
" Raffa, apa kau tidak ingin pulang? kasihan mama Navysah " Kinan melirik sahabatnya,mencoba untuk mengajaknya pulang kembali ke rumah.
" Nanti aku akan pulang tapi tidak sekarang" ucapnya, ia melihat beberapa orang yang lalu lalang di depan rumah Rio dan beberapa kali melambaikan tangannya seolah tanda menyapa mereka yang dia kenal.
"Tadi mama Navysah telepon kalau Inha di bully di sekolah Fafa dan Alif memukul teman yang membully Inha. Besok mama ke sekolah."
Raffa langsung menoleh kearah Kinan, ia terkejut adiknya berantem di sekolah karena setahu dia walaupun Fafa dan Alif terkadang pecicilan, mereka tidak akan menyakiti temannya " Benarkah? " tanyanya.
Kinan langsung menganggukan kepala,"Gimana mau pulang?" tanya Kinan lagi.
"Sudah kubilang aku nggak mau pulang, besok aku mau ketemu mereka di sekolah saja"kekehnya, " Kamu pulang sana. Aku mau istirahat " perintahnya sembari masuk ke dalam rumah.
Kinan hanya menatap punggung Raffa yang telah mengusirnya dan ia bergegas pergi dari rumah Rio.
Di rumah Davian,
Assalamualaikum
Walaikumm salam
Kedua double kembar masuk kedalam rumah dan disambut oleh ibunya.
" Mah..!!!" sapa Inha, ia memeluk ibunya dengan erat.
Navysah langsung memeluk dan menggendong anaknya, "Ya allah berat banget anak cantiknya mama" ucapnya sembari mencium pipi anaknya.Ia pun melihat baju Fafa dan Alif yang berantakan,kotor, beberapa kancing mereka lepas dari pakaiannya, Ia hanya menghela nafas kasarnya. "Sudah, nggak usah sedih sekarang ganti baju dan makan. Nanti Inha mama suapin ya"ia mengelus rambut anaknya.
"Inka juga disuapin ya mah! " pinta Inka.
"Oke, kali ini mama suapin besok seperti biasa makan sendiri ya"
Mereka bergegas berganti baju, Fafa membuka tas nya dan menyodorkan sebuah surat pada ibunya "Surat cinta dari bu guru." ucapnya sembari cengengesan.
Navysah membaca surat dan memasukan kembali ke dalam amplop, "Ayo kita makan" ucapnya sembari menyuapi Inha.
" Mama tidak marah?" tanya Fafa dan ia pun melirik Alif yang sejak tadi hanya diam dan makan dengan tenang.
__ADS_1
"Siapa bilang mama tidak marah, mama marah kalian memukul anak itu" tegasnya, "Tapi mama tahu Fafa dan Alif punya alasan tersendiri kenapa kalian sampai memukul" sambungnya lagi.
"Alif, kenapa kamu langsung memukul dia." tanya Navysah
"Karena dia membuat Inha menangis, dia mendorong Inha hingga terjatuh dan sering mengatakan Inha bisu. Alif tidak mau adik Alif disakiti terus" tegasnya.
"Fafa juga, Fafa nggak mau adik - adik Fafa kenapa - napa"
Navysah hanya tersenyum melihat anak-anaknya. "Makasih ya Fafa dan Alif sudah melindungi adik-adik, Mama bangga sama kalian tapi besok lagi jangan asal pukul, kalau ada teman yang rese bilang saja sama ibu atau bapak guru ya sayang"
"Kelamaan mah..!" seru Fafa, "Tadi ditonjok Alif, kami rame - rame saling pukul"
Navysah mengenyitkan dahinya,ia penasaran dengan jawaban anaknya "Emang tadi siapa saja yang berantem? "
"Fafa, Alif, Khaffi , Keken. Anggrek tadi cuma bantuin Inha saja tapi kita semua dapat surat cinta kok" ucapnya cengengesan kembali.
"Astagfirullah..!" ia mengelus dadanya, ternyata semua anak temannya dan anak kakak iparnya ikut terlibat dalam baku hantam ala anak sekolah dasar.
"Alamat reunian di sekolah bocil ini." gumamnya dalam hati.
Malam hari Davian pulang dan bertanya tentang keberadaan Raffa, Navysah tahu walaupun dia terlihat cuek namun dari lubuk hatinya ia selalu peduli dan merindukan Raffa . Navysah pun menceritakan kalau Raffa dirumah Rio dan menceritakan tentang si double kembar, bahwa besok ia akan pergi ke sekolah anaknya. Ia pun bercerita kalau semua anak temannya juga mendapat surat dari sekolah.
Davian hanya mengulum senyum saat mendengar cerita dari istrinya. Ia bergegas masuk ke dalam selimut dan memeluk istrinya.
