
Kamil
Ia bergegas menelepon tangan kanannya yang selalu standby menjaga anak - anak Davian. Sejak Raffa lebih suka menggunakan sepeda untuk sekolah, ia selalu mendapat pengawasan lebih ekstra dari anak lainnya.
Setiap gerak - gerik Raffa diluar rumah dan sekolah selalu di pantau oleh bodyguard Kamil. Saat Raffa menerima job desain rumah dan mini Cafe, ia pun tidak luput dari pantauan, apapun kegiatannya selalu dilaporkan pada Kamil. Apalagi sejak ban Raffa kempes dan selalu mampir ke bengkel Babeh, ia pun selalu mencari informasi tentang orang yang selalu berinteraksi dengan anak majikannya itu.
"Antoni Kusuma" ia membuka berkas yang pernah diberikan tangan kanannya. Ia mengenyitkan dahinya saat melihat sebuah foto Antoni dan ibunya yang ditampar oleh seorang pria tepat di halaman rumahnya.
Ia membaca setiap lembar profil dari Antoni dan ibunya, mereka beberapa kali mengunjungi seseorang di daerah Duren Sawit.
"Korban KDRT"
"Anak berprestasi namun sulit diatur" ia membaca setiap kalimat yang sengaja diberi warna merah oleh bodyguard nya.
Ia mengingat Kinan pernah berbicara kalau Raffa sering mendapatkan perundungan dari Antoni yang terkenal bandel dan cukup ditakuti oleh teman lainnya.
"Cari tahu hubungan keluarga Antoni dengan seseorang yang berada di alamat ini, kenapa setiap bulan mereka datang kesana" ia menelepon anak buahnya untuk mencari informasi.
Setelah beberapa lama, tangan kanan nya memberikan informasi kepadanya dengan cukup akurat, Walaupun harus membayar mahal untuk informasi ini.
" Riza Kusuma, kamu memang pria pengecut dan serakah" ujar Kamil.
__ADS_1
###
Di rumah Riza Kusuma,
"Plak..!!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi Antoni dan terasa sangat panas baginya.
"Stop pah!, Jangan lakukan itu pada Antoni. Pukul saja aku jangan anakku" bu Rahmi memeluk anaknya dan berdiri didepan nya agar sang anak terhindar dari amukan sang Ayah.
"Kamu jangan membelanya terus, dia itu selalu bermasalah.Beraninya kamu menganggu anak Davian, sudah bosan hidup kamu!! bentak Pak Riza, ia benar-benar murka karena anaknya kali ini salah sasaran memilih korban kenakalan nya. " Papah sudah bilang, jadilah anak penurut dan selalu juara satu. Kalahkan Raffa dengan prestasimu bikin Papah bangga denganmu bukan dengan kelakuanmu yang seperti ini Antoni!" teriaknya.
Antoni menatap tajam pria yang ada di depannya, pria yang selama ini ia anggap ayah kandungnya namun fakta sebenarnya ia hanyalah orang yang ambisius dan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaannya " Papah selalu otoriter, aku harus ini, harus itu. Jangan banding - bandingkan aku dengan anak teman Papah lainnya, aku muak. Aku ingin dengan pilihanku sendiri tapi papah selalu melarangku, papah selalu mendorongku untuk menjadi juara satu tapi papah tidak pernah mengapresiasi hasil kerja kerasku" teriak Antoni." Papah bilang aku harus menjadi dokter tapi aku tidak bisa pah, aku tidak punya kemampuan untuk itu. Papah sebenarnya tahu kalau aku tidak berbakat menjadi dokter tapi kenapa selalu memaksaku pah!" teriaknya kembali. Hari ini ia berani melawan Ayahnya sendiri, entah apa akibat yang akan diterimanya nanti ia sudah tidak peduli dengan semua ini.
"Plak..!!" sebuah tamparan kembali terdengar namun kali ini mendarat di pipi istrinya. Sang ibu berusaha melindungi anaknya walaupun harus merasakan panas tamparan di pipinya.
"Mama..!!" teriak Antoni, ia segera memeluk ibunya kembali. "Mama tidak apa-apa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa kamu tenanglah, ini semua akan berakhir" lirihnya sembari mengusap darah di sudut bibirnya.
"Hentikan semua ini pah" ucapnya lagi. "Sudah cukup kamu menyiksa Antoni dengan semua ambisimu" teriaknya. "Aku tanya padamu, kapan terakhir kali kamu memeluk putramu? Hah..!!" tanyanya. "Kapan terakhir kali kamu mempunyai waktu untuk anak-anakmu?" tanyanya lagi. "Kapan terakhir kali kamu bersikap lembut pada kami?"
