Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 124


__ADS_3

"Gimana Nak, apa kau ada ide? Mama pusing dengan Fafa kali ini."


Raffa hanya menghela nafas panjangnya, ia pun bingung karena belum ada calon yang ingin ia jodohkan dengan adiknya.


"Hanin sudah memiliki kekasih mah, sedangkan Jihan itu tidak mungkin,Kinan sangat cemburu padanya yang ada rumah tanggaku hancur jika Jihan menjadi adik iparku. Kinan pasti mencekik aku berulang kali saat tahu aku mengobrol bersamanya."


"Anak teman mama belum ingin menikah, ia masih kuliah dan ingin menjadi pengacara. Mama bingung Nak, si Fafa beneran minta kawin, mana gadis pilihannya Rena, sampai kapanpun mama tidak setuju." gerutu Navysah


"Mama tenang saja, jangan banyak fikiran ya, sebentar lagi Raffa pulang ke Indonesia. Kita cari jalan terbaik. Raffa juga tidak ingin adik Raffa mendapatkan gadis yang tidak baik. Mama tenang saja, kalau Fafa masih merengek minta kawin bilang saja nungguin aku pulang.Mama tunggu kabar dariku ya mah"


" Iya sayang, kamu hati - hati disana, jangan lupa telepon Kinan ya. Jangan berantem terus mama pusing."


"Iya mah."


***


Jihan


Ia melangkahkan kakinya ke perusahaan Hara untuk bertemu teman lamanya. Ia menunggu di lobby dan menghubungi Rio agar segera menemuinya.


"Hai!, gadis cantik. Ayo ikut abang." goda Rio tersenyum lebar, ia melihat Jihan yang terlihat cantik dengan setelan kerja yang berwarna biru tua.


"Apaan sih Yo, kamu itu masih suka bercanda." Jihan mengekori Rio dan naik ke lantai atas.


"Minumlah dulu, kamu pasti haus." Rio menyodorkan segelas jus melon kesukaan Jihan.


"Kamu itu masih tahu minuman kesukaanku Yo." Jihan menyeruput minumannya


"So pasti dong, sepuluh tahun kita berteman masa nggak tahu kesukaan kamu sih."


"Jadi kerja di gedung sebelah?"sambung Rio kembali.


" Jadi, aku sudah satu bulan ini bekerja sebagai manager keuangan." Jihan memperlihatkan nametag pada Rio." Keren kan hihihi. "


"Woww...!! keren banget, banyak duit ya sekarang kerja di bank dengan posisi manager. Selamat buat lu Han."


" Do'akan saja semoga betah."


"Pasti betahlah, kan lu bisa mampir dan ketemu Raffa disini." goda Rio sembari menaik turunkan alisnya. " Tapi dia lagi di Inggris, masih punya hutang kerjaan disana."


"Oh..." Jihan hanya ber oh ria.

__ADS_1


"Kamu beneran nggak mau kerja di Hara? Masih ada posisi kosong, yakin nggak mau!?"


"Tidak, aku lebih tenang bekerja di tempat lain. Dan sekarang Raffa sudah menikah, takut istrinya cemburu padaku.Aku lebih nyaman, bebas tanpa terbebani dengan perasaanku sendiri. Sudah waktunya melupakan Raffa, dia sudah sold out Yo, hihihi."


"Gue suka gaya lu." Rio menepuk bahu Jihan, "Mau aku kenalin nggak dengan pria tampan?!" goda Rio kembali.


"Apaan sih! Kayak nggak laku saja." Jihan mengerucutkan bibirnya.


"Tok.. Tok..."


"Masuk.."


Antoni masuk dengan membawa laptopnya, ia ingin memberitahukan pada Rio bahwa pekerjaannya telah selesai.


Jihan melirik Antoni, seolah pernah melihatnya namun ia lupa dimana dan kapan. Ia terus melihat Antoni tanpa berkedip.


"Biasa aja lihat cowok ganteng, nggak usah sampai segitunya,ngences lagi." Rio menowel dagu Jihan dan seolah mengelap air liur yang menetes dari Jihan.


"Apaan sih Yo! Rese banget deh." gerutunya,ia merasa malu ketahuan mencuri pandang pada Antoni.


"Aku pernah lihat dia tapi dimana ya?" Jihan mencoba mengingat kembali.


"Di pesta pernikahan Raffa." jawab Antoni tanpa melihat kearah Jihan.


Namun Antoni tidak memberi jawaban pada Jihan, dia tetap diam seribu bahasa.


"Ya ampun, gue di cuekin! Emang dia siapa sih, muka lempeng amat nggak ada senyum atau ramah - ramahnya gitu." gumam Jihan dalam hati.