"Kamu kok cuma senyum dan no respon, ini anak kita lho mas yang di bully" cebik Navysah, ia mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tenang saja, ini terakhir anak itu menghina Haha. Kalau berani dia melakukan bullying lagi sudah pasti dikeluarkan sekolah. Kamu tidak tahu Imelda si singa betina kalau dia sudah keluar kandang habis semuanya dia libas, siapa yang berani menyakiti ponakan kesayangannya akan berurusan dengan dia"ucapnya dengan menutup mata, Davian tahu Imelda sangat menyayangi Inha lebih dari anak yang lain. Baginya Inha seperti anak kedua setelah Kendrew.
Navysah hanya menganggukan kepalanya tanda setuju, selama ini apapun masalahnya kalau ada mbak Imel pasti selalu beres.
* **
Keesokan harinya,
Navysah datang ke sekolah anaknya untuk membahas kejadian kemarin.Di sekolah terlihat Ifa dan Jasmine yang sudah menunggu kehadirannya.
__ADS_1
"Nav, akhirnya kita ketemu di situasi seperti ini ya, aku tidak menyangka" Ifa terkekeh, sudah beberapa bulan ia tidak bertemu sahabat karibnya.
"Ada hikmahnya kalau kayak gini,dan kita semua bisa kumpul reunian bareng" Navysah
"Mbak Navysah, kenapa si Anggrek ikutan di panggil padahal dia cuma bantuin si princess kembar saja" gerutu Jasmine, ini pertama kalinya dia dipanggil ke sekolah.
"Anggap saja kita lagi main disini, tinggal nungguin kanjeng ratu Imelda, hahaha" seloroh Navysah sembari tersenyum. Dan benar saja beberapa menit kemudian Imelda datang dan mereka masuk ke ruang guru, terlihat disana sudah ada lima orang tua. Salah satunya dari ibunya Candra yang sudah menunggu.
" Saya tidak terima anak saya dihajar si kembar itu, mereka semua mengeroyok anak kami sampai terluka. Mereka pantas di keluarkan dari sekolah ini" bu Candra mengucapkan dengan berapi-api, wajahnya merah padam menahan marah. "Makanya bu kalau punya anak dididik dengan benar dan yang sopan, jangan pakai kekerasan " ia melirik Navysah secara sinis.
"Iya betul itu, mereka harus dihukum berat" sambung semua ibu - ibu geng Candra.
Navysah menatap tajam kearah ibunya Candra, ia tidak terima anaknya disalahkan atas apa yang sebenarnya terjadi.Terlebih lagi perkataan ibunya Candra yang mengatakan dirinya kurang benar dalam mendidik anak - anaknya.
"Tunggu sebentar bu, tolong jangan emosi. Kita disini untuk menyelesaikan masalah bukan saling menyudutkan" bu Afni sebagai guru mencoba untuk menengahi permasalahan yang terjadi.
"Ya ampun, kalian sudah tua. Tidak perlu bicara keroyokan seperti itu kayak mau demo turunkan harga sembako." ketus Imelda, ia tidak suka dengan suara ribut yang ditimbulkan oleh pihak sebelah. " Dari pihak Navysah biar saya yang bicara, silakan dari pihak anda siapa yang mau jadi jubir nya " sambung Imelda lagi.
Ifa dan Jasmine hanya mengulum senyum. Seorang Imelda benar - benar tidak pernah takut menghadapi siapapun dan ucapan ketusnya masih saja melekat pada dirinya walaupun umurnya sudah menua.
" Saya! "ucap bu Candra.
" Ibu bilang, ponakan saya menghajar mereka dan pantas dikeluarkan dari sekolah. Apa ibu tahu apa penyebabnya? "tanyanya dengan tatapan tajam.
" Tahu,Inha ingin meminjam buku pada Candra namun tidak dikasih. Dia mengigitnya sehingga Candra mendorongnya hingga terjatuh lalu Si Inka datang menggigit tangan Candra juga dan menendang kaki anak saya.Dan si Alif menonjok anak saya dan anak lainnya ikut membantu saling adu jotos"
"Hahahaha, lucu sekali maling teriak maling!" seru Imelda sembari tertawa keras.
"Apa maksud ibu? Anak saya berbohong" seru ibu Candra tidak terima, ia sewot mendengar perkataan Imelda.
"Sudah tentu anak ibu seorang pembohong!" sarkasnya." Anda jangan mengada - ada dan memutar balikan fakta" ia menatap pihak lawan dengan tatapan membunuh.
"Itu memang kenyataan nya! " serunya, " Benarkan ibu-ibu" ucapnya, ia meminta dukungan dari kelompoknya.
"Betul...!! Betul..!! Betul..!!" ucap mereka bersamaan. Di dalam ruangan tampak sedikit panas dengan argumen satu sama lain yang saling membela anak mereka.
__ADS_1