
Kinan selalu merengek, mengajak Raffa dan keluarga Rio untuk satu mobil dengannya. "Kami mau pesan taxi online, kamu ikut mobil Bagas saja"ucap Raffa.
" Nggak mau, aku pulangnya mau ke mama Navysah mau nginep. Bagas juga ngijinin kok kalian ikut kami. Boleh ya gas? "ia menghiba dengan tatapan memohon agar bagas mengizinkanya.
" Padahal aku ingin berdua, tapi si Kinan selalu menempel padanya"gumamnya dalam hati.
"Nggak usah Nan,kamu kan lagi ngedate sama Bagas, kita nggak mau gangguin kamu. Aku mau anterin adik Rio dulu setelah itu baru pulang ke rumah. Hari ini Rio akan menginap di rumahku." Kinan cemberut karena Raffa tidak mau ikut pulang bersamanya. " Kalau nggak mau aku nangis nih! "ancamnya.
" Terserah, Dasar cengeng! " ketus Raffa, ia sudah mulai lelah karena belum sempat istirahat dari siang.
" Huaaaa.. Huaaaa..hiks.. Hiks.. Raffa jahat, Raffa jahat!. " ia menangis dengan keras dan tersedu-sedu sembari memukul dada Raffa hingga beberapa orang melihat kearahnya. Ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini, dia meminta Bagas untuk mengantarkan adik Rio terlebih dahulu.
"Cepatlah semua masuk, bikin aku kesal saja Kinan" entah kenapa hari ini dia merasa Kinan sangat menyebalkan. Ia menyuruh Kinan duduk di kursi penumpang depan. Sedangkan mereka ada di bagian tengah penumpang. Raffa tidak sengaja melihat rok Kinan yang sedikit terangkat keatas hingga terlihat paha mulusnya."Besok - besok kalau mau jalan jangan pakai minidress, tutupi rok mu itu !" ketus Raffa,ia melemparkan jaket yang ia pakai tepat dipangkuan Kinan. Rio dan Bagas hanya cekikikan karena ini pertama kalinya ia melihat Raffa bicara ketus pada Kinan. Dan si cewek manja hanya cemberut, yang terpenting dia bisa pulang bareng Raffa.
~Raffa ~
Setelah acara makan dirumah Rio dia menelepon ibunya. Dia menceritakan keadaan dari keluarga sahabatnya itu.
"Gimana mah boleh nggak Raffa pakai kartu kreditnya" ia meminta izin ibunya untuk membeli beberapa hadiah untuk adik-adik Rio. Setiap kartu kredit yang ia gunakan pasti ia akan meminta izin ibunya terlebih dahulu.
"Pakailah, gunakan sebaik mungkin untuk mereka. Nanti suruh dia datang kerumah" ujar Navysah.
"Iya mah, Terimakasih"
"Mama sayang Raffa, Assalamualaikum" setiap kali telepon dengan Raffa, Navysah selalu mengucapkan rasa cintanya pada anaknya.
"Raffa juga sayang Mama, Walaikumm salam" ia menutup teleponnya. Ia mengajak adik-adik Rio dengan alasan ingin membeli alat lukis. Dan tanpa curiga mereka ikut dengannya.
Saat di Mall, ia melihat sekilas gadis yang ia kenal. Walaupun dari jauh, ia masih bisa mengenali gadis yang selalu melihat ke arahnya. Gadis manja yang selalu banyak maunya kini sedang duduk bersama Bagas teman satu sekolahan. Dan, seperti dugaanya mereka mengikutinya hingga toko buku. Terlihat Kinan memakai minidress diatas lutut dan terlihat jelas kaki mulusnya. Ingin rasanya ia memberikan jaket yang dipakainya namun ia tidak enak hati dengan Bagas.
"Baru jadian tiga puluh menit yang lalu." Alhamdulillah, akhirnya si gadis berisik ini tidak akan menempel padanya terus karena sekarang ia sudah memiliki kekasih. Setelah semuanya terbeli dan mereka akan pulang, Kinan selalu merengek bagai anak kecil.Meminta Raffa dan lainnya untuk satu mobil dengannya. Raffa merasa tidak enak akan menganggu kencan mereka, namun tanpa diduga si gadis manja malah menangis kencang hingga beberapa orang melihat kearahnya, ini seperti adegan sinetron di televisi. Disaat rasa lelah karena kurangnya istirahat tanpa sengaja Raffa berbicara ketus padanya dan mengiyakan untuk pulang bersama.
"Menjengkelkan" disaat hati kesal dan rasa lelah, kantuk, pusing menjadi satu kini si gadis manja yang duduk di kursi penumpang depan terlihat tidak nyaman dengan cara duduknya. Minidress yang dia kenakan sedikit terangkat dan memperlihatkan pahanya.
"Besok-besok kalau jalan jangan pakai minidress, tutupi rok mu itu" ia melemparkan jaket yang ia kenakan tepat di pangkuannya.
***
Mereka sampai dirumah Rio, kedua adiknya berhamburan masuk ke dalam rumah. " Mak, Caca dapat hadiah banyak dari Kak Raffa". Ia memperlihatkan beberapa bungkusan di tangannya. "Kak Lian juga dapat"
"Ya allah banyak sekali hadiahnya" Emak Asti berkaca-kaca, ia melihat senyuman diwajah anaknya yang terlihat bahagia.
