Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 89


__ADS_3

Satu bulan berlalu,


Kinan mendapatkan kabar bahwa Raffa akan pulang ke Indonesia esok hari. Kinan merasa berdebar-debar karena tidak menyangka akhirnya Ayah Davian bisa membujuk Raffa untuk pulang ke rumah.


Ia dengan semangat menjemput Raffa di bandara bersama mama Navysah dan Fafa. Hari ini Kinan berdandan sangat cantik, ia berusaha sebaik mungkin agar Raffa terpesona dengannya.


"Make up nya paripurna banget, lalat aja kepleset mba sama kulit wajahmu." goda Fafa, ia melihat wajah Kinan yang glowing dan make up yang sedikit tebal namun tetap cantik.


"Berisik...!" sahut Kinan, " Demi calon suami yang paling ganteng ini." Kinan tersenyum manis. Navysah hanya memutar bola matanya malas, ia terbiasa melihat Kinan beradu mulut dengan Fafa yang cerewet.


"Mas Raffa pasti geli lihat wajah mba Kinan yang kayak badut." ledek Fafa dengan senyuman mengejek


Kinan segera membuka totebagnya dan mengambil cermin kecil. Ia melihat dirinya sendiri di cermin dan mengecek apa benar bedaknya terlalu tebal seperti badut.


" Nggak kok. " Kinan masih menatap cermin dan mengoleskan lipstik di bibirnya agar tidak pucat."Cantik."


"Mah..., memang bedakku tidak rata seperti badut atau terlalu tebal mah?" tanya Kinan.


" Sedikit tebal, masih oke kok." Navysah menggulum senyum. "Mirip buah kesemek, hehehe ." goda Navysah terkekeh


"Tuh kan bener apa kataku." sahut Fafa, " Mba Kinan nggak pernah percaya sih sama aku."


Percaya sama kamu sama saja mempercayai si Inka bawel dan mbak ogah! "cebik Kinan," Mah aku ke toilet dulu mau benerin riasan. "


" Eh...,eh itu mas Raffa. Lihat itu mah. "Fafa melihat kakaknya berjalan dengan seorang wanita." Tapi kok bawa cewek ya, siapa dia? " tanyanya penasaran


Navysah melambaikan tangannya ke arah Raffa, sedangkan Kinan hanya menatap bingung tunangannya pulang bersama seorang wanita yang ia kenal bernama Hanin. Wanita yang sering ia lihat saat bervideo call bersama Raffa.


Raffa mencium takzim dan memeluk ibunya dengan erat, "Raffa kangen mah."


"Mama juga kangen." Navysah mengelus punggung anaknya.


"Tante..." Hanin mencium punggung tangan dan memeluk erat Navysah, "Hanin kangen banget sama tante." ucapnya dengan senyuman manis


" Tante juga kangen sama kamu Nak."


"Mas Raffa." Fafa mendapatkan pelukan dari kakaknya.


" Adik mas yang paling cerewet dan susah diatur." Raffa menjotos lengan Fafa dengan pelan


"Tapi paling tampan." Fafa menaik turunkan alisnya.


"Narsis..." celetuk Kinan


"Hai, aku Hanin." sapanya dengan ramah pada Fafa


"Aku Fafa, adik mas Raffa yang paling tampan di keluarga kami, paling pintar dalam segalanya." Fafa berjabat tangan dengan Hanin.


"Pintar cari masalah." celetuk Kinan kembali


"Emang bener kok Fafa paling tampan dan pintar!" sahut Fafa dengan sewot. "Ini mba Hanin pacarnya mas Raffa yang di Inggris? Keliatan mesra banget sih." Fafa sengaja membuat hati Kinan panas dengan candaannya, entah mengapa sejak dulu Fafa suka membuat Kinan marah dengan ulahnya.


Kinan melirik Fafa dengan tatapan kesal, dan melirik Hanin dengan tatapan tidak suka.


Hanin hanya menggulum senyum tanpa menjawab pertanyaan Fafa


"Lebih cantik dan sexy diriku daripada dia,tapi dia wanita yang modis dalam berpakaian." gumam Kinan dalam hati, ia melihat Hanin dari ujung rambut sampai ujung kaki.

__ADS_1


Raffa mengelus rambut Kinan dengan lembut, "Sudah lama tidak berjumpa kamu, Nan"


"Ayo kita pulang." Raffa menggandeng tangan Kinan di sebelah kanan dan Navysah di sebelah kiri.


