Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 102


__ADS_3

Alif


Alif merasa heran karena beberapa hari ini Anggrek selalu acuh padanya, Anggrek pun tidak pernah meminta Alif untuk pulang bersama apalagi sekedar bertanya kabar.


Alif selalu profesional dalam melayani pasien namun akhir - akhir ini bayangan Anggrek selalu menghampirinya. Entah kenapa ada kekosongan dalam hati Alif saat Anggrek tak pernah lagi mengirimkan pesan padanya. Alif mencoba untuk menepis semua itu,mencoba untuk bersikap seperti biasa dan memang tidak ada apa-apa diantara dirinya dan Anggrek,Namun tidak bisa


Sifat Anggrek yang dewasa dan tidak manja membuat Alif merasa nyaman saat bersamanya,apalagi Anggrek anak dari Om Kamil yang menurutnya sangat berwibawa. Om Kamil yang selalu sayang pada Alif dan Fafa layaknya orang tua sendiri. Siapa yang tidak mau menjadi menantunya. Tidak akan ada yang menolak berjodoh dengan Anggrek yang pintar dan santun.


Tante Jasmine, bunda dari Anggrek orang yang cukup cerewet dan baik. Walaupun sedikit cerewet tidak dipungkiri dia seorang ibu yang sangat sayang dengan putri semata wayangnya, apapun keinginan Anggrek selalu dipenuhi bundanya. Terkadang Anggrek selalu curhat dengan over protektifnya bunda kepadanya.


"Bunda takut aku kenapa - napa." ujar Anggrek, "Dia selalu bilang, jangan berteman dengan sembarang orang yang akan memperburuk dirimu."


"Biarpun dulu bunda genit dengan Ayah Kamil. Kamu jangan seperti bunda. Bunda ingin yang terbaik untuk kamu." Ini ucapan Anggrek yang selalu ia katakan pada Alif.


Namun saat memikirkan Anggrek, lamunan Alif terhenti saat suara perawat mengingatkannya untuk pulang karena jam praktik sudah berakhir.


" Kami sudah menyelesaikan semuanya, kami pamit dulu." ujar salah seorang perawat.


"Iya, terimakasih. Saya masih ada yang harus diselesaikan." Alif menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Ia menutup mata sejenak untuk melepaskan sedikit rasa lelahnya hari ini.


Tiba - tiba Alif terjaga, ia teringat kembali dengan Anggrek. Alif buru-buru membereskan tasnya karena tidak ingin kalah start dengan Alan. Ya, Alan adalah salah satu teman dekat Anggrek dan beberapa hari ini mereka sering pulang bersama.


Alif berlari mengejar Anggrek hingga ia menabrak seorang gadis yang ia kenal.


"Brukk..."


"Aww... Isshh..." gadis itu terjatuh ke lantai karena tersenggol badan Alif yang cukup tinggi.


"Maaf, saya tidak sengaja." Alif merasa menyesal dengan perbuatannya


"Tid.." Hanin menoleh kearah Alif, "Eh, kamu Lif. Aku kira siapa."


"Eh, kamu Hanin ya, kok ada disini." tanya Alif, ia melihat Hanin bersama wanita paruh baya yang masih terlihat cantik seperti ibunya.


" Habis cek up kesehatan mama seperti biasa, kamu kerja disini Lif?" tanya Hanin.


"Iya." namun mata Alif masih mencari Anggrek yang tidak terlihat lagi olehnya.


"Alif, kenalin ini mama aku."


Alif tersenyum dan berjabat tangan dengan ibu Ria. "Saya Alif tan."


"Saya ibu Ria, mamanya Hanin. Kamu si kembar itu ya anaknya Navysah. Duh, tampan banget sih mirip bapaknya."


Bu Ria mengingat wajah Alif yang mirip Davian, karakter yang mirip. Tak banyak bicara dan terlihat cuek.


"Saya pergi dulu Hanin,Tante, assalamualaikum." Alif berlalu pergi tanpa basa-basi.


