Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 146


__ADS_3

Hanin terbangun dari tidurnya, kepalanya masih sedikit pusing,ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya.


"Tadi aku pingsan." lirihnya, ia menengok ke kanan dan kiri, ternyata ia berada di kantor, ruang pribadinya.


"Sudah sadar?" tanya Khaffi, ia membawa semangkok bubur dan buah untuk Hanin.


"Khaffi, kepalaku sakit." ujarnya,


"Aku tahu, kamu kelelahan.Makanlah dulu." Khaffi menyuapi Hanin dengan telaten.


"Nin, kamu hamil." sambung Khaffi kembali.


"Uhuk.. Uhuk..." Hanin tersedak mendengar ucapan Khaffi


"Serius!" Hanin tak percaya


"Yaelah, lu yang bikin masa lu yang insomnia." dengus Khaffi dengan kesal.


" Amnesia bodoh!" Hanin mulai kesal,sedangkan Khaffi terkekeh.


"Aku beneran hamil?! " Hanin masih tidak percaya, ia mengulang kembali ucapnya.


"Kalau lu tidak percaya besok tespek saja."


"Khaffi, jangan bilang Fafa ya kalau aku hamil. Aku akan memberinya surprise."


"Baiklah."


Hanin mengelus perutnya dengan lembut, ia menyunggingkan senyum. Buah cinta dirinya dan Fafa kini tumbuh di dalam rahimnya. " Fafa pasti akan senang."


***


Kinan pulang dengan wajah kelelahan, ia sudah menjadwalkan operasinya minggu depan. Ia berharap setelah operasi selesai, ia bisa hamil.


" Sudah bertemu Jihan tadi?" tanyanya.


"Ya, dia menitipkan salam untukmu." Raffa sembari bermain laptopnya. "Kemarilah, duduk disini." Raffa menepuk pahanya


Kinan dengan semangat duduk di pangkuan Raffa seperti biasanya, ini salah satu hal yang membuat Kinan senang yakni bisa duduk di pangkuan suaminya.


"Aku sayang kamu." Raffa menyelipkan rambut Kinan ke belakang telinga.


"Aku tahu." sahutnya cepat


Raffa mengenggam erat tangan Kinan dan menciumnya.


"Nan..." lirih Raffa, " Aku ingin memberitahukan sesuatu, tapi kamu jangan sedih ya." Raffa mencium pipi istrinya.


Kinan menatap intens suaminya, ia sedikit takut karena Raffa terlihat serius. Kinan takut setelah bertemu Jihan, suaminya akan berubah pikiran.


"Mas mau ngomong kalau mas mau menikah lagi? Kalau itu yang ingin kau sampaikan, aku tidak mau dengar!" ucap Kinan


"Kamu ngomong apa, sih!" Raffa tersenyum melihat istrinya yang mulai cemberut. "Bukan itu sayang." Raffa menarik ujung hidung Kinan dengan gemas.

__ADS_1


"Terus apa dong!?" sahut Kinan


" Hanin hamil."


Kinan tersenyum dengan bahagia, "Beneran mas!, Hanin hamil."


"Iya."


Namun sesaat kemudian wajah Kinan terlihat sendu, ia mulai berkaca-kaca. "Aku bahagia Hanin hamil, tapi..." Kinan mengigit bibirnya, ia menahan airmatanya agar tidak jatuh.


"Nanti juga kamu hamil, pasti kamu menyusul Hanin."


Kinan menagis di pelukan suaminya. Ia mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya. "Mas, mama Navysah akan terus sayang aku kan ya?"


Raffa terkekeh dengan ucapan Kinan. "Kamu itu lucu sih, Nan."


"Aku takut mama tidak sayang padaku saat tahu aku PCOS, aku takut dia akan lebih sayang Hanin karena dia sedang mengandung cucunya, aku takut diabaikan olehnya, mas."


"Apa mama pernah marah padamu selama ini? Apa mama pernah mengabaikanmu?" tanya Raffa, Kinan hanya menggelengkan kepala


"Kinan...., mama itu sayang padamu sejak dulu. Bahkan, saat si princess lahir dia masih bisa mengurusmu seperti anaknya sendiri. Jika nanti Hanin lebih di perhatikan itu wajar karena ini cucu pertama mama, kamu harus mengerti dan sabar ya.Kan ada aku yang selalu sayang kamu. " Raffa mencium sudut bibir Kinan.


" Aku mengerti. "Kinan mulai tersenyum kembali


" Ayo, kita bikin Raffa junior lagi. Siapa tahu kali ini berhasil. " Raffa mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.


Kinan tertawa dan sangat bahagia karena Raffa selalu memperlakukan dirinya dengan manis.


* **


Fafa mengira istrinya hanya sakit biasa, hingga akhirnya ia berangkat kerja ke kantor.


Hanin menggunakan aplikasi food untuk membeli semua makanan yang ia inginkan. Namun, setelah ia membeli banyak makanan dan buah, Hanin hanya makan beberapa saja. Perutnya terasa mual saat melihat semua makanan.


"Aku kangen AA, akan ku beri dia kejutan." ujarnya, ia menaruh hasil tespeknya ke dalam sebuah kotak makanan berisi brownies.


