Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 142


__ADS_3

Fafa mulai kesal dengan sikap Hanin, ia selalu berangkat kerja lebih awal dari biasanya dan pulang tengah malam. Saat Fafa menegurnya Hanin selalu cuek dan tidak peduli. Tidak ada sarapan di pagi hari dan rumah terasa sepi.


Hanin begitu mementingkan pekerjaan, ia benar-benar gila kerja.


Disaat hari libur, Hanin tetap bekerja. Ia selalu mengecek semua persiapan untuk launching bulan ini. Fafa semakin tidak mengerti dengan sikap Hanin. Disaat dirinya ingin menyentuh sang istri, Hanin selalu menolak dengan alasan kelelahan karena bekerja.


Frekuensi keduanya untuk bertemu di rumah pun jarang, terkadang Fafa lebih memilih untuk pergi ke apartemennya sendiri.


"Hanin, aku lapar. Tolong buatkan aku makanan." pinta Fafa, ia begitu lelah karena pekerjaan yang begitu menumpuk.


"Aku sibuk, kamu pesan online saja ya." jawabnya tanpa melirik ke arah Fafa.


"Hanin, aku ingin makan masakanmu. Bikin makanan yang mudah saja, nasi goreng kek, ayam kek!"


"Kok kamu cerewet dan ribet banget sih, Fa! Aku sedang bekerja, tiga hari lagi launcing game terbaru."


"Aku tidak peduli, pokoknya aku mau makan sekarang. Dan perlu kamu tahu Nin, kamu tidak bekerja saja aku masih sanggup memberimu makan." Fafa sedikit terpancing emosi, disaat dirinya lelah dan lapar istrinya tidak mau menuruti keinginannya untuk memasak.


" Aku order makanan online. "Hanin mengetikan pesanan sembari menggerutu.


" Dasar cerewet, kenapa dia rese banget sih, tidak seperti kak Raffa yang selalu simpel dan tidak banyak mengatur. " lirih Hanin, namun Fafa mendengar ucapan istrinya yang sedang menggerutu tentang dirinya.


" Apa maksudmu!, kamu membandingkan aku dengan mas Raffa, HAH! " sentak Raffa


" Aku cuma bilang, kok kamu rese, ribet dan suka mengatur tidak seperti kak Raffa. "


" Hanin, denger ya. Gue itu Fafa bukan Raffa!" teriak Fafa dengan kesal, amarahnya begitu memuncak saat ia dibandingkan dengan kakaknya.


" Aku sudah bilang, jangan pernah membandingkan diriku dengan Alif ataupun mas Raffa. Kalau kamu ingin mempunyai suami seperti mereka, menikahlah dengan mereka, bukan denganku!" ucapnya dengan tidak suka


"Kamu fikir aku tidak sibuk, HAH!" sentak Fafa kembali


" Hanin, aku tidak suka kamu bekerja terlalu keras, aku ingin kamu di rumah dan menyambutku saat pulang kerja, memasak untukku walaupun itu tidak enak, aku akan memakannya."


"Bahkan sekarang kamu tidak pernah memanggilku mas atau kakak, aku tidak mempermasalahkan. Tapi jangan pernah kamu membandingkan aku dengan yang lain!! " bentak Fafa dengan keras

__ADS_1


" Alif bisa menjadi dokter sesuai cita-citanya, mas Raffa menjadi animator dan memiliki perusahaan sesuai keinginannya juga. Sedangkan aku!, aku ingin menjadi youtuber tapi itu sulit karena aku harus bekerja di perusahaan Ayah. Aku sudah banyak mengalah tapi tidak ada yang bisa memahamiku, bahkan Ayah selalu membandingkanku dengan Alif. Hanya mama yang tahu keinginanku, cuma mama yang sayang denganku! " seru Fafa dengan nada tinggi.


" Fafa,tapi aku ingin bekerja. Aku wanita karir dan tidak mau hanya menunggumu di rumah! " Hanin


" Terserah kamu Nin! " Fafa masuk ke dalam kamarnya dan membawa tas ranselnya.


" Mau kemana? "tanya Hanin, ia melihat Fafa memakai sepatu dan ingin pergi dari rumahnya.


" Lebih baik aku pergi dari sini! " Fafa pergi tanpa melihat ke arah Hanin


Hanin hanya berkaca-kaca, ini pertama kalinya Fafa murka padanya.


* **


Hanin merasa kesepian, ia merasa sulit tidur karena Hanin sudah terbiasa memeluk suaminya saat tidur.


Ia tidak menyangka Fafa tidak pulang selama tiga hari, saat ia menelepon suaminya nomernya selalu tidak aktif.


Dan disaat launching game terbaru pun Fafa tidak menampakan batang hidungnya. Saat Kinan bertanya kenapa Fafa tidak datang, Hanin hanya menjawab Fafa sedang ada keperluan.


