
Inggris
Sudah satu minggu Davian dan Navysah menemani Raffa di Inggris, dan besok Davian akan pulang ke Indonesia sedangkan Navysah masih menetap untuk menemani Raffa terapi.
Setelah kedatangan ibunya, Raffa mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Kakinya perlahan mulai bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat walaupun dengan berjalan pelan . Navysah sangat telaten mengurus Raffa agar dia bisa berjalan normal kembali.
"Om jadi pulang besok pagi?" tanya Hanin sembari menyendok makanannya
"Iya." jawab singkat Davian
"Tante masih disini kan bersama kami, tante nggak akan ikut pulang, iya kan tan." Hanin ingin memastikan bahwa ibu dari kak Raffa tidak pulang begitu saja, saat ada Navysah villanya terasa sangat ramai dan seru. Hanin dan Jihan merasa sangat senang bisa mengenal tante Navysah.
" Iya, tante masih disini bersama Raffa hingga pulih. "jawab Navysah
" Yess...!!, Asyik...!! " Hanin tersenyum lebar penuh kemenangan.
" Isshh...!!, kenapa sih setiap orang yang kenal denganmu selalu tidak rela kamu jauh. Aku merasa banyak saingan." decak Davian di telinga istrinya, namun Hanin dan Jihan masih bisa mendengar ucapan Om dari Davian.
" Hahaha..., Om lucu ya. Masa kami dianggap saingan maunya sih kami dianggap menantu Om.. hihihi" seloroh Hanin dengan tertawa cekikikan. "Adik kak Raffa, tampan dan baiknya seperti kakak nggak Om?" tanyanya
"Ada dua kembar, yang satu keliatan ketus tidak suka banyak bicara seperti..." sahut Raffa dengan cepat sembari menatap wajah Ayahnya. Ia menggulum senyum mengingat wajah Alif yang persis dengan Ayahnya. "Dan yang satu lagi slengean, pecicilan seperti...." Raffa kembali menjeda ucapnya dan melihat wajah ibunya. Namun Navysah menatap Raffa dengan tajam, ia tidak suka jika dirinya disamakan dengan Fafa.
"Aku tahu... aku tahu..." jawab Hanin, "Kasih tahu nggak ya mirip siapa hihihi..?"
Saat Raffa menatap orangtuanya secara bergantian, Hanin sudah mengerti arah pembicaraannya.
"Aku mau yang ketus itu,kenalin denganku kak.Pasti dia baik kan seperti kak Raffa" pinta Hanin, ia menginginkan sosok pria yang bertanggung jawab dan sayang seperti kak Raffa padanya.
"Hanin..." bu Ria menyenggol lengan anaknya agar segera menutup mulutnya."Maafkan anak saya, dia selalu ceplas ceplos kalau bicara."
"Saya permisi dulu, Raffa setelah kamu selesai makan temui Ayah di taman." Davian mengusap bibirnya dengan tisu dan berlalu pergi dari ruang makan.
Kini Raffa menghampiri Davian di taman dan memberikan sebotol air mineral untuk Ayahnya.
"Minumlah yah, cuaca cukup cerah. Tadi Ayah baru minum sedikit."
"Terima kasih." Davian meneguk setengah air mineral dengan cepat.
"Kali ini Ayah mengalah." ucap Davian setelah menutup botol air mineral. "Mama akan disini sampai kamu sembuh." imbuhnya lagi.
"Mama pulang saja sama Ayah, aku akan tetap menjalani terapi hingga sembuh. Ayah tenang saja." balas Raffa
"Isshhh...!! Ini kemauan mama, dan Ayah harus mengalah darimu." desis Davian, ia sebenarnya tidak ingin jauh dari istrinya namun Navysah tetap kekeh ingin bersama Raffa hingga dia sembuh.
Raffa tertawa melihat wajah Ayahnya yang cemberut" Hahaha..., wajahnya biasa saja yah masa sama anaknya cemburuan begitu."
" Ayah akan selalu cemburu jika menyangkut tentang mamamu. "sahut Davian
" Iya, ya, ya terserah Ayah saja. "Raffa malas berdebat dengan Ayahnya jika menyangkut tentang ibunya." Mama bilang sebulan lagi disini. "
__ADS_1
" Sebulan itu lama, Ayah sudah terbiasa dengan mama. Apa-apa serba mama apalagi menyangkut si kembar. Pusing kepala Ayah jika mama tidak ada. Si kupret pasti bikin kekacauan." Davian selalu memanggil Fafa dengan julukan kupret," Belum si princess kembar yang sudah pasti sawan, nangis nyariin mamanya. " Davian menghembuskan nafas kasarnya
Raffa menggulum senyum mendengar keluhan Ayahnya saat ditinggal mama Navysah." Ayah pasti menyerah seperti biasanya,tinggal telepon Om Kamil yang biasa menghandle Alif dan Fafa. Dan tinggal telepon Mami Imel yang biasa menghandle si princess."
