
Raffa menjemput Kinan sore hari di rumah sakit. Setelah mendapatkan infus dan obat, tubuh Raffa sedikit membaik. Raffa menunggu di mobil karena Kinan belum kunjung terlihat.
"Aku lapar, lebih baik makan dulu." Raffa melepaskan jasnya dan juga mengganti sepatu kerjanya dengan sneaker.
Ia berjalan di bahu jalan dan melihat beberapa pedagang kaki lima yang menjamur di sekitar rumah sakit. Ia masuk ke warung nasi goreng dan memesan sepiring nasi goreng spesial.
" Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mencari uang huhuhu..." Saat Raffa mencicipi makanannya ia mendengar seorang perempuan sedang menelepon berkeluh kesah dan menangis.
"Biaya operasinya memang gratis karena menggunakan kartu rakyat miskin. Semuanya di bayar pemerintah, tapi ada beberapa obat yang tidak bisa di cover. Kita harus membelinya di apotek. Mana Ayah si bocah belum dapat uangnya. Sekarang angkot sepi, pemasukan juga berkurang. "jelasnya
" Tolonglah saya bu, pinjamkan saya uang untuk menebus obat anak saya . Satu juta saja bu. "pintanya," Kalau bukan ibu siapa lagi yang akan menolong saya, Azizah masih terbaring lemah setelah operasi kanker payudara. Ibu bisa kan meminjamkan saya uang. " Wanita paruh baya itu bicara dengan memelas.
" Oh, yasudah kalau begitu. Terima kasih bu. "
Wanita itu menutup teleponnya, dan dia kembali menghubungi seseorang kembali." Pak, bu Dahlia tidak bisa pinjami kita uang. Hutang kita yang kemarin belum dibayar juga. Bagaimana ini pak? huhuhu... " Wanita paruh baya itu menangis sesenggukan.
" Iya pak." Wanita itu menutup kembali sambungan teleponnya.
Tanpa sengaja Raffa mendengar pembicaraan wanita paruh baya itu karena jarak yang cukup dekat dengannya. Raffa melirik wanita itu melihatnya dari atas hingga bawah. Wajah yang kuyu, letih dan baju yang lusuh. Menyedihkan
Raffa merasa iba, ia sengaja menjatuhkan dompetnya.
Disaat wanita paruh baya itu menangis, ia melihat dompet yang tergeletak di bawah Raffa.
"Mas, itu dompetnya jatuh." Wanita itu menunjuk kearah dompet Raffa.
"Benarkah." Raffa pura-pura meraba saku belakangnya dan melihat dompetnya yang tergeletak di bawah.
"Oh, iya bu ini milikku. Terima kasih."
"Ibu kenapa menangis?"
"Tidak apa-apa mas. Biasa mas, anak sakit." Ia menundukan kepala dan mengusap matanya yang sembab.
Raffa membayar makanannya dan ia memberikan semua uang yang berada di dompetnya pada ibu paruh baya itu.
"Terimalah bu, saya punya sedikit rejeki."
Ibu paruh baya itu terkejut saat Raffa memberikan uangnya. "Ya allah, apa ini mas. Banyak sekali uangnya ."
"Untuk biaya pengobatan anak ibu."
"Ini beneran mas, anda tidak mengenal saya."
"Beneran bu, saya memang tidak mengenal ibu tapi ibu memerlukan uang ini. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Ya allah, huhuhu." Ibu paruh baya itu menangis bahagia. "Makasih banyak mas, semoga Allah senantiasa melindungimu, sehat dan barokah."
"Aamiin."
Ibu itu bergegas membayar makanan dan menuju apotik untuk menebus obat anaknya.
"Raffa, kamu kemana saja! " ketus Kinan, ia menunggu Raffa di parkiran rumah sakit bersama Jessica dan anaknya.
"Aku makan dulu sebentar."
__ADS_1
"Handphone kamu dimana, aku telepon tidak diangkat." Kinan mengerucutkan bibirnya, ia berulang kali menelepon Raffa namun tidak dijawab.
"Maaf, aku lupa. Handphone aku ketinggalan di mobil."
"Gimana kabarnya Raff?" Jessica merentangkan tangannya seolah ingin memeluk Raffa, namun Kinan begitu posesifnya langsung menghadang di depan tubuh Raffa.
"Jangan menggoda calon suamiku." tegas Kinan
"Dih, mak lampir mulai posesif. Pelit lu! Peluk Raffa dikit aja nggak boleh." gerutu Jessica
"Dia milikku."
"Eh, tunggu dulu. Sebelum janur kuning melengkung,sebelum ada ijab qobul, Raffa masih milik emaknya. Yang beberapa jam saja bisa ketikung apalagi ini masih kurang tiga mingguan. Semuanya bisa berubah." ucap Jessica,
"Ya siapa tahu Raffa berubah fikiran dan menikahiku, janda sexy ini." goda Jessica sembari menaik turunkan alisnya. Sejak dua tahun lalu Jessica menggugat Sammy ke pengadilan untuk bercerai karena Sammy pemalas dan tidak mau bekerja.
"Rese lu Jess."
"Emang gue rese dari dulu kali." jawab Jessica
"Aku baik, kamu gimana Jess?" Raffa menjabat tangan Jessica
"Alhamdulillah, gue baik juga ."
"Ate Nanan, ini ciapa?" tanya Prita, anak Jessica yang berumur tiga tahun. Terkadang sore hari Prita dan baby sitter nya menjemput Jessica.
"Ini Om Raffa, calon suaminya tante Kinan." Kinan menggendong Prita dan menciumnya dengan gemas.
"Cuami itu apa?"
"Suami itu, apa ya?" Kinan menggaruk kepala, ingin mencoba memberi penjelasan yang bisa dimengerti oleh anak - anak.
