
Kinan sudah dua hari cuti dari pekerjaannya, ia merasa gelisah karena Raffa tidak pernah menghubunginya lagi. Kinan beberapa kali menelepon mama Navysah dan Ayah Davian namun handphonenya tidak pernah aktif.
Ia masuk ke kamar Khaffi dengan wajah murung dan uring - uringan. "Adek dek, bangun dong" Kinan mengguncangkan tubuh Khaffi yang sedang tidur siang.Namun Khaffi tidak bergeming, ia hanya membalikkan tubuhnya ke arah samping.
"Ishhh... Khaffi rese banget sih nggak mau bangun." desis Kinan, ia ikut rebahan dan memeluk adiknya dari belakang.
"Hihihihi....Hihihihi...." Kinan menirukan suara kuntilanak, ia tahu Khaffi seorang penakut.
"Apaan sih mba! Rese banget." Khaffi terbangun karena ulah Kinan yang cekikikan sengaja meniru suara kuntilanak di telinganya.
"Bantuin mba" pinta Kinan, " Tanyain Alif, mama Navysah sudah telepon dia belum. Gimana kabar mama, tanyain juga Raffa telepon Alif nggak."
"Telepon saja sendiri." ketus Khaffi, ia kembali menarik selimutnya dan tidur.
"Isshhh... kamu ini ah, mba males ngomong sama Alif. Mba masih kesel sama dia dan sampai sekarang mas Raffa tidak menelepon mba kamu nggak kasihan sama mba." Kinan kembali memeluk adiknya dari belakang. "Khaffi gantengku, bantuin mba ya cup..."cup.."Rayu Kinan dengan menciumi pipi adiknya
Khaffi menggulum senyum, ia tahu Kinan selalu merayu saat membutuhkan bantuannya. " Belikan aku kaos distro tiga biji. "pintanya, kesempatan emas ini tidak disia-siakan begitu saja. Dan Khaffi yakin Kinan akan menuruti semua keinginannya.
" Oke, nanti mba belikan. Masalah kaos gampang."Kinan menjentikan jarinya.
Khaffi segera menelepon Alif sesuai permintaan Kinan.
" Lif, mas Raffa sudah telepon lu belum." tanya Khaffi
"Dia belum telepon." jawab Alif diujung telepon.
"Mba Kinan kangen mas Raffa, suruh dia telepon ya."
Kinan menatap tajam adiknya.
"Tante Navysah sudah telepon lu belum?" tanya Khaffi kembali
"Belum, handphonenya tidak aktif." jawab Alif, " Kalau mau tanya mama Navysah tinggal telepon aku nggak usah minta bantuan Khaffi." seru Alif dengan suara keras, ia tahu ada Kinan disamping Khaffi yang sedang menguping pembicaraannya. Siapa lagi yang selalu menanyakan kabar ibunya jika bukan Kinan,kalau Khaffi itu tidak mungkin.
Khaffi mematikan panggilan dan terkekeh mendengar suara Alif yang sengaja ia tinggikan agar sang kakak mendengar dengan jelas.
"Sudah jelas kan, jadi penuhi permintaanku." ujar Khaffi
"Ya ampun, cuma telepon satu menit aku harus membayar tiga kaos distro. Dasar adik matre..." gerutu Kinan, ia menutup pintu kamar Khaffi dengan kesal.
__ADS_1
"Non, ada mba Jessica dan suaminya di ruang tamu." ujar Bibi Titi, salah satu asisten rumah tangga di keluarga Kinan.
Kinan menemui Jessica dan suaminya dengan malas, ia merasa malu dengan matanya yang sedikit bengkak.
"Ya ampun Kinan..., ada apa denganmu?" Jessica menatap wajah Kinan yang kusut dan tidak bersemangat. " Nan, lu tahu nggak si kribo udah pulang dari Inggris, gue kemarin ketemu dia sama keluarganya di Mall."
Kinan membelalakan matanya, "Serius lu Jes, dia pulang sendiri? Nggak sama Raffa?" tanyanya
"Sendirian, kata dia Raffa lagi sibuk kerja." balas Jessica sambil menyeruput es jeruk
Kinan hanya tersenyum kecut, " Mungkin Raffa pasti betah disana karena pacar barunya." gumam Kinan dalam hati
"Nan, Jessica ngidam sop ayam buatan lu. Katanya enak banget, dibikinin bibi nggak mau. Dedek maunya buatan lu yang kayak dulu." Sammy mengelus perut Jessica yang sedikit buncit, ia ingat Jessica suka makan masakan dari Kinan. Sejak Raffa pergi, Kinan selalu belajar memasak bersama tante Navysah. Kinan ingin saat Raffa pulang bisa memasak menu kesukaannya.
"Jangan sekarang, aku lagi badmood."
"Kamu kenapa sih!, sejak pulang dari acara pernikahanku nggak pernah ngabarin. Aku kan khawatir, mana nggak masuk dua hari. Banyak pasien nyariin lu tuh."
Kinan mulai berkaca-kaca, ia memeluk tubuh Jessica dari samping. "Raffa ingin putus denganku Jes, dia menuduhku selingkuh dengan Bagas dan dekat dengan bang Juna."
