
Raffa merebahkan dirinya di ranjang, menghembuskan nafas kasarnya dengan cepat. Terlihat wajah lelahnya, perjalanan dari Inggris ke Indonesia yang memakan waktu tempuh hampir enam belas jam membuat energinya berkurang apalagi dengan kemelut perusahaan Hara Animation yang kini sedang tidak stabil. Hara Animation membutuhkan beberapa investor untuk mendukung kelancaran perusahaannya. Saat Raffa berada di Inggris, dia bekerja keras untuk mencari investor dan menghubungi beberapa sahabat yang ingin menanamkan sahamnya di Hara Animation, dan itu cukup sulit.
Masih teringat dengan jelas saat dirinya menemui Om Dewa saat di Inggris. Saat itu Om Dewa berkunjung untuk melihat keadaan Hanin. Raffa mencoba untuk melobi agar Om Dewa mau mengucurkan dana segar ke perusahaan Raffa. Dan semua itu ada timbal baliknya.
"Aku akan menanamkan sahamku di Hara Animation."
Raffa tersenyum penuh kemenangan saat mendengar Om Dewa mengiyakan permintaanya. Seperti padang pasir yang tersiram air hujan, begitu melegakan.
"Tapi ada syaratnya." ucap Dewa, "Aku ingin kamu menikah dengan Hanin, putriku."
Senyuman Raffa mendadak lenyap. Ia tidak menyangka Om Dewa menginginkan dirinya menjadi menantu. Tidak mungkin
"Hanin sudah ku anggap adikku sendiri Om. Hanin sudah mempunyai kekasih dan sebentar lagi aku akan menikah dengan tunanganku. Dia sudah menungguku hampir sepuluh tahun." jelas Raffa.
Raffa tidak ingin mengecewakan hati Kinan yang telah menunggunya,dan janjinya pada Kinan harus dipenuhi. Hanya Kinan yang Raffa sayangi.
" Om tidak suka dengan pacar Hanin, si Aditya itu tidak pantas bersanding dengan putriku. Hanya kamu yang Om inginkan, kamu bisa membimbing Hanin dengan baik.Om menyukaimu."
Raffa tersenyum kaku "Maafkan Raffa Om, Raffa tidak bisa."
"Kalau begitu carilah investor lain yang mau membeli saham mu. Perlu kamu tahu, mereka tidak bodoh. Para investor akan melihat track record perusahaanmu. Bahkan belum tentu mereka mau, karena sangat jarang orang melirik dunia animasi. Mereka lebih suka berbisnis properti yang lebih menggiurkan. "
Raffa hanya membalas dengan senyuman." Aku tahu Om, tapi bagiku janji adalah janji dan harus ditepati. Aku menyayangi tunanganku dengan setulus hati. Raffa tidak akan menukar Kinan dengan saham. "
" Raffa pamit dulu Om. " Raffa mencium takzim tangan Om Dewa dan pergi.
" Aku suka dengan pendiriannya yang kuat dan pantang menyerah. Andai saja dia mau menjadi menantuku. " lirih Dewa, ia melihat punggung Raffa hingga tak terlihat.
Raffa pun mengingat kembali saat Ayah Davian memintanya untuk pulang.
" Kinan akan menikah dengan Juna tiga bulan lagi, jika kau tidak segera menikahi Kinan. " Davian
" Jika kau masih mencintai Kinan maka pulanglah. "imbuh Davian
__ADS_1
" Aku tidak bisa pulang yah, proyek di Inggris masih berjalan. Aku terikat kontrak. " terang Raffa
" Cutilah selama dua bulan, nanti kau bisa kembali ke Inggris dan melanjutkan proyekmu setelah menikah dengan Kinan. Jika Kinan mau, dia bisa ikut denganmu dan tinggal disana sebentar. Setelah itu pulang kembali ke Indonesia urus perusahaan Ayah "
Kepala Raffa semakin pusing memikirkan semua masalah yang harus dia hadapi. Perusahaannya, Kinan, projek yang masih berjalan dan Perusahaan Ayah Davian. Khaffi yang selalu ia telepon untuk segera membujuk Fafa agar mau mengelola perusahaan properti pun hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aku nyerah mas, Fafa sulit di bujuk untuk mengurus perusahaan. Fafa selalu bilang ingin bebas dan gaji dari yutube channelnya sangat banyak, bisa memberi makan lima bini katanya ."
Raffa kembali menghembuskan nafas kasarnya, "Bagaimana aku bisa menikah dengan kondisi perusahaan dan fikiranku yang sedang carut marut." Raffa merasa lelah dam tanpa terasa Raffa tertidur, dengkuran halus mulai terdengar dari dirinya.
* **
Pagi hari Raffa mengetuk pintu kamar Fafa, namun tidak ada jawaban dari pemilik kamar.
Raffa membuka pintu dan melihat adiknya masih bergelung si bawah selimut tebalnya.