Davian tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Apa yang diucapkan Raffa memang benar, Ia selalu menelepon Kamil dan Imelda jika semua anaknya membuat dirinya pusing.
" Ayah juga menyerah. "ucap Davian kembali," Ayah beri kamu pilihan mau melanjutkan bisnis Ayah di properti atau kamu ingin mengembangkan bisnismu sendiri. "
Raffa sontak terkejut karena Ayahnya tahu perusahaan kecil miliknya yang kini dijalankan Rio.
" Tidak perlu terkejut seperti itu,apapun yang kamu lakukan Ayah tahu. Dan betapa liciknya kamu bersembunyi di belakang Mami Imel. "ketus Davian
" Ayah jangan ikut campur dalam bisnisku. Itu milikku! "tegas Raffa
" Ayah tidak akan ikut campur, Ayah akan beri kamu pilihan. Jika kamu ingin properti, maka bisnis animasimu harus di handle orang lain. Tapi jika kamu ingin bisnismu sendiri, maka kamu harus bisa menarik si kupret untuk menjalankan bisnis properti Ayah. Dan kupret harus mau, hanya dia harapan terakhir walaupun Ayah tidak bisa percaya sepenuhnya dengan dia. "
" Jika aku bisa jujur, aku ingin perusahaanku sendiri bukan punya Ayah. Raffa akan mencoba membujuk Fafa agar dia mau, Ayah harus yakin Fafa bisa menjalankan bisnis properti Ayah. Dia hanya kurang fokus tapi dia anak yang pintar. "
" Tapi masalahnya si kupret itu lebih suka bermain dan ngamen di Cafe, balapan liar sampai terciduk masuk ke kantor polisi. Hidup nggak jelas, PR saja Alif yang ngerjain. "Davian hanya bisa menggelengkan kepala mengingat setiap kejadian yang membuatnya selalu naik darah dan Fafa lah yang selalu bikin onar.
" Akan ada masanya yah, Raffa yakin Fafa bisa." ucap Raffa dengan sungguh - sungguh, matanya berkaca - kaca, sempat ada rasa tidak percaya Ayahnya akan memberikan lampu hijau untuknya." Ayah, terima kasih sudah memberikan Raffa kesempatan untuk memilih bisnis mana yang Raffa inginkan." Ia memeluk Ayahnya dengan erat.
"Sudahlah, terserah kamu jika lebih memilih perusahaan kecil itu yang belum jelas masa depannya." cibir Davian, " Ingat, jangan terlalu lama disini. Ayah menunggu kamu mengelola perusahaan properti dulu, setelah si kupret itu siap terserah kamu."
"Jangan hina perusahaanku yah, aku yakin bisa sukses seperti Ayah." cebik Raffa. " Ayah memang yang terbaik cup" Raffa mencium pipi Ayahnya dan memeluknya dengan erat.
Sudah lama sekali Davian tidak mendapatkan pelukan dan ciuman dari anak yang satu ini. Perasannya menghangat saat senyuman Raffa begitu lebar,rona wajah penuh kebahagiaan sangat jelas terpampang di wajah anak sulungnya.
" Yang penting kamu bahagia, ayah sudah memberikan kamu pilihan. Dan siapa juga yang mau melawan Mami Imelda, Ayah capek jika harus berhadapan dengannya." Davian sudah tidak ingin mendengar ocehan kakaknya, dia ingat saat menyuruh Kamil mencari informasi tentang Rio, dia harus berhadapan dengan kakaknya dan mendapat ceramah panjang kali lebar hingga membuat Davian kesal.
Indonesia
Malam hari Fafa merasa sangat jenuh, setelah seharian adik kembarnya uring - uringan dan menangis karena ibunya tidak pernah menelepon. Kini Fafa merasa bosan karena harus menjaga kedua adiknya. Sedangkan Alif sejak sore hari tidak kunjung pulang dari toko buku. Entah kenapa Alif merasa sangat senang dan betah masuk ke dalam toko buku.
"Drt... Drt..." suara telepon berdering, panggilan dari Keken.
"Apaan...!! " tanya Fafa cepat
"Nanti malam ada balapan, ikut nggak?" tanya Keken di ujung telepon
"Kagak!, gue mau tidur saja. Capek jagain si princess dari sore sawan, nangis terus."