"Aku sudah jelaskan ke mama Navysah dan Om Davian tapi sampai sekarang Raffa belum menghubungiku. Dia benar-benar marah padaku, Raffa bilang dia hidup bersama dengan pacar barunya tapi aku tidak percaya pasti itu alasan agar dia bisa putus dariku. Aku harus bagaimana Jes, pusing banget hiks...hiks..hiks "Kinan menangis dan menutup kedua wajahnya dengan tangan
"Maaf..." lirih Jessica
"Maaf buat apa." Kinan menyusut air hidungnya.
"Mungkin karena aku." ucap Jessica dengan menundukan kepala. Kinan mengenyitkan dahi karena tidak mengerti.
"Ishhh.. maksud kamu apaan sih Jes?! nggak ngerti gue." tanya Kinan.
"Aku sering mengirim foto kamu dan abang ke handphone Raffa,aku bilang kalau Raffa nggak cepetan pulang aku akan menjodohkan kamu dan abang. Kemarin saat pernikahan aku juga kirim foto padanya. Tapi ini semua aku lakukan agar Raffa tahu kalau kamu menunggunya." jelas Jessica
" Oh jadi selama ini selain Alif, kamu juga yang suka kirim foto ke Raffa! " seru Kinan dengan suara keras
" Gara-gara kamu, Raffa jauh dariku.! "bentak Kinan, ia tidak menyangka Jessica berani mengirim foto dirinya bersama bang Juna.
" Kinan dengerin aku dulu.. " Jessica memohon dengan memelas
" Nggak...! Aku nggak mau dengar alesanmu. Selama ini aku anggap kamu teman terbaikku, mendukungku tapi apa HAH...! tega ya Jes kamu sama aku." Kinan terlihat emosi, hingga Sammy mencoba untuk menenangkan Jessica yang sedang hamil.
__ADS_1
"Aku benci sama kamu Jess!, lebih baik kamu pergi dari rumahku ini. Aku nggak mau kenal sama kamu lagi." tegas Kinan, ia berlari masuk ke dalam kamarnya dan menangis
"Nan..., Kinan jangan salah paham. Aku masih ingin jadi teman kamu Nan huhuhu..." Jessica menangis dan ingin berlari mengejar Kinan.
"Sudah yang, sudah. Kita pulang saja." Sammy menahan tangan istrinya agar tidak mengejar Kinan, " Kinan sedang frustrasi, biarkan dia sendiri.Kamu juga salah, kita harus pahami hati Kinan sayang."
"Tapi.. tapi.. dia bilang nggak mau berteman denganku lagi huhuhu..." Jessica menangis keras, tidak bisa membayangkan seandainya Kinan pergi dari hidupnya.
"Kamu tenanglah, Kinan hanya emosi. Ingat, jangan nangis terus nanti dedek ikut sedih." Sammy mengelus perut Jessica
"Kita pulang ya, istirahat." bujuk Sammy, ia membawa Jessica untuk pulang ke rumah.
* **
Malam hari Kinan pergi ke rumah Rio untuk menanyakan kabar tentang Raffa. Ia begitu penasaran apa yang sebenarnya terjadi di Inggris dan benarkah Raffa sudah memiliki kekasih dan hidup bersama disana.
"Assalamualaikum" ucap Kinan
"Walaikumm salam." balas bu Asti, orangtua Rio, "Cari siapa neng?" tanyanya, ia melihat seorang gadis cantik berdiri membawa beberapa kantong kresek di tangannya.
"Ada Rio bu? "
"Eh, mba Kinan. Sini masuk." Caca yang baru saja salat di masjid melihat Kinan berdiri di depan rumahnya.
"Mak, ini mba Kinan pacarnya kak Raffa." ia mengenalkan Kinan pada ibunya, "Dia yang sering kirim makanan dan sembako untuk kita tiap bulan. Emak lupa?" tanya Caca
"Oh, ya allah neng Kinan. Mak ingat sekarang, sudah lama nggak ketemu. Eneng tiap bulan ngasih bingkisan cuma lewat sopir eneng jadi emak lupa wajah eneng." bu Asti memeluk Kinan dengan erat, " Makasih atas semua bantuannya."
"Iya bu, Oh iya ini makanan buat ibu" Ia menyerahkan beberapa kreseknya. " Ada Rio ada bu?" tanya Kinan, ia ingin sekali bertemu dengan Rio
"Terima kasih banyak neng"bu Asti menerima bingkisan dari Kinan," Sebentar ya, Rio belum pulang dari masjid." jawab bu Asti, " Sini duduk dulu." ia menggandeng Kinan untuk duduk di kursi tamu dan memberinya cemilan.
"Assalamualaikum."
"Walaikumm salam." balas mereka bersama, Kinan melihat penampilan Rio yang berbeda. Terlihat lebih tampan dan bersih kulitnya.
"Yo..." lirih Kinan, matanya berkaca-kaca melihat Rio yang sudah lama tidak ia jumpai.
Rio tahu apa yang akan dibicarakan Kinan, sudah pasti tidak jauh dari seputar pertanyaan tentang Raffa. " Kita keluar, tunggu aku sebentar."
__ADS_1