Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 84


__ADS_3

Kinan masuk ke dalam kamar Raffa tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ia melihat Raffa yang sedang menelepon seseorang dan Kinan langsung memeluknya dengan erat seolah tidak ingin melepaskan diri dari Raffa.


"Lepas, aku tidak bisa nafas Nan." pinta Raffa, ia mencoba merenggangkan pelukan Kinan.


"Nanti aku telepon lagi mah." ucap Raffa, ia tidak ingin pembicaraannya dengan mama Navysah terdengar oleh Kinan.


"Mah, mamah... Raffa peluk aku mah,dia cium pipi aku mah." teriak Kinan dengan keras di handphone Raffa agar mama Navysah mendengarnya.


"Apaan sih Nan!, nggak lucu kamu bicara seperti itu." ketus Raffa, ia tidak ingin ibunya salah paham.


Navysah yang mendengar di ujung telepon hanya bisa tertawa, ia tahu Kinan yang memeluk Raffa karena sejak tadi Navysah mendengarkan pembicaraan anaknya.


"Kinan, jangan lama-lama di kamar Raffa. Mama beri waktu kamu sepuluh menit." ucap Navysah diujung telepon.


"Iya mah."


Raffa mematikan handphonenya dan menyuruh Kinan pergi dari kamarnya namun Kinan tidak mau.


"Apalagi Nan..." dengus Raffa dengan kesal karena Kinan tetap kekeh berdiri di sampingnya


"Kita perlu bicara?"


"Nanti saja."Raffa membalikkan badan dan mengambil beberapa berkas yang akan diserahkan pada Rio. Kinan merasa diabaikan sehingga dia memeluk tubuh Raffa dari belakang. Ia tidak peduli Raffa akan marah dengannya.


" Sebentar saja, seperti ini. "pinta Kinan, ia meneteskan airmata karena terlalu bahagia bisa memeluk Raffa yang kini berada di dalam pelukannya. Kinan menyusut air hidungnya agar tidak menetes.


" Gadis ini masih saja cengeng. "gumam Raffa dalam hati.


" Aku merindukanmu. "lirih Kinan, satu kalimat yang keluar dari bibirnya dan terdengar sangat menyedihkan." Jangan abaikan aku, kumohon. "pinta Kinan dengan memelas


Raffa membalikkan badannya," Jangan menangis lagi jangan cengeng Nan. "


" Kamu jahat!, jahat banget sama aku."Kinan memukul dada bidang Raffa berulang kali.


" Aku tahu. " Raffa tidak menghindar saat Kinan selalu memukul dadanya.


Kinan meraba wajah Raffa, tangannya menyusuri dagu Raffa yang sedikit kasar karena jambang yang mulai tumbuh dan kumis tipis yang belum sempat tercukur rapi.


"Hentikan..." Raffa menahan tangan Kinan yang mulai meraba area bibirnya. " Jangan seperti ini Nan."


"Cup." Kinan mencium pipi Raffa.


Raffa terlihat terkejut karena mendapat serangan dadakan dari Kinan.


"Raffa, kenapa pipimu terlihat tirus. Apa kau sakit?" tanya Kinan setelah menelisik wajahnya.


"Tidak." Raffa langsung meraba wajahnya sendiri. "Karena terlalu sibuk jadi sedikit telat makan." ucap Raffa berbohong


Kinan sempat melirik jari tangan Raffa, ia tidak menemukan cincin pertunangan di jari manis Raffa.

__ADS_1


" Dimana cincinnya? Kenapa tidak dipakai?" tanya Kinan


"Lihat, aku selalu memakai cincin pemberian darimu ini." Kinan menunjukkan cincin pertunangan di jari manisnya.


"Aku simpan." balas Raffa


"Dimana kamu simpan?" tanya Kinan lagi dengan bibir mengerucut


"Nakas." Raffa menunjukkan dengan dagunya.


Kinan bergegas membuka nakas dan menyematkan di jari Raffa kembali.


"Apa yang kamu lakukan." Raffa mencoba melepaskan cincin di jari manisnya.


"Berani dilepas, aku potong jarimu." ancam Kinan dengan mata melotot


"Buat apa dipakai lagi karena kita sudah... Mmph...." Belum sempat Raffa menyelesaikan kalimatnya, Kinan langsung membekap mulut Raffa


"Kita masih bertunangan apapun yang terjadi nantinya kita akan menikah." tegas Kinan


"Kinan....." seru Raffa, ia menghembuskan nafas kasarnya. " Carilah pria mapan yang lebih dariku."


"Nggak..!"seru Kinan," Kamu selalu bilang tidak punya apa-apa kan. Kita punya apartemen Raffa, apa kau ingin melihatnya? "


" Apartemen?"tanya Raffa dengan dahi mengenyit," Aku tidak punya apartemen, kamu jangan ngaco Nan."


"Aku tidak ngaco. Kita punya apartemen, aku membeli dengan cara mengangsur dari uang gajiku. Sedangkan, uang mukanya semua dari pemberianmu Raffa. Uang yang selama ini kamu kirimkan untuk aku setiap bulan. Aku tidak pernah menggunakannya. " jelas Kinan


" Apartemen itu milik kita berdua. "kekeh Kinan, ia masih berusaha untuk memaksa Raffa.


