Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 49


__ADS_3

Selepas salat subuh Navysah mengetuk pintu anaknya, ia akan berangkat ke Semarang kali ini bersama Inha karena ia tidak tega meninggalkan anaknya yang sakit jauh darinya.


"Tok.. Tok.. Tok.."


"Raff, ini mama Nak!. Tolong buka pintunya sebentar" pinta Navysah namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.Ia menghela nafas kasarnya dan memejamkan matanya sejenak, sejak kejadian semalam ia tidak bisa tidur memikirkan keadaan Raffa yang selalu mengurung diri.Ingin rasanya ia mendobrak pintu agar bisa melihat anaknya untuk yang terakhir kali sebelum dia pergi.


"Mama tahu kamu tidak tidur, bukalah pintu sebentar" pintanya kembali, ia masih tidak mendapat jawaban dari penghuni kamar.Hanya helaan nafas yang terdengar dari diri Navysah.


"Yasudah kalau kamu masih marah, mama pergi bersama Inha ya. Mama titip adik-adik, kamu jaga rumah jangan kabur lagi. Uang jajan sudah mama transfer ke rekeningmu, jangan lupa salat ya Nak!" seru Navysah, ia sengaja mengeraskan suaranya agar sang anak mendengar ucapannya.


Raffa hanya bergelung di selimut saat ibunya memanggil dari luar kamar. Ia tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini, hatinya masih sangat kesal dan kecewa. Bagaimana bisa ia dijodohkan dengan Kinan yang dia anggap adiknya sendiri.


Sepanjang hari ia hanya merebahkan dirinya di kamar, walaupun suara budhe Salma yang mengajaknya untuk makan siang namun ia tidak bergeming. Saat adik-adiknya memanggil untuk mengajaknya bermain ia pun tidak menjawab.Raffa hanya ingin menyendiri dan menggambar animasi di kamar.




Navysah langsung pergi ke rumah sakit, sedangkan Inha ia titipkan dirumah bersama Nara.Ia berjalan tergesa-gesa hanya ingin cepat sampai dan segera bertemu ibunya. Saat ia mengucapkan salam hanya ada Naysila yang menjawab, hari ini kakaknya menjaga ibunya sendiri sedangkan Febri harus berangkat ke bengkel.



"Gimana kabar mama mbak?" ucapnya sembari mencium kening ibunya yang sedang tertidur.Ia melihat ibunya terbaring dengan alat bantu pernafasan dan tangan yang masih diinfus.



" Ibu masih seperti itu Nav, dokter bilang harus pasang ring di jantung namun ibu kekeh nggak mau, kemarin dia bilang ingin pulang hiks.. hiks... "Naysila menutup wajahnya dan menangis , ia yang selama ini bersama dan selalu dekat dengan ibunya kini merasa sangat terpukul saat ibunya berkata ingin pulang." Mama ngomongnya sudah ngawur, kemarin minta ngobrol sama mas Denis. Tadi sebelum tidur ia nanya Davian mana kok nggak kesini lagi, padahal kemaren yang jaga Nara bukan Davian" ucapnya sembari menyusut air yang keluar dari hidungnya,ia mencoba untuk tidak menangis kencang agar sang ibu tidak terganggu.


__ADS_1


"Aku nggak mau kalau mama pergi dariku" lirih Naysila, " Lihat mama sakit begini rasanya biar aku saja yang gantiin mama, aku nggak sanggup lihat mama sakit Nav" ia sesenggukan dan mengusap air matanya. " Cuma kamu sama mama yang sangat berharga buatku, kita selalu melewati apapun bersama sejak dulu. Tapi kata dokter kali ini kita harus ikhlas, tapi aku nggak bisa" ucapnya sembari melihat wajah ibunya dengan nanar.


" Aku bisa kehilangan harta asal bukan ibu dan kamu" lirih Naysila.



