
Waktu cepat berlalu dan hari ini terakhir mereka menyelesaikan ujian nasional. Semua siswa bersorak gembira dengan berakhirnya ujian ini tentu saja sedikit memberi kelegaan pada mereka, tinggal saatnya nanti menerima pengumuman kelulusan.
"Alhamdulillah sudah kelar ujian nasional, ingin rasanya liburan keluar negeri " ucap Kinan sembari mengunyah bakso dan es kelapa.
" Walaupun sudah ujian kita masih berangkat sekolah Nan, kan masih ada beberapa kegiatan sekolah. Belum lagi ngurusin berkas ijazah kalau kita lulus " Jessica melihat kearah luar kantin, ia melihat Tatia yang baru datang untuk membeli jajanan. "Itu Tatia tuh" Ia menunjuk kearah luar.
Kinan menoleh dan melihat Tatia yang datang sendirian, "Titanus sini!" teriaknya.
Dan Tatia pun menuruti duduk di depan Kinan.
"Ada apa?" tanyanya
"Kamu mau jajan? Ambil saja gue yang traktir" Kinan menyodorkan daftar menu kearah Tatia. Dan sang gadis itu tersenyum tipis mendengar kata traktir, baginya dengan jajan gratis ia bisa menyimpan sedikit uang untuk keperluan keluarganya.
"Alhamdulillah ditraktir Kitis, sering - sering ya tis hehehe " selorohnya.
Jessica mengenyitkan dahinya, baru pertama kali ia mendengar Titan meledek Kinan dengan gamblang.
"Tumben banget lu ngledek Kinan, sudah bosen lu sekolah disini" cibirnya, berusaha melotot ke arah Tatia yang sedang tertawa.
"Nggak usah pelototin gue begitu, matamu sudah sipit kalau sengaja digituin rasanya malah aneh bukannya takut " ucapnya sembari memilih menu pada pelayan kantin.
"Uhuk.. Uhuk.." Kinan tersedak mendengar ucapan Tatia yang menohok," Hahaha.. gue suka gaya lu Tatia, sekarang sudah berani melawan ucapan Jessica"
Jessica pun tertawa, ia merasa sekarang Tatia berubah. Gadis yang selama ini pendiam, tidak banyak bicara dan tidak terlalu penting di kelas kini mulai berani untuk meledeknya. "Eh, Tatia emang gue aneh ya kalau melotot kayak tadi?" tanyanya, Emang nggak kelihatan seram? "tanyanya penasaran.
" Malah lucu, kesannya lu lagi ngelawak. Matamu cuma satu garis mau di pelototin kayak apapun si mata kagak bakalan keluar itu" ucapnya sembari mengunyah nasi goreng pesanannya.
"Hah..!!, bener juga apa yang dikatakan si Bagas. Pantas saja dia suka ngledekin gue si sipit permanen" gumamnya.
Kinan melirik sahabatnya, ia curiga Jessica menaruh perasaan dengan si Bagas. Walaupun mereka terlihat selalu bertengkar namun disisi lain Kinan sering melihat mereka jalan ber iringan di area sekolah. " Jess, Lu demen sama si Bagas?" tanyanya.
__ADS_1
"Si.. Siapa yang demen sama Bagas, malah dia yang suka jahilin dan bikin gue kesel. Dia kan pacar lu Kinan " ucapnya dengan gugup, ia takut Kinan cemburu dengan kedekatannya dengan Bagas.
"Gue bukan pacar dia, kalau kamu suka dekatin saja.Tapi saingannya juga banyak lho"
"Lah, lu amnesia Nan. Kan dia pacar lu, tiap hari nempel terus sama lu satu sekolahan juga tahu kali. Kenapa bilang bukan pacar lu" tanyanya penasaran
"Gue cuma temenan sama dia, dulu dia pernah nembak tapi gue tolak. Alasan pacar pura - pura karena dia risih banyak cewek yang ngejar dia makanya dia minta gue jadi pacar bohongan, setelah lulus kita masing-masing. Gue juga ogah kali pacaran sama dia, gue sudah punya orang yang gue suka" Kinan menggulum senyum mengingat kejadian di bioskop, saat dia sengaja menyembunyikan wajahnya di lengan Raffa, aroma maskulin yang selalu membuat dirinya tenang dan sikap Raffa yang selalu membuat dirinya merasa menjadi seorang putri yang selalu dilindungi.
"Raffa..!! " ucap Jessi dan Tatia bersamaan.
Kinan menoleh kearah kanan dan kiri berharap tidak ada satupun orang yang mendengarnya. " Kok kalian bisa tahu" cicitnya.
