Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 61


__ADS_3

Langit mulai mendung namun tidak menyurutkan langkah Navysah dan Maya untuk berbelanja kebutuhan Raffa yang akan segera melakukan pertunangan.


"Alhamdulillah, ponakan gantengku sebentar lagi akan bertunangan. Mudah-mudahan semuanya lancar ya Nav"


"Aamiin, aku juga seneng banget akhirnya Kinan calon mantuku. Jaman sekarang sulit menemukan menantu yang baik dan sayang sama orang tua, terkadang mereka cinta sama anaknya tapi tidak bisa menerima orang tuanya" ujar Navysah.


"Tapi kalau mertuanya PE'A modelnya kayak lu, gue jamin semua gadis pasti antri buat jadi menantu lu,hehehe" kelakar Maya


"Dih, ngomongin gue PE'A. Lu juga sama kali." Ia menonyor kepala Maya dan mereka saling tergelak tawa.


"Iya ya, ternyata kita sudah tua. Richard sudah menikah dan aku berharap segera diberi cucu. Tinggal si Richi, tapi dia belum ada tanda - tanda malah keduluan si Rappol" gumamnya


"Namanya juga jodoh May, lu jangan maksain Richi. Biarkan dia meraih impiannya terlebih dahulu, menjadi dokter spesialis kulit yang hebat. Aku percaya dia bisa"


" Iya dia memang pintar tapi mewarisi gen sablengku juga hehehe" selorohnya. "Eh, Nav jodohin saja Richi sama si princess. Gue juga mau kali besanan sama lu, anak lu kan cantik - cantik"


"Oh No...!, punya besan sesama PE'A yang ada jadi bahan leluconan si Bima"


"Biarin saja, Bima mah rese. Orang bener saja di becandain apalagi orang setengah waras kayak kita."


Dan Navysah hanya mengedikkan bahunya.


Mereka masuk ke toko baju, tas, sepatu dan kosmetik dan membeli semua yang dibutuhkan,hingga tidak terasa waktu berjalan begitu cepat.


" Cincin mana yang mau dipilih? "tanya Maya. Ia melihat begitu banyak perhiasan dan berlian yang berkilau." Yang mau tunangan nggak diajak sih, jadi ribet. Lu tahu ukuran cincin Kinan dan Raffa nggak Nav"


"Ya kira-kira sajalah, yang ini bagus nggak?" tanya Navysah. Ia memperlihatkan sepasang cincin berlian dengan satu permata di tengahnya.


"Itu kayak cincin pernikahan. Coba lu telepon Raffa, biar dia yang pilih"


Navysah menelepon anaknya didering kedua baru tersambung dengannya. Raffa begitu gugup karena sejak pagi ia berkata akan pergi bersama Rio karena ada sesuatu yang mendesak, namun sebenarnya dia hanya tidur sepanjang hari di rumah Rio dan hanya malas - malasan disana.


"Ya mah, kenapa?" tanyanya, Ia sengaja video call di luar halaman agar terlihat lebih meyakinkan bahwa dia sedang berada di rumah Rio.


"Kamu masih di rumah Rio Nak?"


"Iya mah, ini baru nyampe tadi mampir di rumah Antoni dulu" ucapnya dengan cengengesan, namun di belakang layar handphone nya terlihat Rio yang sedang mencibirnya.


"Oh, ini mama di toko perhiasan, kamu mau pilih yang mana" Navysah mengarahkan kamera kearah perhiasan agar anaknya bisa memilih mana yang dia suka.


"Terserah mama saja" ucapnya di ujung telepon


" Coba pilihanmu yang mana." tanyanya lagi


Raffa memperhatikan kearah perhiasan,dan ia menunjuk secara acak " Yang itu saja,Kinan orangnya simpel nggak suka berlebihan"


Ia melihat satu set perhiasan dengan permata yang tidak terlalu banyak.


"Oke sayang, yasudah mama tutup dulu teleponnya, Assalamualaikum"


"Walaikumm salam" ucapnya dengan lega.


" Dih...!, yang mau lamaran malah tiduran di gubug gue. Lu gimana sih, mau tunangan malah nggak semangat" cibir Rio


"Sudah deh Yo,nggak usah bawel kayak Kinan aja sih"ia masuk ke kamar Rio dan tiduran kembali.


" Ya tapi nggak bohong juga kali. Lihat baju lu, atas kemeja keren bawah sarung lusuh. Mana bilang baru datang lagi padahal tiduran mulu. "


Raffa tertawa melihat dirinya yang terlihat aneh, sejak ibunya menelepon ia langsung beranjak dari ranjang dan hanya merapikan bagian atas." Gue lupa Yo, tadi langsung ngacir hehehe "

__ADS_1


Disisi lain,


" Selera anak lu lumayan juga. Modelnya simpel tapi bagus kok" Ia melihat perhiasan yang dipilih Raffa.