"Ah, nggak asyik lu. Nggak ada lu nggak rame."
"Yaudah kalau pengen rame lu bakar rumah tetangga biar heboh sekalian." Fafa langsung mematikan panggilan telepon. Ia mendengar derap langkah seseorang masuk di kamar sebelah.
"Ah, pasti itu si Alif datang. Kurang asem dia, si princess udah tidur dia baru pulang. Gue kerjain ajalah."
Fafa berfikir apa yang akan ia lakukan untuk mengerjai kembaran. "Aha...." ia menemukan ide yang bagus. Fafa bergegas masuk ke dalam kamar Kinan yang tidak pernah dikunci. Ia tahu Kinan suka memakai bedak bayi berwarna putih. Ia membalurkan bedak bayi di semua wajahnya dan mengoleskan eye shadow milik Kinan yang berwarna hitam di sekitar area matanya. Ia pun menarik sprei berwarna putih dan membalutkan tubuhnya seolah mirip pocong,hanya area muka yang terlihat.
__ADS_1
"Perfect..." gumamnya dalam hati, ia berjalan dengan meloncat-loncat dengan gaya pocong dan masuk ke dalam kamar Alif.
Fafa tahu Alif selalu mematikan lampu saat tidur. Fafa berbaring disebelah Alif yang kebetulan membelakanginya.
Fafa sengaja mematikan AC kamar Alif agar dia kepanasan dan terbangun untuk menyalakan kembali.
Benar saja, Alif merasa kepanasan dan berbalik menghadap ke wajah Fafa.
"Akhhhhhhhhhh... Pocong." teriak Alif dengan sangat terkejut, ia sampai menendang tubuh Fafa yang dikira pocong. "Pocong sialan lu...!!" Alif mencakar wajah Fafa yang dikira pocong beneran.
"Anjayy...isshhh... sakit lif." desis Fafa saat wajahnya dicakar Alif
Kinan yang baru saja pulang malam dari rumah sakit langsung masuk ke kamar Alif karena terdengar suara Alif yang begitu kencang.
"Ada apa ini?" tanya Kinan dengan tergopoh-gopoh
"Pocong mba." Alif langsung menghampiri Kinan dan bersembunyi di belakang tubuh Kinan.
"Apaan sih lu Lif, mba juga takut setan tahu." gerutu Kinan
"Itu ada pocong mba, beneran." Alif menunjuk pocong yang sedang tengkurap di lantai dan ia sedang mencoba untuk berdiri
"Dasar pocong sialan, beraninya menganggu adikku!" Kinan mencoba mendekat dan memukul pocong itu dengan tasnya. Ia memukul bertubi-tubi dan kasar.
"Ishh... Sakit mbak, ini aku Fafa ganteng." Fafa membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Kinan.
"Akhhhh..... Takut....!!" Kinan kembali mundur setelah melihat wajah Fafa yang berubah menjadi pocong.
"Ini aku Fafa...." serunya lagi, ia tidak ingin dipukul kesekian kalinya karena terasa sangat sakit.
"Dasar setan lu!, Ngapain malem-malem nyamar jadi pocong." sentak Kinan, ia terkejut dengan wajah fafa yang begitu menakutkan.
"Godain Alif..." balasnya, "Tapi dapat tendangan." gerutunya lagi sembari memijit kaki yang ditendang oleh Alif.
"Syukurin, siapa suruh jadi pocong - pocongan." ketus Alif
"Bercanda lif, kamu sih ngeselin baru pulang. Aku kan capek jagain princess." sahut Fafa
"Aku tadi mampir ke rumah teman untuk meminjam buku."
"Nggak butuh alasan, pokoknya besok gantian lu jaga si princess. Aku mau ngamen."
Kinan hanya cekikikan melihat Fafa yang kesulitan dalam berjalan. Dia memukul bokong Fafa karena gemas, Bisa-bisanya berniat untuk mengerjai saudara kembarnya.
"Bocah nakal.... Bocah nakal... Syukurin sakit kan kena tendangan Alif dan pukulanku." Kinan masih memukul bokong Fafa.
" Sudah mbak, sakit tau." cebik Fafa dengan keluar dari kamar Alif.
Alif melihat Kinan yang begitu cekatan membela dirinya saat ada seseorang yang mencoba menganggunya." Terimakasih mba Kinan. "ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
Kinan pura-pura melirik sinis dan membuang wajahnya kearah lain. Walaupun dia sangat kesal dengan Alif namun dari lubuk hatinya yang terdalam Alif sudah seperti adik kandungnya sendiri. Ia keluar tanpa membalas ucapan dari Alif.