"Walaikumm salam." jawab mereka bersama. Hanin masih terlihat senyum - senyum sendiri melihat Alif pergi dari pandangannya.


"Sudah beralih hati, Naksir sama si kembar?" tanya bu Ria, ia melihat Hanin yang selalu tersenyum melihat Alif.

__ADS_1


"Nggak mah, Hanin cuma cinta sama Adit. Kalau Alif cuma selingan aja cuci mata. Dia tidak banyak bicara dan sopan, lelaki idaman seperti mas Raffa."


" Iya tampan juga si kembar, yang satunya lebih ramah dan rame mama juga suka dia.Mama berharap kamu berjodoh dengan salah satu diantara mereka lho. "


" Oh... No! Please mah, jangan membuat suasana hati Hanin kacau dengan menyebut pria gila itu! Amit-amit! "


Bu Ria hanya tersenyum saat melihat wajah Hanin yang memberengut.


" Anggrek. "teriak Alif, ia berlari dan mencengkal lengan Anggrek yang akan memasuki mobil Alan.


" Apaan! " Anggrek menoleh dan menunggu ucapan dari Alif, ia masih saja termenung.


" Itu... itu... Mm... "Alif masih mencoba mencari alasan agar Anggrek tidak pulang bersama Alan.


" Mama Navysah ingin bertemu denganmu,dia butuh seseorang untuk berdiskusi dan menemaninya mengambil beberapa barang keperluan pernikahan mas Raffa ." Alif sengaja berbohong agar Anggrek bisa ikut dengannya. Alif membuang wajahnya kearah lain.


" Beneran?! " Anggrek tidak percaya dengan ucapan Alif, ia tahu Alif tidak pandai berbohong.


" Isshhh... kok kamu tidak percaya sih." desis Alif dengan kesal.


Anggrek hanya tersenyum saat melihat wajah Alif yang kesal.


" Alan, aku tidak jadi ikut denganmu. Maaf sudah membuatmu menunggu." Anggrek menutup kembali pintu mobil Alan dan berjalan kearah mobil Alif.


"Oke ngrek, gue duluan ya." Alan tersenyum saat Anggrek pergi meninggalkannya. "Pasangan yang aneh." lirih Alan


* **


"Mah, nanti saat Anggrek datang suruh dia ambil baju pengantin di butik ya." pinta Alif, " Anggrek sedang tidak banyak kerjaan. Mama bisa menyuruhnya kesana kemari." Alif sengaja mengirim beberapa pesan kepada ibunya sebelum ia sampai ke rumah. " Ya mah ya, mama yang suruh Anggrek ya, ya, ya. "pinta Alif dengan emoticon memelas


" Kamu sedang apa? "Anggrek sejak tadi melihat Alif yang selalu gusar dan sibuk dengan ponselnya.


" Tidak apa-apa. " Alif memasukan kembali ponselnya ke dalam saku baju.


" Drt.. Drt... " ponsel Anggrek bergetar Tante Navysah calling.


" Assalamualaikum Tan. "


" Oke tan."


"Baik."


"Walaikumm salam. " Anggrek menutup ponselnya.


"Ada apa Nggek." tanya Alif


"Tante Navysah menyuruh kita ambil gaun di butik setelah itu cek ballroom hotel yang akan dipakai untuk pernikahan mas Raffa."


"Alhamdulillah...huh..." Alif menghembuskan nafas panjangnya, ia merasa lega karena ibunya mau bekerja sama dengannya.


"Alhamdulillah untuk apa?" tanya Anggrek, ia melirik Alif yang terlihat gugup

__ADS_1


"Alhamdulillah, karena...Mmm.. karena mas Raffa akan menikah dengan mbak Kinan. Mereka sejak kecil bersama, akhirnya menikah juga."


