Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 158


__ADS_3

Keesokan harinya,


Hanin mengecek dirinya menggunakan tespek. Sudah dua bulan ia tidak kunjung menstruasi hingga dirinya merasa penasaran.


"Dua garis, aku hamil." lirih Hanin, ia benar - benar tidak menyangka akan hamil secepat ini .


" Eh, wajar saja sih aku cepat hamil kan kita sering gerobak sodor." Hanin menggulum senyum. " Aku tidak ingin kasih surprise sama Fafa ah, dia tidak peka."


Hanin keluar dari toilet dan menghampiri suaminya yang akan berangkat kerja.


"Aku berangkat dulu Nin."


"Tumben sih, A! berangkat pagi banget. Aku kan belum sempat masak." gerutu Hanin


"Iya, aku banyak kerjaan sayang. Mau cek proyek di Bogor. Kamu hati- hati di rumah."


"Kok kamu nggak ngomong dari kemarin?"


"Lupa." Fafa mencium kening istrinya dan pergi buru-buru. Ia takut terjebak macet di perjalanan. Namun berangkat, Hanin menahan lengannya.


"A, aku...." Hanin menatap wajah suaminya dengan intens.


"Apa?"


"Tidak jadi." Hanin melepaskan lengan suaminya.


"Nggak jelas lu Nin!" cebik Fafa, "Aku pergi dulu."


Hanin pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, ia menemui dokter Cindy seperti biasanya. Saat Hanin menunggu giliran, ia merasa iri dengan beberapa pasangan yang sedang mengantri. Suami mereka terlihat bahagia saat mengantarkan istrinya ke dokter. Beberapa suami dari mereka mengelus perut istrinya yang terlihat membuncit.


"Kangen AA." lirih Hanin sembari mengelus perut datarnya.


Setelah mendapat giliran, Hanin masuk ke dalam ruang periksa. Ia tidur dan dicek oleh dokter Cindy.


Dokter Cindy tersenyum lebar saat melihat layar monitor. Ia tertawa cekikikan setelah mengetahui kehamilan Hanin.


" Kenapa dokter tertawa seperti itu? Apa ada yang lucu?" tanya Hanin penasaran


" Kamu lihat ini." Dokter Cindy menunjuk monitor yang memperlihatkan kantung rahim Hanin.


"Ini ada dua, yang artinya kamu hamil kembar." Dokter Cindy tersenyum kembali


"What!!! Serius dok." Hanin terkejut tidak percaya. " Double, oh my god! Aku harus senang atau sedih ya."


"Kok begitu ngomongnya."


"Jika aku mendapat double berarti aku akan lebih ekstra sibuk untuk mengurus mereka."


" Bersyukurlah, masih banyak diluar sana yang menginginkan anak namun belum berhasil Nin."


"Iya dok, maaf. Aku hanya berfikir pendek sesaat. Alhamdulillah dapat double, hilang satu dapat dua." Hanin tersenyum sembari melihat foto USG rahimnya.


" Aku akan memberi resep penguat kandungan dan vitamin. Jangan lupa di minum dan jangan terlalu lelah.Ingat! kamu pernah keguguran. "

__ADS_1


" Baik dok. "


* **


Hanin tersenyum bahagia dan selalu melihat foto USG nya. Ia benar - benar bahagia saat dinyatakan hamil kembar. Ia membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak. Hanin ingin membuat satu makanan yang spesial untuk suaminya, namun di saat dia memasak, Fafa menelepon dan mengabarkan bahwa dirinya tidak pulang karena masih berada di Bogor.


"Ngeselin! Aku sudah masak tapi dia tidak pulang!" Hanin membuang pisaunya ke tong sampah. Ia pergi dari dapur tanpa membersihkannya.


Hanin membuka ponsel dan melihat beberapa media sosial suaminya. Ia merasa geram saat melihat suaminya bersama wanita lain. Mereka terlihat sedang makan siang bersama di sebuah restoran terkenal.


" Katanya sibuk tapi dia berduaan bersama wanita cantik!" gerutu Hanin, " Besok aku aku akan samperin dia ke Bogor."


* **


Pagi hari Hanin meminta Mang Ari untuk mengantarkan dirinya ke daerah Bogor, namun tanpa disangka seorang wanita ikut di dalam mobilnya.


" Ngapain disini?" tanya Hanin. Ia melihat Inka berada di mobil bersama pak Ari.


" Aku ingin ikut ke Bogor, bosen di rumah." Inka tersenyum lebar sembari menunjukan deret giginya yang putih dan rapi.


" Aku mencium modus kebohongan."


"Non Inka ingin bertemu seseorang yang dia suka non." Pak Ari menggulum senyum, namun Inka langsung mencubit lengannya.


"Siapa?" tanya Hanin penasaran


"Nggak kok! Inka beneran pengen ikut bukanya karena ingin bertemu seseorang." jelasnya


Hanin mencoba berfikir pria mana yang Inka sukai. Ia mengingat seseorang yang selalu berada di dekat suaminya.


" Antoni non. "celetuk Pak Ari." Temannya Den Raffa dan Rio. "


" Mamang ih!! " Inka mendengus kesal


" Ah, iya si jutek itu. Dia tampan kok, kulitnya bersih. Emang kamu beneran suka sama dia Ka? " Hanin masuk ke dalam mobilnya dan melaju ke kota Bogor.


Inka hanya tersenyum malu dan menundukan kepala.


