Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 129


__ADS_3

Fafa kini menunggu ibunya siuman, ia begitu cemas melihat Navysah tidak sadarkan diri setelah melihat dirinya bercumbu bersama Hanin.


Davian pun memasang wajah tak bersahabat, ia menatap wajah anaknya dengan tajam. "Ayo kita bicara di luar."


Fafa mengekori ayahnya dengan malas, dalam hatinya ia begitu takut karena sudah pasti ayah Davian akan memarahi dirinya.


"Apa yang terjadi dengan mama!?"


"Maaf." lirih Fafa, ia menundukan kepala, merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi. Fafa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga ayahnya terlihat begitu sangat geram dan melototkan matanya.


" Capek ayah sama kamu Fa!" ucap Davian, " Dulu saat mama melahirkan kamu hampir kehilangan nyawanya dan sekarang kamu sudah besar, kamu juga ingin membuat mamamu kehilangan nyawanya kembali!" tegas Davian


"Ayah tidak mau tahu, sekarang kamu harus minta maaf sama mama dan menuruti keinginannya serta meminta maaf pada gadis itu."


"Tapi yah, Hanin yang merayuku!, aku tidak salah yah." Fafa mencoba menyangkal semuanya.


"Tapi kamu juga mau kan!? Ayah tidak mau tahu kamu harus bertanggung jawab."


"Iya yah." lirih Fafa dengan menundukan kepala kembali.


Seorang dokter ahli jantung dan Shafiq kini mulai menceritakan kondisi Navysah saat ini dan Davian hanya bisa menghela nafasnya.


" Tolong perhatikan suasana hati ibu Navysah agar tidak pingsan kembali pak. Untuk saat ini dia masih stabil, namun tidak menutup kemungkinan jika dia banyak tekanan dan banyak fikiran bisa saja dia mendapat serangan jantung, sebisa mungkin jauhkan ibu Navysah dari stres.


" Terima kasih banyak dokter. "


" Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu."


"Sudah dengar apa kata dokter tadi!" Davian kembali menatap anaknya. Dan Fafa hanya menganggukan kepala


"Kamu tenanglah besan, Navysah kuat kok." Shafiq menepuk bahu Davian mencoba memberi kekuatan.


* **


Navysah mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.Ia memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing.


"Mas..." lirihnya, ia melihat Davian mengenggam erat tangannya.


"Kamu sudah sadar sayang." Davian mencium kening istrinya.


"Mama...." Fafa mendekat kearah ibunya namun Navysah membuang wajahnya ke arah lain.


"Maafkan Fafa mah,Fafa..." ia menundukan kepala


"Mama kecewa sama kamu Fa!, apa yang kamu lakukan dengan gadis orang, itu sungguh keterlaluan" Navysah menitihkan airmata


"Aku tahu mah, maaf. "


" Menikahlah dengan Hanin, bertanggung jawablah sebagai seorang laki-laki."


"HAH...!" Fafa terkejut dengan permintaan ibunya, "Tapi mah itu bukan salah Fafa, Hanin yang merayuku mah."

__ADS_1


"Jangan banyak alasan, kalau kamu tidak suka dengannya seharusnya kamu menolak. Ini malah ninggalin bekas merah!" sewot Navysah, ia begitu geram saat mengingat beberapa tanda kemerahan di leher Hanin.


"Nggak sengaja, habis enak mah." Fafa menutup mulutnya, ia keceplosan dan merutuki kebodohannya.


"Fafa!!" sentak Navysah


Fafa merasa begitu bingung, di satu sisi ia tidak ingin melihat ibunya sakit, namun di sisi lain dia tidak mencintai Hanin.


"Masih mau menolak!" seru Navysah kembali


"Ya sudah mah, Fafa akan menikahi Hanin tapi secara sederhana dan mas Raffa harus melihat pernikahan Fafa."


"Kelamaan!! lusa kamu harus menikah dengan Hanin. Nanti mama yang urus, mas Raffa pasti akan melihat acara pernikahanmu."


"Kok cepet banget mah, kan menikah butuh persiapan." Fafa mencoba mengulur waktu agar dia tidak jadi menikah dengan Hanin.


"Kan secara sederhana, biar mama yang mengatur. Kamu tinggal ijab qobul saja."


"Yang penting halal dulu Fa." Shafiq mengelus punggung Fafa dengan lembut." Menikahlah."


"Tapi Om."


Namun Fafa mendapat pelototan dari ayahnya.


"Baik mah, Fafa pulang dulu. Assalamualaikum."


"Walaikumm salam."


"Bangunlah, anakmu sudah pergi besan gila!" Shafiq memutar bola matanya dengan malas, ia tidak habis fikir dengan drama yang dimainkan Navysah agar anaknya segera menikahi Hanin, dan akhirnya Shafiq pun ikut terseret dengan membawa satu sahabatnya yang ahli dalam bidang spesialis jantung.


"Makasih besanku." ucap Navysah, ia merasa berterima kasih pada Shafiq karena sudah membantunya kali ini.


* **


Hanin merasa asing saat ia terbangun dari tidurnya, ia merasa tempat ini bukanlah kamar yang biasa ia tempati. Terlihat tirai warna biru dengan sinar matahari yang menembus kaca kamar itu, ia benar - benar tersadar bahwa ia bukan tidur di apartemennya.


"Aku dimana?" Hanin merasa pusing karena efek dari alkohol yang ia minum. Ia melirik seorang wanita yang ia kenal duduk sembari memainkan laptop.


" Calon pengantin sudah bangun." goda Kinan, ia tersenyum lebar saat melihat Hanin kebingungan." Ini kamar tamu keluarga Davian."


