Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 160


__ADS_3

Mereka pulang pagi hari, sepanjang perjalanan Hanin selalu bersandar di bahu suaminya dan bermanja hingga membuat Inka yang berada di depan kursi penumpang merasa jengah.


Antoni yang kini menyetir pun hanya bisa menarik nafas panjangnya karena Hanin begitu cerewet dan suaranya memekakan telinga saat menyanyi. Sesekali Antoni melirik pasangan gila yang sedang bermesraan tanpa melihat tempat dan situasi.


"Mba Hanin berisik!" Inka begitu kesal mendengar suara Hanin yang terdengar cempreng. "Lebih baik mba diam daripada nyanyi."


"Syirik lu Ka, bilang saja iri dengar suaraku yang merdu ini." Hanin begitu percaya diri dengan kemampuannya dalam bernyanyi.


"Haaaa.. Hiiii... Haaaa... Huhuhu..." Hanin kembali melakukan tes suara seolah sedang berlatih vokal.


"Astagfirullah! Aku mendengar suara gagak liar." Inka menutup telinganya dengan cepat.


" Ini suara emas Ka, enak saja suara gagak!" Hanin


"Suara aku bagus kan ya A?!" tanya Hanin pada suaminya.


"Iya, baguuuuusss banget." Fafa merasa mual saat mendengar istrinya menyanyi namun ia harus mengatakan bahwa suara Hanin bagus, jika tidak maka Hanin akan merajuk.


"Mas, bohong dosa loh! Neraka sudah penuh, emang mas mau nyusul kesana jualan mie ayam di Neraka." seloroh Inka


"Astagfirullah! Amit - amit." Fafa


"A... aku mau lihat penyanyi dangdut, penyanyi gerobak dorong tidak masalah yang penting mereka nyanyi untukku." pinta Hanin


Fafa pura-pura tidak mendengar, ia menutup matanya dan pura-pura tidur.


"AA...!! dengar aku tidak, si kembar minta dengar biduan dangdut nyanyi! " Hanin mencubit lengan suaminya dengan keras.


"Si kembar masih seumur jagung, kamunya aja yang banyak mau."


"Jadi AA tidak mau penuhi keinginan anakmu ini!" seru Hanin dengan wajah ditekuk namun dalam hatinya ingin sekali tertawa keras karena ingin mengerjai suaminya.


"Iya, nanti aku penuhi keinginanmu. Nanti aku minta mama Navysah nyanyi untukmu."


" Memangnya mama Navysah biduan gerobak dorong apa?! Dasar anak durhakim stadium akhir." sahut Inka, ia mendengar obrolan pasangan gila yang unfaedah.


"Ape lu Ka!" Fafa menendang kursi penumpang Inka dari belakang. "Mana ada durhaka stadium akhir, emangnya penyakit kronis!"


"Nih, Mama pintar nyanyi dan ada si jutek Inha." jelas Fafa kembali. "Anggap saja mereka biduan dadakan untuk cucu serta ponakan tercinta. Susah cari biduan gerobak dorong Ka, emang lu mau cari biduannya."


" Ogah!" Inha hanya memutar bola matanya dengan malas. "Heran deh! Kenapa sih, menantu mama Navysah nyidamnya aneh - aneh. Kemarin saja mba Kinan minta es cingcau malam hari. Mana nyarinya susah banget."


" Eh, bawel! nanti kalau kamu nikah dan hamil juga bakal kayak gitu. Suamimu bakal repot karena lu cerewet Ka, banyak maunya!" semprot Fafa


Inka melirik seseorang yang sedang menyetir di sampingnya, namun Antoni tidak merespon dan hanya fokus menyetir.


" Kalau Inka menikah dengan pria biasa boleh? "tanya Hanin, ia ingin tahu jawaban dari Fafa selaku kakak dari Inka. Hanin tahu Inka ada perasaan dengan Antoni namun sang pria tidak merespon perasan Inka.