"Nggak usah cengar - cengir kayak orang stress gitu." Hanin melirik adik iparnya yang selalu menggulum senyum.


"Mbak, ihhhh!! Rese banget sih kayak mas Fafa!"


"Ya miriplah kan kita jodoh."


Inka hanya menghela nafas panjangnya, mau tak mau ia harus berada dalam satu mobil bersama kakak iparnya yang cerewet.


Inka tersenyum sendiri saat mengingat Mang Ari meminta izin pada ibunya untuk mengantarkan Hanin ke Bogor, disana ada Fafa dan asistennya yang sedang mengunjungi proyek disana. Mereka tinggal di villa milik keluarga Davian.


Dan Inka langsung masuk ke dalam mobil Mang Ari tanpa meminta izin pada ibunya. Inka berharap di villa ia bisa bertemu dengan Antoni, pria yang ia suka sejak dulu. Pria yang dulu sering mampir ke rumah mama Navysah karena ia mendapat beasiswa dari ibunya.


Antoni yang dulu sering mengajari dirinya dan Inha belajar. Melindungi dirinya seperti seorang kakak, penganti Raffa saat kakaknya kuliah di Inggris.


"Aku pasti sudah gila." lirih Inka, namun suaranya masih terdengar di telinga Hanin

__ADS_1


"Yaelah baru sadar kalau kamu gila." Hanin menggelengkan kepala. "Kalau kamu tidak gila, pasti kamu di rumah dan tidak ikut denganku. Hanya karena pria itu, kamu ingin menemuinya. Princess yang satu ini memang sableng."


"Mba." panggil Inka dengan manja, ia menggerakan tangan kakak iparnya sejenak. "Nanti kalau mas Fafa tanya, bilang ya mba yang ajak aku biar ada temennya." pinta Inka dengan memelas


" Dih! Aku disuruh bohong demi kamu. Wani piro?"


"Mba, mau minta apa aku turuti."


"Yakin??!" Hanin tersenyum penuh kemenangan, " Oke fix! Aku pegang janjimu. Hari ini penuhi semua keinginan aku ya."


Inka menganggukan kepala, ia mengiyakan permintaan Hanin asal Inka bisa bertemu kak Antoni.


Perjalanan tidak memakan waktu lama namun saat tiba di kota Bogor, kemacetan parah membuat Hanin bosan dan kesal. Mobilnya tidak bergerak sama sekali, banyak angkutan umum yang berhenti sembarangan dan membuat jalan semakin semrawut.


"Aku ingin makan." ucap Hanin, ia menyuruh Pak Ari berhenti di sebuah rumah makan padang.


Hanin memesan banyak makanan dan melahapnya dengan semangat, begitu juga Inka. Ia juga suka makan dan memesan banyak makanan. Mang Ari hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dua orang wanita yang kuat makan berada di depannya saat ini.


"Luar biasa." ucap Mang Ari setelah melihat semua makanan di depannya licin tandas.


"Pak Ari, ayo makan lagi pumpung Inka yang bayar." ucap Hanin


"Kok aku yang bayar?" Inka melirik tajam kearah Hanin karena merasa bingung dengan ucapan Hanin.


"Kan kamu sudah janji akan melakukan semua keinginanku. Ini yang pertama." ucap Hanin tanpa melihat kearah adik iparnya


Inka memberengut, seolah dikerjai oleh kakak iparnya. "Pertama dan terakhir kan ya?"


"Masih ada lagi dong."


"Ah! Nggak asyik, mba Hanin rese deh!"protes Inka


"Sudah tahu aku rese masih saja tanya. Yasudah kalau tidak suka turun disini atau bawa mobil itu sendiri tanpa Mang Ari"


Inka hanya menggembungkan pipinya, bagaimana dia bisa pulang ke rumah jika dia saja tidak bisa mengendarai mobil. Sejak kecil ia dan Inha selalu diantar Mang Ari kemanapun. Ibunya selalu protektif menjaga dirinya, hingga Ia dan Inha tidak diizinkan mengendarai mobil.


" Nggak usah ngeledek! Aku sadar diri tidak bisa mengendarai mobil!"


Hanin menggulum senyum saat mendengar kejujuran dari Inka.


Disaat mereka jalan kembali dan melintasi sebuah toko oleh - oleh, Hanin kembali meminta Pak Ari menghentikan mobilnya.


Hanin membeli banyak cemilan, asinan Bogor dan permen asam hingga Inka merasa tercengang saat Hanin membawa lima kantong plastik penuh.


"Ka, bayar ka!" seru Inka


Inka melolong saat ia diminta untuk membayar semua tagihan kakak iparnya.


"Kok aku, sih!"


"Demi Antoni, kamu harus nurut." Hanin berjalan begitu saja melewati Inka yang masih terdiam. Hanin masuk ke dalam mobilnya tanpa merasa bersalah, sedangkan Mang Ari tertawa keras melihat Inka dikerjai kembali oleh Hanin.


"Kalau tahu kalau gini, mending aku cancel aja naik satu mobil sama si PE'A!" gerutu Inka, ia membayar semua tagihan kakak iparnya dengan kartu saktinya.

__ADS_1


"Pokoknya aku harus minta ganti rugi sama mas Fafa!" sambungnya lagi, ia masuk ke dalam mobilnya dan berdo'a agar Hanin tidak banyak permintaan lagi.


__ADS_2