Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 151


__ADS_3

Kini mereka berada di rumah sakit untuk mengobati luka Raffa dan Fafa yang memar akibat perkelahian dengan penculik itu. Sedangkan, Kinan dan Hanin masih memeluk suami mereka dengan erat, seolah tidak ingin beranjak dari sisi suaminya.


Kinan meminta dokter untuk segera melakukan tindakan operasi kista untuknya. Hingga akhirnya hanya Kinan yang menginap di rumah sakit sedangkan keluarga lainnya pulang ke rumah masing-masing.


"Aku sedikit syok mas saat mereka menculik kami." Kinan selalu memeluk suaminya. " Dan berhubung aku di rumah sakit lebih baik besok aku operasi agar semuanya selesai."


" Jangan takut, ada aku disini. Mereka yang jahat kepadamu akan mendapatkan balasannya. Aku pastikan itu, sayang. " ucap Raffa sembari mencium dan memeluk istrinya.


" Semoga besok operasinya lancar, kamu harus kuat sayang. Aku akan menunggumu hingga akhir " sambung Raffa kembali.


" Iya sayang. "


* * *


Kali ini Fafa dan Hanin menginap sementara di rumah mama Navysah. Sepanjang perjalanan Hanin selalu ngemil dan bicara tentang apa yang ia alami hari ini. Mulutnya hampir penuh dengan makanan yang tersedia di dalam mobil.


"Lip, makasih sudah bantuin aku." ucap Fafa sembari melirik Alif yang sedang menyetir mobil. "Ternyata si kremi berguna juga." ucapnya dengan terkekeh.


"Hmmm..." Alif memutar bola matanya dengan malas. " Lu sebenarnya niat berterima kasih atau mengejeku."


"Hahahaha..." Fafa terkekeh


"Kok kayak suara sapi cuma hmm... hmmm.. aja." ucap Hanin dengan masih mengunyah makanannya


Navysah melirik suaminya yang berkarakter sama seperti Alif. Ia hanya menggulum senyum.


"Iya sapinya lu Nin, ngunyah mulu nggak berhenti - berhenti !" sindir Alif


"AA..., aku dikatain sapi sama Alif." rengek Hanin pada suaminya.


Fafa menendang kursi Alif dari belakang dengan keras. "Beraninya mengatai istriku sapi, begini juga iparmu yang paling cantik di hutan belantara." Fafa menjitak kepala Alif dari belakang.


"AA..!!" teriak Hanin dengan kesal


"Dasar pasangan sinting!" lirih Alif


Navysah hanya tersenyum mendengar Alif menggerutu.


"Makan nya pelan-pelan Nin." Navysah melirik menantunya yang masih makan.


"Iya, Hanin lapar mah." ia mengerucutkan bibirnya.


***


Saat di tempat tidur Hanin masih selalu memeluk suaminya, bahkan saat Fafa ingin buang air kecil, Hanin merengek seperti anak kecil untuk ikut dengannya.


"Mau makan apa lagi?" tanya Fafa, ia tahu istrinya selalu lapar saat malam datang.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang." balas Hanin, "Aku ingin tidur bersamamu."


"Ayo." Fafa yang tadinya ingin buang air kecil langsung ia urungkan karena melihat Hanin yang begitu menempel dan selalu memeluk dirinya.


"Nyanyi untukku agar cepat tidur." pinta Hanin


"Nyanyi apa?


" Apa saja terserah AA. "


" Nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit kebo. " Fafa menahan senyum melihat wajah istrinya yang berubah masam.


" Digigit nyamuk bukan kebo A! " seru Hanin


" Ya sudah ganti lagi. Nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo, digigit ini. " Fafa dengan tersenyum menarik tangan istrinya ke arah juniornya dan tangan satunya sengaja mer*mas gundukan d*da Hanin.


" Ih... AA..., aku kan jadi pengen." Hanin tersipu malu dan merona.


"Dih...!! Digoda dikit langsung mau, ah... nggak asyik!" Fafa sengaja membalikan tubuhnya membelakangi Hanin.


"AA...!! tega banget sih! kamu pancing aku terus ditinggalin begitu saja. KEJAM!!"


"Pokoknya aku mau." Hanin menindih suaminya dan melancarkan aksinya,hingga terjadi malam yang begitu menghangatkan.


Alif yang ingin mengetuk pintu Fafa kini mengurungkan niatnya setelah mendengar des*han yang membuat tubuhnya merinding.


***


Pagi hari Navysah dan Raffa sudah datang ke rumah sakit. Kinan pun sudah bersiap untuk melakukan operasi. Mereka semua mengantar Kinan ke depan ruang operasi.


