Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 74


__ADS_3

Kamar hotel Jessica


Hari ini hari yang paling membahagiakan untuk Jessica, karena ini hari pernikahannya. Ia memakai gaun putih dengan belahan V yang cukup rendah sehingga menampakkan kulit putihnya,dengan memakai mahkota berlian yang disematkan di atas tatanan rambutnya, terlihat cantik.


"Nan, perut gue nggak kelihatan besar kan?" bisiknya di telinga Kinan,


Kinan membungkuk dan mengelus perut Jessica " Hari ini mama adek cantik banget, perut ini masih rata. Cepet gede ya dek, tante tungguin adek keluar."ucap Kinan


"Kinan..." Jessica buru-buru memeluk Kinan, entah mengapa selama kehamilan ia ingin selalu berada di dekat sahabatnya satu ini. Jessica juga selalu cengeng dan merengek pada Kinan untuk membelikan beberapa makanan yang ia idamkan.


"Sudah siap belum?" tanya Juna yang tiba-tiba membuka pintu kamar hotel Jessica, ia melihat adik dan temannya saling berpelukan.


"Kok nangis Jess, ada apa?" Juna mendekati adiknya dan mengelus rambutnya."Jangan nangis, nanti makeupnya luntur." ia mengusap airmata adiknya


"Biasa bang, Jessica lagi melow bawaan dedek bayi." sungut Kinan


Juna melihat Kinan yang begitu cantik dengan kebaya warna biru, dengan makeup minimalis namun tidak mengurangi kecantikannya. Badan Kinan yang dulu kurus kini berubah sexy. Dada yang dulu rata kini sudah memiliki tonjolan yang cukup berisi. Luar biasa


"Ehem.. Ehem...biasa aja kali lihatnya" Jessica menatap tajam bang Juna yang melihat Kinan tanpa berkedip. Ia tahu abangnya menaruh hati pada sahabatnya namun Kinan yang polos hanya menganggap Juna sebagai kakak.


"Bang, aku sama Kinan cantikan mana?" tanya Jessica


Juna menepuk tengkuk lehernya, pertanyaan seperti ini sering Jessica lontarkan dan jika Juna bilang jujur lebih cantik Kinan maka adiknya akan menangis tersedu-sedu. Sindrom kehamilan yang aneh.


"Jelas dong cantikan adikku ini" jawab Juna sembari memeluk adiknya dan bergaya seolah ingin muntah dibalik punggung Jessica


Kinan yang melihat bang Juna seolah - olah mual hanya bisa mengulum senyum, ia tahu Jessica sangat sensitif selama kehamilan.


"Ingin foto sama padhe dan aunty" Jessica menirukan suara anak kecil. Dia bergaya dan memfoto dirinya bersama Juna dan Kinan .


"Sekarang Aunty dan padhe Juna" Jessica mendorong abangnya ke arah Kinan. Ia ingin kakaknya mempunyai foto berdua bersama Kinan.


"Senyum dong Nan, yang mesra gitu." perintahnya, "Kaku amat bang" protes Jessica pada kakaknya.


"Bang, tangannya di bahu Kinan biar terlihat akrab" ceriwis Jessica kembali.


Juna mencoba merangkul Kinan dan tersenyum kearah kamera Jessica


"Perfecto!" Jessica mengacungkan jempolnya. " Kayak pasangan beneran yah, cocok" goda Jessica


Kinan hanya tersipu malu, ini pertama kalinya ia berfoto berdua bersama kakak sahabatnya dan Jessica selalu menggodanya agar Kinan tertarik dengan bang Juna.


"Akan kukirimkan beberapa foto,dia benar- benar kurang ajar karena mengabaikan Kinan dan selalu membuatnya sedih. Si bodoh itu akan aku beri pelajaran." gumam Jessica dalam hati.Ia mengirimkan beberapa foto ke handphone Raffa


***


Sepanjang acara Kinan hanya tersenyum kecut dan sekedar menyapa beberapa tamu. Begitu banyak undangan yang datang tidak membuat dirinya merasa bahagia,dan bertemu beberapa alumni teman sekolah dulu membuat dirinya merasa rindu dengan Raffa, rindu yang begitu berat karena sang tunangan tidak pernah menghubunginya selama enam bulan terakhir.


"Kinan..." sapa Bagas, teman saat sekolah menengah atas dulu. "Kamu jadi brismaid" sambungnya lagi. Ia buru - buru memeluk Kinan dengan erat, seperti biasa mencari kesempatan dalam kesempitan saat bertemu dengan Kinan.


"Apaan sih gas, hobi kok peluk-peluk dari dulu" Kinan menjewer telinga Bagas


"Aww... sakit Nan. Dari dulu masih galak aja sih!" gerutu Bagas, ia tersenyum kembali melihat perempuan yang dulu pernah singgah di hatinya dan sekarang Kinan terlihat semakin cantik.

__ADS_1


" Nan, sekarang kalau dipeluk lumayan ada isinya nggak kayak dulu datar nggak ada tonjolan" bisiknya di telinga Kinan.