"Cukup Kinan!, Hubungan kita sudah berakhir "tegas Raffa


Kinan membuang wajahnya kearah lain. Ia tidak menyangka Raffa akan kekeh dengan ucapannya.


" Maaf. " ujar Raffa dengan menyesal, Ia mengelus rambut Kinan dengan lembut." Aku harap kamu mengerti. "


" Jangan berpenampilan seperti ini, ganti baju dan rok mu." pinta Raffa. "Kenapa kamu merubah penampilanmu seperti ini."


"Hahaha... Kamu itu lucu Raffa. Aku berubah?" tanyanya. "Iya, aku memang merubah penampilanku tapi tidak hatiku sedangkan kamu, kamu berubah selalu menghindariku. Hatimu bukan untukku." seru Kinan sembari menangis, " Kamu egois, sangat egois. Aku benci sama kamu!"


Raffa membuang wajahnya kearah lain, ia tidak tega melihat Kinan begitu menyedihkan.


" Jika itu maumu kita akhiri saja!! "teriak Kinan, ia mengambil cincin di jari manisnya dan melemparkan kearah Raffa. Cincin yang selalu menempel di jarinya kini terlempar dan entah jatuh kemana.


" Percuma selama ini aku menunggu jika hatimu bukan untukku huhuhu... " Kinan menangis tersedu-sedu dan berlari ke luar kamar Raffa.


" Maafkan aku Kinan. "lirih Raffa sembari duduk di sisi ranjang dan memijit kakinya yang masih sedikit nyeri.


Namun dari luar kamarnya terdengar suara Alif yang berteriak." Mas, mas....,mbak Kinan mas "

__ADS_1


Raffa bergegas keluar kamar dan melihat Kinan yang sedang duduk tersungkur dan meringis kesakitan sembari memegangi perutnya. Kinan terduduk lemas seolah tanpa tenaga.


"Isss...sakit." rintih Kinan


"Mana yang sakit Nan?" Raffa sedikit panik melihat Kinan yang merintih kesakitan.


Kinan mengibaskan tangan Raffa seolah tidak ingin dibantu olehnya, ia lebih memilih Alif untuk menolongnya.


"Alif, bawa aku ke rumah sakit." pinta Kinan pada Alif. Kinan berusaha berdiri namun tidak mampu.


"Alif, ambil mobil. Kita ke rumah sakit sekarang." perintah Raffa sembari membopong Kinan


"Tapi mas, kakimu..." Alif melihat kaki Raffa bergetar karena menahan berat tubuh Kinan. Alif takut kaki Raffa sakit kembali.


"Biar aku saja yang gendong mba Kinan." pinta Alif


"Tidak perlu, Ayo cepat lif !"


* **


Mitra Hospital


Raffa membawa Kinan ke rumah sakit dan segera mendapatkan perawatan di IGD. Raffa terlihat panik karena Kinan selalu merintih dan memegangi perutnya.


Juna yang sedang bertugas di rumah sakit melihat Kinan terbaring lemah tidak berdaya.Juna bergegas mendampingi Kinan untuk melakukan perawatan.


"Bagaimana keadaan Kinan dok." tanya Raffa


"Sakit asam lambung Kinan kambuh lagi.Sebaiknya dia dirawat sementara disini."


Alif menatap Juna tidak suka saat Kinan dipindahkan ke ruang rawat inap. Alif melihat raut wajah cemas diantara kakaknya dan Juna. Dua orang yang mencintai Kinan namun kakaknya yang selalu menutupi perasaannya dan Juna yang selalu mendekati Kinan dengan baik.


Alif mendengus kesal karena kakaknya hanya diam saja saat ada pria yang berusaha mendekati tunangannya. Entah apa yang ada difikiran kakaknya.


"Kami keluarganya, anda bisa keluar." ucap Alif pada Juna


"Yang aku tahu Kinan anak dari Om Shafiq bukan dari keluarga Om Davian."sinis Juna


"Kinan tunangan dari kakakku dan akan menjadi menantu di keluarga Davian, jadi tidak seharusnya kamu menganggu tunangan orang." geram Alif, dia ingin menghajar Juna karena berani menyentuh tangan Kinan.


" Tanyakan pada kakakmu, Kinan masih tunangannya atau tidak!" sahut Juna dengan menatap tajam pada Raffa yang duduk di seberang ranjang.


Raffa menatap Juna dengan datar, ia tidak ingin membalas perkataan Juna, baginya saat ini Kinan bisa tersadar kembali dan sembuh.


* **


Terima kasih sudah mampir di novel ini, mohon maaf belum bisa update rutin karena waktu dan pikiran saya yang sedang carut marut.πŸ™πŸ™


Mohon do'anya untuk semua reader agar kedua orangtua, adik saya bisa sembuh dari corona dan mertua yang sedang sakit😭😭.

__ADS_1


Kalau senggang saya update kembali


Jangan lupa protokol kesehatan, jaga jarak, jaga kesehatan, dan pakai masker. Matursuwun


__ADS_2