"Aku sudah menyelesaikan tugasku dan kamu pasti akan kaget Yo." ucap Antoni


"Coba aku lihat, siapa penghianat itu." Rio mengambil laptop Antoni dengan cepat.


"Tapi dia?! Dia kan orang luar." Antoni melirik Jihan dengan tajam


"Oh Jihan, biarkan saja. Dia memang orang luar tetapi tidak berbahaya. Dia punya andil besar dalam perkembangan Hara."


Antoni memperoleh alamat identitas hacker yang telah mencuri data perusahaan. Ia juga memperlihatkan cctv yang telah dirusak sistemnya.


Rio tidak percaya dengan apa yang ia lihat, seorang yang ia percaya dengan tega ingin menghancurkan Hara begitu saja.


"Biarkan aku yang bicara dengan Hanin." Rio memijit pangkal hidungnya, "Dia pasti akan syok melihat ini."

__ADS_1


" Terima kasih banyak sudah membantuku, Antoni." ucap Rio dengan tulus.


* **


Hari ini Hanin cuti, kepalanya terasa sakit dan badannya terasa demam akibat kehujanan. Sepanjang hari ia hanya bergelung di selimut dan tidur. Disaat Adit memberikan pesan, Hanin hanya membacanya tanpa membalas pesan tersebut. Entah kenapa hati Hanin masih sakit dan belum bisa menerima kenyataan.


"Jangan tidur terus, minum obatnya." Bu Ria mengelus rambut anaknya dengan lembut, ia tahu saat ini Hanin sedang tidak baik - baik saja. Bu Ria berfikir Hanin pusing dengan masalah perusahaan, karena sejak pulang dari Jepang Hanin menjadi pendiam. Namun, sudah seperti biasanya, Bu Ria akan menunggu Hanin bercerita terlebih dahulu. Bu Ria tidak akan memaksa anaknya untuk menceritakan apa yang telah terjadi.


" Makan yang banyak, mama nggak mau kamu sakit.Sesulit apapun masalahnya, mama yakin kamu bisa melaluinya dengan tegar."


"Iya mah."


Bu Ria dengan telaten menyuapi anaknya yang sedang sakit. Saat Hanin sakit, ia selalu manja dengan ibunya.


"Maafkan Hanin mah karena tidak nurut sama mama." Ia menitihkan air mata dan memeluk ibunya. Ada sedikit rasa penyesalan darinya, karena sejak dulu ibunya selalu melarang Hanin untuk berpacaran dengan Adit,namun Hanin selalu kekeh bahwa Adit pria terbaik.


"Kamu kenapa sayang? Apa yang terjadi, mau cerita sama mama." Bu Ria mengelus punggung anaknya dengan lembut.


"Nanti Hanin akan cerita tapi tidak sekarang."


"Baiklah, kamu tenangin dulu hati kamu. Mama akan selalu ada untuk mendengarkan keluh kesahmu sayang."


"Terima kasih mah, sudah menjadi ibu terbaik buat Hanin dan Halwa. Kali ini Hanin janji, akan menuruti semua keinginan mama. Hanin tidak akan membantah lagi."


"Tumben!, biasanya kamu anak mama yang paling ngeyel. Tidak terima saat mama dan ayah menyuruhmu ini dan itu."


"Kali ini Hanin akan menuruti semua keinginan mama dan Ayah, Hanin janji."


"Ya sudah, besok kalau sembuh bantuin mama masak di dapur. Kamu ini tidak bisa masak, mama kan malu sama menantu mama karena kamu mentah untuk urusan dapur. Masa suamimu akan makan di luar terus."


"Yang lain aja mah mintanya, jangan itu. Hanin males banget masuk dapur. Sekarang jaman online, tinggal klik jadi deh delivery order, siap makan tanpa ribet."


"Hanin, mama ingin kamu menikah dan punya cucu. Masa suamimu makan masakan yang tidak jelas, tidak sehat lagi. Kamu harus pintar masak agar suami dan anakmu betah di rumah."


Hanin hanya mengerucutkan bibirnya. Ia benar - benar malas jika harus memasak.


"Hanin belum ingin menikah, aku masih ingin jadi anak mama dan merawat mama sampai tua."


" Justru karena mama dan ayah sudah tua, kamu harus menikah. Kalau kamu ingin bersama Adit, mama merestui kalian."


Mendengar kata Adit mood Hanin langsung turun, ia hanya mengedikan bahunya." Hanin akan pastikan terlebih dahulu, apa Adit layak diperjuangkan atau tidak. "

__ADS_1


" Anak mama memang paling pintar, mama selalu do'akan agar kamu mendapatkan jodoh yang terbaik" Bu Ria mencium kening anaknya.


__ADS_2