Kinan mendaratkan capitan bertubi-tubi,hingga Bagas meringis kesakitan.


"Olahraga dong, terus kulineran sama Inka jadi berat badanku bertambah sexy biar Raffa tidak berpaling dengan perempuan lainnya." jelas Kinan


"Pffttt... jadi semua ini kamu lakukan untuk si bodoh itu!" Bagas menertawakan Kinan, sebegitu cintanya gadis ini pada Raffa." Dia disana, kamu disini. Yakin dia setia?" tanya Bagas dengan mencibir


Kinan langsung menatap tajam kearah Bagas, rasa tidak sukanya terlihat sangat jelas ia tampakan." Diem lu...! " bentak Kinan.


" Jangan marah, kenapa kamu sensi banget sih. Biasanya kalau aku bercanda kamu tidak marah. Kita kan sudah berteman lama, masa kamu tidak tahu sifatku." Bagas melihat wajah Kinan yang terlihat ingin menangis, matanya mulai berkaca-kaca.


"Kamu kenapa, ada masalah?" tanya Bagas, ia selalu melihat Kinan tertawa namun kali ini Kinan begitu sensitif.


Kinan berlari menghindari kerumunan tamu, entah kenapa hatinya begitu teriris saat sahabatnya menanyakan keadaan dirinya saat ini. Bagas yang bingung dengan Kinan segera mengejarnya dan mencarinya hingga taman hotel.


"Kinan..." seru Bagas pada Kinan , ia duduk disamping dan melirik sahabatnya yang sedang menangis terisak.


"Ada apa? Apa yang bisa aku bantu untukmu?" tanya Bagas kembali


"Tidak apa - apa gas, aku memang cengeng dan lagi sensi." Kinan mengusap airmatanya.


"Aku minta maaf" ucap Bagas dengan rasa menyesal, "Kamu kangen Raffa?"


Kinan hanya menganggukan kepala, ia masih saja terisak mengeluarkan airmatanya.


"Video call saja jika kamu kangen."


" Kamu tenanglah, si bodoh itu bukan pria yang suka selingkuh. Dia pasti setia denganmu, dia pasti pulang." ujar Bagas seolah menguatkan hati Kinan agar sedikit tenang.Ia merengkuh Kinan agar bersandar di bahunya.


" Iya pasti pulang kan gas?, dia pasti setia denganku kan?, Raffa pasti akan menikah denganku kan? "tanya Kinan secara beruntun, ia membutuhkan dukungan agar perasaannya yang kini kacau sedikit lebih lega.


" Pasti, aku yakin itu! "tegas Bagas," Percayalah dengannya, Raffa pria yang baik. "


Hati Kinan merasa sedikit lega setelah mendapat dukungan dari Bagas, ia mengusap airmatanya dan mulai sedikit bersemangat.


" Dasar cewek bucin, si cengeng. Sudah besar masih saja menangisi si bodoh itu." gerutu Bagas," Kalau Raffa pulang akan kuberi pelajaran agar dia menyesal karena meninggalkanmu disini."


Kinan memukul dada Bagas dengan keras, "Berisik!, diamlah aku hanya ingin bersandar sebentar."


"Lama juga tidak apa-apa." sahut Bagas


"Percuma kamu pukul aku seperti itu,tidak terasa sakit. Aku ini polisi, sudah terbiasa mendapat hukuman fisik." Bagas terkekeh melihat Kinan yang kini mengerucutkan bibirnya.


Jessica dan Kinan lebih memilih menjadi dokter, sedangkan Bagas mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi seorang polisi. Mereka kerap berkumpul bersama di sela-sela kesibukannya. Saat Jessica kehilangan kontak Sammy yang ingin lari dari tanggung jawab setelah menghamilinya, Bagas lah yang membantu melacak keberadaannya.


Bagas menceritakan hal - hal lucu agar Kinan bisa tertawa kembali, namun tidak dengan seseorang yang sejak awal selalu mengikuti mereka.


Alif merasa geram melihat kedekatan Kinan dan Bagas sejak di dalam ballroom. Ia selalu merekam dan memfoto kegiatan calon kakak iparnya dan selalu melaporkan apa yang Kinan lakukan pada kakaknya yang kini berada di Inggris. Alif tahu mas Raffa kecelakaan parah karena Rio diam-diam memberinya kabar. Rio tidak ingin Raffa terpuruk sendirian tanpa ada satupun keluarganya yang tahu. Alif anak yang pendiam, dia mampu menjaga rahasia dengan baik. Saat Raffa berada di ruang ICU, Alif selalu menangis seorang diri di balik video yang Rio kirimkan. Ia selalu terlihat tegar dan menyemangati kakaknya agar sembuh dari patah tulang,Alif tahu seberapa keras kakaknya menjalani terapi agar bisa berjalan dengan normal kembali. Walaupun saat ini kakaknya masih berjalan dengan bantuan tongkat tetapi Alif yakin Raffa akan kembali seperti semula.