" Calon pengantin." Hanin mengerutkan dahinya. "Jangan bicara sembarangan, tidak jelas kamu Nan!" ia bergegas masuk ke dalam bathroom. Aroma alkohol dan keringat malam masih tercium dari tubuhnya dan terasa lengket di badan.


"Ahhhhh...!!!" Hanin terkejut saat melihat beberapa tanda merah di lehernya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi malam itu.


Kinan cekikikan mendengar jeritan Hanin, ia sudah tahu Hanin akan kaget setengah melihat tanda merah itu.


"Aku pasti sudah gila." lirih Hanin, ia duduk diatas lantai sembari menjambak rambutnya.


"Fafa!!! kurang ajar kamu yah!!" teriak Hanin dengan keras


Ia buru-buru mandi dan meminta penjelasan dari Kinan.

__ADS_1


" Tidak perlu kaget seperti itu." ujar Kinan, " Sekarang pergilah ke kamar mama Navysah, ia menunggumu."


Lemas sudah Hanin seolah tidak bertenaga, ia begitu malu dan takut menemui tante Navysah. Entah apa yang akan ia katakan tentang semua yang terjadi di ruangan kantor Raffa. Ia benar - benar merasa gugup berhadapan dengan orangtua Fafa.


" Aku kabur saja ya, aku tak punya muka untuk bertemu tante Navysah." ucap Hanin


"Enak saja kabur! ketus Kinan," Kamu harus bertanggung jawab atas ulahmu sendiri!"


" Kan gara - gara kamu juga Nan, aku mabuk berat sampai... " Hanin tidak melanjutkan ucapnya karena malu.


" Ayo cepetan, temui calon mertua. "goda Kinan


" Apaan sih Nan! " seru Hanin tidak suka, ia membanting pintu kamar dengan keras.


" Maafkan saya tan. "satu kalimat yang keluar dari bibir Hanin." Saya salah, kejadian itu tidak disengaja. "


" Tante kecewa sama kamu dan Fafa,kalian sudah melakukan hal yang tidak pantas maka dari itu kalian harus menikah. " tegas Navysah


" HAH...!! " Hanin terkejut dengan ucapan tante Navysah,bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan pria menyebalkan itu sedangkan mereka tidak saling mencintai.


" Saya tidak bisa tan, kejadian kemarin saya yang salah, saya sudah melupakannya dan saya tidak akan meminta Fafa untuk bertanggung jawab."


"Kenapa kamu berkata seperti itu!" Navysah tidak suka dengan ucapan Hanin. "Memangnya kamu tidak malu setelah mesum dengan Fafa lalu dilupakan begitu saja. Kamu perempuan Hanin,harus punya harga diri. Dan setelah anak tante ciumin kamu sampai merah begitu kamu bilang lupakan saja!" Navysah menggeleng kepalanya, tidak percaya.


Hanin hanya menundukan kepala, merasa malu dengan ucapannya sendiri.


" Hanin, tante sayang sama kamu. "Navysah menggengam erat tangan Hanin, ia mengelus rambut Hanin dengan lembut." Mau kan nikah sama Fafa? " pinta Navysah." Fafa memang urakan, slengean tapi anak tante pria yang baik, ia pasti bertanggung jawab dengan kamu Nin, bisa bahagiakan kamu. Walaupun kalian belum saling mencintai tapi tante yakin dengan berjalannya waktu kalian akan saling mengasihi. "


Hanin mengigit bibirnya, ia benar - benar ingin menolak permintaan tante Navysah namun bibirnya kelu karena kebaikan dari keluarga Davian begitu besar apalagi Haninlah penyebab utama atas kecelakaan Raffa yang terdahulu.


" Hanya kamu yang tante inginkan menjadi menantu tante."


"Kalau sama Alif, Hanin mau tan tapi kalau sama Fafa...." Ia tidak melanjutkan ucapnya


"Fafa pria yang baik, dia tidak akan menyakitimu sayang. Percaya sama tante.Mau yah?"


Hanin akhirnya menganggukan kepala karena merasa tidak enak hati pada tante Navysah. Walaupun dalam hatinya ia ingin merutuki kebodohannya. Andai saja kejadian tadi malam tidak terjadi pasti ia akan menolak dengan tegas apa yang menjadi permintaan tante Navysah dan ia tidak akan menikah dengan pria gila yang sangat ia benci.


"Mah, mamah!!" teriak Fafa dari luar, ia mendengar Hanin berbicara dengan ibunya di kamar.


"Ayo pulang, aku antar kamu ke rumah." Fafa menggandeng tangan Hanin dan pamit dengan ibunya.


"Asyik!!! beres semuanya, tinggal persiapan besok lamaran dan pernikahan, yess!!" Navysah berjoget dengan gaya khas nya dan tersenyum bahagia.


Davian yang baru saja masuk ke dalam kamarnya kini melihat istrinya berjoget dengan riang. "Sudah tua nggak usah PE'A."


"Tapi kamu cinta kan?"Navysah menaik turunkan alisnya.


" Ya mau gimana lagi, cuma aku yang mau denganmu, sih!" ledek Davian sembari menggulum senyum.


" Oh begitu!! " ketus Navysah," Mulai malam ini tidur di kamar tamu! " perintahnya

__ADS_1


" Jangan dong sayang, cuma bercanda tadi, ya ya." Davian memeluk istrinya dari belakang, ia berharap Navysah mau menarik ucapnya kembali. Tidak tidur bersama Navysah adalah satu hal yang tidak ia sukai,Davian tidak akan bisa tidur tanpa istrinya.


Navysah hanya tersenyum geli,lalu ia menelepon Kamil dan anak buahnya untuk menjaga Fafa agar tidak kabur ataupun berdekatan dengan Rena dua hari kedepan.


__ADS_2