Kinan terperangah, ia berharap Raffa akan memeluk dan meminta maaf padanya namun hanya satu kalimat saja yang Raffa ucapkan. Menyebalkan


Di dalam mobil hanya terdengar suara Fafa yang bersemangat menceritakan dirinya dan adik-adik. Kinan tenggelam dalam fikirannya sendiri dan hanya terdengar hembusan nafas kasarnya.Sebenarnya ia berharap hanya dia dan Raffa yang akan duduk berdampingan di kursi penumpang bagian belakang namun harapan tinggal harapan, kini mereka duduk bertiga dengan Hanin. Dengan posisi Raffa yang berada di kursi tengah.


Hanin ikut pulang, ia berkata orangtuanya akan menjemputnya di rumah keluarga Davian.


"Sedekat itukah hubungan Raffa dengan keluarga Hanin."gumam Kinan dalam hati, ia melihat pemandangan di luar mobil, diam tidak seperti biasanya yang selalu cerewet. Raffa beberapa kali melirik Kinan, namun ia tidak ingin bertanya apa yang membuat Kinan diam dan datar setelah kepulangan dirinya.


* **


Setelah acara jamuan dan pertemuan dengan keluarga Hanin di rumah keluarga Davian, Kinan masuk ke dalam kamarnya. Ia termenung di balkon dan menatap langit yang kini mulai senja.


Masih teringat dengan jelas saat acara makan bersama dengan keluarga Hanin, kedua orangtua Hanin begitu ramah dan baik terhadap Raffa seolah seperti anaknya sendiri.


"Jangan lupa mampir ke rumah tante." ucap bu Ria dengan senyuman hangatnya. "Tante tunggu."


Raffa hanya menganggukan kepala.


" Mah, kita jodohkan anak kita ini agar Pak Davian menjadi besan kita. Aku juga ngefans dengan ibu Navysah, orangnya baik." Pak Dewa melirik Raffa sekilas. Sedangkan Kinan merasa tersisih ketika semua keluarga Davian tertawa dan hanya Kinan yang diam seribu bahasa, bahkan Raffa tidak memperkenalkan dirinya sebagai tunangannya.


Raffa sesekali hanya melempar senyum pada Kinan tanpa mengatakan apa-apa.


Lamunan Kinan pudar saat pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.


Fafa masuk ke dalam kamar Kinan, "Mba Kinan, ayo kita turun. Orangtua Hanin akan pulang."


"Bilang saja aku sedang tidak enak badan." sahut Kinan, ia masuk dan bergulung di selimut dan tidak ingin bertemu dengan siapapun.


Kinan ingin sekali tidur dan berharap ini semua hanyalah mimpi,bagaimana bisa orangtua Hanin ingin menjodohkan Raffa dengan anaknya. Kinan sangat cemburu dengan Hanin dan Kinan selalu berharap Raffa tetap memilihnya sebagai calon istri.


Dirinya sedikit terusik saat sebuah tangan kekar mengelus rambut dan menempelkan tangan itu ke dahinya. Kinan membuka matanya berlahan."Raffa..." lirihnya


"Kau sepertinya tidak sakit, suhu badanmu normal Nan."


"Aku tidak sakit fisik tapi sakit hati." ketus Kinan. Ia bangkit dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang.


"Jahat kamu Raffa!, tidak pernah menghubungiku dan sekarang pulang membawa gadis lain. " Kinan menatap tajam, namun hanya dibalas dengan senyuman dari Raffa.


"Masih bisa tersenyum disaat hatiku kesal seperti ini." dengus Kinan dengan kesal


"Maaf, aku sungguh sibuk Nan dan aku sudah berpesan dengan mama Navysah agar kamu bersabar. Pekerjaanku sangat banyak, ini pun aku masih punya utang desain yang belum sempat aku kerjakan.Nanti aku akan ke Inggris lagi untuk menyelesaikan proyekku.


" Sibuk aja terus, terus saja bolak balik ke Inggris hingga aku dilupakan." ucap Kinan dengan kesal, " Pergilah ke Inggris,nggak usah kasih kabar diriku. Terserah kamu mau ngapain saja disana, aku tidak peduli." sembur Kinan


"Maaf" Raffa memegang tangan Kinan dengan lembut.


"Jangan marah ya, Hanin hanya teman. Kami pulang bersama karena aku sudah mengenal keluarganya."


"Iya sudah kenal keluarganya terus minta dijodohkan anaknya sama kamu,Iya kan!" Kinan meluapkan emosi yang membuncah di dalam dadanya.Rasa kesal yang sejak tadi ia tahan kini meledak.


"Kamu cemburu? "


"Nggak!, siapa yang cemburu."Kinan berbohong," Sudah jelaslah lebih cantik dan gemoy diriku daripada dia."

__ADS_1


Raffa hanya menggulum senyum saat Kinan mulai cerewet kembali. Bagi Raffa lebih baik mendengarkan Kinan yang cerewet daripada diam. Jika Kinan diam berarti sedang tidak baik suasana hati Kinan.


