Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 20


__ADS_3

Seminggu kemudian,


Sejak pagi hari mereka berada di bengkel Pak Eris untuk menyelesaikan tugasnya. Minibar yang sudah dipesan kini ditata dengan epik oleh mereka. Raffa menambahkan satu tanaman bunga sakura plastik berwarna pink sebagai pemanis ruangan di pojok Cafe. Ia memasang beberapa lukisan sketsa dan karikatur buatannya.


"Alhamdulillah Yo, akhirnya kelar juga" dia mengusap dahinya yang bercucuran berkeringat.


"Iya, alhamdulillah. Selesai juga proyek kita.Tinggal nungguin pak Eris datang. Semoga dia suka" ucap Rio


"Assalamualaikum"


"Walaikumm salam"


"Pak Eris,gimana suka nggak dengan hasil karya kami. Apa ada yang perlu dirombak lagi?" tanya Rio.


Pak Eris melihat dengan teliti setiap bagian yang mereka desain. Ia berdiri di depan satu lukisan karikatur dengan gambar wajah dirinya dan sebuah mobil sedan kuno berwarna hitam. Sekilas terbit senyuman dari dirinya melihat foto tersebut.


" Bagaimana kamu bisa menggambar diriku dan mobil ini?" tanyanya tidak percaya.


"Aku beberapa kali melihat bapak membuka sarung mobil yang berada di pojok sana dan kulihat sedan hitam itu" ia menunjuk arah pojok bengkel "Saat itu bapak memeluk mobil, entahlah seperti memeluk orang yang di sayangi. Jadi, saya menggambar bapak dengan mobil itu" Raffa


"Kamu benar Nak, sebelum aku memanasi mobil itu pasti aku selalu memeluknya. Mobil itu dari Almarhum Papaku dulu,mobil tua penuh kenangan" ia tersenyum dan sesaat kemudian menghela nafas panjangnya. " Dulu papaku selalu mengendarai mobil itu sembari mendengarkan musik dan bernyanyi, kami sangat bahagia.Saat itu aku kuliah kedokteran dan Beliaulah yang menjemputku saat pulang kuliah dengan mobil itu. Jika mobil itu ngambek minta diservice, maka Ayah langsung mengajakku, mengajariku bagaimana cara memperbaikinya.Dulu aku tidak suka tanganku kotor penuh oli dan minyak dan tidak pernah tahu bagaimana caranya membetulkan mobil yang rusak, tapi Papa selalu bilang. " Cobalah dulu belajar dari sini, Papa akan mengajarimu, tidak melulu belajar tentang kedokteran kamu perlu belajar dari segala hal. Ibaratnya, kosongkan gelasmu tuang dengan hal-hal yang baik dan coba praktekan,mana tahu ilmu yang papa kasih akan berguna kelak untukmu "ia mulai berkaca-kaca mengingat setiap petuah dari Almarhum papahnya. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( QS. Al Baqarah :216)


"Kita tidak pernah tahu rencana Allah di masa yang akan datang. Papah yang saat itu sakit keras,adikku yang masih sekolah,Ibu yang keluar pekerjaan karena harus mengurus papah yang sakit. Semuanya berbanding terbalik, dunia terasa runtuh saat papah meninggalkan kami untuk selamanya. Aku harus DO dari kampus, mengubur mimpi untuk menjadi seorang dokter,harus pontang panting bekerja mengumpulkan uang untuk adikku sekolah. Dulu aku seperti Rio bekerja di bengkel agar adikku bisa sekolah. Mama harus berjualan untuk menambah penghasilan. Mama selalu menyuruhku untuk menjual mobil itu, namun selalu kutolak. Bagiku itu hadiah terbesar dari papa, mobil itu seperti papa dan semangat bagiku untuk bekerja lebih keras untuk keluarga. Bagaimana mungkin aku bisa menjualnya" sambungnya lagi.


"Dan kumulai semuanya dari nol, dengan meminta restu Mama aku mendirikan bengkel kecil. Mama selalu memberikan aku semangat saat aku terpuruk, dia yang selalu berada disisiku,mendo'akanku. Papah pernah berkata" Do'a terbaik adalah do'a orang tua. Restu orang tua adalah restu Allah. Itu yang selalu menjadi kunci kesuksesanku sampai saat ini. Dari bengkel kecil bertambah besar, punya usaha pencucian mobil dan kini punya showroom mobil bekas semuanya do'a dari Mama. Tapi sayang, dia sudah meninggal lima tahun lalu" dengan suara tercekat di tenggorokan, tanpa terasa airmatanya lolos begitu saja dan ia langsung mengusap dengan lengan kemejanya.


"Makanya saat Om bertemu Rio, dia bilang cari uang jajan buat adiknya saat itu juga Om menerima dia kerja disini" ia tersenyum kembali. "Maaf, Om jadi cerita masa lalu Om. Hehehe " ia menepuk lehernya dan terkekeh.

__ADS_1


"Nggak papa Om, saya suka Om berbagi pengalaman hidup. Ternyata dibalik kesuksesan Om ada jalan terjal yang berliku dan pastinya do'a seorang ibu"ucap Raffa.