"Mas jangan cemas, mba Kinan akan baik-baik saja. Alif mencoba menenangkan hati kakaknya yang terlihat gugup.


" Iya."


" Jangan lupa berdo'a Nan,minta sama Allah yang terbaik. " Navysah mengelus rambut Kinan dengan lembut.


" Iya mah,Kinan hanya sedikit gugup karena hari ini Kinan sebagai pasien bukan dokter yang biasa mengoperasi mereka."


"Aku yakin kamu pasti sembuh." Raffa mengecup kening istrinya dengan lembut


Terlihat dari jauh sepasang suami istri berjalan cepat mendekati mereka.


"Eh, Hanin jangan lari Nak. Ingat kamu sedang hamil." Navysah memperingatkan menantunya agar tidak terburu-buru dalam berjalan


"Iya mah, maaf Hanin telat." Hanin tersenyum lebar dengan menunjukan deret giginya yang rapi dan putih.


"Ya pasti telatlah, tadi malam panas dan bergelora." celetuk Alif dengan aajah datarnya

__ADS_1


Hanin menginjak kaki Alif dengan sengaja, ia mendelik ke arah Alif karena membuatnya malu pada mertuanya.


" Eh, dokter kremi tau aja kita lagi huhah, lu pasti ngintip kan? pengen tidak, pengen tidak, pengenlah masa tidak! Eeeaaaaa... " goda Fafa dengan menarik turunkan alisnya.


"Sinting!!" Alif menjambak rambut Fafa dengan gemas


"Semangat mami Kinan, dedek nungguin disini." Hanin menyuarakan seolah anak kecil dan memberi semangat kepada Kinan.


" Iya, doakan mami Kinan ya sayang." Kinan mengelus perut rata Hanin.


Mereka mendorong Kinan ke dalam ruang operasi.


Kinan yang sudah terbiasa dengan ruangan operasi kini hanya bisa menghela nafasnya saat ia berbaring dan siap dieksekusi. Ia melirik jam dinding yang berada tepat di sana dan melihat tulisan berlafazh Allah.


"Bismillah." ucap Kinan dalam hati


* * *


Keluarga Davian dan keluarga Shafiq dengan setia menunggu Kinan keluar dari ruang operasi. Beberapa kali Ifa terlihat meneteskan airmatanya,ia yang berprofesi sebagai dokter pun merasa sedih saat melihat anaknya terbaring di meja operasi,beberapa kali Shafiq selalu menguatkan hatinya untuk bersabar dan tidak bersedih.


Raffa pun terlihat gugup, beberapa kali ia selalu meremas ujung bajunya hingga Navysah harus menenangkannya.


Pukul dua siang Kinan keluar dari ruangan operasi, ia terlihat masih pingsan efek anestesi. Kinan di dorong dengan brangkar menuju ruang rawat inap.


Raffa selalu mencium tangannya dan mengelus rambut Kinan. Dua jam kemudian Kinan terbangun dari tidurnya.Saat pertama kali matanya terbuka, ia melihat Raffa berada disisinya sembari tersenyum.


"Kau sudah bangun? Apa terasa sakit?" tanya Raffa


Kinan hanya menganggukan kepalanya, masih terlihat lemah tak berdaya.


"Aku haus dan lapar mas?" lirih Kinan.


Raffa dengan cepat memberi Kinan segelas air minum dengan hati-hati ia menopang tubuh Kinan agar ia dapat minum.


Raffa pun menyuapi Kinan dengan telaten, Kinan benar-benar merasa kelaparan hingga bubur itu licin tandas.


Dokter pun datang ke ruangan Kinan dan memberitahukan bahwa operasi Kinan telah berhasil.


"Alhamdulillah, mama berharap ini terakhir kali melihat kamu operasi sayang. Mama takut kehilanganmu." Ifa memeluk anaknya dengan erat dan mengecup keningnya.


"Iya mah, do'akan Kinan agar selalu sehat dan cepat memiliki momongan."


"Aamiin."


Dua hari telah berlalu, Kinan kembali pulang ke rumah. Navysah mengadakan syukuran untuk Kinan karena telah pulih dari sakitnya. Raffa pun sengaja cuti untuk menjaga istrinya pasca operasi. Ia ingin menghabiskan waktu bersama sang istri di rumah.


Dan Fafa kini disibukan dengan pekerjaannya, terkadang ia mampir ke Hara untuk membantu istrinya menjalankan perusahaan. Hanin begitu sibuk dengan Hara, karena saat ini Raffa mengambil cuti. Terkadang Fafa kesal karena istrinya yang terlalu sibuk dan tidak memikirkan kehamilannya.

__ADS_1


__ADS_2