Ia menghembuskan nafasnya " Itu lima tahun yang lalu dan aku masih ingat saat terakhir kita tertawa bersama, saat menjadi keluarga yang utuh." ia meneteskan air matanya. " Pah, kau tahu kan Antoni bukan anak kandung kita. Darah yang mengalir padanya bukan darah kita, namun aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Kalaupun dia tidak berbakat untuk menjadi dokter itu wajar pah, seharusnya kamu jangan memaksanya. Apa kamu mau anak kita menjadi pembunuh, berapa nyawa yang akan hilang di meja operasi jika dia tidak profesional dalam bidangnya,seharusnya kamu sudah tahu itu pah tapi kamu egois dan rakus. Kamu yang menukar anakku dengan lainnya dan sekarang kamu menyalahkan dia yang seperti ini" sambungnya lagi.
__ADS_1
"Aku sudah sering bertemu Iqbal, dan dia sangat pintar seperti dirimu. Jika saja dulu kau tidak menukarnya pasti ia anak menjadi anak berbakat dan meneruskan dirimu menjadi dokter. Tapi sayang, kamu tidak bisa menerima keadaan nya dulu. Dan aku hanya bisa melihatnya, pura-pura menjadi bibinya.Iqbal Pahlevi, anak kandung kita yang kamu singkirkan"Ia berurai air mata mengingat sosok Iqbal yang mirip dengan suaminya, anak yang santun dan sederhana.
"Antoni pun hanya bisa melihat orang tua kandungnya tanpa bisa memeluknya. Dan ini semua karena kamu Pah!" teriaknya. " Aku menyayangi Antoni walaupun dia bukan darah dagingku. Aku selalu mengajaknya kerumah orang tuanya agar dia tahu bagaimana wajah orang tua kandungnya. Dan aku pun ingin melihat wajah anak kandungku. Kami saling berbagi kerinduan, apa kami salah" sambungnya lagi. "Walaupun dari lubuk hatiku,Antoni yang lebih aku sayangi bukan Iqbal. Dan Iqbal pun pasti lebih memilih ibunya bukan aku, karena disana ia dibesarkan dengan kasih sayang walaupun dengan kehidupan yang sederhana"
"Kamu selalu menuntut lebih pada Antoni, tapi kamu jarang sekali menjadi sosok orang tua yang teladan,kasar, semua penuh dengan kepura-puraan agar citra dan nama baikmu tetap terjaga. Kamu ringan tangan dan selalu mengatasi masalahmu dengan uang. Aku lelah dengan semua ini. Dan mulai sekarang aku minta bercerai, dan akan aku pastikan kali ini gugatan ceraiku akan masuk ke pengadilan" ia menekankan kalimat terakhirnya, sejak tiga tahun yang lalu ia selalu meminta cerai dari suaminya namun selalu gagal dan ditolak pengadilan. Bukti rekaman CCTV yang berada dirumah saat suaminya bertindak kasar akan langsung dihapus oleh tangan kanannya, seperti Antoni yang selalu dipantau gerak - geriknya. Istrinya pun tidak luput dari bodyguard yang selalu mengikuti kemanapun ia berada.
"Coba saja kalau kamu berani." ancam Pak Riza.
"Tentu saja aku berani, dan sudah aku pastikan hak asuh Antoni dan Putri akan jatuh ke tanganku" ucapnya dengan tegas. " Aku tidak mau mereka hidup tertekan dan menuruti semua ambisimu. Lama - lama anakku bisa gila"
"Berani kamu melangkah keluar dari rumah ini, akan ku pastikan kau hidup di jalanan tanpa uang sepeserpun dan tidak ada yang akan membantumu"
Bu Rahmi menatap tajam suaminya, "Aku tidak peduli walaupun kamu akan membunuhku juga. Aku sudah muak dengan semua ancamanmu. Lebih baik aku hidup di jalanan daripada harus hidup di istana dengan penuh ketakutan" ucapnya
"Siapa yang berada di belakangmu sehingga kamu berani melawanku sekarang?" tanyanya.
"Lebih tepatnya siapa pahlawan yang menolong kami dari cengkraman orang sepertimu!" serunya. " Dia seseorang yang akan melawanmu jika kamu bersikap kasar dan memukul kami lagi!. Kamu baru saja bertemu dengannya"
"Davian!" pekiknya tidak percaya, "Sejak kapan kamu mengenalnya?"
"Sejak kamu pergi dari ruangan restoran, aku baru kali ini bertemu dengannya dan meminta bantuan. Harimau sepertimu harus dilawan dengan Singa Hutan" ucapnya dengan menyeringai dan tanpa takut sedikit pun.
__ADS_1