"Ia memang tahu selera Kinan" ucap Navysah dengan senyumannya.


"Emang Sultan yah, lamaran saja beli satu set perhiasan lengkap apalagi kalau nikahan" ucap Maya sembari menggelengkan kepalanya. Dan Navysah hanya tersenyum padanya.


Akhirnya mereka pulang dengan banyak belanjaan dan dengan senyuman lega.


* **


Hari H pertunangan,


Keluarga Navysah beserta rombongannya kini menuju ke rumah Kinan. Mereka kini kompak memakai batik dengan warna senada berwarna biru dengan motif batik jlamprang khas Pekalongan. Sepanjang perjalanan Raffa hanya cemberut dan membuang wajahnya ke luar mobil,bagaimana ia tidak kesal. Rencana yang ia buat agar melakukan pertunangan dengan sederhana kini berubah menjadi istimewa. Kedua orang tuanya mengundang beberapa kerabat dan karyawan untuk ikut dalam rombongan.


Navysah merasa jengah melihat anaknya diam dan tidak bersemangat. "Kamu kenapa sih Nak, cemberut terus" tanyanya.


"Mama ngeselin!, aku kan sudah bilang kita bertunangan secara sederhana tidak perlu mewah. Mana sepuluh mobil lagi belum bingkisan barang yang sebanyak itu" ia menghembuskan nafas kasarnya.


"Ini sudah sederhana Nak, kita membawa kerabat dekat dan beberapa orang kepercayaan mama. Kalau mama undang semua bisa seribu orang yang datang lho" ucapnya tak mau kalah.


Davian melirik anaknya yang tidak tersenyum sejak awal. Ia pun merasa heran kenapa Raffa mau bertunangan dengan Kinan, sungguh terasa aneh baginya apalagi saat anaknya lebih memilih Inggris daripada Amerika.


"Raffa, senyum napa Nak" pinta Navysah, " Senyum yang ikhlas, ini kan hari bahagia kamu Nak. Sudah ganteng pakai batik jadi inget dulu saat Ayah Raihan melamar mama, ganteng seperti kamu ini". Ia tidak menyadari ucapannya akan membuat seseorang melirik tajam padanya.


"Terus saja seperti itu, kangen sama Almarhum" sinis Davian,


" Gantengan Mas Davian dong, itu kan cerita dulu. Sekarang suamiku ini yang paling tampan" ia mengelus lengan suaminya agar tidak marah.


Raffa memutar bola matanya dengan malas. Ia selalu menghembuskan nafas panjangnya dan menutup mata sejenak, berharap semuanya cepat berlalu.


"Tenang bro, ini baru tunangan belum juga nikahan. Lu nervous banget sih" goda Rio, ia mencoba mencairkan suasana hati sahabatnya.


"Gue deg-degan kampret!, Lihat semua orang melihat kearahku." bisiknya.


Ia mencoba tersenyum dengan terpaksa, memperlihatkan gigi putihnya. " Ini pasti rencana keluarga Kinan mengadakan pertunangan yang sedikit berlebihan" gumamnya dalam hati,ia menggaruk kepalanya yang sedikit pusing.


Setelah sambutan dari pihak laki-laki dan perempuan kini sang pembawa acara mempersilahkan Kinan untuk masuk kedalam taman dan bertemu dengan keluarga calon tunangannya.


Ia terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna pink dengan potongan leher model sabrina sehingga terlihat punggung mulusnya, dengan sanggul kecil yang tertata rapi kian menambah pesona dirinya.


"Ya allah Kinan cantik banget" puji Navysah, " Cantik ya mas" tanyanya pada sang suami.


"Cantikan kamulah saat pernikahan kita" goda Davian dengan menggulum senyumnya.


"Gembel..." ucapnya sembari mencubit pinggang suaminya dan tersenyum.


"Gombal yang, gombal.." Ia mencoba membetulkan kalimat istrinya yang salah.


"Lah, itu tempe" ucapnya lagi


"Tahu yang bukan tempe..." ia memanyunkan bibirnya. Disaat acara penting seperti ini istrinya masih bisa bercanda.


Raffa hanya melihat Kinan sejenak lalu menundukkan kepalanya.


"Oh, ternyata calon pria nya malu-malu para hadirin" goda sang pembawa acara, " Gimana mas nya, mbak Kinan cantik banget kan?" sambungnya lagi.


"Kalau kayak gini yakin mau ditinggal ke luar negeri, nggak nyesel?" godanya lagi, "Apa mau dinikahin langsung". Dan terdengar gelak tawa dari seluruh keluarga yang hadir.

__ADS_1


"Mas Raffa, aku iri lho semuda ini berani melamar anak gadis orang. Cantik lagi. Boleh tahu nggak alasannya, apa yang membuat mas yakin untuk melamar mbak Kinan?" tanyanya, " Umur saya sudah tiga puluh tahun tapi masih jomblo begini, apa ada yang mau denganku? ". Ia sengaja mencairkan suasana agar terlihat lebih santai dengan tawa riuh sebagian orang.