"Mereka memang berjodoh, saling melengkapi. Mas Raffa pendiam, mbak Kinan yang cerewet. Mas Raffa sabar, mbak Kinan bar-bar. Aku pun tidak tahu nanti aku berjodoh dengan siapa, bisa jadi Fafa atau Alan.Lucu kali yah hidup bersama dengan salah satu dari mereka."


Anggrek melirik kearah Alif kembali, namun pria disebelahnya tidak bergeming dan tidak menanggapi ucapanya.


Alif melihat seorang gadis kecil yang berjualan bunga mawar dengan beraneka warna di perempatan lampu lalu lintas. Saat lampu merah menyala,gadis kecil itu menghampiri setiap mobil dan menawarkan bunga mawar, hingga tepat ia berhenti di samping mobil Alif dan menawarkan bunga.


"Satu dua puluh ribu Om. Warna bunga mawarnya ada merah, putih, kuning dan pink. Silakan dibeli Om." wajah gadis itu begitu memelas.


Alif mengeluarkan satu lembar uang kertas bernilai seratus ribu, ia membeli dua bunga berwarna merah dan putih.


Rona bahagia gadis kecil itu terlihat dengan sangat jelas. " Alhamdulillah ada yang beli. " ucapnya dengan senang. "Ini kembaliannya Om." gadis kecil itu memberikan uang kembalian pada Alif.


"Tidak usah."


"Beneran Om." gadis kecil itu semakin tersenyum lebar, "Alhamdulillah, mama pasti senang aku bawa uang banyak. Bisa berobat ke rumah sakit."


"Mama sakit apa?" tanya Alif setelah mendengar celotehan gadis kecil itu.


"Mama nggak bisa jalan, waktu itu jatuh di kamar mandi kakinya bengkak. Mau ke rumah sakit nggak punya uang." Gadis itu berkaca-kaca saat menceritakan keadaan ibunya.


"Ayah kemana?" selidik Alif


"Ayah ngojek pulang malam sama adik kecil."


Alif merasa terenyuh mendengar cerita gadis kecil itu. Ia memberikan beberapa lembar uang dan sebuah kartu nama.


"Berikan kartu ini sama Ayah kamu, suruh telepon Om. Biaya pengobatan ibumu gratis,Om yang bayar."


"Beneran Om."


"Iya."


"Tit.. Tit.. Tit..." suara klakson terdengar sangat nyaring karena Alif tidak menjalankan mobilnya disaat lampu berwarna hijau.


"Om pergi dulu."


"Makasih Om." teriak gadis itu,ia melihat mobil Alif berlalu pergi.


" Ini untukmu." Alif memberikan mawar itu untuk Anggrek


"Terima kasih," Anggrek tidak bisa berkata - kata lagi. Melihat Alif yang begitu peduli dengan orang lain membuat hati Anggrek meleleh.Ia juga begitu senang karena ini pertama kalinya Alif memberikan dia bunga.


Anggrek tahu Alif pria baik, walaupun Alif terlihat dingin dan ketus namun disisi lainnya Alif pria yang selalu peduli dengan orang lain. Alif terkadang ikut menjadi dokter relawan saat terjadi korban bencana alam. Dia benar - benar tidak pernah mengeluh walaupun tidak pernah dibayar.


"Bunga ini kenapa untukku?" Anggrek mencoba memancing agar Alif jujur dengan perasaannya.


"Memangnya untuk siapa lagi!, di mobil ini cuma ada kamu.Kalau ada si Inha disini pasti sudah kuberikan padanya." ucap Alif tanpa melirik Anggrek.


Anggrek langsung memberengut dan membuang wajahnya keluar kaca mobil. Ingin rasanya ia mencekik Alif yang begitu menyebalkan.

__ADS_1


" Aku ingin bunuh seseorang, ada pisau nggak sih disini! " seru Anggrek saking kesalnya." Pengin aku lempar tuh orang ke meja operasi, aku mutilasi tanpa sisa."


Namun Alif hanya tersenyum melihat Anggrek yang mengomel dan selalu menggerucutkan bibirnya.


__ADS_2