" Iya, pumpung kalian masih punya orang tua. Jaga mereka dengan baik,minta do'a sama mereka insyaallah semua berjalan lancar. Oiya nanti uangnya Om transfer, terimakasih untuk hasil karya yang sebagus ini. Om yakin kalian akan jadi orang sukses" ucapnya


"Terimakasih Om"


* **


Di sekolah,


Semua siswa harus belajar lebih keras karena dua bulan lagi mereka akan ujian sekolah. Sebagian dari mereka mengikuti les online dan sebagian lebih memilih les privat tatap muka. Hanya Rio dan Tatia yang tidak mengikuti les apapun.Rio terlihat melamun, menopang dagunya entah apa yang sedang dipikirkannya. Raffa melihat sahabatnya dari jauh dan dia menepuk bahunya "Kenapa? Lu ada masalah? " tanyanya


"Nggak ada papa kok, elu dari mana Raff? Kantin"


"Dari perpustakaan, ini kan hari Senin aku puasa sunnah" ucapnya


"Lu beneran nggak papa?" tanya Raffa kembali. Rio menghela nafas panjangnya seolah ada beban di dalam dadanya. "Gue beneran nggak tahu bisa kuliah apa nggak. Les aja gue nggak ikutan karena nggak bisa bayar, diriku jarang belajar karena harus part time di restoran. Apalagi si Lian mau masuk sekolah SMA, sepertinya gue harus ngalah. Gue mikir jika gue dapetin beasiswa, gue bisa aman. Tapi lu tahu sendiri kegiatan kuliah itu padat banget kemungkinan gue nggak bisa part time lagi terus adik gue gimana. Dia bilang mau masuk sini dengan beasiswa biar gratis, ya kalau masuk kalau nggak gimana. Tahu sendiri masuk sekolah ini sulitnya minta ampun, tes nya nggak main-main " ia merebahkan kepalanya di meja sembari menutup kedua matanya." Gue bingung membagi waktu antara sekolah dan bekerja " lirihnya


Raffa menatap iba pada sahabatnya,ketika semua siswa harus mempersiapkan ujian dia harus bekerja selepas sekolah, nilai yang diraih sahabatnya cukup bagus walaupun dia jarang belajar. Rio memang anak yang pintar namun karena keadaan dia harus membagi waktunya antara sekolah dan bekerja, entah apa dia mampu meraih mimpinya untuk bisa berkuliah.


Raffa mulai berpikir bagaimana caranya Rio bisa belajar untuk dua bulan kedepan agar dia bisa lulus dengan nilai baik dan bisa mendapatkan uang untuk keluarganya.


"Lu jadi kurir mau nggak?" tanyanya. Rio langsung membuka matanya melihat ke arah Raffa. "Kurir apa?"


"Kurir anterin barang produksi, anterin barang ke konsumen mamaku. Jadi jam lu nggak terikat, biasanya tiga jam aja kelar tuh semua barang dianterin. Apalagi lu tahu daerah jakarta, cingcai lah.Tapi lu selesaikan dulu dua minggu ini di restoran biar ada karyawan yang gantiin lu. Setelah anterin barang lu kerumah gue, kita bisa belajar bareng Pak Mirza kita kerjain sama-sama. Mau nggak? "tanyanya


" Emang ibumu ngijinin. Lu ngomong dulu sama ibumu, gue malu udah dikasih kerjaan di restoran malah minta lainnya "

__ADS_1


" Oke, ntar gue ngomong ke mamah dulu, biasanya sih dia nggak keberatan " ucapnya, dia melirik Tatia yang duduk di baris depan. Gadis dengan kacamata lebar yang cukup pintar namun hanya sekedar figuran diantara kaum berada.


" Tatia, sini deh"teriak Raffa. Sang gadis menoleh ke belakang dan menghampiri sumber suara.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara lembut.


"Kamu ikut les?" tanya Raffa dan hanya mendapat gelengan kepala dari sang gadis.


"Mau les bareng dirumahku nggak, kita belajar bareng sama Rio juga, gratis tidak bayar " Raffa sengaja menekankan kata terakhir, ia tahu Tatia terkendala masalah biaya, ia masuk ke sekolah ini dengan beasiswa dan piagam atletik yang dimilikinya.


Sang gadis berpikir sejenak, menimbang plus minusnya untuk belajar bersama." Rumah lu agak jauh dari gue, gue kan naik sepeda dan takut pulangnya"


"Lu bisa pulang bareng Rio, boncengan dia kosong kagak ada cewek yang mau nebeng dia" Raffa mengulum senyumnya sembari melirik Rio.


"Ck..!! Suweeeee lu..! Bilang aja gue kagak laku, kagak ada yang mau sama kribo item kayak gue" decak Rio dengan cemberut.


"Hahaha, sadar diri juga lu" Tatia yang biasa pendiam sekarang mau berseloroh dengannya. " Aku mau kalau ada temen barengan"


"Oke nanti gue kabarin, gue ngomong sama guru les gue dulu"


"Oke"


* **


Pumpung di bulan Ramadhan, yang masih punya orang tua yuks minta do'a darinya biar semuanya lancar. Yang jauh bisa telepon orang tua tanya kabar, jangan lupa orang tua juga butuh transferan. Hehehehe,😁😋


Seperti Author juga butuh like, Vote and comment. Apalagi kalau Vote nya banyak. Hahahaha, peace 😁😘😘😘 Makasih yang udah mampir

__ADS_1


__ADS_2