" Adikku harus menikah dengan anak sultan bukan pangeran KW KWan apalagi seorang duda. Adikku harus bahagia, terjamin masa depannya. Hidup harus realistis bukan sekedar cinta. Memangnya dengan cinta bisa membeli semuanya." jelas Fafa


"Coba deh kamu ke pasar beli beras terus bilang, aku bayar pakai cinta ya pak, yang ada lu di cekik sama penjualannya." sambung Fafa kembali


" Mas Fafa..!! Ngomong apaan, sih!!" sembur Inka. Ia benar-benar malu karena secara tidak langsung kakaknya tidak setuju jika Inka menjalin hubungan dengan pria biasa terlebih lagi seorang Antoni.


"Kalau aku cinta dengan pria biasa gimana mas?"


"Langkahi dulu mayat Alif!!" ucap Fafa


"AA... Ini lagi serius, malah kamu ngelawak!" cebik Hanin

__ADS_1


"Aku juga serius, memangnya aku ngelawak!"


" Kenapa bukan mayat mas Fafa!" Inka begitu kesal dengan kakaknya yang begitu menyebalkan.


" Karena aku tidak bekerja di rumah sakit! Kalau Alif wajar, dia tiap hari lewatin tuh kamar mayat. Kalau lu mau nikah sama pria biasa lu harus langkahi mayat terus disampingnya ada Alif yang sedang berbaring bersamanya. Jadi MAYAT ALIF, hihihi." Fafa terkekeh dengan ucapnya sendiri.


" Dasar stress!! aku kira beneran mayat Alif ternyata Mayat orang lain dan Alif. " Hanin hanya memutar bola matanya dengan malas, sedangkan Inka melirik kembali kearah Antoni.


" Mana mau mas Alif tidur barengan mayat, mas Fafa ada-ada saja. Mas Alif kan penakut yang ada dia pingsan satu dekade! " sahut Inka lagi.


" Maka dari itu kamu jangan macem-macem, cari anak sultan yang bener!" balas Fafa sembari menjitak kepala adiknya.


" Mas Fafa!! "teriak Inka," Rese banget, sih! "


* **


Mereka tiba di rumah mama Navysah pada sore hari. Disana terlihat banyak mobil tamu yang terparkir di halaman rumah ibunya.


"Kok ada mobil asing, siapa ya?" Fafa turun dari mobilnya beserta Hanin dan Inka, sedangkan Antoni memakirkan mobil dan menyusul mereka ke dalam rumah.


"Auwwoooo.... Fafa datang!!!" teriak Fafa dengan suara khasnya seperti tarzan.


"Auwwoooo... Bini Tarzan juga datang!!" teriak Hanin dengan girang


"Astagfirullah.." Navysah mengelus dadanya, ia merasa malu dengan kelakuan anak dan menantunya yang kurang dewasa apalagi kini Navysah kedatangan tamu istimewa. "Ucapkan salam Nak."


"Assalamualaikum emak."


"Walaikumm salam." balas semua orang


Fafa melihat ayah dan ibunya sedang bersama seorang wanita sebaya dengan ibunya dan juga dua orang laki-laki, seorang anak kecil perempuan.


Fafa terdiam dan mencoba mengingat, siapa wanita yang telah menyapanya.


"Ini tante Maya Fa, masih ingat kan? Dia teman lama mama, dia baru saja datang dari Singapura."


"Oh, tante Maya yang bawel itu. Yang kalau ngomong nggak ada rem nya." kelakar Fafa


"Seratus buat Fafa, ini tante Maya bawel dan cantik tiada tara.Dulu kan Fafa sering main ke restoran tante. "


"Yaelah tante masih narsis saja." Fafa tersenyum geli. Teman ibunya yang satu ini memang sangat percaya diri dan baik hati. "Iya sih, tante memang masih cantik, awet muda sama kayak mama Navysah."


"Iya, ibumu itu masih tetap cantik, masih kayak sutet, tinggi kurus tidak ada yang berubah."


Navysah memutar bola matanya dengan malas, teman gilanya satu ini selalu ceplas ceplos sejak dulu.


"Aku bukan sutet tapi menara Eiffel." timpal Navysah sembari tertawa


"Om Rico, hamil nggak ngajak-ngajak. Perut tolong dikondisikan Om." kelakar Fafa, ia menggoda Rico yang kini bertambah tambun.


"Ini lambang dari kemakmuran dan kesejahteraan." timpal Rico sembari mengelus perut buncitnya.