" Dasar pemalas!, jam segini masih molor." Raffa ikut masuk ke dalam selimut Fafa. Ia melihat wajah adiknya dari jarak dekat.
Raffa tersenyum saat melihat wajah Fafa yang mangap saat tidur, ia memotret beberapa foto Fafa yang tertidur.
Fafa tidak mengubris perkataan kakaknya, dia masih asyik tidur nyenyak dan bermimpi indah.
"Fa, mas punya temen cewek cantik, gemoy, gitar spanyol. Mau minta nomer handphonenya nggak." bisik Raffa di telinga adiknya, Fafa sedikit menyipitkan matanya dan melihat Raffa yang sedang berada si sampingnya.
"Apaan sih mas!, ngantuk tahu." Fafa sengaja menghembuskan nafasnya ke area wajah Raffa dan memeluknya dengan erat seperti sepuluh tahun yang lalu saat dirinya kecil dan selalu tidur bersama Raffa.
"Ngomongnya biasa aja, mulutnya bau naga." Raffa menutup hidungnya karena aroma tidak sedap dari mulut Raffa, sedangkan Fafa tersenyum.
"Mas Raffa wangi." Fafa menghirup aroma segar dan maskulin dari tubuh kakaknya. Sikap manja Fafa kambuh lagi, walaupun Fafa sudah dewasa namun saat bersama Raffa ia masih menunjukkan sifat kekanak-kanakannya. Ia tidak mungkin bergelayut manja pada Alif ataupun Ayah Davian. Hanya pada Raffa ia bisa melakukan segalanya.
"Kamu sayang mas nggak?" tanya Raffa
"Sayanglah, lebih sayang mas Raffa daripada ke Alif." sahutnya masih dengan menutup mata
__ADS_1
"Kalau kamu sayang mas, mau kan bantuin mas di perusahaan Ayah?"
"Ogah...!, nggak jadi sayang." Fafa membalikkan badan, membelakangi tubuh kakaknya.
"Mau kan ya! Mau ya." bujuk Raffa sembari memeluk tubuh adiknya dari belakang.
"Yang lain saja mintanya, jangan yang itu. Fafa pusing lihat banyak angka nol di berkas Ayah."
" Kalau magang di Hara Animation mau?"tanya Raffa kembali," Ada kak Rio dan Hanin. Kamu bisa magang bareng Halwa, adiknya Hanin.Khaffi juga magang disana. Tempat itu milik sahabat mas, kamu bisa mas rekomendasikan agar bisa diterima di Hara" Raffa sengaja berbohong pada Fafa tentang statusnya sebagai pemilik Hara Animation.
" Halwa si gadis kemarin yang kurus,tepos, nggak ada bentuknya itu. " Fafa masih mengingat jelas kesan pertama saat bertemu Halwa.
Raffa menjitak kepala adiknya. " Kalau ngomong nggak disaring dulu sih. " kesal Raffa," Dia itu cantik dan modis. "
" Tapi bukan tipe Fafa, sudahlah mas. Aku mau bebas saja jadi yutuber duitnya lebih gede."
"Ih, kamu ini. Emang kamu tidak ingin menikah dan punya pekerjaan bagus."
"Yutuber juga bagus mas." kekeh Raffa
"Tapi itu tidak menjamin bahwa kamu akan hidup baik selamanya. Akan ada masanya. Orang akan bosen, jenuh dengan nontonan yang kamu sajikan Fa."
" Mumet mas kerja diatur orang, masuk pagi pulang sore apalagi kalau lembur bisa pulang malam."
"Hidup memang harus punya aturan, sama seperti kamu menjadi yutuber. Bikin konten yang orang suka, berangkat pagi pulang belum tentu kapan. Belum edit program, semuanya sama. Niatkan hatimu untuk membantu Ayah di perusahaan. Kalau bukan kamu siapa lagi."
"Ya mas Raffa lah." sahut Fafa cepat
Raffa menghembuskan nafas kasarnya, bicara dengan Fafa sama gilanya. Hanya masuk ke telinga kanan keluar ke telinga kiri.
"Ayah sudah tua, kasihan dengannya harus memikirkan perusahaan. Mama Navysah juga butuh Ayah disisinya, mama sudah sering sakit. Kamu tidak kasihan dengannya." rayu Raffa, ia tahu kelemahan Fafa adalah ibunya. Walaupun Fafa susah diatur, namun dia sangat menyayangi ibunya.
" Jangan jadikan mama Navysah sebagai tameng, itu tidak mempan bagiku. "
__ADS_1
Raffa menggulum senyum saat Fafa benar menebak isi hatinya. Sial!
Raffa sangat gemas karena adiknya tidak merespon kembali apa yang diucapkannya. Dengan kesal Raffa mengambil handphone dan laptop milik Fafa. Raffa tahu kedua barang itu nyawa dari adiknya, dia tidak akan bisa berkutik tanpa barang tersebut.