Disaat Fafa dan teman lainnya bermain - main, ia lebih suka berada di dalam kamar dan diam-diam video call dengan kakaknya. Alif pun berjanji akan berusaha menjaga adik-adik dengan baik terutama Fafa yang sulit diatur.


"Mbak Kinan, ayo pulang." ketus Alif dengan tatapan tidak suka pada Bagas.

__ADS_1


"Alif, kau disini." Kinan terkejut dan langsung menghampiri Alif, "Kok bisa?"


"Gantiin Ayah ke acara pernikahan anak rekan bisnisnya. Ayo kita pulang." Alif menggandeng tangan calon kakak iparnya.


Bagas hanya menggulum senyum, ia tahu adik Raffa yang satu ini irit dalam bicara, ketus mirip Om Davian, tapi dia anak yang jenius.


" Ya ampun si bocil ini sudah besar, dulu kecil banget. "goda Bagas dengan menepuk bahu Alif.


" Nggak usah sok kenal, dan jangan mengganggu tunangan kakakku. " ketus Alif dengan tatapan tajamnya, ia menarik tangan Kinan agar menjauh dari Bagas.


" Ya ampun, si bocil itu posesif banget jagain milik kakaknya. "ujar Bagas dengan menatap punggung Alif yang kini menjauh darinya.


Sepanjang perjalanan Alif hanya diam tanpa melihat kearah Kinan, rasa tidak suka ia tampakan pada calon kakak iparnya.Disaat kakaknya sedang berjuang keras agar bisa normal kembali, namun disini Kinan bercanda tawa dengan beberapa pria yang dia kenal. Sangat menyebalkan.


"Alif, kau kenapa"tanya Kinan, ia melihat Alif yang diam tanpa basa-basi dengannya." Apa mba bersalah padamu hingga kamu diamkan mba seperti ini? "


" Lebih baik mba diam"ketus Alif, ia tidak ingin Kinan banyak bicara karena akan mengganggu konsentrasinya dalam menyetir.


" Kenapa kamu begitu kesal saat mba bersama Bagas, apa kau cemburu?"tanyanya dengan selidik, " Kau ada perasaan sama mba hihihi?" seloroh Kinan dengan menebak-nebak isi hati Alif.


" Najis...!, Mana ada pria yang mau dengan mbak Kinan "cibir Alif dengan wajah mengejek


" Setan...!! "Kinan menjambak rambut Alif dengan kesal, kurang ajar kamu ya, tambah gede mulutnya kayak cabe. Sudah lupa kalau mba yang selalu anterin kamu sama Fafa ke toko buku,saat kalian masih piyik mba yang selalu mandiin kamu!" ketus Kinan,


"Sakit mbak, rusak nih rambut aku! " dengus Alif dengan kesal karena kini rambutnya terasa sakit dan acak-acakan karena dijambak Kinan.


"Syukurin!, kamu sih bikin gara - gara. Sudah tahu aku lagi kesal malah dibuat tambah kesal."ketus Kinan


"Ini namanya penganiayaan, aku laporkan ke mas Raffa agar mbak diomelin." tanpa sadar Alif keceplosan menyebut nama kakaknya.


Kinan menoleh kembali kearah Alif setelah adik iparnya menyebut nama Raffa, "Kamu sering komunikasi dengan mas Raffa?" tanyanya, "Apa dia baik-baik saja?, kenapa dia tidak menghubungiku?" tanyanya beruntun.


"Aku tidak berkomunikasi dengannya" tegasnya, "Sudah sampai, turunlah"


"Alif, kau jangan bohong dengan mba! "


"Terserah kalau tidak percaya, cepatlah turun. Aku ingin pulang sudah ngantuk."


"Brakkk...!!! " Kinan bergegas turun dengan wajah kesal dan ia membanting pintu mobil Alif dengan sangat keras


"Dasar Ngeselin..!!!" teriak Kinan setelah mobil Alif menjauh


Setelah membersihkan riasan makeupnya, Kinan bersandar di ranjang.Ia membuka galeri handphonenya dan melihat beberapa foto lama saat berdua bersama Raffa,"Aku kangen kamu Raffa, bagaimana kabarmu? " lirihnya sembari meneteskan airmatanya.


"Drt.. Drt..." Handphonenya bergetar dan terlihat satu nama yang sedang ia rindukan. Ia bergegas menekan tombol hijau.


"Assalamualaikum Nan" sapa Raffa diujung telepon.


"Walaikumm salam, Raffaaaaa...huhuhu..." Kinan tiba-tiba menangis mendengar suara pria yang dicintainya."Raffa... ak.. aku." belum sempat Kinan menuntaskan ucapannya Raffa langsung memotong.


"Ayo kita akhiri ini semua, jangan menungguku pulang. Menikahlah dengan pria lain." ujar Raffa diujung telepon.


"Hahhh...." Kinan terkejut dengan ucapan Raffa, rasanya seperti disambar petir di siang bolong.

__ADS_1


__ADS_2