__ADS_1
"Kamu siapa Neng?" ia melihat Kinan masuk bersama mereka.
"Sama Kinan teman Rio dan Raffa bu" ucapnya sembari mencium tangan emak sahabatnya.
Raffa masuk ke dalam kamar Rio untuk mengambil tas sekolah dan bajunya. Ia menyelipkan sesuatu di bawah bantal dan bergegas memita izin untuk pulang ke rumah bersama Rio.
"Saya pulang dulu bu" sembari mencium tangan emak Asti
"Makasih Nak Raffa, hadiahnya banyak sekali semoga Allah membalas kebaikanmu"
"Aamiin, Assalamualaikum"
"Walaikumm salam"
Di dalam mobil hanya ada keheningan tanpa suara, Kinan melirik ke arah Bagas dan Raffa secara bergantian. Ingin rasanya mengobrol bersama Raffa namun ia urungkan karena saat ini kedua pria di belakangnya itu duduk dengan memejamkan mata.
"Kenapa mereka tidur berjamaah" gerutunya lirih. Bagas mendengar apa yang diucapkan si gadis manja. "Sayang, kalau kamu ngantuk tidurlah. Nanti aku bangunkan jika sudah sampai dirumah Raffa" ia tersenyum sembari menaik turunkan alisnya.
"Sayang - sayang palamu peyang!" gumamnya dalam hati. Ia mendelik kearah Bagas. Mau tak mau dia menutup matanya dan tidur daripada harus mendengar celotehan Bagas.
Tiga puluh menit berlalu hingga Raffa sampai di kediamannya.
"Nan, bangun sayang. Sudah sampai" Bagas sengaja mengeraskan suara agar Raffa mendengarnya. Ia tersenyum menyeringai, terlihat dari sudut pandang Raffa seolah mereka sedang berciuman.
Raffa tidak peduli dan masuk ke dalam rumahnya, namun mama Navysah yang sedang menunggu anaknya pulang kini melihat adegan Kinan di dalam mobil.
"Astagfirullah" ia bergegas kearah mobil mencari kebenaran apa yang dilihatnya.
"Tok.. Tok.. Tok" ia mengetuk dengan keras.Dan kaca mobil terbuka karena Bagas memencet tombolnya
"Lagi ngapain?" tanya Navysah .
"Ini tante Kinan tidur tapi dibangunin susah banget" ucapnya.
"Kamu nggak ngapa - ngapain anak tante kan?" ucapnya dengan tegas dan melotot.
"Nggak tante, sungguh. Aku mau bangunin Kinan saja" ia merasa takut dengan tatapan membunuh dari ibu sahabatnya. Targetnya hanya ingin membuat Raffa cemburu namun faktanya ibu singa yang datang menghampirinya.
"Kamu siapanya Kinan?" tanyanya lagi.
"Sa.. Saya.." belum sempat ia menjelaskan terdengar suara dari jauh.
__ADS_1
"Pacarnya Kinan tante, baru jadian tadi" ucap Rio yang sedang bersandar di pintu, sejak tadi ia melihat ibu sahabatnya seperti ingin menerkam Bagas.
"Ah, sesekali ngerjain Bagas nggak papa kan" ucapnya dalam hati sembari menahan tawanya.
Navysah melirik penampilan Bagas yang terlihat rapi "Kamu masuklah ke rumah, tante ingin sedikit bicara denganmu" pintanya.
"Iya tan" ia sedikit takut melihat ibu dari sahabatnya yang kurang ramah tidak seperti saat ia menjemput Kinan dirumahnya, nenek Kinan ramah dan bisa diajak kompromi.
"Apes banget deh ah"gumamnya dalam hati.
" Nan, Kinan bangun nak"Navysah membangunkan Kinan dengan menepuk pipinya.
"Mah, aku ngantuk" Ia mengucek matanya.
"Ayo pindah ke kamar" Ia menapah Kinan untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Biar saya bantu tante" pinta Bagas
"Nggak usah, jangan pegang - pegang anak saya!. Sana kamu masuk kedalam sama Raffa dan Rio" perintahnya lagi.
"Iya tan" ucapnya lemah, ia berjalan tidak semangat seperti ingin dieksekusi hakim pengadilan.
Dia berpapasan dengan Ayah sahabatnya, "Permisi Om" sapanya
"Siapa kamu?" tanya Davian dengan tatapan tajamnya.
"Saya Bagas temannya Raffa" ucapnya.
"Oh" ia hanya ber oh ria dan meninggalkanya.
"Ya ampun, bapak si Raffa punya sinar laser di matanya bikin semua orang langsung mengkerut. Tahu gini gue ogah nganterin mereka" ia baru pertama kali melihat seorang Davian Ahmad, kalau ibunya Raffa ia pernah melihatnya beberapa kali saat pengambilan rapot sekolah dan pernah sekali ia main ke rumah Raffa karena tugas kelompok .
Dia duduk di kursi sendirian, Raffa entah kemana dan Rio sedang bermain dengan double kembar. "Rumah ini sangat ramai dengan teriakan adik Raffa, tapi aku merasa sendiri seperti terdakwa"lirihnya.
" Oh my God" ia melihat ibu temannya turun dari lift dan menuju dirinya.
"Help me please.." gumamnya dalam hati, ingin rasanya ia kabur dari rumah angker baginya.
* **
Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun All reader 🙂😘😘
__ADS_1