"Yaelah Kitis, tanpa lu ngomong juga gue sudah tahu lu suka dia dari dulu. Dia nya saja yang nggak ada rasa sama lu. Tragis banget nasib lu !" ucap Titan
"Siapa yang nggak tahu kalau lu suka sama dia Nan, nempel mulu kemana Raffa berada. Bucin parah lu!! " cibir Jessica.
"Sedihnya jadi diriku ini, hanya dianggap adik oleh orang yang aku cintai" Kinan menghembuskan nafas panjangnya dan beringsut di kursinya
* **
Ia langsung naik ke ruangan Om Rayyan di lantai dua , "Assalamualaikum Om"
"Walaikumm salam" balasnya "Masuk Raff" sambungnya lagi, ia tahu anak dari sahabatnya akan datang ke kantor.
Raffa dan Fafa mencium tangan Om Rayyan seperti biasanya, " Ini pesanan dari mama Om, kata mama uangnya besok ditransfer " ucapnya, ia melihat Fafa yang celingak - celinguk ia melihat beberapa benda yang bisa dimainkan agar dirinya tidak bosan.
"Oke, nanti Om siapkan menu nya. Ini pesanan dari bu Andri temen mamamu itu" ia melirik Fafa yang diam tidak seperti biasanya "Kenapa Fa kamu bosan, Disini nggak ada mainan"
"Iya Om, disini sepi kayak kuburan" ia beringsut di sofa, merebahkan dirinya dengan malas.
"Tuh ada gitar, bisa pakai nggak?"
__ADS_1
Fafa langsung mengambil gitar itu dan mencoba memainkan. Ia memetik senar gitar dan mencoba mengingat kunci nada sebuah lagu.
"Emang Fafa bisa main gitar?" tanya Om Rayyan
"Nggak Om, biasanya diajarin temen kunci nadanya tapi lupa. Ini sudah lama nggak main di kuburan sih, biasanya nongkrong disana sambil nyanyi pakai gitar" ucapnya polos
"Hahaha, ngapain nongkrongnya di kuburan kayak nggak ada tempat saja. Itu setan nya dikasih lagu dangdut biar joget koplo gitu" sahutnya
"Habis yang aman di sana Om sepi nggak diomelin orang komplek, kita bisa duduk, foto selfi, bisa main tik - tok joget bareng. Kan sekalian ngasih hiburan sama yang sudah meninggal Om jadi mereka senang ada yang nyanyiin, siapa tahu bisa tukeran nomer handphone sama mbak kuntilini lagi Hehehe " kelakar Fafa, ia selalu membuat candaan yang tidak masuk akal.
"Emang kamu tuh mirip emakmu Fa, satu server " Rayyan menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka Fafa suka bermain di kuburan, bisa-bisanya ia beralasan agar penghuni kuburan tidak kesepian, minta nomer handphone kuntilini, oh no!, denger suaranya saja bisa bikin merinding. Jawaban dari seorang anak yang absurd menurutnya. Raffa hanya menggulum senyum mendengar celotehan adiknya.
"Om mau ke kantor Ayahmu, ada dokumen yang harus diperiksa. Kamu mau disini atau gimana soalnya Om hari ini sibuk banget"
"Biar Raffa saja yang anterin dokumennya Om, sekalian mau lihat kantor Ayah, sudah lama Raffa nggak kesana. Mana dokumennya Om"
"Beneran nggak papa, Om jadi ngrepotin"ucapnya
" Nggak papa Om, sekalian mau jalan-jalan sore sama Fafa "
" Jangan diberikan ke orang selain Ayahmu atau Om Feri ya, ini dokumen penting "Rayyan menyodorkan dokumennya
" Siap Om"Raffa beranjak keluar ruangan bersama Fafa.
"Oiya Raff, jadi kuliah ekonomi di Amerika?" tanya Rayyan, ia tahu sahabatnya sudah mengatur semua kebutuhan dan kuliah anaknya.
"Bukan ekonomi Om, tapi animasi. Raffa ingin belajar animasi di Inggris" jawabnya.
Rayyan merasa bingung dengan jawaban anak sahabatnya" Lho bukannya..,ah sudahlah "ia tidak melanjutkan perkataannya.
" Om cuma mau bilang, berdo'a yang rajin minta yang terbaik sama Allah"ucapnya, "Semuanya ada disini, cuma kamu yang bisa diandalkan "Rayyan tersenyum dan menepuk kedua bahu Raffa seolah menguatkan anak sahabatnya.
__ADS_1
Tanpa ada perasaan yang ganjil Raffa dan Fafa pergi ke kantor Ayahnya dengan tenang.
" Kamu harus melawan Ayahmu sendiri Raff, tanggung jawabmu sebagai anak sulung terlalu besar. Sekuat apapun ibumu melindungimu, ia akan kalah dengan Davian Ahmad yang ambisius dan keras kepala" ia menatap kepergian anak sahabatnya dengan perasaan sedih.