Ia menyerahkan mikrofon kearah Raffa agar menceritakan sedikit tentang dirinya" Tidak ada alasan untuk menolak Kinan, dia gadis yang baik. Dan aku yakin memilihnya"ucapnya.


" Apa ada lagi yang perlu dikatakan "tanya pembawa acara lagi


" Tidak, terima kasih."


Ia berharap bisa secepatnya menyelesaikan pertunangan ini dan pulang dengan tenang.


" Mbak Kinan, apa yang membuat anda yakin menerima pertunangan mas Raffa? "tanya sang pembawa acara, ia menyerahkan sebuah mikrofon kearah Kinan.


Ia terlihat begitu gugup mendengar pertanyaan dari sang pembawa acara." Aku.. aku mencintainya dengan segenap hatiku"ucapnya malu-malu. Dan mendapat tepukan dan tawa riuh dari seluruh keluarga.


" Bucin.. Bucin.. "teriak Rio


" Ada yang ingin dikatakan lagi "tanya sang pembawa acara.


Ia menghembuskan nafas kasarnya," Raffa, kau tahu kan aku selalu bergantung padamu. Aku sangat bahagia hari ini karena kamu datang melamarku" ucapnya, " Raffa, pertunangan ini selangkah lebih dekat dengan impianku. Kau tahu salah satu impianku adalah menjadi dokter, namun perlu kamu tahu impianku lainnya adalah menjadi menantu dari mama Navysah. Ia salah satu orang yang aku sayangi. Aku berjanji akan merubah sikap manjaku dan akan berusaha meraih gelar dokter agar aku bisa bersama denganmu. Itukan yang kamu inginkan. Raffa, maukah kamu berjanji untuk setia dan sayang kepadaku? Aku tahu kau akan pergi jauh, tolong jadikan aku wanita satu-satunya di hatimu dan suatu saat nanti menikah denganku."


Raffa terkejut dengan permintaan Kinan padanya, ia melirik tante Ifa yang tersenyum manis padanya. Kinan bukan tipe orang yang pandai merangkai kata, siapa lagi orang yang mengajarinya dengan begitu lancar kalau bukan mama Ifa sendiri.Om Shafiq tidak mungkin, dia tipe orang yang pasif rencana seperti ini tidak akan dia lakukan.


" Matilah kau Raffa, terjebak dalam acara pertunangan ini. Mau tidak mau kau harus berjanji di hadapan banyak orang" lirih Rio, namun masih bisa terdengar Antoni.


"Lu ngomong apa Yo" ucapnya pura-pura tidak mendengar.


"Kagak" balas Rio


"Raffa, kau mendengarku kan?" tanya Kinan.


Ia tersentak dan bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya.


"Oh.., Ah.. Itu..." Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Raffa..." lirih Kinan, ia mulai berkaca-kaca karena Raffa tak kunjung berjanji padanya.


Raffa menatap kearah Kinan, ia merasa benar - benar bingung. Baginya, janji adalah hutang yang harus ditepati. Ia menatap kembali tante Ifa yang kini terlihat menggulum senyum. "Luar biasa keluarga Kinan, mempersiapkan pertunangan ini dengan sangat rapi. Aku tidak menyangka begini akhirnya" gumamnya dalam hati.


"Aku Raffa Raihan Akbar berjanji akan setia denganmu, kamulah wanita satu - satunya dan suatu saat nanti aku akan menikahimu. Kamu tidak perlu khawatir, fokuslah kuliah dan raih cita - citamu."ucap Raffa


Kinan merasa lega akhirnya Raffa mengucapkan janjinya dihadapan keluarganya, "Raffa Raihan yang aku kenal akan selalu menepati janjinya, dia selalu memegang teguh ucapannya" sambungnya lagi.


Deg,


Hatinya terasa nyeri saat Kinan mengucapkan kalimat terakhir. Kalimat pamungkas yang membuat dirinya tidak berkutik. Ia mencoba tersenyum dengan terpaksa.


Dan prosesi tukar cincin serta penyerahan beberapa bingkisan hadiah kini selesai dengan lancar.


"Mas, terima kasih" bisik Khaffi di telinga Raffa. Satu kalimat yang terlontar di mulut lelaki yang berusia sepadan dengan Khaffa dan Khalif.


"Mas pegang janjimu" balasnya dengan berbisik.


Dan ia hanya menganggukan kepalanya.


Keluarga Davian hendak pulang ke rumah, namun Raffa meminta ijin pada keluarganya untuk pergi satu mobil bersama Rio dan Antoni.


* **


Matursuwun yang sudah mampir. Jangan lupa like, Vote and comment

__ADS_1


__ADS_2