"Ini istrinya Fafa ya." sapa Maya, " Cantiknya..."


"Iya tan, saya Hanin istrinya A Fafa."


"Maaf ya, tante tidak datang saat pernikahan kalian dan pernikahan Raffa karena tante tinggal di Singapura selama empat tahun. Anak tante tugas disana." jelasnya. " Ini anak tante, namanya Richi dan anak kecil itu cucu tante namanya Cherry."


"Hai...cantik banget ini." Hanin mengelus rambut Cherry dengan lembut. "Berapa umurnya?"

__ADS_1


" Empat tahun." Cherry tersenyum, ia menyembunyikan wajahnya di lengan Ayahnya.


"Mamanya mana Cherry?" tanya Hanin dengan mengelus lembut anak itu.


"Mami pelgi." jawab Cherry dengan gaya khas anak kecil.


"Oh... Itu, mama Cherry bekerja di luar negeri dan mereka sudah bercerai. Richi itu duda Nin." Maya mencoba menjelaskan status anaknya.


"Oh, maaf tante Hanin tidak tahu."


"It's ok!"


" Richi duren dong, duda keren hihihi." Hanin menutup mulutnya dengan tangan. " Duren Ganteng." sambungnya lagi


"Maksudmu apa?" Fafa melirik tajam kearah istrinya, ia sedikit cemburu saat Hanin memuji ketampanan pria lain.


"Bercanda A! gitu aja marah."


Fafa membuang wajahnya kearah lain, ia malas melihat istrinya


" Cemburunya Fafa mirip kamu ya Davian." Rico


"Aku tidak cemburuan, mana ada." elak Davian dengan tersenyum


Navysah hanya memutar bola matanya dengan malas.


" Istrimu cantik ya Fa." ucap Richi sembari tersenyum, "Cantik, ramah, Istri idaman."


"Tuh kan A! aku istri idaman, A Richi mengagumiku." Hanin begitu sumringah mendengar dirinya disebut sebagai istri idaman


"Istri idaman?!" Fafa mengenyitkan dahinya. " Yang ada kamu istri yang bikin pusing Nin!"


"Benar sekali A Richi, Hanin memang istri idaman saking idamanya bikin kopi saja dia tidak bisa. Aku harus minum kopi sachet, minum teh asin juga pernah. Makan masakan gosong pernah." terang Fafa sembari tersenyum. "Dia Istri ajaib A."


Hanin dengan kesal mencubiti suaminya, sedangkan Richi tertawa lepas.


" Kalau ini princess Kaka atau Haha?" tanya Maya, ia melihat wanita muda yang mirip Navysah.


"Inka tan, yang paling cantik dan menarik hihihi..."Inka cekikikan sembari menutup mulutnya.


" Cantik modelnya begitu." cibir Fafa," Dasar corong minyak! " ledek Fafa


" Mas Fafa...!! " teriak Inka dengan keras, ia memukul tubuh Fafa secara membabi buta.


Mereka semua tertawa dengan gurauan Fafa dan tingkah Inka.


" Kok corong minyak, sih Fa? Memang cantik kok si Inka. " Maya membela Inka yang menurutnya cantik


" Cantik darimana! Bawel sih, iya. Dia memang corong minyak tante, mulutnya tidak pernah berhenti bicara, apalagi kalau makan beuh habis nasi satu bakul buat dia sendiri Tan." jelas Fafa


Inka mencubit pipi kakaknya dengan gemas, ia merasa malu karena Fafa membuka aibnya.


" Si Haha mana ya Tan? "tanya Richi, ia begitu penasaran dengan Inha sekarang. Richi begitu menyukai Inha yang pendiam dan imut. Dulu saat diminta untuk menyanyi Inha akan melakukannya dengan baik dan dengan lincah ia akan menari.


"Haha sedang dalam perjalanan, sebentar lagi juga sampai." jawab Navysah


"Haha sering menginap di rumah mami Imelda, sejak kecil Haha ponakan kesayangan mami Imel dan si Keken juga sayang banget sama Haha." sambung Navysah kembali


Saat mereka bercerita terdengar suara dari luar.

__ADS_1


__ADS_2