"Mbak" Navysah memeluk erat kakaknya, ia pun tidak ingin kehilangan ibunya. Dari kecil hingga dewasa ia selalu berjuang bersama Naysila dan ibunya. Tidak ada yang lebih berharga dari seorang ibu bagi mereka. " Aku akan minta dokter untuk mengoperasinya dan aku akan membujuk ibu agar mau" ucapnya.



Naysila menggelengkan kepalanya "Sulit, tekanan darah ibu juga tinggi,umurnya juga sudah tua. Kata dokter dia harus terapi dulu untuk menstabilkan tekanan darah dan kesehatannya sebelum operasi namun semakin hari kondisi ibu semakin memburuk. Ibu bilang sudah lelah, capek, ingin pulang" Naysila menerangkan keadaan ibunya pada Navysah, ia pun menyusut air yang keluar dari hidungnya.



"Kita juga harus kuat dengan apapun yang terjadi Nav" ujar Naysila lagi.




Navysah mencium tangan ibunya dengan lembut, tangan yang selalu memegang erat dirinya dan Naysila. Tangan yang terlihat penuh dengan kerutan dan kasar namun tangan ini yang selalu menyentuhnya dengan kasih sayang, tangan yang selalu bekerja tanpa lelah untuk anak - anaknya agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia menusuri setiap anggota badan ibunya, menyentuh bagian kaki yang terbalut selimut tebal. Kaki yang dulu selalu bergerak lincah dan bekerja kini terlihat lemah tidak berdaya.



Ia mengenggam erat tangan ibunya, melihat raut wajah yang sayu dan penuh kerutan. Ibu yang selalu memberinya kasih sayang dan perhatian, tempat untuk berkeluh kesah saat dirinya merasa lelah dengan semuanya. Tempat bersandar saat ia tidak punya harapan. Sosok yang selalu memberi pelajaran hidup yang sebenarnya untuk menjadikannya wanita yang mandiri dan bagaimana bersikap baik terhadap orang lain.



"Mama" lirihnya kembali.

__ADS_1



"Navysah" lirih ibunya, ia mengerjabkan mata dan melihat sosok putrinya di samping. "Kau datang Nak"



"Navy datang mah mau jagain mama"lirihnya, tanpa terasa air matanya mengalir deras di sudut matanya.



" Mana Davian, Raffa dan pendekar kecil"lirihnya lagi, ia melihat anaknya datang sendiri tanpa suami dan anak-anak.Ibunya selalu menyebut double kembar dengan sebutan pendekar kecil karena saat bersama mereka ia selalu tertawa melihat tingkah cucunya yang selalu bermain pedang - pedangan dan selalu berakhir dengan keributan serta tangisan dari mereka.



"Davian masih ada urusan nanti dia akan menyusul jika pekerjaannya sudah selesai "ucapnya." Mah, kita ke Singapura ya untuk berobat agar mama sembuh"sambungnya lagi. Ia menatap wajah ibunya dan menyeka airmata yang keluar dari sudut matanya.



"Nggak!, Mama mau disini saja bersama kalian nggak mau kemana - mana. Mama sudah lelah ingin istirahat" lirihnya, ia menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan saran anaknya.



"Mah.." Navysah terlihat sendu, ia ingin menangis keras saat ibunya berkata ingin istirahat. " Navysah akan jagain mama, sekarang mama makan dulu ya" ia membuka makanan dari rumah sakit yang ditutupi plastik wrap. Ia memutar alat agar ranjang ibunya sedikit terangkat. Ia menyuapi ibunya dengan telaten agar sang ibu mau makan sedikit bubur dan sayuran. Baru lima suapan sang ibu menyudahi makanannya, ia sudah tidak ingin makan lagi.



Ia pun hanya bisa menghela nafas kasarnya saat ibunya menolak untuk minum obat, ia harus ekstra sabar dan membujuk dengan rayuan agar ibunya mau meminum obat.


__ADS_1


Saat malam hari ia dan Naysila pulang ke rumah sedangkan Febri dan Ayah Sulaiman yang berjaga untuk ibunya.


__ADS_2