"Bukan seperti itu Nan, percayalah padaku." Raffa menyibakan rambut Kinan ke belakang telinga, mengelusnya dengan lembut.


Kinan membuang wajahnya kearah lain, entah mengapa dia selalu mempercayai apapun perkataan Raffa. Hatinya selalu luluh jika Raffa bersikap lembut padanya. Jantungnya kembali berdesir saat Raffa mulai memegang tangan Kinan dan mencium punggung tangannya.Raffa mulai menyusuri garis wajah Kinan hingga bibirnya.


"Nggak usah merayu, nggak mempan!" Kinan masih bersikap ketus dan jual mahal, namun dalam hatinya ingin sekali dia melompat, memeluk dan menghujani Raffa dengan banyak ciuman.


Raffa tersenyum melihat Kinan yang bersikap ketus namun Kinan tidak menolak saat dirinya mengelus,mencium punggung tangan Kinan maupun saat menyentuh wajahnya.


"Yasudah kalau masih marah, aku pergi saja." Raffa beranjak dari ranjangnya ingin keluar kamar.


"Jangan pergi..." Kinan mengejar dan memeluk Raffa dari belakang.


"Katanya nggak usah merayu, nggak mempan. Yasudah lebih baik aku pergi." Raffa mengcopy ucapan Kinan padanya. Raffa membalikan tubuhnya.


"Jahat, ngeselin, nggak pernah hubungi aku, suka bikin aku menunggu, tidak pernah mengenalkan aku pada orang lain bahwa aku tunanganmu " Kinan menangis di pelukan Raffa. " Ini terakhir kalinya Raffa, aku nggak mau lihat kamu bersama wanita lain. Aku cemburu Raffa! "


"Hanin sudah seperti adikku sendiri, keluarga Hanin juga sudah tahu kamu tunanganku." Raffa mengusap airmata Kinan


"Benarkah!, mereka tahu aku tunanganmu." Kinan tidak percaya, "Pantas saja mereka tidak bertanya siapa diriku."Kinan mengerucutkan bibirnya


"Lalu, siapa yang akan dijodohkan dengan Hanin, aku mendengar mereka ingin sekali menjadi besan mama Navysah." sambung Kinan lagi


"Adik aku kan masih ada Alif dan Fafa,tapi sayangnya Hanin sudah memiliki kekasih di Inggris. Pak Dewa hanya bercanda Nan, jangan diambil hati."


"Aku sudah khawatir kamu akan dijodohkan dengannya."


"Secinta itukah kamu denganku sampai takut kehilangan diriku ."


Wajah Kinan bersemu merah padam, ia menyembunyikan wajahnya di dada Raffa.


" Kita jadikan menikah bulan depan? Aku tidak bisa menunggu lagi Raffa."


"Bukannya kamu akan menikah dengan si Juno itu." goda Raffa , " Dia punya segalanya."


Kinan memukul dada Raffa bertubi-tubi "Kalau aku mau nikah sama dia ngapain aku minta tolong Ayah Davian untuk membujukmu pulang."


"Aku tidak punya apa-apa. Seorang pria kere, masa depan belum jelas, tidak punya tempat tinggal ,hanya bisa memberimu mahar sedikit, takut ti..."


Kinan mencium bibir Raffa dengan cepat, ia tidak ingin Raffa melanjutkan perkataannya. Ciuman lembut yang sangat Kinan rindukan." Jangan merendahkan diri sendiri, aku akan bersamamu apapun yang terjadi. "


" Kita bisa melakukan pernikahan secara sederhana, mahar semampunya dirimu aku tidak masalah." sambung Kinan lagi


"Yasudah jika itu yang kamu inginkan, biar mama Navysah yang urus semuanya.Aku akan belajar di perusahaan Ayah, mungkin butuh waktu lebih untuk mempelajarinya. Dan sudah pasti waktuku untukmu akan berkurang. Jadi, kumohon jangan ngambek saat aku sibuk dan tidak bisa menemuimu. "


Kinan menganggukan kepala.


" Good Girl. " Raffa mencium kening Kinan." Ayo, aku antar kamu pulang. " bujuk Raffa


" Tidak perlu, kamu pasti lelah. Aku bisa diantar Pak Ari. Kamu istirahat saja. "


" Beneran? "


" Hmmm. " Kinan pamit dan pulang ke rumahnya dengan diantar Pak Ari


* **

__ADS_1


Author serius tanya, reader lebih suka baca novel ini pakai bahasa non baku atau bahasa baku sesuai KBBI? Tolong jawab di komentar, makasih 😊


__ADS_2