Raffa merasa curiga karena Fafa berangkat kerja lebih pagi dan Antoni selalu melaporkan bahwa Fafa sekarang lebih disiplin dan mampu menghandle pekerjaannya sendiri. Ini seperti bukan sifat Fafa


"Fafa kemana sih! " Hanin meremas tangannya, ia begitu kesal karena suaminya tidak pulang lagi. Ia menelepon Keken dan mendapatkan kabar kalau Fafa dua hari yang lalu pergi ke kota B, dan sekarang dia sudah bekerja di kantornya kembali.


Hanin memberanikan diri untuk pergi ke perusahaan Fafa. Ia membawa bekal makan siang untuk suaminya.


Hanin diantar Antoni masuk ke dalam ruangan Fafa. Namun saat Hanin masuk, Fafa tidak menyambutnya dengan baik. Ia tetap saja sibuk dengan banyak file yang menumpuk di mejanya.


"A.., makan dulu." Hanin berusaha menyapanya suaminya kembali, namun Fafa tetap saja tidak bergeming.


"A...." Hanin berkaca-kaca saat mengucapkannya. "Aku suapin ya."


Ia mendekat ke arah Fafa dengan membawa kotak makanan


"Aku tidak lapar,aku bisa beli makanan online. Kamu tidak perlu repot untuk memasak,kamu kan sibuk!" sindir Fafa " Aku juga bisa bersama wanita lain yang bisa diatur, tidak keras kepala apalagi gila kerja!"

__ADS_1


Sebuah sindiran pedas untuk Hanin, karena kemarin ia tidak mau melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


"Maafkan aku A..." Hanin menangis terisak, namun Fafa pergi meninggalkannya karena saat ini ia sedang di tunggu di ruang rapat.


Fafa hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia sebenarnya tidak tega untuk menghukum Hanin. Fafa juga sulit tidur saat tidak memeluk Hanin, namun ia ingin memberikan sedikit pelajaran agar istrinya tahu mana kewajiban dan mana hak nya.


Setelah selesai rapat Fafa kembali ke ruangannya. Ia merenggangkan dasi yang mengikat di lehernya, kepalanya terasa pusing karena pekerjaannya seolah tidak pernah habis.


Ia melirik kotak makan yang dibawa Hanin, dengan rasa penasaran ia membukanya. Hanin membuat nasi bento dengan ayam krispi mozzarella.


"Dia memang payah dalam hal memasak." Fafa hanya menghembuskan nafas kasarnya, ia melihat nasi bento yang tidak beraturan dengan banyak sayuran. Nasi bento berbentuk kepala beruang namun entah apa yang dibuat Hanin, seperti beruang yang menyedihkan dengan telur dadar orak - arik berceceran dimana - mana.


Fafa mencicipi masakan Hanin, walaupun berantakan namun kali ini masakan Hanin masih dapat di makan. Tidak terlalu buruk seperti pertama kalinya.


" Apa aku harus marah dulu baru kamu akan menurut padaku." gumam Fafa dalam hati, ia menghabiskan makanan hingga licin tandas.


Keken dan Khaffi yang masuk ke ruangan Fafa, kini melihat temannya sedang tersenyum sendiri.


" Fa, Hanin tadi pulang sambil nangis. Kamu ada masalah?" tanya Keken sembari menyerahkan berkasnya.


"Rumah tangga kalau nggak ada masalah ya nggak rame Ken, makanya lu nikah jadi lu tahu bagaimana rasanya berumah tangga."


"Apaan sih Fa, gue nggak mau nikah!" ucap Keken dengan ketus.


"Kalau aku sama Inha, boleh?!" goda Khaffi pada Fafa, ia tahu Fafa tidak akan mengizinkan dia mendekati adiknya.


"Eh! ******, lu nikah sama Inha. Gue sunat lu!" ancamnya


"Jawaban gue juga masih sama, No!" ucap Keken


"Pelit banget sih, calon kakak ipar. Gue beneran suka sama Inha. Gue ganteng, Inha cantik. Pasangan serasi kan."


"Bedalah, dari lahir aja beda. Inha nangis dengan suara merdu, lu nangis suara bengek. Inha minum air susu ibu, lu minum air tajin, Inha pendiam, nah lu pecicilan kayak ulet buah jambu. Pokoknya kagak, Awas lu deketin adik gue!"


" Emang susah ya kalau ngomong sama orang yang kerisnya lagi nganggur. Bawaanya sewot terus,sensi, darah tinggi terus. Mpu gandring aja punya banyak keris mampu ngasah tiap hari. Lah, lu punya satu, ngasah kagak karatan iya. " seloroh Khaffi sembari berlari dari ruangan Fafa

__ADS_1


" Eh, Fifi! Mau kemana lu, setan!!! " teriak Fafa dengan kesal, ia berlari mengejar Khaffi


Keken hanya terkekeh saat melihat keributan antara Khaffi dan Fafa.


__ADS_2