"Siapa dulu emaknya, GUE...!" pongah Jessica dan mendapat cibiran dari Kinan.
Terdengar sebuah suara yang memanggil nama Jessica berulang kali.
"Jessi...." teriak Juna dari jauh. Ia tergesa-gesa menghampiri adiknya. "Ini milik Prita, ketinggalan." Juna memberikan sebuah jepit rambut dan jaket milik Prita.
Juna melihat Raffa dan tersenyum, "Sudah lama tidak berjumpa."
"Bagaimana kabarmu?" Raffa berjabat tangan dengan Juna, tanpa ada perasaan dendam ataupun benci.Ia menepuk bahu Juna dan tersenyum.
"Aku baik..." Juna membalas senyum pada Raffa.
"Raffa, kau tidak cemburu dengan abangku karena dekat dengan Kinan." Jessica melihat Raffa yang begitu sumringah tanpa ada rasa marah sedikit pun diwajahnya.
"Kenapa aku harus cemburu, mereka hanya teman kecuali Juna menyentuh Kinan baru aku akan marah."
" Yasudah!, bang Juna dan Jessica gue pergi dulu ya. Bye-bye." Kinan menyerahkan Prita untuk digendong Jessica. Kinan takut Jessica akan sengaja menceritakan hal-hal yang membuat Raffa cemburu pada Juna.
* **
Sepanjang perjalanan Kinan selalu menatap Raffa, ia merasa wajah Raffa semakin tirus. Bahkan jambangnya tidak dicukur dengan rapi.
"Raffa, kau sakit" tanya Kinan. Ia menyentuh wajah Raffa dan terasa suhu tubuhnya sedikit panas.
__ADS_1
"Kamu demam."
"Tidak." Raffa sengaja berbohong
"Aku akan memeriksamu di butik nanti, setelah kita sampai."
"Tidak perlu."
"Harus!, tidak ada bantahan." tegas Kinan. " Minggirlah di depan biar aku yang menyetir."
"Raffa menghentikan mobilnya, ia mulai tidak fokus menyetir, kepalanya sedikit pusing sehingga ia mengiyakan permintaan Kinan.
" Kau mau makan lagi
?" tanya Kinan, ia melirik Raffa yang mulai menutup matanya.
" Tidak,aku sudah makan. "
Kinan kembali menyetir dan melewati beberapa toko bunga. "Raffa, kau tidak ingin membelikan aku bunga? Aku tidak pernah mendapatkan bunga darimu,sungguh tidak romantis."
Raffa tersenyum, ia memang tidak pernah membelikan Kinan bunga. "Nanti saja kalau aku punya uang di dompet." jawabnya singkat.
"Memangnya kamu tidak punya uang di dompet?"
"Nggak ada." Raffa mengambil dompetnya," Ini lihatlah, jika kamu tidak percaya." Raffa menyodorkan dompetnya.
Kinan membelalakan mata tidak percaya, ia hanya menemukan uang satu lembar uang lima ribu rupiah dan satu lembar uang sepuluh ribu rupiah. "
" Ya ampun, ganteng - ganteng cuma punya uang lima belas ribu. Kamu benar - benar tidak punya uang. "
Raffa menganggukan kepala.
" Kenapa, apa kau menyesal jika menikah denganku?"
" Tidak, hanya aneh saja. Masa cuma bawa uang segitu. "
Raffa hanya tersenyum melihat Kinan yang sedang menggerutu.
" Kinan, bisakah kamu mengganti model pakaianmu. " Raffa melirik Kinan yang memakai dress ketat, membentuk tubuhnya yang sexy." Pakai celana panjang atau pakai jilbab jika kamu mau."
" Dari dulu aku suka dress karena terlihat sexy. Aku belum ingin memakai jilbab Raffa. "
" Oke, aku mengerti. Aku tidak akan memaksa, tapi setidaknya tutupi tubuhmu kalau bisa pakai celana panjang. Jangan sampai memancing pria lain untuk menggodamu. Tindak kekerasan sexual tidak hanya dengan sentuhan tapi juga dengan verbal, aku tidak ingin kamu dilecehkan Nan. Kamu sudah cantik untukku, jadi tidak perlu memakai pakaian seperti itu. Kamu terlalu sexy, nanti ada pria lain yang tertarik denganmu. Setelah menikah, aku yakin kamu akan memakai jilbab dengan sendirinya tanpa paksaan dariku. "
" Nanti aku fikirkan saranmu. "Kinan menghela nafas panjangnya,Kinan berfikir jika ia mengganti semua model bajunya otomatis dia harus membuang semua isi lemari karena hampir semua baju Kinan berupa dress.
" Nurut ya? ini bukan demi aku, tapi ini untuk kebaikan kamu sendiri. "
" Kalau aku tidak menurut gimana?" ledek Kinan.
"Yasudah, aku mau nikah saja sama Jihan yang penurut." Raffa sengaja menggoda Kinan,entah kenapa ia suka melihat wajah Kinan yang cemberut karena cemburu. Raffa menahan tawanya saat Kinan melotot padanya.
"Berani menikah sama Jihan, aku akan buat keributan di acara pernikahanmu!" ancam Kinan. " Ku suntik mati kamu sebelum malam pertama dengannya." ancamnya lagi. Raut wajah Kinan berubah kesal.
Raffa tergelak tawa mendengar ancaman Kinan. "Senyum dong, jangan ngambek gitu. Aku cuma bercanda Nan." Ia mengelus rambut Kinan dengan lembut.
__ADS_1
"Bodo amat." ketus Kinan.
"Awas saja kalau berani peluk-peluk Jihan di depan mataku,aku tidak akan terima." dengus Kinan. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi untuk cepat sampai di butik mama Navysah.