memilih beberapa lingery yang dia suka dengan berbagai model dan warna. Ia pun membeli beberapa pakaian dalam.


"Bagus yang mana?" Kinan menunjukan beberapa buah bra pada Raffa.


"Terserah kamu." Raffa membuang wajahnya ke arah lain, merasa malu berada di toko lingery.


"Aku mau keduanya."


"Ini koleksi terbaru mba, cocok untuk pengantin baru. Bahan lembut dan nyaman." Seorang pelayan menunjukan model terbaru pada Kinan.


Wajah Raffa memerah melihat lingery dengan model mini dan bahan yang menerawang.


"Ini kartunya." Raffa menyerahkan sebuah kartu atm pada Kinan. "Aku tunggu kamu di luar."


Kinan tertawa melihat wajah Raffa yang merona karena malu.

__ADS_1


"Aku pasti sudah gila membayangkan Kinan menggunakan lingery itu." gumam Raffa dalam hati.


__ADS_2