Hanin memoleskan sedikit make up ke wajahnya agar dirinya terlihat segar dan cantik.


" Adek, ayo kita pergi ke kantor papah." Hanin bermonolog seolah berbicara dengan janin yang dikandungnya,tak lupa Hanin mengelus perutnya.


Hanin masuk ke dalam kantor Fafa, ia melihat suaminya sedang sibuk dengan berkasnya.


"AA..." sapa Hanin, namun Fafa hanya melirik sekilas dan menyuruhnya masuk.


"AA.." sapa Hanin kembali, ia duduk di sofa panjang dan melihat suaminya yang begitu sibuk. Hanin merasa Fafa tidak memperdulikannya.


Fafa melihat istrinya membawa satu buah kotak makan, namun Fafa hanya menghela nafas panjangnya. Ia tahu Hanin pasti memasak makanan aneh kembali, terkadang Fafa merasa muak mencicipi semua makanan buatan Hanin yang menurutnya jauh dari kata enak.


" Tester lagi." sahut Fafa tanpa melihat ke arah Hanin. " Kali ini enak, tidak!?"


Hanin mulai menekuk wajahnya, berharap akan disambut hangat oleh suaminya nyatanya tidak. " Ini enak A."


"Tok.. Tok.. Tok..." Keken masuk ke dalam ruangan Fafa dengan membawa berkasnya.

__ADS_1


"Eh,ada Janin." sapa Keken, ia melihat Hanin cemberut dengan wajah tak bersahabat.


"Aura dingin." gumam Keken dalam hati, ia bergidik ngeri.


" Nin, kamu habis mampir ke kuburan. Kok serem wajahmu!?" goda Keken


"Iya tadi mampir ke kuburan habis nguburin lu!" ketus Hanin.


Keken menggulum senyum, ia melirik ke arah Fafa yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Fa,bini lu ngambek." bisiknya di telinga Fafa


"Biarkan saja." Fafa melirik ke arah Hanin, lalu ia kembali mengecek berkasnya.


"Gue pergi aja ah, takut dengan semburan gunung berapi si Hanin." gumam Keken dalam hati


"Fa, lihat bini lu, dianggurin gitu yang ada auto nggak dapat jatah." bisik Keken kembali.


"Berisik lu Ken, pergi sana. Badan lu bau!" Fafa mencium bau tidak enak dari tubuh Keken.


"Eh, ******! Gue nggak bau. Mana ada seorang Keken bau keringat! Gue udah pakai parfum mahal, hidung lu kali ya mampet." sembur Keken sembari menjitak kepala Fafa


Hanin melihat suaminya dijitak oleh Keken kini tidak terima, ia bangkit dari tempat duduknya dan mengomel pada sepupu suaminya.


" Kok kamu jitak kesayanganku! "sembur Hanin," Sini aku jitak lagi. " Hanin dengan cepat menjitak kepala Keken.


" Sayang kamu tidak apa-apa? "tanyanya pada Fafa sembari menenggelamkan kepala suaminya ke dada Hanin


" Sakit... huhuhu..., Keken jahat yang. " rengek Fafa, ia mulai drama seolah korban yang kesakitan. Ia menunjuk - nunjuk ke arah Keken.


" Wong Edan! dasar pasangan gemblung! " Keken langsung pergi dari ruangan Fafa, ia tidak ingin berlama - lama melihat pasangan gila menurutnya.


Fafa tertawa melihat wajah Keken yang begitu kesal.


"Coba makan ini." Hanin menyodorkan sebuah kotak makanan.


"Aku belum lapar yang."


"Ya sudahlah, aku pulang!" ketus Hanin, ia benar - benar kesal dengan sikap Fafa yang menyebalkan.


Fafa melirik istrinya yang masih muram, ia dengan terpaksa membuka kotak makanan dan melihat sebuah benda panjang seperti tespek bergaris dua.


"Apa ini?" Fafa melihat tespek dan istrinya secara bergantian.


"Janin mengandung janin." Hanin tersenyum dengan lebar, ia memberitahukan bahwa dirinya hamil. Hanin tersipu malu saat mengatakannya.


"Maksudnya apaan sih, Nin?" Fafa mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak mengerti ucapan dari istrinya. Sejak pagi kepalanya terasa sakit hingga untuk berfikir saja Fafa mulai lemot.


"Ishhh...!! Ngeselin gitu aja nggak ngerti!" dengus Hanin dengan kesal. " Aku hamil A!"


"Kok bisa?!" Fafa terkejut, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Hanin melotot ke arah suaminya dengan kesal, " Ya bisalah, emang tiap hari gerobak sodor siapa yang ngadonin!" salaknya,

__ADS_1


" Pertanyaan kamu aneh banget sih, A!, kamu tidak suka aku hamil!" Hanin mulai berkaca-kaca, ia menyambar tasnya dan berlari meninggalkan kantor suaminya.


"Ya ampun, ini mulut ceplas ceplos banget sih!" Fafa memukul ringan mulutnya sendiri, ia menyambar jas dan ponselnya serta berlari mengejar Hanin.


__ADS_2